
"Nadira!" Panggilan Radja membuatku tersentak. Aku
melihat ke arahnya dan dia terbang ke arahku. Dia tertegun ketika melihat apa
yang sedang aku pegang. Satu dari empat pedang suci telah memilihku.
Aku menggenggam erat pedangnya dan bisa aku rasakan sensasi
aneh di sana. Kilasan balik bagaimana dulu Afly, Bara dan Nadia sangat sulit
untuk disatukan. Bahkan untuk menembus pertahanan Bara, aku harus menjadi
jahat. Mengabdi pada Azumi dan mencari tahu apa saja yang ada di kerajaannya. Sampai
saat ini, kami dipertemukan kembali.
Azumi di depan sana sedang menggertak. Dia kembali menaikkan
tongkatnya dan membuat awan-awan hitam berkumpul di tengah. Mana mungkin gadis
itu akan membuat badai. Petir tiba-tiba datang dan hujan turun dengan derasnya.
Aku tetap memegang pedang.
"Radja, katakan padaku kalau kamu punya rencana atau
kita harus membuat Azumi pingsan," ucapku asal-asalan. Semua yang datang
sekelebat di pikiran pun keluar begitu saja.
Radja menoleh ke arahku. "Sayangnya aku tidak punya
rencana apa pun. Kita harus menghentikannya, kalau kamu bisa membuatnya pingsan
silakan saja."
Aku menatap pada pedang bersinar biru di tanganku. Ini bukan
saatnya memanfaatkan kekuatan pedang suci. Tiba-tiba Azumi mengatakan petir
berwarna hitam ke arah kami. Segera saja Radja menarikku untuk segera pergi
dari tempat tersebut.
Radja berdecak sebal. Kami mencoba bersembunyi di antara
gedung bekas kekacauan. Tempat ini sudah berantakan dan membuat lawan pun jadi
sulit mencari kami. Namun, yang aku khawatirkan sekarang adalah kondisi
teman-teman lainnya. Apakah mereka berhasil mengentikan pasukan Azumi?
Mengingat barisam deret geometri saja membuatku mual, terlebih itu adalah
pasukan tengkorak.
Segera aku pun mengarahkan jam dan mencoba mencari pesan
dari Bizar. Tidak ada. Apa laki-laki itu baik-baik saja? Segera aku pun
mengaktifkan program agar terhubung dengan teman-teman. Suara kekacauan muncul
di mana-mana dan saling tumpang tindih. Mereka pasti kerepotan. Sulit untuk
melawan pasukan yang tidak akan pernah habis.
"Kalian semua bisa mendengarkan suaraku? Aku punya
rencana," ucap Radja.
Aku mendengar semua berusaha menjawab 'ya', mereka pasti
menunggu rencana yang lebih baik. Tidak mau kalah aku mencoba untuk terhubung
dengan Bizar. Namun, laki-laki itu menolak panggilanku. Maka aku kembali
membuka peta di mana posisi Azumi berada.
__ADS_1
"Kalian semua mendekatlah ke posisi kami. Kita bawa
semua pasukan pada Azumi lagi. Gila? Tidak, kita akan menghancurkannya
sekaligus," jelas Radja.
"Radja, itu rencana yang sangat konyol."
Aku mengernyitkan dahi. Sejujurnya itu bukan rencana konyol.
Jika dipikir-pikir, kami bisa kembali ke rencana pertama. Menjebak Azumi dan
mengurungnya dengan pedang suci.
Radja memikirkan sampai sejauh itu. Aku tidak percaya.
Berulang kali, laki-laki menyebalkan itu mencoba untuk meyakinkan teman-teman.
Sampai akhirnya Bizar pun membantu pendapat Radja. Aku pun turut berargumen.
Hati mereka mulai melunak dan perlahan-lahan menerima rencana milik Radja. Ya,
mereka akan membawa pasukan Azumi ke garis depan.
Hingga angin kencang mulai muncul. Aku tidak bisa
bersembunyi lebih lama lagi. Udara panas ini membuat anginnya semakin kencang
dalam berputar. Aku pun segera menempelkan telapak tangan pada tanah.
Membayangkan es muncul perlahan-lahan tepat di tengah pusaran angin. Udara
panas akan menghilang jika ada udara dingin mendominasi.
"Sudah berhenti kabur rupanya," ujarĀ Azumi
di atas sana.
