
“Wah, apa kalian banyak bermain di luar?” celetuk Afly. Aku paham jika pertanyaan ini bukan merujuk pada bermain yang sebenarnya. Dia bertanya soal latihan.
Kembali aku pun mengangguk. Tepat setelah itu bibi kantin datang, menawariku banyak sekali makanan. Dia juga merekomendasikan beberapa makanan berat karena melihat tubuhku yang sangat kurus. Aku hanya bisa tersenyum saja mendengar komentarnya. Berbeda dengan Bara dan Afly yang memesan bakso, aku memilih untuk memakan nasi goreng.
“Aku denger kamu ikut sebagai peserta karya sastra, emang kamu lebih jago nulis daripada Rima? Oh tunggu bentar ... memangnya kamu kenal sama Rima?” tanya salah satu gadis di bangku yang sejajar dengan Afly.
Aku memperhatikan gadis itu. Dia menatapku dengan sangat meremehkan, ini agak membuatku kesal. Ya, kesal karena aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak pantas untuk mengikuti kompetisi ini. Memang benar aku tidak mengenal siapa Rima, tetapi mungkin dia lebih ahli dibandingkan dengan diriku. Kenyataan ini memang menamparku dan nafsu makanku. Bahkan nasi gorengnya baru saja dipesan dan belum aku lahap sedikit pun.
“Sudahlah, Tya. Aku percaya Nadira itu pandai mengarang. Lagi pula, Rima tidak pernah ingin ikut kompetisi seperti ini. Dia adalah penulis terkenal,” ucap Afly membelaku. “Aku percaya Rima pasti mengundurkan diri dan memberi kesempatan untuk orang lainnya.”
“Aku enggak maksud ngejek kok, Afly. Cuma kan seharusnya Rima yang dapet kesempatan ini. Tapi bener juga sih, penulis sekelas Rima enggak perlu ikut-ikut lomba lagi buat terkenal,” ucap gadis bernama Tya itu. Meski dia menerima ucapan Afly, gadis itu masih menatapku dengan kesal. Entah kesal karena gagal mempermalukanku atau gagal karena Afly tidak berpihak padanya. Aku berusaha untuk tidak peduli, lagi pula makananku baru saja datang.
Kembali Tya mulai berbicara, kali ini dia mengganti topik dengan membahas Afly. Ini mengundang para perempuan lainnya untuk ikut berbicara. Mereka masih membahas hal sama, perlombaan. Aku sekilas melirik wajah Afly muram, laki-laki itu pasti sangat tidak nyaman dengan pembahasan yang satu itu.
Aku kembali melahap nasi goreng seraya menenangkan hati. Tidak dapat dan mungkin tidak akan pernah aku mengerti kenapa Afly bisa tahan dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi seperti ini. Mungkin memang tidak sepribadi itu, tetapi tetap saja. Para gadis yang berada di bangku ini memiliki mulut tajam nan pedas. Tangan dan mulut itu pernah dipakai untuk menindas orang-orang yang lebih lemah dari mereka.
Ingin rasanya marah, tetapi jika aku melakukan hal serupa dengan mereka semua. Perlahan aku kembali mengunyah sambil mendengarkan percakapan mereka semua.
“Aku memang menjadi bagian tim debat, tapi ... aku enggak yakin bakal ikut sampai akhir. Kalian enggak perlu khawatir soal kemenangan. Tim debat udah punya anggota cadangan yang juga hebat. Iya, gak, Bara?” ucap Afly. Aku melihat interaksi mereka yang sangat tidak biasanya. Harus diabadikan kalau bisa.
__ADS_1
Bara yang mendapatkan kode mata dari Afly pun segera membalas perkataan sebelumnya. “Benar, jangan khawatirkan tim debat. Bahkan aku atau Radja saja sudah cukup, sayangnya ini tim. Dengan siapa pun kami bekerjasama, kami akan tetap bisa memenangkan perlombaan itu.”
Ucapan Bara membuatku tertohok. Masalah satu saja belum selesai dan kini rasanya aku sedang ditimpa oleh batu besar. Peserta cadangan saja belum pernah ikut berlatih bersama mereka. Lagi pula ini tim, tidak mungkin yang dihitung hanya mereka-mereka saja.
