Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 47. Kita Serang Sama-Sama


__ADS_3

Aku tidak mau mengecewakan Hana lagi. Jauh-jauh hari aku sudah pernah berjanji dan aku menolak untuk kehilangan siapa-siapa lagi. Sudah cukup Azumi membunuh orang tuaku di masa lalu. Jangan sampai teman-temanku juga.


Bizar mungkin sadar aku belum mengganti pakaianku. Dia segera mengaktifkan sistem otomatis melalui jam tangan yang aku kenakan. Setelah ini aku tidak boleh lupa untuk mengucapkan terimakasih. Ya, laki-laki itu sangat pengertian meski dulu sudah berucap kasar.


Bara dan Radja sudah sampai lebih dahulu dan berdiri di hadapan teman-teman. Aku melihat ke sekitar. Rata-rata orang yang ada di sekolah adalah guru dan juga penggemar dari Afly. Sepertinya akan cukup merepotkan jika mereka tiba-tiba berubah dan melawan Azumi.


Atau ... Azumi sudah membongkar pernyataan itu di hadapan publik? Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Tidak tahu apa yang terjadi dan haruskan Bizar bekerja ekstra untuk ini? Segera aku berdiri di samping Radja.


"Wah wah, kedua pengkhianat berdiri di garis yang sama. Aku tidak menyangka," ucap Azumi dengan senyumnya yang miring. "Kalian berdua merusak rencanaku, tetapi tidak apa. Kalian memang sudah tidak berguna lagi."


Aku ingin marah. Namun, emosi jahat tidak boleh dilawan dengan emosi serupa. Kami harus segera memindahkan Azumi ke tempat yang lebih aman, sebelum Bizar mengamankan warga sekolah.


Kulihat Pak Hisam dan Miss Merry berdiri di ujung kelas dengan mata membelalak. Aku mengedipkan mata, mencoba memberi pesan pada peri itu untuk mengamankan sekitar. Identitas kami rahasia. Itu mutlak.


"Beginikah caramu? Menjebak teman-teman kami?!" ucap Radja mewakili perasaanku dan Bara.


"Kalian anak kecil banyak omong," balas Azumi seraya menjentikkan tangannya.


Tanah mulai bergetar dan kami berusaha untuk tidak tumbang. Sekilas aku menoleh untuk mencari tahu keadaan mereka. Memang benar, kami bertiga tidak akan menang melawan Azumi. Sayangnya aku tidak tahu mereka sudah diketahui oleh publik atau tidak.


Sebuah tongkat pun perlahan naik ke atas, menyambut tangan Azumi dengan baik. Gadis itu pun menyeringai dan kami benar-benar muak karenanya. Aku memposisikan diriku untuk bertahan sementara kedua laki-laki di dekatku sudah menyiapkan kekuatan masing-masing.


Aku segera berjongkok dan menumbuhkan berlapis-lapis tanaman rambat untuk menghalau tiap serangan. Tidak boleh ada manusia yang masuk dan terluka. Sehingga tanaman rambatku terus naik dan membentuk mangkuk yang dibalik.

__ADS_1


Sehingga tidak ada celah untuk siapa pun melihatnya dari luar. Teman-teman dengan mudah bisa berganti identitas. Tidak peduli sudah ketahuan atau tidak.


"Kamu pikir menggunakan kekuatanmu bisa melindungi orang-orang, Nadira? Naif sekali. Harusnya kamu pikirkan keselamatanmu dulu," ucap Azumi.


Aku baru menarik tangan dari tanah dan mau berdiri. Namun, tiba-tiba ada tangan-tangan yang mengingat kaki. Tidak sampai di sana, tangan itu menarikku hingga ke bawah tanah.


Sialnya aku tidak bisa bergerak. Sempat memegang salah satu tangan, tetapi aku hanya merasakan dingin yang mencekam. Lalu aku melihat pada Radja dan Bara. Mereka pun tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Sekelebat muncul ide cemerlang di otakku. Segera aku menempelkan kedua tangan pada tangan yang memegang kaki. Dengan kekuatan air, aku coba menjadikannya es. Setelah itu aku segera memunculkan pedang tanaman yang lalu ditebaskan pada es hingga mencair.


