
“Pak Hisam ... bagaimana bisa Bapak menolong kami? Padahal seharusnya Bapak diam saja di tempat,” ucapku dengan lirih.
“Nadira, Radja ... bapak tahu kalian akan bertanya soal ini. Tapi, bapak sudah mengetahui semuanya dari Merry. Dia meminta bantuan untuk membuat kamu menjadi siswa homeschooling. Selain itu, kamu adalah murid yang selalu Bapak perhatikan dengan baik.”
Aku bergeming. Tidak disangka Pak Hisam memperhatikan diriku, walau memang beliau sering menegur. Bahkan, murid-murid lain yang sering menindas murid lemah jadi diperhatikan lebih olehnya. Tidak, sebagai guru ... itu sudah tugasnya kan?
“Pak, kami berdua akan segera mengalahkan Azumi. Kami tidak akan membiarkan kejahatan seperti ini terjadi lagi. Bapak tidak perlu khawatir,” ucap Radja, “kami akan balas dendam.”
Pak Hisam menggeleng lemah. “Jangan, Radja. Kamu juga jangan melakukannya Dira.”
“Tapi, Pak!”
“Balas dendam dengan nyawa membuat kalian terlihat sama saja dengan Azumi. Pada dasarnya dia hanya anak remaja seperti kalian, dia dipenuhi kabut hitam yang begitu tebal. Tugas kalian sebagai pahlawan adalah menariknya ke jalan yang benar,” jelas Pak Hisam pada kami berdua. Matanya sayu dan kulihat ada air yang mengalir ke sisi-sisi wajah.
Aku tidak dapat menahan emosiku, sehingga aku pun menahan napas. Sementara Radja membalas ucapannya, “Pak, Azumi sudah membuat banyak kehancuran. Bahkan dia adalah dalang dari pembunuhan keluarga Nadira! Bagaimana bisa kami menariknya dari kegelapan?”
“Ingat pesan bapak ini. Cara balas dendam yang terbaik adalah memaafkan dan membuktikan diri kalau kamu baik-baik saja. Bapak percaya kalau kalian berdua bersama-sama ... kalian ... kalian akan membawa bumi ini pada kedamaian,” ucap Pak Hisam pada kami.
Kami berdua saling lirik, mencari kejelasan yang tersisa. Namun, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut kami. Pak Hisam hanya tersenyum dan menangis. Tanpa kami ketahui, tangisan itu soal apa. Apakah sebuah penyesalan atau sebuah tangis haru?
oOo
__ADS_1
Aku mengambil jurnal milik Hana dari laci, mencoba mencari tahu tentang Azumi lewat masa lalunya. Ucapan Pak Hisam masih membekas dalam benakku dan aku tidak tahu haruskah aku mengikuti sarannya. Keputusan semuanya adalah penentu.
Persepsi tentang balas dendam di otakku sudah diubah. Kami tidak harus membalas daging dengan daging, nyawa dengan nyawa. Aku ragu, aku tidak tahu apakah aku bisa bersikap seolah semuanya akan baik-baik saja. Berucap memang mudah, memikirkannya pun lebih mudah lagi. Namun, prakteknya sangat sulit dilakukan.
Ini hari ketiga dan tiap ke sekolah orang-orang yang pernah melihat itu sudah dihapus ingatannya oleh Bizar. Miss Merry pun membuat kebohongan kecil tentang kejadian yang menimpa Pak Hisam. Alasan kebakaran dan teledor, berbagai cara mereka lakukan untuk menutupi soal Azumi. Kadang aku berpikir jika ini harus dibongkar saja. Bagaimana pun itu ingatan mereka.
Sudahlah, percuma saja aku berpikir jauh. Saat ini tujuanku adalah menyusun rencana, lalu meminta bantuan Nadia, Afly dan Bara. Jika benar apa yang dikatakan Hana, aku harus menggunakan kekuatan empat pedang. Setelahnya aku akan mengatakan pada Radja, mungkin dia akan setuju.
“Nadira, bisa kita bicara sebentar?” tanya Miss Merry padaku.
Aku mengangguk, mempersilakan peri itu masuk ke kamarku. Tidak sedikitpun pandanganku terlepas dari jurnal milik Hana. Walau isinya acak dan tidak dapat ditebak, aku tetap fokus mencari soal Azumi mungkin juga soal kekuatan empat pedang.