Aku menelan ludah dan segera berpamitan dari mereka semua. Sebaiknya aku kembali ke kelas. Mungkin Demina tidak akan menyuruhku belajar mati-matian lagi. Setidaknya tidak ada lagi pembahasan lomba lagi. Bukannya tidak mau mendengar, tetapi ... aku tidak dalam kondisi hati yang baik untuk mendengarkan semua itu.
— — — — — — — — — — —
“Nadira, Miss harus pergi untuk memeriksa keadaan Azumi. Kamu bisa bantu Miss untuk menunggu perpustakaan ini lebih dulu kan?” tanya Miss Ann di sela-sela aku membaca buku novel. Aku meletakkan buku tersebut menjadi terbaring dari posisi awalnya. Setelahnya aku pun melihat peri tersebut tengah mengumpulkan kekuatan untuk membuka portal.
“Tentu, Miss. Aku akan menjaga tempat ini sampai Miss kembali. Lagi pula aku bosan di rumah, sendirian. Nadia kan ikut dengan teman-teman yang lain untuk berlatih dan berpatroli,” balasku.
“Kalau begitu, Miss pergi dulu. Kamu tidak perlu membereskan perpustakaan, Dira. Aku tidak mau Ron memarahiku nanti,” balas Miss Ann mengingatkanku lalu segera pergi tanpa jejak sekali pun. Aku mengangkat bahu dan melanjutkan membaca novel lagi.
Suara pintu dari perpustakaan tiba-tiba terbuka. Seorang gadis berambut panjang sepunggung berjalan ke rak novel-novel. Aku turut pergi ke sana untuk mengembalikan buku novel yang baru saja selesai dibaca.
Gadis itu lalu melirikku dengan tajam, tetapi dia tidak berkata apa pun. Tidak masalah, itu sudah biasa aku dapatkan. Lebih baik aku bersikap cuek saja pada tatapannya. Sebelum kembali ke meja tempatku membaca, tiba-tiba lenganku ditahan. Segera saja aku melihat siapa orang yang baru saja menahanku.
“Kamu Nadira, kan? Orang yang disuruh jadi peserta lomba cerita?” ucap gadis itu.
__ADS_1
Aku mengangguk, menerima fakta yang baru saja dia bilang. “Benar, aku Nadira. Aku peserta lomba itu. Ada apa ya?”
“Seberapa berani kamu melangkahi aku dalam mengikuti lomba itu? Memangnya kamu ini orang yang lebih populer daripada aku ya?!” ujar gadis itu padaku.
Entah bagaimana dia berhasil mendorongku begitu keras hingga membentur salah satu rak buku di tempat lain. Punggungku mati rasa. Namun, aku tidak boleh terlihat lemah seperti ini. Jika aku bisa menduga, gadis ini pasti Rima. Orang yang dibicarakan Tya dan Afly tadi.
Mataku tertuju pada sebuah simbol aneh yang ada tangannya. Berbentuk seperti es atau apalah itu! Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Namun, satu yang aku yakini. Dia adalah pasukan Azumi dan mungkin akan segera berubah menjadi monster jika aku tidak mencegah dirinya. Sepertinya teman-teman melewatkan beberapa orang di sekolah ini, salah satunya Rima.
“Tunggu sebentar, Rima. Jangan gunakan kekuatanmu untuk hal-hal negatif seperti saat ini, tenangkan dirimu,” ucapku seraya kembali berdiri dan mendekati gadis itu.
Rima terlihat ketakutan, dia perlahan berjalan ke arah lain. “Bagaimana ... bagaimana bisa kamu mengetahui tentang kekuatanku ini?”
“Tunggu, kamu menyadari jika kamu punya kekuatan, Rima?”
“KATAKAN KAMU SIAPA?!” Tiba-tiba gadis itu berteriak. Aku mulai merasa hawa dingin ini menusuk. Segera aku merogoh ponsel. Menekan angka satu dengan cepat. Semoga saja Radja bisa dihubungi dengan cepat, karena aku rasa ... dia tidak akan mau diajak mengobrol empat mata.
“Halo, Nadira? Kenapa kamu menelpon? Aku sedang berlatih,” ujar Radja dan aku tidak peduli.
“Ja, kamu ke sini dalam dua menit atau kamu akan menemukan jasadku sudah membeku.”
__ADS_1