Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 25. Kekuatan Baru Bizar (1)


__ADS_3

“Jadi kamu pikir aku ini Bizar palsu, Dira? Sudahlah hal seperti itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang kita harus pergi ke laboratorium sebelum dia berhasil membuka pertahanan milik Io. Untung saja aku memberikan firewall yang cukup kuat, sehingga virus tidak bisa masuk ke sana,” jelas Bizar tanpa kacamata dan aku masih menatapnya curiga.


Ada dua Bizar dan aku tidak tahu mana yang asli dan mana yang palsu. Apakah orang yang diselamatkan oleh Radja dan aku bukanlah Bizar yang sebenarnya? Atau orang yang berada di laboratoriumlah yang sebenarnya palsu. Apa yang harus aku lakukan? Kepalaku pusing jika harus memikirkan semua ini.


“Dira, kita gunakan kekuatan airmu untuk pindah ke Lux of Valley,” ucap Bizar seraya memegang tanganku dengan erat.


Aku melirik ke samping. Pikiranku masih dipenuhi dengan rasa takut jika orang ini bukanlah Bizar. Namun aku tidak bisa membohongi hatiku, pegangan laki-laki itu sama seperti biasanya. Mana mungkin jika dia bukanlah Bizar. Mungkin memang benar jika kacamata dan jamnya diambil. Musuh ingin mengadu domba kami. Menimbulkan perpecahan.


Untuk mencegah itu, aku pun menyetuji apa yang Bizar katakan. Laki-laki itu pun membawaku pergi keluar dan beranjak ke halaman depan gedung. Di sana ada air mancur, aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Meski begitu tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku pun segera mengangkat air-air tersebut ke atas, lalu menyelimuti tubuh kami.


Mataku tertutup, bayanganku tentang bagaimana dinginya air di Lux of Valley pada malam hari. Suasana dan juga pohon-pohon yang mengitari di danau. Aku membayangkan dermaga, satu-satunya yang menjadi pembeda. Aku berharap ini berhasil dan semua ini akan lebih jelas. Untuk jaga-jaga aku akan segera munghubungi Radja. Saat ini aku hanya bisa fokus.


Rasanya air yang berada di taman gedung pun mulai berubah menjadi banyak. Aku segera membuka mata, meliha ke sekeliling. Ternyata kami berdua sudah sampai tepat waktu. Segera saja aku menarik tangan Bizar dan berenang naik ke atas. Karena sering berbaur dengan air, aku merasa baik-baik saja. Namun tidak untuk Bizar, laki-laki itu sudah terbatuk-batuk. Belum terbiasa. Ini jadi bukti kuat jika orang di sampingku adalah Bizar. Kami naik dermaga. Setelahnya aku menarik air yang menempel pada pakaian kami.


Bizar segera berlari, lebih cepat dariku. Dia sangat khawatir dan aku tidak bisa memungkiri hal tersebut. Jika saja ada Radja, Afly atau Bara, tiga orang ini bisa membawa laki-laki satu ini ke laboratorium dengan cepat. Kami masuk ke wilayah kerajaaan dan Miss Ann menyambut kami dengan senyumnya. Namun, aku tidak punya waktu untuk membalasnya.

__ADS_1


Si ilmuwan gila yang satu itu sudah melesat lebih dahulu. Aku harus mengejarnya, jadi aku hanya menyapa Miss Ann sambil berlari. Dia memang bertujuan ke laboratorium, aku mencoba untuk menahan laki-laki tersebut. Bagaimana pun, saat ini dia sedang membutuhkan ketenangan. Lari tanpa melihat apalagi ketika menuruni tangga itu sangat berbahaya, Bizar bisa saja jatuh.


“Tenanglah, Bizar, kita harus mengamati orangnya terlebih dahulu. Kamu selalu membuat rencana bukan bertindak tanpa otak. Jika sekarang kamu turun ke bawah, aku tidak bisa membedakan mana di antara kalian yang asli. Bukan secara fisik oke, tetapi sikap,” ucapku seraya menarik lengannya.


