Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 22. Kamu Temanku (1)


__ADS_3

Aku menghela napas sesekali tengadah. Menggigit bibir bawah dan menggenggam erat buku-buku pelajaran. Hari pertama semester dua dan aku, Nadira, berhasil kembali ke bumi.


Aku lihat Nadia tengah memakan serialnya dengan malas. Emosinya mulai membaik sejak Kak Ron menetralkan kekuatannya. Sayang, kakakku yang satu itu harus kembali lusa lalu.


Tanpa Bizar dan Kak Ron, Miss Merry tidak mungkin menyetujui keinginanku. Terutama Radja yang menjadi kontra tentang Bara dan Adly. Namun, namaku terdaftar kembali di kelas. Tempat yang sama, suasana yang berbeda.


"Nadira," panggil Miss Merry padaku sambil memberikan roti bakar buatannya, "Demina bisa kembali, itu bergantung padamu."


"Aku paham, Miss. Dia sahabatku, aku akan memulihkan kenangan kami," balasku padanya.


Miss Merry mengangguk puas atas jawaban yang kuberi. Dia lalu kembali ke dapur. Sementara, dua temanku yang bersekolah di bumi juga baru selesai sarapan.


"Aku ragu, Afly bisa menindas mu kapan saja, bahkan ketika aku tidak ada," ucap Radja padaku. Dia melipatkan tangan di atas meja.


Si Ilmuwan Gila pun turut bicara, "Tenanglah Ja, jika ada yang menindas. Datanya akan langsung terkirim padamu."


Aku menggigit kasar permukaan roti. Mengunyah sambil mendengar perdebatan mereka tentang keputusanku. Sambil melihat mereka,  semua pandanganku tiba-tiba berubah menjadi biru pudar. Aku mengerjapkan mata sampai-sampai tersedak oleh roti bakar tersebut.


Segera aku mengambil susu yang ada di dekatku. Entah lebih besar mana pengaruh perdebatan dan warna biru pudar itu pada kasus ini. Aku tidak mau memikirkannya.


"Kalian pergi sekolah, 'kan? Jangan terlalu banyak ngobrol," tegur Nadia. Gadis itu lalu berdiri, dia berjalan dengan agak bungkuk, "aku duluan."


Meski aku memaksanya, Nadia memilih sekolah di rumah. Emosi labil mempengaruhinya. Semua setuju, karena tidak mau ada kejadian di luar nalar saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.


Aku mengambil piring kosong milik Nadia dan punyaku. Pergi ke dapur dan meletakkannya di atas wastafel. Saat kembali, kedua anak laki-laki itu seakan tidak mengindahkan apa yang Nadia ucap. Keduanya masih berdebat atas apa yang aku inginkan.


"Ayolah, kita harus sekolah. Upacara hari Senin enggak bisa kita lewatkan di hari pertama," ucapku pada mereka.


Radja memutar bola matanya. "Dua minggu dari ini kamu pasti males ke sekolah."


"Ya sudah, aku buka portalnya sekarang," ucap Bizar.


Karena tujuan yang berbeda, Bizar meminta aku dan Radja masuk terlebih dahulu. Aku muncul di samping sekolah. Gang kecil yang jarang dilalui, tanpa Radja. Entah di mana laki-laki itu berada.


Saat keluar dari gang, aku melihat beberapa anak tengah memakai tasnya. Para gadis lebih lama memperhatikanku dari atas sampai bawah. Tidak lama berbisik dan cekikikan. Aku memutar mata bosan, karena sejujurnya tidak ada yang salah dari apa yang kupakai.


Sampai di depan gerbang, aku malah bertemu Brittany yang bergelimang aksesoris. Anting emas, kalung perak, gelang plastik dan pernak-pernik di gantungan tasnya. Heboh sekali. Aku tidak ingin mengusiknya.


Sialnya, Brittany menyadari keberadaan aku yang tengah berjalan. Seringai tiba-tiba nampak dari wajahnya. Entah mau apa dia berjalan ke arahku.


"Apa nih? Si penyakitan balik ke sekolah? Wih mana pengawal kamu tuh?" sindir Brittany.


Aku menutup mulutku yang menguap. Tidak peduli dengan apa yang dia katakan, aku tetap berjalan. Hingga dia jengah diabakaikan dan melanjutkan ucapannya, "Kamu gak bisa mengabaikan aku."


