
“Selama aku berhadapan dengan monster-monster itu, aku tidak pernah melihat mereka seperti orang punya akal. Justru mereka punya insting seperti hewan liar,” jelasku.
Kami masih menunggu Radja bangun sambil memikirkan kejanggalan ini. Siapa pun musuh kami, mereka sudah pasti menyelidiki Bizar. Karena teknologi dan komunikasi kami terpusat olehnya. Harusnya monster-monster ini tidak tahu, tetapi benarkah kami akan menemukan dalang dari semua ini?
Aku menopang dagu sambil melihat Bizar dengan lincahnya membuat program atau mungkin meretas keamanan lawan. Dia menduga jika lawannya sama-sama IT, aku cukup tertegun. Selama ini kami lebih banyak menghadapi musuh elemental, tidak pernah berhadapan dengan IT seperti Bizar. Jika benar ada, aku bertanya-tanya akan seperti apa pertarungan ini?
“Ketemu,” ucap Bizar singkat tetapi berarti banyak. Baru kali ini aku melihat senyum laki-laki itu mengembang dan matanya menyipit bersamaan. Aku tidak percaya laki-laki ini sangat senang dengan musuh barunya.
“Kamu sangat menikmati ketegangan ini ya, Bizar. Mendengar kamu bilang kita enggak bisa pulang aja udah bikin aku kaget,” ucapku.
Bizar menyapu bersih layar transparan tersebut hingga menghilang. Dia tidak tersinggung sedikitpun. Justru laki-laki itu sedang mempersiapkan dirinya. Memperbaiki posisi kacamata dan sarung tangan hitamnya sendiri.
Aku agak penasaran bagaimana Bizar menyerang tanpa bantuan program, tetapi aku tidak begitu yakin juga. Setiap hari dia lebih suka meminum kopi dan begadang. Bohong jika tubuhnya mampu menopang lebih lama. Iya aku sangat meragukan Bizar saat ini. Perasaanku tidak tenang meski benar aku penasaran.
Perlahan aku yang sedang memegang tangan Radja pun terlonjak kaget karena tangannya mulai bergerak. Buru-buru aku melepasnya dan kembali memastikan keadaan laki-laki tersebut. Sampai akhirnya aku melihat laki-laki tersebut mengerjapkan matanya.
“Ja, kamu baik-baik aja?” tanyaku sambil membantunya duduk dengan benar. “Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?”
“Aku cuma sedikit pusing, Dira. Entahlah, aku sendiri tidak begitu paham dengan apa yang terjadi di atas sana. Tiba-tiba ada yang menyengat dan seperti apa yang kalian liat selanjutnya,” jelas Radja.
__ADS_1
“Tenang, Ja. Sebentar lagi kita akan menemukan orang yang membuat semua ini. Walau aku sangat ingin menghajarkan musuh dengan tangan sendiri, tetapi kemenanganku tidak lebih penting daripada keselamatan teman-teman,” ucap Bizar dan membuatku agak tidak percaya dengan dirinya. Laki-laki itu tidak ingin mementingkan egonya.
Bizar segera menyebarkan peta yang dibuatnya dengan tangan sendiri, memang agak aneh dan tidak begitu jelas. Namun, cukup membantu kami jika terpisah. Bizar menandai tiap orangnya dengan warna. Aku diberi warna ungu, Radja warna biru dan Bizar warna abu-abu.
Ilmuwan jenius itu menjelaskan banyak rencana kepada kami. Lokasi musuh, menurut Bizar, ada di barat dekat dengan area pegunungan. Kami akan melawan mereka dengan hati-hati, karea kali ini kami tidak tahu apa dan siapa yang menyerang. Jadi lebih baik kami sangat berhati-hati. Berulang kali Bizar menekankan agar aku dan Radja tidak begitu mencolok.
Meski agak beresiko dengan membiarkan Bizar menjadi umpan, aku tidak bisa menolak. Andai aku memiliki rencana yang lebih bagus, tetapi tidak. Bahkan Radja pun tidak menentang apa yang Bizar katakan.
“Kenapa kalian tenang banget sih?” ucapku geram dengan sikap keduanya yang seakan tidak peduli jika ada salah satu dari mereka harus mati.
