
“Jelaskan apa maksud dari semua ini, Merry. Lalu siapa ketiga orang ini? Apa kamu berniat untuk mencelakai diri anak-anak remaja dengan mengorbankan mereka di garis depan?” tanya Pak Tio sangat penuh dan beliau menatap kami bertiga dengan seksama. Aku menelan ludah.
Sepertinya takdir kami memang seperti ini. Rahasia ini tidak akan bertahan lama, apa seharusnya kami panggil saja Bizar sekarang?
Tapi ... bagaimana jika Pak Tio kembali mengingatnya?
Miss Merry menghela napas. “Aku tidak berasal dari Bumi dan tidak ada niat sedikit pun untuk membuat anak-anak ini celaka. Mereka sudah banyak berlatih pedang. Jadi sebaiknya kamu tidak mengkhawatirkan Nadira, Demina, Radja, Bara, Afly dan Candra. Mereka semua memang dilahirkan untuk menyelamatkan umat manusia.”
“Apa ... mereka murid yang kamu calonkan untuk lomba ini bukan?” ucap Pak Tio.
Aku agak kagum dengannya, padahal dia baru saja mendapatkan tragedi yang sangat menegangkan. Dikepung oleh dua puluh satu monster yang siap menerkamnya kapan saja. Namun, dia masih bisa bertanya tentang kami semua. Pak Tio sepertinya sangat hebat dalam mengatur mental pribadinya. Atau mungkin dia sudah terbiasa untuk bertindak profesional di manapun dan dalam kondisi apa pun. Jika itu benar, Pak Tio sungguh luar biasa.
Miss Merry mengangguk membalas pertanyaan dari Pak Tio. Aku bisa melihat mata pria dewasa itu membelalak. Selama ini para wartawan selalu menyelidiki di mana keberadaan kami. Siapa kami dan apa identitas kami sebenarnya. Namun, kami tidak pernah menjawab dengan benar kalaupun ditanya. Ini demi kebaikan kami juga, tidak masalah dengan hujatan, tetapi musuh jadi lebih mudah dalam menyusun rencana mereka jika tahu di mana kami berada. Aku tidak menginginkan hal seperti itu terjadi secara tiba-tiba. Cukup pasukan Azumi saja yang sudah memberikan kami banyak kejutan istimewa.
“Sejujurnya bapak tidak mengerti, kenapa dari sekian banyak orang ... kalian yang terpilih? Dan kenapa bapak baru menyadari ini? Jika saja selama ini bapak tahu alasan izin ataupun sakit kalian selama ini ... bapak akan memberikannya secara cuma-cuma,” ucap Pak Tio.
Kami saling melirik, lalu tidak lama kami mendengar suara kegaduhan lagi. Aku pun segera menjeling. Di sana mereka masih berdebat; aku tidak paham kenapa ketiga orang itu tidak mau mengalah juga. Namun, setelah mereka melihat apa yang ada di ruang tamu, segera saja mereka datang dan memberi salam kepada Pak Tio. Pasti wajah tegang mereka disebabkan karena perkelahian sepele yang dibesar-besarkan. Aku tidak sanggup menahan tawaku sendiri. Ini salah mereka.
Ternyata tidak hanya aku yang tertawa hingga terpingkal-pingkal. Bara dan Radja pun sama saja. Mereka perlahan-lahan mendekat, sempat melihat kami yang masih mengenakan pakaian tempur. Seolah tidak ada kejadian apa pun, mereka hanya tersenyum canggung sambil menutupi apa yang terjadi. Sementara waktu, kami pun sepakat untuk tidak mengatakan jika identitas mereka bertiga juga sudah ketahuan oleh Pak Tio. Ya, meski tanpa berbicara, kami tahu kalau kami ingin mengerjai mereka. Salah mereka karena memilih berdebat terus dibandingkan menyelamatkan nyawa seseorang.
__ADS_1
“Merry, apa kamu mengirim mereka semua karena monster-monster yang menyerang kami dan membuat risau orang banyak?” tanya Pak Tio.
Miss Merry mengangguk. “Benar, Pak Tio. Lomba itu berpusat di Jakarta, sementara kami sudah menemukan kabar jika pusat dari monster ini ada di sana. Sebenarnya ini bukan hal baru. Sudah hampir tiga tahun mereka semua mencoba untuk melindungi bumi.”