Dengan satu tarikan, Brittany berhasil membuatku kembali terhuyung ke belakang. Duduk di permukaan tanah. Tidak sampai di sana, gadis itu nekat menarik kerahku.


Di mana para guru ketika ini berlangsung?


Aku enggak ingin jadi pusat perhatian di hari pertama masuk. Namun, orang-orang dari di depan pintu gerbang mulai mengerumuni. Ini menyebalkan. Di antara itu terlihat orang yang tengah membuka jalan.


"Cukup!" bentak seorang laki-laki. Ketika Brittany melepaskan cengkeramannya. Aku bisa melihat Radja berdiri di sana dengan memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


"Cih! Masalah kita belum beres, Nadira," balas gadis itu.


Aku menyipitkan mata. Demi apa? Aku bahkan tidak tahu permasalahannya. Dia langsung menuduh yang tidak-tidak. Kerumunan mulai berpencar, pura-pura seolah tidak melihat apa-apa. Menutup telinga seolah tidak tahu apa yang terjadi. Mereka terlalu dibutakan hal yang fana.


Aku menggeleng. Bukan waktunya memikirkan perasaan kacau ini. Radja sudah menatapku dengan tajam. Seolah berbicara denganku, aku-sudah-bilang.


"Makasih, Ja. Tadi kamu ke mana?" balasku basa-basi agar orang-orang benar-benar beranjak dari tempatnya.


Radja membalas, "Aku ke WC tadi. Parah, tau-tau kamu udah ditindas. Ini ide buruk, Dira."


Aku tertawa singkat padanya. "Aku temanmu, setidaknya percayalah."


Tiba-tiba aku merasa seseorang menepuk pundakku. Ketika melihat ke belakang, gadis berambut panjang bergelombang ada di sana. Tampilan yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia Demina dan wajahku memucat melihatnya.


"Kamu orang yang jatuh tadi, 'kan? Kamu enggak apa-apa?" tanyanya padaku.


Debaran jantung seakan berpacu. Entah karena gugup atau rindu yang menggebu. Menyadari Demina tidak mengingatku, aku harus bertingkah sewajarnya.


"Aku ... baik. Makasih udah mengkhawatirkan aku," balasku.


Tangannya belum juga beranjak dari bahuku. Matanya yang teduh menatapku penuh keheranan. Alisnya nyaris bertautan. Hal yang dulu dia lakukan saat baru mengenalku. Jika iya, Demina tidak akan lepas dari omelan untukku.

__ADS_1


"Maaf, aku hanya khawatir," ucapnya setelah sadar jika dia masih memegang pundakku.


Aku tersenyum agak kikuk. Menggigit bibir dan melirik pada Radja. Laki-laki itu hanya diam, sesekali melihat jam tangannya. Seolah dia tidak ingin terlibat dengan apa yang terjadi saat ini.


"Tenanglah, aku enggak apa," balasku.


"Oh ya, aku Demina," ucapnya sembari mengulurkan tangan.


Hal ini pernah kami lakukan, dulu sekali. Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskan dan berakhir dengan menjabat tangannya.


"Aku Nadira. Nadira Putri Haniah." Aku mengucapkan napas panjangku pada Demina.


"Seneng punya temen baru. Walau sebenernya aku familier dengan kamu, Nadira."


Aku temanmu, Demina. Aku temanmu, sahabatmu.


Bibirku terlalu kelu untuk membalasnya. Hanya senyum kecut yang dapat aku tampilkan. Lalu aku menoleh ke bawah, tepat di mana mata kami tidak perlu bertatapan terlalu lama.


"Nadira bakal sekelas sama kita, Demina. Kamu mungkin agak lupa, dia pernah satu kelas tahun lalu," tutur Radja pada gadis tersebut.


Demina menganggukkan kepala. "Jadi gitu? Kamu duduk bareng aku mau?"


Aku mengangguk padanya. Tanpa peduli tanggapan Radja, karena aku tahu dia pun pasti setuju. Memulai pertemanan dari awal lagi, apa salahnya?


Meski aku tahu, gelas yang retak tidak akan pernah sama seperti zamannya. Hubungan kami tergantung tindakanku, bagaimana aku bertindak dan dia menanggapi. Tidak ada yang pernah tahu, bisa jadi Demina sekarang berbeda jauh dengan persahabatan kami dulu.