"Bagaimana mungkin?! Wah, setelah berkhianat ... kamu jadi cukup hebat, Nadira," ucap Azumi geram.


Tidak. Aku tidak hebat. Pikiranku sesak dengan mendengar kata 'hebat' saja. Namun, aku harus mengenyampingkan itu dulu.


Aku tidak mau berdiam diri saja. Demina menggunakan kekuatannya listriknya untuk mengecoh, dan aku memadupadankan dengan air. Sehingga terkena pun Azumi akan tersengat. Sayangnya gadis itu lebih cepat membuat pertahanan dan menyerang kami kembali dengan bola-bola kegelapan.


Dia sulit untuk dilawan. Aku lalu memunculkan panah dengan tanaman-tanaman rampat yang kuat. Aku tarik tali busur dan memunculkan sebilah bambu sebagai anak panah.  Segera aku menembak Azumi, tetapi dia berhasil menahannya dengan memegang badan benda tersebut. Dengan mudahnya dia mematahkan batang bambu sebelum aku ubah dengan racun.


Aku menggigit bibirku sendiri. Selagi menarik kembali anak panah, Candra sudah maju lebih awal. Dia berlari kencang dan memukul Azumi. Pukulannya tidak hanya satu kali, tetapi gadis itu membuat pertahanan kokoh dengan tanah. Pukulan Candra tidak ada ubahnya dengan menghancurkan pertahanan saja.


Kami semua berusaha untuk menyerang mereka, tetapi ini lebih sulit daripada yang dibayangkan. Terlebih kami bergerak tanpa rencana. Sudah lebih dari setengah jam bagi kami bertarung tanpa henti.


Orang-orang di belakang kami masih berjalan mundur karena takut dan traumanya. Jika dibiarkan lebih lanjut, mereka bisa melupakan segalanya. Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi. Bumi membutuhkan mereka.

__ADS_1


Aku kembali berdiri dan mengganti panah dengan pedang. "Apa yang kamu harapkan dalam serangan ini, Azumi?"


Azumi tertawa begitu keras, dia lalu melayangkan sihir dan membakar tanaman rambatku perlahan-lahan. Sekali lagi dia melayangkan sihir, kali ini ke arahku. Tidak lupa tangan satunya dia gunakan untuk menarik gravitasi menjadi lebih sulit untuk ditarik ke bawah.


Semua orang sudah kehabisan tenaga, termasuk Radja. Laki-laki itu tidak bisa lepas dari gravitasi, mungkin tidak ada yang bisa lepas. Namun, ini hanya bertahan selama beberapa detik saja sampai gravitasinya terlepas. Azumi tidak membiarkan aku untuk menghindar dari sihir api hitamnya. Tidak sempat membuat bola air ataupun menangkis. Kecepatan ini menyiksaku.


Sampai, aku menutup mata. Pasrah dengan api yang akan membakar tubuhku hidup-hidup. Namun, pemikiranku salah. Tidak ada panas yang menggerogoti tubuh.


Aku segera membuka mata, berpikir jika Azumi baru saja menarik sihirnya kembali. Nyatanya tidak.


Aku membelalak melihat apa yang ada di hadapanku. Tidak, tidak. Semua orang menatap tidak percaya dengan apa yang terbakar.


Api dengan mudahnya melahap semua tubuh di hadapanku. Tidak ingin menyisakan apa pun. Aku tidak mau membiarkannya.


"Waterball!" ujarku seraya mengarahkan bola-bola air ke hadapanku.


Tubuh itu mulai tumbang tetapi segera Radja dan Bara tangkap. Memang apinya berhenti menjelar, tetapi sebagian tubuh pria di hadapanku sudah menghitam.


"Pak Hisam ... kenapa?" ucapku dengan lirih.


Air mataku jatuh perlahan tanpa izin. Aku tidak paham kenapa guru yang sering marah-marah dan menyuruhku ini malah melindungiku. Padahal Pak Hisam tidak mengetahui identitasku sebagai murid. Jika dia melindungi Irish, itu masih wajar.


"Jangan nangis, Dira. Bapak tidak apa," ucap Pak Hisam lirih.

__ADS_1


__ADS_2