
Deru angin memanggil seorang gadis berjalan. Bertelanjang kaki dia terus melangkah pada tepian danau. Tiap langkah, tiap gesekan kain panjangnya pada tanah memercikkan sebuah cahaya biru bercampur dengan hijau. Dari sana tumbuhlah rumput dan bunga-bunga turut andil dengan bermekaran.
Gadis itu memegangi satu pohon, mengangkat tudung yang menutupi wajahnya. Tidak masalah baginya dengan tempat yang sepi tanpa kehidupan apa pun. Mata biru dia tujukan pada orang terdekat, seperti sang kakak yang tengah berdiam diri di hadapan lautan.
"Kak Mizuki," panggil gadis tersebut seraya mendekati.
Langkahnya kembali memberi kehidupan kedua pada daun-daun yang mengering. Semakin mantap, semakin subur pula tanaman-tanaman di sekitar sana. Gadis sebaya dengannya pun berbalik.
Wajah keduanya begitu mirip, hanya mata yang membedakan mereka. Kecuali jika gaun yang mereka kenakan pun dihitung. Mizuki, memiliki mata berwarna merah mengikuti keturunan ibunya. Gaun yang dia kenakan berwarna merah layaknya pipi bersemu ketika memandang langit sore. Dia terlihat cantik dengan rambut yang digulung ke atas ditambah sebuah tiara yang bertengger manias pada gadis tersebut.
"Adikku sayang. Kenapa kamu baru mengunjungi kakakmu ini setelah setahun berlalu?" tanya Mizuki.
Gadis dengan tudung itu berhenti di hadapannya. Tidak peduli dengan pakaian sederhana yang tengah dipakainya di hadapan ratu lain. "Aku sibuk membangun kerajaan, Kakak. Bagaimana keadaan kakak?"
"Tentu aku baik-baik saja. Kazuhiro membantuku dengan baik," ucapnya santai. "Hana, kalau kamu kesulitan, aku bisa minta bantuan Kazuhiro untuk membantumu."
Hana, gadis sederhana itu menggeleng. "Kerajaan itu milikku sepenuhnya, Kak. Biarkan dia hanya bekerja sama."
"Ya, kamu memang sulit untuk dibantu, Hana. Sudahlah, aku mengundangmu untuk melihat benda pusaka," lanjut Mizuki pada Hana.
Mizuki menggunakan tangannya untuk menarik air mendekat. Membawa sesuatu yang bercahaya di sana. Tidak lama sebuah pedang muncul dalam genggamannya. Membuah Hana memiringkan kepala ketika pedang itu dikelilingi oleh air.
"Ini senjata baruku. Ternyata kerajaan air sebelumnya menyimpan pusaka hebat seperti ini," tutur Mizuki.
Bahkan pertama kali melihatnya Hana merasa tidak tenang. Dia tidak berani mendekat. Terutama ketika dia melihang Sang kakak tampak berbeda. Rok yang dikenakan berubah menjadi warna biru tua. Matanya seakan tidak percaya, berulang-ulang dia mengerjapkan mata.
Mizuki tersenyum padanya. Gadis itu menunjukkan bagaimana air tengah mengikuti dirinya melalui pedang tersebut. Hana tidak tenang. Akan tetapi, dia bahkan tidak bisa menentang kakaknya itu.
--------------------------------
Bagi semua orang di sini, mata biru miliknya pertanda buruk. Bukanlah tentang bagaimana orang-orang memandangnya sebagai bangsa penyihir yang berkhianat. Bukan juga tentang bagaimana dia mendapatkan sihir padahal ibunya hanyalah manusia biasa dengan kemampuan super yang begitu kuat. Sayangnya, semua tentang ibu tidak menurun pada Hana.
Membangun kerajaan baru, pasukan baru dan pelayan-pelayan yang tidak terikat dari semuanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Meski dia telah mengorbankan setetes darah demi membiarkan makhluk, tumbuhan dan para peri kecil hidup. Semua itu tetaplah membutuhkan proses, waktu dan kepercayaan. Hana ingin mencapai semua itu dengan tangannya sendiri.
"Ratu?" ucap seorang pelayan yang tengah membenahi simpul kepang pada rambutnya.
"Ada apa?" tanya Hana singkat.
"saya dengar dari temanku di negeri seberang, benarkan Kerajaan Air begitu kuat? Katanya mereka berhasil melumpuhkan Kerajaan Api," cerita pelayannnya tersebut.
Hana melihat pada cermin. Pantulan kakaknya ada di sana. Bersamaan dengan pedang aneh itu. Lalu Hana menggeleng. "Itu bukan urusan kita. Biarkan saja."