Aku tetap memegang pedang dan tidak berniat untuk
menggunakannya pada Azumi. Terlebih dia ada di atas sana dan sulit bagiku untuk
di atas tanah. Ini benar-benar gila dan aku hanya bisa meneguk ludah.
Suara dari pasukan Azumi bisa kudengar dari tiap penjuru.
Bersamaan dengan itu, Radja segera berdiri di hadapanku dan siap menangkis tiap
serangan dari gadis di atas sana. Walau terbang setinggi apa pun, jika ada
Radja, Azumi tidak akan bisa kabur. Aku tertolong dengan inisiatif Radja.
Teman-teman mulai menghampiri kami, membentuk sebuah lingkaran
karena musuh pun mengitari kami. Aku melihat ke arah Afly, Bara dan Nadia.
Memberikan aba-aba dengan mengacungkan calagblod ke atas langit. Tanpa ragu,
mereka pun mengeluarkan pedang mereka juga. Afly menghampiriku, dia
menyarungkan syal padaku. Perlindungan cahaya dapat aku rasakan dari sana.
"Aku pergi dulu, Radja," ucapku. Kulihat Radja
mengangguk. Maka aku menyapa pada Bizar yang sudah kelelahan. "Bizar
hati-hatilah!"
Nadia terbang menggunakan api yang ada di sekitar tubuhnya.
Sementara Afly terbang secepat kilat dengan sayap yang baru aku lihat. Sayap
seperti seekor burung merpati putih dan sangat indah. Di samping itu Bara
menarik tanganku agar kami sama-sama berada di atas langit.
"Untuk apa kalian naik ke atas? Menumbalkan teman-teman
__ADS_1
kalian? Aku katakan, ini percuma saja! Aku tidak terkalahkan," ucap Azumi
lantang.
"Jangan banyak omong, Azumi. Kami lawanmu yang
sebenarnya," balas Nadia. "Ini luka dari orang-orang yang pernah kamu
sakiti."
Nadia menyerang dengan pedangnya dan kekuatan apinya. Azumi
segera menangkis semua serangan. Dia justru membalikkan semua serangan
menggunakan elemen kegelepannya. Namun, dengan cepat Afly berdiri di hadapan
Nadia dan membentangkan tangannya untuk membuat perlindungan. Kekuatan itu pun
tidak dapat menembus pelindung milik kami.
"Perlindungan ini aku buat khusus untuk orang-orang
yang sudah kamu sakiti. Sekarang terimalah ini!" balas Afly yang lalu
mengarahkan pedangnya pada Azumi.
Pedang itu mengeluarkan sebuah sinar yang sangat terang dan
Azumi tidak sempat menghindar. Gadis itu pun jatuh ke salah satu atap gedung.
Segera kami pun turun ke bawah sana dan kembali berhadapan dengan Azumi.
Aku dan Bara maju perlahan-lahan, membawa pedang
masing-masing. Siap untuk mengalahkannya. Namun, semudah ini kah? Aku tidak
yakin.
"Bara, kamu adalah orang yang paling setia padaku. Apa
kamu rela membunuhku? Aku ini orang yang sudah melatihku," bujuk Azumi
sambil tertatih-tatih untuk bangkit kembali.
Tidak. Bara tidak berucap tetapi dia langsung mengunci Azumi
dengan menggunakan kekuatan kegelapannya. Bara menggenggam erat pedang dengan
kekuatan yang lebih besar dan dapan membunuh gadis itu. Aku segera memegang
lengannya.
"Rencana kita bukan untuk membunuhnya," ucapku
pada Bara. Tegas.
Laki-laki itu pun menurunkan pedang yang justru membuat
Azumi kembali terlepas. Aku kembali mendekat dan menancapkan pedang di
sampingku. Aku lihat baik-baik bagiamana gadis tersebut menatap penuh benci
pada kami.
"Azumi, tolong tarik semua pasukanmu dan buat mayat
hidup itu kembali menjadi manusia biasa," ucapku.
"Kamu meminta seolah aku akan mengabulkannya saja,
Nadira. Sayang sekali! Bukannya berhasil, kamulah yang akan mati di sini,"
ucap Azumi.
Tiba-tiba bayang-bayang tangan hitam menarikku. Bayangan itu
juga membawa Azumi. Semua berteriak memanggil namaku. Mereka juga mencoba untuk
__ADS_1
membebaskan ku tetapi sulit, bahkan aku perlahan-lahan mulai terhisap ke dalam
gedung.