“Memang apa yang harus kita khawatirkan? Kita bakal menang kok, Dira,” balas Radja sambil mengusap puncak kepalaku.
“Terserah kalianlah. Jadi aku akan menahan musuh dengan ropes? Aku ingat, aku tidak akan memakai dahan atau akar pohon untuk menahannya.” Bizar mengangguk sebagai jawaban.
Bizar kami biarkan di depan sebagai penunjuk jalan dan juga jaga-jaga jika dia lelah. Bagaimana pun, baru kali ini seorang ilmuwan jenius yang satu itu menanggalkan semua teknologinya. Lawan bisa saja pengendali teknologi, terlebih penghalang ini tidak bisa Bizar bobol dengan mudahnya. Aku mencoba untuk tenang, tetapi aku tidak bisa seperti mereka.
Kami bersama-sama menyelinap di balik pohon. Ada tiga orang di sana. Belum tahu seimbang atau tidaknya. Mereka bertiga terlihat lebih tua dan besar dibandingkan kami, sepertinya ketiga laki-laki yang berdiri di atas batu besar itu adalah anak-anak SMA.
Aku melirik pada Bizar, menunggu tangan laki-laki itu turun agar kami bisa meringkus musuh dengan cepat. Namun kali ini dia memilih untuk mengamati dan mencari data melalui kacamatanya. Teknologi satu-satunya yang masih dia gunakan.
__ADS_1
Peluh keringat ilmuwan satu itu turun dari pelipisnya, pasti ini sangat melelahkan. Namun, aku merasa Bizar sangat menikmati ini
Kita akan menyerangnya sekarang. Ingat jangan terlalu menonjol!
Aku mendengar telepati yang Bizar kirimkan padaku, lalu mengangguk. Sebelum Bizar dan Radja pergi, aku menggunakan tanaman-tanaman rambat lebih dahulu untuk mengunci pergerakan musuh. Salah satu laki-laki berhasil aku tahan tetapi dua lagi berhasil lolos dengan memotong tanaman rambat sejak awal.
Sebelum mereka menyadari keberadaan kami lebih lanjut, Radja segera keluar dengan pedangnya; pedang hitam itu pasti sudah dia siapkan sedari menunggu aba-aba Bizar. Laki-laki itu menggunakan pedang untuk menangkis serangan lawan yang entah bagaimana sadar keberadaan kami. Setelah Radja, Bizar kini mulai mengaktifkan pistol sebelum keluar dari persembunyian. Sementara aku tetap berada di tempat sambil menyiapkan panah.
“Tidak aku sangka kalian akan menemukan tempat ini dengan mudah,” ucap laki-laki yang terbang di langit. “Padahal penghalangnya masih berfungsi dengan baik.”
“Sebenarnya siapa kalian? Apa kalian pembuat onar dan memunculkan monster-monster itu?” tanya Bizar dengan tenang. Laki-laki itu tetap mengarahkan senjatanya pada lawan. Berjaga-jaga jika mereka mendekat.
Aku pun mulai menarik tali busur dan berusaha untuk tetap tenang. Anak panah perlahan muncul dan siap untuk ditembak. Aku tidak boleh gegabah. Pahami situasi. Aku segera mengembuskan napas dan kembali melihat arena pertarungan.
“Kami? Kalau Bara melihat kami, dia pasti akan tahu,” ucap laki-laki yang terikat oleh tanaman rambatku.
“Kalian ... kalian sisa dari pasukan Azumi. Tapi bukankah pasukan Azumi sudah kami lenyapkan semuanya?” balas Radja.
“Naif sekali pemikiran kalian.” Aku terkejut karena mereka tiba-tiba menyerang. Tubuh mereka perlahan berganti menjadi sisik. Beda dengan monster sebelumnya yang memiliki tubuh sekuat baja.
__ADS_1
Kali ini lawan kami memiliki tubuh dengan sisik dan terlihat sangat tajam. Aura kegelapan bisa aku lihat dari mereka. Seakan matahari yang berada di puncak memihak pada kubu kami. Aku bisa melihat keduanya siap bertarung pada Bizar dan Radja.
Tunggu, kenapa hanya ada dua orang di sana?!