"Tapi Ratu, yang saya dengar mereka memenjarakan pemimpin dan menyiksa mereka," tutur pelayan tersebut, "meski mereka bruntal, tetapi Kerajaan api tidak pernah menyiksa orang-orang."
Hana mendongak. Bukannya tidak ingin memikirkan soal kerajaan kakak dan perang yang baru saja selesai, tetapi dia benar-benar tidak ingin terlibat. Namun, mendengar apa yang dikatakan oleh pelayannya membuat dia merasa aneh. Kerajaan Air, tentulah dibantu oleh Kazuhiro. Tidak mungkin laki-laki yang diturunkan untuk menyatukan perdamaian menyetujui hal tersebut.
"Ratu, selain ini adakah yang harus aku lakukan?" tanyanya. Hana menggeleng.
Pelayan tersebut lalu membungkuk sebagai penghormatan. Meninggalkan Hana sendiran dengan kepangan rambut di samping. Lengkap dengan bermacam-macam bunga indah ditempel di sana. Dia lalu mengambil sebuah mahkota yang dapat membuar orang-orang tunduk padanya. Sore ini ada pesta jamuan dan sebuah diskusi yang Kazuhiro lakukan.
Hana menanggalkan apa yang selalu menjadi identitasnya. Hal yang selalu membuat orang berpikir jika dia menggunakan topeng. Licik seperti para penyihir dan melakukan segalanya untuk membalaskan dendam. Nyatanya rakyat telah mengenali dirinya.
Bukanlah lagi baju sederhana yang dia gunakan seperti bertemu Mizuki. Warna hijau daun mendominasi dengan beberapa permata menjadi hiasan. Pakaian khusus dia kenakan jika bertemu dengan orang-orang penting. Setelah semua siap dia beranjak dari tempat ke ruang temu.
Di sanalah dia melihat Kazuhiro tengah menunggunya. Pakaian biru dongker digunakan oleh pria itu. Hana tidak mempermasalahkan warna, tetapi bagaimana raja itu menatapnya bingung. Mungkin baginya jarang menemui ratu tersebut tanpa tudung hitam menggantung di sana.
"Ratu Hana," panggil Kazuhiro padanya.
__ADS_1
Hana menghampiri, duduk berseberangan dan meminta pelayan terdekat untuk mengambilkan teh dan camilan. Dibandingkan dengan kerajaan Hati yang Kazuhiro dirikan sebagai kerajaan utama, kerajaanya sangat sederhana. Ya, sangat sederhana tetapi begitu indah.
"Untuk apa Raja sepertimu ingin minum di kerajaanku?" tanya Hana singkat.
Beberapa pelayan mendatangi keduanya. Membawa teko, dua buah cangkir dan camilan manis yang diletakkan di meja. "Aku menyukai kerajaanmu, Ratu Hana. Sangat damaitanpa cibiran dan hinaan."
"Katakan padaku apa tujuanmu sebenarnya. Aku tidak mau kakakku kemari dan memporak-porandakan kerajan yang sudah susah payah aku dirikan," ucap Hana tegas kepada laki-laki tersebut.
"Hana, aku rasa kita tidak perlu seformal itu. Sebagai teman aku ingin meminta bantuanmu. Kakakmu menyiksa tahanan dan aku ingin kamu memastikannya," ucap Kazuhiro sambil menyesap teh pada cangkir di dalamnya.
"Kita bukan teman. Bahkan bukannya kamu takut karena aku ini seperti penyihir?"
Kazuhiro menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah menganggapmu begitu. Para naga menurunkan aku ke mari untuk menghentikan pertingkaian yang ada di Twins. Perang saudara atau niat jahat yang berlebihan."
"Bagaimana kalau aku bilang tidak? Kamu akan menyodorkan surat perang padaku?" Hana kembali bertanya dan dibalas gelengan.
"Dengar aku bukan orang seperti itu. Hana, aku tahu kerajaanmu ini ingin damai. Soal Mizuki ... aku hanya ingin kamu yang memastikannya. Juga kembali menyadarkan dirinya."
Hana mengaitkan dahinya. Kazuhiro tidak banyak berkata-kata lagi setelahnya. Meminum teh dan makan sedikit camilan. Entah apa yang terjadi pada pria aneh itu sebenarnya. Namun, Hana pikir dia memang harus menjenguk kembali kakaknya.