-------------------


Jam istirahat pertama membuat aku melenguh. Ingin sekali ke perpustakaan, tetapi rasanya terlalu malas beranjak dari bangku. Di tambah, orang-orang di luar sana seperti cacing kepanasan yang siap menyerbuku.


"Dira, aku harus latihan buat lomba debat. Nanti kamu pulang sendiri gak apa?" ucap Radja di samping mejaku dan Demina.


Aku mengangguk. "Gak apa, Ja. Aku mau nunggu kamu aja sekalian cari Bara."


"Terserah kamu ajalah!" balas Radja, "aku ke kantin. Mau ikut?"


Aku menggeleng. "Demina juga tadi ngajak. Aku lagi males, apalagi udah liat muka si Brittany tadi."


Sekarang kelas jadi sepi. Hanya ada aku dan tiga laki-laki yang sibuk mainkan game online mereka. Entah siapa saja. Aku memilih untuk menutup wajah pada permukaan bangku. Bergerak ke sisi mencari posisi nyaman.


Baru saja lima menit, suara gaduh terdengar. Saatnya bertingkah tidak peduli. Tidak perlu mendengar atau mengintip. Lebih baik tidur.


"Afly, nyanyiin dong!" teriak nyaring anak perempuan.


Aku tetap bergeming. Sedikit saja salah tindakan, laki-laki itu bisa menindasku lagi. Terlebih saat ini dia dikelilingi oleh penggemar-penggemarnya. Kadang itu membuatku berpikir seberapa tampan hingga Afly menyandingi artis Korea?


Tidak lama aku mendengar petikan gitar yang asal-asalan. Semakin dekat, semakin aneh suaranya. Jangan lupakan itu menganggu ketenanganku. Saat mendongak yang kutahu orang-orang mulai tertawa.


"Ih, putri tidurnya bangun," celetuk anak perempuan.


Di hadapanku Afly berkacak pinggang. "Eh padahal belum aku cium lho. Kok bisa bangun?"


"Aku bukan Putri Aurora," balasku pada Afly. Semua kembali tertawa. Di antara mereka aku melihat Brittany, sekarang aku menyesal menolak ajakan Demina dan Radja.


Brittany mencondongkan tubuh ke arahku. Entah mengapa dia menjambak rambutku. "Gimana hari pertama masuk? Enak?"


"Kamu kenapa sih? Aku punya salah apa sampai kamu gini banget, Bri," ucapku tanpa menahan sakit. Memang jambakannya tidak ada apa-apa.


Aku menjelang pada Afly. Baru saja aku ingat jika dia memegang kartu As. Gawat jika Brittany tahu, tetapi apakah laki-laki itu memang sekejam itu?


Brittany semakin menjambakku. Dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dan aku diam tanpa melawan. Terlalu sayang jika kugunakan untuk hal seperti ini.


"Kamu tuh terlalu cocok untuk ditindas, Dira. Lihat ya, kamu gak punya orangtua. Temen sedikit dan berpenyakitan, komplit!" balas Brittany padaku.


"Brittany, udah aja deh. Kelas bentar lagi masuk. Si Radja bentar lagi balik," tegur Afly.


Jujur aku agak senang karena dia menghentikan Brittany. Namun, alasan terakhir membuat aku murung. Afly memang tidak semudah itu untuk aku dekati.


Anak-anak gadis mulai keluar satu demi satu. Sementara aku memegang pelipis yang agak sakit. Setelah enak, aku menyibukkan diri dengan buku tulis.


"Denger, Dira. Aku gak sepicik yang kalian pikirkan," ucapnya singkat padaku.


"Bisakah kamu berhenti menindasku, Afly?"

__ADS_1


Pertanyaanku tidak dibalasnya. Afly justru melenggang tanpa berkata apa-apa. Dia hanya bicara seperlunya jika denganku. Tidak masalah! Aku kembali bersekolah untuk memperbaiki hubungan semuanya!


Aku mencoba menyemangati diriku sendiri. Sampai di sanalah aku melihat Demina dan Radja bersama. Mereka membawa makanan ringan ke kelas. Masing-masing menyodorkannya padaku.


