Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 53. Batas Waktu (1)


__ADS_3

"Nadira!" Panggilan Radja membuatku tersentak. Aku


melihat ke arahnya dan dia terbang ke arahku. Dia tertegun ketika melihat apa


yang sedang aku pegang. Satu dari empat pedang suci telah memilihku.


Aku menggenggam erat pedangnya dan bisa aku rasakan sensasi


aneh di sana. Kilasan balik bagaimana dulu Afly, Bara dan Nadia sangat sulit


untuk disatukan. Bahkan untuk menembus pertahanan Bara, aku harus menjadi


jahat. Mengabdi pada Azumi dan mencari tahu apa saja yang ada di kerajaannya. Sampai


saat ini, kami dipertemukan kembali.


Azumi di depan sana sedang menggertak. Dia kembali menaikkan


tongkatnya dan membuat awan-awan hitam berkumpul di tengah. Mana mungkin gadis


itu akan membuat badai. Petir tiba-tiba datang dan hujan turun dengan derasnya.


Aku tetap memegang pedang.


"Radja, katakan padaku kalau kamu punya rencana atau


kita harus membuat Azumi pingsan," ucapku asal-asalan. Semua yang datang


sekelebat di pikiran pun keluar begitu saja.


Radja menoleh ke arahku. "Sayangnya aku tidak punya


rencana apa pun. Kita harus menghentikannya, kalau kamu bisa membuatnya pingsan


silakan saja."


Aku menatap pada pedang bersinar biru di tanganku. Ini bukan


saatnya memanfaatkan kekuatan pedang suci. Tiba-tiba Azumi mengatakan petir


berwarna hitam ke arah kami. Segera saja Radja menarikku untuk segera pergi


dari tempat tersebut.


Radja berdecak sebal. Kami mencoba bersembunyi di antara


gedung bekas kekacauan. Tempat ini sudah berantakan dan membuat lawan pun jadi


sulit mencari kami. Namun, yang aku khawatirkan sekarang adalah kondisi


teman-teman lainnya. Apakah mereka berhasil mengentikan pasukan Azumi?


Mengingat barisam deret geometri saja membuatku mual, terlebih itu adalah


pasukan tengkorak.


Segera aku pun mengarahkan jam dan mencoba mencari pesan


dari Bizar. Tidak ada. Apa laki-laki itu baik-baik saja? Segera aku pun


mengaktifkan program agar terhubung dengan teman-teman. Suara kekacauan muncul


di mana-mana dan saling tumpang tindih. Mereka pasti kerepotan. Sulit untuk


melawan pasukan yang tidak akan pernah habis.


"Kalian semua bisa mendengarkan suaraku? Aku punya


rencana," ucap Radja.


Aku mendengar semua berusaha menjawab 'ya', mereka pasti


menunggu rencana yang lebih baik. Tidak mau kalah aku mencoba untuk terhubung


dengan Bizar. Namun, laki-laki itu menolak panggilanku. Maka aku kembali


membuka peta di mana posisi Azumi berada.

__ADS_1


"Kalian semua mendekatlah ke posisi kami. Kita bawa


semua pasukan pada Azumi lagi. Gila? Tidak, kita akan menghancurkannya


sekaligus," jelas Radja.


"Radja, itu rencana yang sangat konyol."


Aku mengernyitkan dahi. Sejujurnya itu bukan rencana konyol.


Jika dipikir-pikir, kami bisa kembali ke rencana pertama. Menjebak Azumi dan


mengurungnya dengan pedang suci.


Radja memikirkan sampai sejauh itu. Aku tidak percaya.


Berulang kali, laki-laki menyebalkan itu mencoba untuk meyakinkan teman-teman.


Sampai akhirnya Bizar pun membantu pendapat Radja. Aku pun turut berargumen.


Hati mereka mulai melunak dan perlahan-lahan menerima rencana milik Radja. Ya,


mereka akan membawa pasukan Azumi ke garis depan.


Hingga angin kencang mulai muncul. Aku tidak bisa


bersembunyi lebih lama lagi. Udara panas ini membuat anginnya semakin kencang


dalam berputar. Aku pun segera menempelkan telapak tangan pada tanah.


Membayangkan es muncul perlahan-lahan tepat di tengah pusaran angin. Udara


panas akan menghilang jika ada udara dingin mendominasi.


"Sudah berhenti kabur rupanya," ujarĀ  Azumi


di atas sana.