-------------------------
Kerajaan Air tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Hanya beberapa yang memiliki akses. Bagaimana bisa? Mizuki membuat peraturan aneh tersebut. Kakaknya bahkan tidak memberikan akses untuk Hana. Entah kenapa dan dia tidak begitu peduli.
Akan tetapi, ratu dari Kerajaan Tanaman ini menyesal, ingin sekali dia menarik kata-kata tersebut. Di saat-saat seperti ini dia jadi bingung bagaimana caranya mengunjungi Sang Kakak. Terpaksa dia membuka tudung, menyentuh air yang begitu tenang.
Melalui tangannya sebuah tanaman naik ke atas dan berhenti tepat setelah pucuk menyentuh telapaknya. Satu-satunya cara menarik perhatian para pengawal untuk membukakan portal ke sana. Selang beberapa menit, pusaran air muncul di depannya. Diikuti cahaya putih yang turut memutar di sana.
Hana kembali menutupi wajah dengan tudungnya. Lalu, tanpa ragu dia melompat dan saat itu juga dia diserap masuk ke dalam portal. Para pengawal menyambutnya dengan bersimpuh dengan lutut. Sebelum semakin menarik perhatian,tangan Hana ditarik ke atas.
"Aku bukan orang penting. Aku juga bukan ratu kalian, jangan tundukkan kepala kalian padaku," ucap Hana pada mereka.
Hana menggeleng. "Tidak ada yang tahu kecuali kalian. Biarkan aku menemui kakak. Tolong jangan buat orang lain curiga dengan kedatanganku."
"Baiklah, Ratu. Kami akan menunggu Anda," balas pengawal lainnya.
Setelah semua perjalanan yang dia lalui, Hana memasuki kerajaan. Para pengawal sempat mencegahnya. Memaksa dia membuka identitas. Tanpa bersuara dia memasuki kerajaan dan membuat mereka terikat dengan kekuatan tanaman miliknya.
"Hana, aku tidak menyangka kamu datang ke mari dengan cara itu lagi," ujar Mizuki yang berada di lantai atas.
Ratu dari Kerajaan Tanaman itu tidak melanjutkan langkahnya. Justru dia memandang pada lantai dua Kerajaan Air. Di mana Mizuki tengah berjalan di sana. Hana tidak peduli dengan posisinya yang bisa saja kejatuhan hiasan-hiasan di langit-langit.
"Hai, Kak," ucap Hana dengan senyumnya, "apa kabar?"
"Aku baik. Apa Kazuhiro yang menyuruhmu datang, Adikku?" balas Mizuki seraya menuruni anak tangga.
Semakin Hana melihat ratu tersebut dengan detail. Dapat dilihatnya warna rambut kecokelatan itu memiliki corak biru di berbagai sisinya. Tidak mungkin kakaknya mewarnai rambut tanpa berkonsultasi dengan dia dan adiknya. Hana mengerutkan dahinya.
"Kak, apa sesuatu terjadi pada rambutmu?" tanya Hana.
Mizuki refleks memegangi rambutnya dia lalu melipat tangan di depan dada. "Hanya kecelakaan kecil karena aku dan pedangku terikat."
"Pedang? Apa itu benda yang kakak tunjukan padaku beberapa hari lalu, Kak?" tanya Hana makin penasaran.
"Ikutlah denganku dulu, Hana. Aku akan menceritakan detailnya padamu di sana."
Sejujurnya Hana tidak menyangka bagaimana Mizuki menariknya ke sebuah penjara dasar laut. Dia bisa melihat gadis berambur merah membara diikat sekuat-kuatnya di dalam sel. Bahkan dia menutup mulut karena tidak memercayai apa yang pelayannya pernah katakan.
__ADS_1
Mizuki membuka tangan kanannya lebar-lebar hingga buih-buih bermunculan. Semua buih itu membelenggu di tangan kanan Mizuki. Membuat bentuk pedang yang pernah Hana lihat sebelumnya. Sementara tangan kiri menurunkan jeruji yang mengurung gadis tersebut.
"Lihat dan perhatikan, Hana."
Ucapan Mizuki membuat Hana membelalak. Sebelum pedang itu menebas gadis berambut merah. Hana menumbuhkan tanaman air untuk mencegah niat kakak. Ratu air itu balik memelototinya.
"Kakak." Hana memanggilnya denga tersenyum. "Apa tidak ada cara lain untuk menjelaskannya padaku?"
"Sekalian aku menghukumnya, Hana. Dia adalah musuhku," balas Mizuki. Entah bagaimana kekuatan kakaknya jauh meningkat dan bisa lepas dari tanaman tersebut.