--------------------


Radja benar-benar meninggalkanku untuk latihan. Ada hal lain yang sebenarnya aku rencanakan. Demina dan Senin. Dua perpaduan kuat tentang matematika di sekolah.


Aku menarik napas dalam-dalam. Entahlah anggota math club masih mengingatku atau tidak. Sayangnya, aku lupa di mana ruangannya berada.


"Hei! Awas!" seru orang-orang di lapangan.


Refleks aku menoleh. Tidak ada apa pun. Anak laki-laki masih berteriak entah mungkin karena para perempuan yang sedang menguasai lapangan.


Eh? Mana bolanya?


"Awas!" seru laki-laki lain. Kali ini dia menyeretku.


Tidak lama benda bulat itu menapaki tanah. Memantul di dekatku. Aku melirik pada orang yang membantu.


"Bara?" ucapku lirih, "makasih."


"Kamu harusnya gak melamun," seru dia seraya melepas genggamannya.


Aku membuang muka. Bara bukan musuh. Bagaimana perasaan ini berkembang, tidak boleh ada kata membenci. Maka yang aku lakukan hanya tersenyum.


"Mau ke mana?" tanya Bara.


Aku menopang dagu memikirkan tiga kata, satu kalimat, yang baru saja keluar dari mulutnya. "Eum ... nunggu Radja, aku sama dia pulang bareng."


"Oh, Radja Abinaya?" Aku mengangguk. "Dia bakal pulang sore. Kamu gak ikut ekskul aja biar bermanfaat waktunya."


"Kamu sendiri kenapa enggak ke ruangan MPK? Biasanya kalian sibuk tuh," balasku agak menyindir.


Bara mengangkat bahu. "Pada pulang. Aku sendirian dan malas untuk pulang."


Ada kata yang dia tekankan di akhir kalimat. Seolah menangkap kata terakhir itu. Bara pulang untuk menemui Azumi. Kembali pada sisi jahat yang membuatku kesal setengah mati. Hingga ingin aku menariknya dalam kejujuran.


Gimana caranya aku mendekati kamu, Bara? Pertanyaan itu berputar dalam kepalaku hingga sakit.


Aku memegangi pelipis dan laki-laki itu mengetahuinya. Dia memapahku ke sebuah bangku kosong. Entah kenapa dia terlihat panik hingga berulang membuka tas hitam miliknya.


"Nadira," panggilnya seraya menyerahkan selembar tisu padaku.


Refleks memegang permukaan kulit dekat hidung. Saat kulihat warna merah agak gelap di sana. Aku menerima tisu tersebut.


"Maaf, ini muncul tiba-tiba," ucapku pelan.


Dia menggelengkan kepala. "Wajar, kamu selalu memforsir tubuh kamu."


"Eh?"


Mata Bara tidak menatap lawan bicaranya. Dia hanya memejamkan mata di sampingku. Atmosfer di sekitarku menjadi lebih berat dan dapat aku lihat aura hitam mengumbar di sana.


"Bara!" panggilku.


Tanpa sengaja aku mencubit lengannya hingga memekik meski suaranya tertahan. Anak MPK ini melihatku dengan bingung. "Oh maaf aku ketiduran ya? Haha."


"Enggak ... aku ... aku," ucapku bingung, "aku mau bilang makasih buat tisu dan pertolongan tadi."


"Iya, Nadira. Sesama teman harus saling menolong bukan?"


Bara berdiri lebih dulu dia menarik tas hitam itu. Mengeluarkan sebuah benda panjang yang dihias pita di tengahnya. Aku kebingungan, pasalnya untuk apa dia memberikan cokelat.


"Sejak kita bertemu dan berkenalan," ucapnya.


Jika dia menembakku dengan makanan itu, aku bakal bingung harus jawab apa.


"Bara?" panggilku pelan berharap dia menghentikan apa yang baru saja aku pikirkan. Terlebih mataku menangkap sosok Brittany di antara para pemandu sorak tim basket sana.


"Aku sudah menganggap kamu teman. Kenapa matamu itu? Terimalah cokelat ini. Kau kan temanku."


Sumringah karena dia tidak menembak. Namun, tidakkah ini terlalu cepat? Bahkan aku belum melakukan apa pun untuk membuatnya menjadi temanku. Benarkah dia menganggapku sebagai teman?

__ADS_1


__ADS_2