Aku tetap memegang pedang dan tidak berniat untuk


menggunakannya pada Azumi. Terlebih dia ada di atas sana dan sulit bagiku untuk


di atas tanah. Ini benar-benar gila dan aku hanya bisa meneguk ludah.


Suara dari pasukan Azumi bisa kudengar dari tiap penjuru.


Bersamaan dengan itu, Radja segera berdiri di hadapanku dan siap menangkis tiap


serangan dari gadis di atas sana. Walau terbang setinggi apa pun, jika ada


Radja, Azumi tidak akan bisa kabur. Aku tertolong dengan inisiatif Radja.


Teman-teman mulai menghampiri kami, membentuk sebuah lingkaran


karena musuh pun mengitari kami. Aku melihat ke arah Afly, Bara dan Nadia.


Memberikan aba-aba dengan mengacungkan calagblod ke atas langit. Tanpa ragu,


mereka pun mengeluarkan pedang mereka juga. Afly menghampiriku, dia


menyarungkan syal padaku. Perlindungan cahaya dapat aku rasakan dari sana.


"Aku pergi dulu, Radja," ucapku. Kulihat Radja


mengangguk. Maka aku menyapa pada Bizar yang sudah kelelahan. "Bizar


hati-hatilah!"


Nadia terbang menggunakan api yang ada di sekitar tubuhnya.


Sementara Afly terbang secepat kilat dengan sayap yang baru aku lihat. Sayap


seperti seekor burung merpati putih dan sangat indah. Di samping itu Bara


menarik tanganku agar kami sama-sama berada di atas langit.


"Untuk apa kalian naik ke atas? Menumbalkan teman-teman

__ADS_1


kalian? Aku katakan, ini percuma saja! Aku tidak terkalahkan," ucap Azumi


lantang.


"Jangan banyak omong, Azumi. Kami lawanmu yang


sebenarnya," balas Nadia. "Ini luka dari orang-orang yang pernah kamu


sakiti."


Nadia menyerang dengan pedangnya dan kekuatan apinya. Azumi


segera menangkis semua serangan. Dia justru membalikkan semua serangan


menggunakan elemen kegelepannya. Namun, dengan cepat Afly berdiri di hadapan


Nadia dan membentangkan tangannya untuk membuat perlindungan. Kekuatan itu pun


tidak dapat menembus pelindung milik kami.


"Perlindungan ini aku buat khusus untuk orang-orang


yang sudah kamu sakiti. Sekarang terimalah ini!" balas Afly yang lalu


mengarahkan pedangnya pada Azumi.


Pedang itu mengeluarkan sebuah sinar yang sangat terang dan


Azumi tidak sempat menghindar. Gadis itu pun jatuh ke salah satu atap gedung.


Segera kami pun turun ke bawah sana dan kembali berhadapan dengan Azumi.


Aku dan Bara maju perlahan-lahan, membawa pedang


masing-masing. Siap untuk mengalahkannya. Namun, semudah ini kah? Aku tidak


yakin.


"Bara, kamu adalah orang yang paling setia padaku. Apa


kamu rela membunuhku? Aku ini orang yang sudah melatihku," bujuk Azumi


sambil tertatih-tatih untuk bangkit kembali.


Tidak. Bara tidak berucap tetapi dia langsung mengunci Azumi


dengan menggunakan kekuatan kegelapannya. Bara menggenggam erat pedang dengan


kekuatan yang lebih besar dan dapan membunuh gadis itu. Aku segera memegang


lengannya.


"Rencana kita bukan untuk membunuhnya," ucapku


pada Bara. Tegas.


Laki-laki itu pun menurunkan pedang yang justru membuat


Azumi kembali terlepas. Aku kembali mendekat dan menancapkan pedang di


sampingku. Aku lihat baik-baik bagiamana gadis tersebut menatap penuh benci


pada kami.


"Azumi, tolong tarik semua pasukanmu dan buat mayat


hidup itu kembali menjadi manusia biasa," ucapku.


"Kamu meminta seolah aku akan mengabulkannya saja,


Nadira. Sayang sekali! Bukannya berhasil, kamulah yang akan mati di sini,"


ucap Azumi.


Tiba-tiba bayang-bayang tangan hitam menarikku. Bayangan itu


juga membawa Azumi. Semua berteriak memanggil namaku. Mereka juga mencoba untuk

__ADS_1


membebaskan ku tetapi sulit, bahkan aku perlahan-lahan mulai terhisap ke dalam


gedung.


__ADS_2