“Tunggu, Miss, kenapa Miss beri tahu identitas kami pada Pak Tio?” ucap Candra tidak terima.
“Kalian bertiga kurang update sih! Pak Tio udah tau sejak kami menyelamatkannya. Miss Merry langsung memberitahukan semua ini karena cepat atau lambat penyamaran ini bakal terbongkar,” jelas Radja dengan santainya.
Aku menahan Demina yang mau mengamuk dan memukul wajah Radja. Saat ini Pak Tio masih berada di hadapan kami dan mengawasi dengan seksama. Masa iya, kami harus berkelahi untuk hal sepele? Sementara saat ini saja kami sedang mengumpulkan kepercayaan dari pria dewasa yang satu ini.
“Kalian ini murid yang sangat bersemangat dan tidak aku sangka-sangka. Merry, kalau begini ceritanya aku hanya bisa menitipkan mereka pada ahlihnya. Kamu. Walau mereka pahlawan super, tolong jangan buat mereka kehilangan masa-masa indah mereka semasa sekolah,” balas Pak Tio seraya memberikan kami sebuah nasihat. “Jadi apa yang bisa aku lakukan untuk kalian? Kalian semua sudah menyelamatkanku.”
Pak Tio lalu mengangguk. Dia menerima baik usulan dari Radja. “Bapak akan jaga rahasia ini baik-baik. Seharusnya hari ini bapak melihat kalian berlatih, tetapi rasanya bapak sangat lelah. Terserah kalian mau bagaimana, tetapi tetap harumkan nama sekolah kita.”
Ucapan Pak Tio sangat tajam dan tepat mengenai sasaran. Hatiku. Sejujurnya aku masih ragu dengan cerita itu. Meski terlihat bagus bagiku, bagi juri pasti sebaliknya. Terlebih itu adalah karangan pertama yang aku buat setelah selama ini terus bertarung dan berlatih tanpa henti. Bara dan Candra mengantar Pak Tio dan sopirnya ke dalam kamar untuk berlatih. Embusan napas bisa aku dengar dari laki-laki di sampingku. Kenapa Radja terlihat murung lagi?
Sementara yang lain mengurusi Pak Tio, aku mengejar Radja. Lagi pula kami harus ke Twins untuk mencari jalan tikus. Bara mungkin akan menyusul. Namun, laki-laki menyebalkan itu malah berhenti berjalan dan menengadah ke atas langit. Aku mencoba melihat apa yang sedang dia cari di atas sana.
“Kita jadi cari jalan tikus Ja?” tanyaku pada laki-laki tersebut.
__ADS_1
Sayangnya, Radja tidak menjawab apa-apa. Dia justru menatapku dengan tatapannya yang sendu lalu tertawa sekilas sebelum kembali menengadah. Aku merasa ini tidak baik-baik saja.
“Radja, kamu baik-baik saja?” tanyaku pelan.
“Aku hanya sedikit takut. Jika kita memberitahu publik tentang keberadaan kita. Apa Pak Tio dapat kita percaya?” ucap laki-laki tersebut. “Aku juga terpikirkan tentang ucapan Miss Sharron.”
“Apa kamu meragukan jika kekuatan itu tidak pantas untukmu, Ja?” Aku agar ragu menanyakan itu, tetapi tetap keluar juga.
Radja menoleh ke arahku dan tersenyum. “Lusa aku bakal pulang ke rumah dan mengembalikan kekuatan ini pada kakakku. Untuk apa menyimpan kekuatan orang lain yang bukan hak kita. Bukankah begitu, Dira?”
Aku membelalak, tidak percaya dengan ucapannya. Selama ini kekuatan Radja selalu membantuku, tetapi kenapa dia tiba-tiba ingin mengembalikannya? Kenapa dia ragu pada kekuatan itu? Meski aku tidak mengenal kakaknya, tetapi Radja sangat pantas untuk memegang kekuatan dari tetesan air mata naga.
Untuk apa menyimpan kekuatan orang lain yang bukan hak kita. Bukankah begitu, Dira?
Bukankah aku sama saja dengannya?? Tapi bagaimana caraku mengembalikan kekuatan ini pada Hana. Bahkan reinkarnasinya saja sudah mati. Aku kembali melihat ke arah Radja. Berharap jika ini semua hanyalah kebohongan belaka saja. Dia kan jahil.
__ADS_1