Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 95. Jurnal Sihir (2)


__ADS_3

“Halo, Kak Ron? Ya ... aku ada di Twins, tepat di


laboratorium. Kakak masih di sekolah? Kalau tidak kenapa harus pakai ponsel? Oh


... baiklah, Kak. Aku akan menunggu di sini. Hati-hati dalam menangani monster


tersebut, Kak,” ujarku saat bicara di telepon. Perasaanku tidak tenang.


Radja dan Bizar yang terdiam di posisi mereka pun mulai


sadar. Radja memegang pundakku, sementara si ilmuwan kembali ke komputernya


lagi. Dia mulai melacak keberadaan Kak Ron di luar sana. Sungguh aku tidak


tenang. Bisa-bisanya musuh datang lagi, padahal aku sudah mengeluarkan terlalu


banyak tenaga hari ini. Sementara Radja tidak mungkin berperang lagi. Aku tahu,


dia tidak akan sanggup.


Sementara Bizar, jangankan pergi untuk melawan. Tubuhnya


yang lemah membuat dia tidak bisa bertarung lama-lama. Tidak mungkin. Lagi


pula, laki-laki yang satu ini pasti bisa mengatasinya. Dia akan meminta bantuan


pada salah satu rekan kami. Paling dekat dan senggang yang terbaik.


Di pojok kiri, Bizar menampilkan keadaan lokasi di mana Kak


Ron akan berhadapan dengan musuh. Di sana ada lebih dari delapan pohon tua yang


bergerak. Mereka pasti dikendalikan, entah oleh siapa dan apa tujuannya. Aku


hanya tahu jika mereka dikendalikan, entah menggunakan sihir atau kekuatan


elemental sepertiku. Kekuatan tanah, khususnya tanaman bisa mengendali dan


menumbuhkan apa saja yang berada di sekitar. Bisa juga mengendalikan kehidupan


dari tanaman itu sendiri.


Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang


melakukan ini. Seperti memanfaatkan keadaan kami yang sedang terpuruk. Namun,


jika begitu, orang yang dia incar dari awal adalah aku atau Radja. Apa ini


pekerjaan laki-laki bertudung itu lagi? Ya ampun, aku benar-benar tidak habis


pikir dengannya. Segera aku pun mengepalkan tangan saking kesalnya.


“Bizar, buka portalnya,” ujar Radja tiba-tiba. Sontak aku


dan Bizar pun melihat ke arah laki-laki tersebut. Radja sudah hampir kehabisan


tenaga setelah dia bertarung dengan laki-laki bertudung pengguna bayangan. Apa


dia sudah gila?


Dan Bizar mewakiliku untuk berbicara. “Dari segala misi yang


pernah kita tempuh, ini paling gila. Kamu udah hampir kehabisan tenaga, Radja!


Jangan mempertaruhkan keberuntunganmu terus. Bagaimana pun aku menolak.”


“Mereka kekurangan orang dan akan banyak yang menjadi


korban. Aku yakin kalian berdua berpikiran hal yang sama,” ujar Radja spontan.


Dia benar-benar santai saat mengucapkannya.


“Sial, lagi-lagi aku tidak bisa menentangmu. Baiklah, pergi

__ADS_1


bersiap-siap. Aku akan membuka portal di saat yang tepat,” balas Bizar.


“Tunggu ... kalian yakin? Tepatnya kamu Radja, ini bukan


musuh yang mudah dan kamu terlihat santai-santai saja,” ucapku khawatir,


“tenagamu sudah hampir habis. Bahkan aku tidak yakin jika kamu bisa terbang


dengan normal.”


Bukannya menjawab, Radja justru menepuk puncak kepalaku sebentar.


Dia lalu tersenyum dan melepaskan tangannya. Bizar menyerukan jika portal sudah


terbuka. Aku tidak rela, takut dia akan terluka. Selama ini Radja sudah banyak


membantuku, tetapi dia jarang memperhatikan dirinya sendiri. Aku jadi takut


jika dia tidak akan baik-baik saja.


Bizar sibuk mengetik.  Walau dia bisa membaca pikiranku sekarang, aku tidak peduali. Aku harus membantu Radja. Segera aku


melompat ke dalam portal. Tanpa peduli Bizar menyerukan namaku. Sudah


terlambat, aku berada di dalam portal. Tentu saja setelah keluar aku menabrak


punggung besar dari Radja.


“Nadira?!” ucapnya agak meninggi.