“Maaf karena aku tidak bisa menyelamatkan gurumu lebih awal, Dira. Bahkan setelah serangan Azumi terkena padanya, aku tidak bisa membantu gurumu itu. Kemampuanku saat ini tidak sehebat itu hingga bisa menyembuhkan luka darinya,” jelas Miss Merry padaku.
“Dia memang guru yang hebat. Pengajar yang baik dan kamu tidak boleh melupakan jasanya,” tegur Miss Merry padaku. Sontak aku mengangguk sebagai jawaban.
“Selama ini aku selalu dipandang rendah karena aku gadis berpenyakit aneh. Tidak banyak yang menerimaku apa adanya. Bahkan sebelum semua ini terjadi, teman sejatiku hanya Demina. Aku sangat mengagumi orang-orang seperti Pak Hisam, Miss.”
“Kalau begitu jangan kecewakan gurumu, Nadira. Aku akan berusaha untuk membuatnya kembali normal. Ah ya, satu lagi, aku rasa kalian semua perlu istirahat setelah semua yang terjadi. Kami tidak akan memaksa kalian berlatih sampai hari Minggu,” jelas Miss Merry.
“Terima kasih infornya, Miss. Sepertinya aku pribadi akan tetap berlatih. Aku tidak bisa meremehkan musuhku.”
__ADS_1
Setelah mendengar aku yang mengucapkan itu, Miss Merry mengembuskan napas. Dia lalu menggenggam tanganku sebentar sebelum beranjak dari kamar.
Ini memang bukan masalah mudah. Bahkan aku tidak tahu apakah besok hari akan tetap cerah atau mendung. Bisa saja Azumi muncul dan menyerang lagi, terlebih ingatanku berputar tentang anak-anak yang dikurung olehnya. Bagaimana nasib mereka sekarang? Rasanya aku ingin menyelamatkan mereka secepat mungkin.
Aku lalu menutup jurnal setelah yakin tidak ada cerita apa pun yang membantu. Segera aku berjalan keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Radja. Laki-laki itu harus tahu rencanaku, rencana yang kubuat sekilas. Ya, ya, aku tetap membutuhkan orang lain untuk menyusun rencana ini menjadi utuh.
“Radja, aku masuk ya!” ucapku lantang berharap laki-laki itu mendengarnya.
Tanpa ragu aku pun membuka pintu kamarnya. Di sana Radja sedang duduk di atas dipan sambil menatap langit luar. Aku melihat ke sekitar, ternyata di kamarnya ada Bizar yang sedang membaca buku. Miss Merry memang memberikan kami kebebasan, tetapi rasanya aneh juga karena tidak ada paksaan untuk berlatih seperti hari-hari sebelumnya.
“Bizar kamu di sini ngapain?” tanyaku iseng sekaligus mencairkan suasana.
“Radja suruh aku datang, katanya kamu bakal bahas rencana. Jadi ya udah, sekalian baca buku sains ini,” jelasnya.
Aku menatap Radja dengan pandangan aneh. Jujur saja, aku belum pernah mengatakan jika hari ini akan memberitahu rencanaku. Ya, walaupun itu memang niat awalku di kamar laki-laki ini. Namun, setelah hari itu ... sepertinya pikiran kami mulai terhubung satu sama lain.
Segera aku menghampiri Radja, menarik lengan baju laki-laki itu. Tanpa menunggu lama, Radja pun memilih untuk melihat padaku. “Pak Hisam percaya sama kita, Dira. Aku yakin kamu enggak berpikiran untuk bunuh Azumi.”
“Ya, Radja. Mungkin Pak Hisam benar, Azumi adalah anak remaja yang membutuhkan bantuan kita untuk menuntunnya kembali ke jalan yang benar,” balasku.
“Azumi memang anak remaja, dia bahkan lebih muda dua tahun dari kita. Hanya, kecerdasannya membuat dia duduk di bangku SMP kelas dua. Sebaya,” timpal Bizar. Aku melihat pada Bizar dan laki-laki itu segera memberikan layar transparan di hadapan kami. “Dibandingkan umurnya. Kita harus segera menghentikan Azumi atau dia bakal membuat banyak pasukan dengan orang-orang tidak bersalah di dalamnya.”
__ADS_1
Aku membelalak. Bahkan jika Bara tahu, dia pasti akan sama terkejutnya denganku. Bagaimana bisa Azumi membuat manusia-manusia tahanannya menjadi mayat hidup yang patuh? Tanpa peduli orang yang diderang mayat hidup itu adalah keluarganya sendiri. Aku benar-benar tidak habis pikir.