Bizar mengembuskan napas. Dia lalu berjalan ke pagar pembatas. Di bawah sana adalah laboratorium miliknya dan laki-laki itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Aku tahu apa yang dicarinya, oleh karena itu aku pun melihat ke arah komputer. Seorang laki-laki sedang mengetikkan program. Tidak bisa aku lihat keberadaan Io di mana pun.


“Kita akan turun sekarang, Dira,” ucap Bizar terus terang. Tangannya menggenggam kuat pegangan besi pada pagar. “Dia sudah mulai mengacak-acak programku.”


Entah apa yang dilakukan Bizar, laki-laki itu nekat turun dengan melompat. Ternyata Bizar bisa melakukan hal yang lebih gila dari apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebelum dia menapak, aku segera menumbuhkan tanaman untuk menahan tubuh laki-laki tersebut. Terlihat jelas jika Bizar tidak mempersiapkan apa pun untuk turun. Kabut sudah menutupi pikirannya. Aku pun turut melompat dan segera ditangkap oleh tanaman yang aku tubuhkan dengan skala lebih besar.


“Aku bikin sistem pertahanan ini sangat ketat. Aku takut dia sudah mengubah itu, Dira. Melangkah tanpa suara pun percuma. Di setiap ubin ada sensor inframerah yang dapat mengaktifkan alarm ketika kamu menghalangi sinarnya.


“Di sini juga ada sensor suhu, jika terdeteksi suhu panas manusia, itu akan dikirimkan ke komputer. Secara otomatis seluruh datanya akan terekap ke sana. Dengan mudah musuh akan mengetahui kamu, Dira. Terlebih ada satu program lagi yang tidak pernah aku beritahukan pada siapa pun.


“Dengan memanfaatkan semua sensor yang aku tanam di ruangan ini, dia bisa mengetahui kita di manapun. Tanpa bersembunyi. Itu program yang aku simpan di dalam data Io. Dipakai hanya dalam keadaan darurat saja. Nadira, aku ada ide. Bagaimana jika kamu menembak dia dengan kekuatan es atau tanaman rambatmu. Itu bisa menahan dia!” jelas Bizar seraya berbisik pelan di sampingku.

__ADS_1


“Penjelasan kamu panjang banget, aku enggak ngerti semuanya. Tapi baiklah, aku akan menembak laki-laki itu,” balasku.


Segera aku mengeluarkan panah yang terbuat dari tanaman. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menarik tali busur untuk memunculkan anak panah. Segera aku arahkan pada kaki laki-laki tersebut. Hal itu membuat panahnya berubah menjadi tanaman rambat. Tentu saja itu membuat laki-laki yang ada di depan monitor itu terkejut.


Bizar kembali mengarahkan agar aku membekukan lantai ruangan ini untuk sementara waktu. Merusak sensor-sensor yang ada, menurut laki-laki tersebut. Aku tidak habis pikir, padahal dia sudah bersusah payah untuk membangunkan laboratorium ini dengan keamanan yang ketat. Namun, untuk mencapai kemenangan, tentu saja ada yang harus dikorbankan.


Kami pun mendekat ke layar komputer. Tanpa perasaan, Bizar mendorong lawan ke belakang, sehingga orang yang serupa dengannya itu pun berguling. Aku memilih untuk mendekati orang yang mirip dengan Bizar.


Jika dilihat dengan seksama, rambutnya lebih ikal. Padahal selama ini rambut Bizar itu lurus dan selalu rapi. Dia mulai sering merawat tubuhnya semenjak kenal dengan semua teman-teman. Bahkan jas labnya pun kini ada lima. Satu hal yang aku lupakan ketika Bizar berada di lab. Ya, laki-laki itu selalu memakai jas lab putihnya. Jika tidak memakai pun, dia pasti akan meletakkan baju dinas di sekitarnya.


Seperti itulah yang sedang dilakukan laki-laki di tengah kepanikannya. Dia mengambil jas lab yang sudah digantung sejak dulu, lalu memakainya. Bizar benar-benar tidak ingin bisa lepas dari kebiasaanya yang satu itu. Kembali dengan Bizar gadungan, aku memaaksa agar jam tangan milik Bizar terlepas dari tangan lawan. Tidak lupa aku pun mengambil kacamata.


 


 

__ADS_1


__ADS_2