Aku hanya tersenyum sambil memberikan dua jari pertanda


damai. Segera aku melihat pohon-pohon itu. Cara terbaik untuk menghentikan


kekacauan ini hanyalah membuat tanaman itu dikendalikan olehku. Cara lain,


tebang semua pohon. Namun, aku yakin jika musuh tidak mungkin memberikan hal


Kak Ron dan rekan-rekan lainnya mulai berpencar.


Masing-masing memegang satu pohon. Namun, itu pun tidak menutupi pohon-pohon


yang masih bergerak bebas dan siap menerkam manusia-manusia di tempat ini.


Segera aku pun mengeluarkan caladbolg.


Mimpi Hana mengingatkanku akan pengendalian kedua kekuatan elemental di dalam


tubuhnya. Apa aku juga bisa  melakukannya?


Radja berdiri di hadapanku. Tidak membiarkan aku semakin


dekat dengan musuh. Menyebalkan sekali. Alhasil aku pun mundur beberapa


langkah. Kupegang erat-erat gagang pedang tersebut. Menutup mata lalu


merapalkan mantra beberapa kali. Tidak akan aku biarkan mereka menguasai sumber


oksigen untuk kejahatan. Jika ingin melakukannya pun kenapa tidak langsung


menghancurkan pohonnya saja? Sudah pasti manusia akan kekurangan pasokan


oksigen, kecuali musuhnya juga tinggal di bumi.


Aku pun membuka mata. Dapat aku rasakan nyawa-nyawa tumbuhan


di sekitar yang belum terkena paparan kegelapan. Segera aku pun membuat tanaman


di dekat para pohon menjadi lebih panjang. Batangnya mengikat pohon tersebut.


Sampai aku bisa merasakan detak jantung dari pohon-pohon yang dikendalikan.


TOLONG KAMI!

__ADS_1


Suara itu membuat kepala dan jantungku sakit. Aku kesulitan


untuk bernapas. Semakin tumbuhan itu mengikat, aku merasakan sakit yang luar


biasa. Hingga aku menjatuhkan pedang tersebut. Rasanya aku baru saja ketiban


beton. Kepalaku benar-benar sakit.


“Nadira!” ucap Radja di depanku. Sebelum aku jatuh, dia


segera menopang tubuhku. Sementara yang aku lihat di depan sana semua tanaman


itu berhenti maju. Mereka berjalan mundur, tepatnya kembali ke tempat semula.


Selain Radja yang khawatir, Kak Ron turut mendekatiku. Dia


pun mengangkat tubuhku. “Radja, kamu pergi duluan. Bawa Nadira bersamamu dan


minta Bizar untuk memeriksanya.”


Aku merasa Kak Ron memindahkanku pada Radja. Laki-laki itu


benar-benar panik, dia tidak mau menunggu portal meskipun Bizar akan membukanya


dalam hitungan menit. Segera dia membentangkan sayap dan terbang tinggi ke atas


langit. Dalam kecepatan itu, sebuah ruang dimensi menarik tubuh kami. Radja


semakin erat mencengkeram tangan dan juga lututku. Seolah, aku bisa jatuh kapan


saja.


Sampai di laboratorium dengan kesadaran yang hampir habis,


Bizar segera menghampiriku. Dia meminta agar Radja memindahkannya ke salah satu


bangsal yang ada di ruang medis. Biasanya Kak Ron yang mengisi tempat ini,


tetapi sekarang kakak masih berhadapan dengan musuh. Mungkin mengawasinya.


“Bizar, seharusnya kamu tutup portal setelah aku pergi,”


ujar Radja dengan nada rendah dan wajah yang tertunduk.


“Aku melakukannya,” balas Bizar seraya tangan dan matanya


tetap terarah pada layar transparan di hadapannya. Bukan karena malas melihat


Radja, tetapi dia menggantikan posisi kakak dalam mengecek keadaanku.


“Teman-teman ... aku baik-baik saja,” ucapku lirih, mereka


tidak mendengarkannya.


“Ini bukan salah, Bizar. Haaa ... ini salahku, harusnya aku


lebih berhati-hati,” ucap Radja.


Bizar menimpali, “Tenang saja. Kita sama-sama akan kena


hukuman kok. Lagi pula, hukuman dari Kak Ron tidak akan membuat kita babak


belur.”


“Jadi begitu ya? Selama aku masih sibuk, kalian malah sibuk


mengobrol?” ucap Kak Ron di ambang pintu.


Aku sempat melihat wajah kedua teman sebayaku yang menegang.


Hanya dalam hitungan detik saja, keduanya tumbang. Jika aku bisa menjawab siapa


yang hebat, aku akan bilang Kak Ron paling hebat.

__ADS_1


__ADS_2