Hana sekilas melihat pada gadis itu. Sudah terlalu terluka. Bagaimana bisa kakaknya segila ini?
Matanya menyipit pada pedang yang mengeluarkan sinar biru. Segera dia menun\=mbuhkan tanaman lain dan diarahkannya untuk mengambil pedang. Tidak sampai di sana dia juga membuat tahanan mendekat ke arahnya.
Mizuki langsung terbelalak ketika apa yang harusnya berada di tangannya, menghilang tiba-tiba. Hana mengembuskan napas lega lalu melirik pada pedang tersebut. Entah bagaimana pedang itu memiliki pemikirannya sendiri dan segera menyeran dirinya. Sebelum mendapat luka tusuk, Hana menghindar ke sisi lainnya.
Menggunakan tanaman-tanaman yang lebih banyak untuk menahan tajamnya pedang yang terarah ke arahnya.
"Mizuki! Apa yang terjadi pada pedangmu?"
Kakaknya diam tanpa jawaban. Membiarkan pedang semakin dalam memasuki pertahan adiknya. Hana tidak akan sempat menghindar atau bertahan lagi. Hingga satu luka tusuk tercetak pada bahu kirinya.
--------
Dia tidak peduli ini bulan ke berapa dia bangun dari tiap-tiap mimpi buruk tersebut. Sekali lagi, kakaknya meminta Hana datang ke Lux of Valley. Mendekati bulan baru, Mizuki sering sekali bertukar pesan dengannya.
Hana masih ingat jelas bagaimana pedang yang beraksi sendiri dan kakaknya yang bruntal. Bersyukur karena Kazuhiro mendengar permintaannya untuk memindahkan tahanan tersebut ke kerajaan utama. Hana benar-benar tidak habis pikir, padahal dia sendiri tidak begitu ingin membantu.
"Ratu Hana!" panggil para pelayan padanya. Baju compang-camping dengan beberapa luka yang menimbulkan darah di sekitarnya.
Hana yang panik segera berjalan cepat pada kedua peri-peri tersebut. Mereka menangis dan jatuh kepelukan Sang Ratu tanpa banyak pikir.
"Apa yang terjadi?" tanya Hana cepat. Keduanya terdiam hanya ada isak tangis.
Dari kejauhan dia mendengar suara tawa menggelegar. Suara yang amat dirinya kenali. Ketika Hana melihat di antara gerbang masuk ke kerajaan. Gadis berambut biru seutuhnya berjalan di sana dengan wajah yang familier dengannya.
"Kak Mizuki?" ucap Hana lirih.
"Maaf karena kedua pelayanmu itu membuatku geram sekali," balas Mizuki, "tidak apa ya jika aku sedikit melukai mereka?"
"Apa?"
Hana meminta kedua pelayannya melepas pelukan. Dia lalu berjalan di hadapan Mizuki menatap gadis yang merupakan kakaknya itu dengan tajam. "Kakak tidak boleh semena-mena dengan pelayanku!"
"Oh? Bukankah kamu selalu mengikat para pengawal di dalam Lux of Valley?" ujar Mizuki dengan sindiran mengikuti.
"Aku selalu menjelaskan kenapa aku melakukannya. Lagi pula, aku mengembalikan mereka ketika kaki ini menyentuh permukaan!" jelas Hana.
Mizuki kembali tertawa. Dia menutup mulut dengan punggung tangan kirinya dan melihat gadis yang berstatuskan sebagai adiknya. "Terserah padamu. Ngomong-ngomong aku ingin menemui adik kita yang lain."
"Dia sedang pergi, Kak. Jadi pergilah dan biarkan kerajaanku damai tanpa kehadiranmu," balas Hana dengan senyum yang agak dipaksakan.
"Kamu akan menyesal karena mengusirku Hana," bisik Mizuki dan Hana hanya memamerkan senyumnya pada Sang Kakak.
-------
Rinai hujan turun membasahi Twins. Semua jiwa terlelap dalam damai yang meredup. Tangan kekar itu mengangkat salah satu penghuni ringkih yang ada di sana. Membiarkan angin menyuruhnya untuk berbuat tidak semestinya. Melirik sekilas apa yang tersarung di samping pinggangnya.
__ADS_1
Tidak peduli bagaimana badai datang setelah dia menyelinap keluar setelah membobol jendela. Dia tetap melakukan apa yang menjadi tugasnya. Semua yang dibisikkan angin dan dia menurutinya. Sebelum fajar menyising dan tiada lagi kesempatan baginya.
"Mari kita hancurkan harapan semua orang sekarang," bisiknya pada orang yang masih terlelap dalam tidur.