
Mengingat-ingat Faizal belum sepenuhnya pulih. Tidak mungkin aku suruh dia pergi sendirian, terlebih portal bisa hilang kapan saja dengan grafik kekuatan laki-laki itu masih simpang-siur.
"Bizar, aku akan menghubungi kami lagi. Sekarang aku harus menganalisa mimpi Hana," jelasku.
Bizar berseru di ujung sana, "Tidak! Jangan Radja. Kamu ingat aku ingin mengecek kode itu? Ya itu dikirim dari alam mimpi."
"Apa maksudnya, Bizar? Bagaimana bisa alam mimpi mengirim pesan." Bahkan jika ini lelucon aku merasa tidak ada yang lucu.
Portal ke alam mimpi tiba-tiba menutup. Di sana Faizal menggembungkan pipinya. Aku memberi aba-aba agar dia mendekat.
"Bahaya kalau kamu menerobos masuk ke mimpi itu, Radja. Pesan ini dikirim oleh Candra, entah bagaimana dia bisa mengetahui mimpi Nadira. Namun, kamu mau dengar apa isinya?" tawar Bizar.
"Tentu."
"Akan aku kirimkan, baca baik-baik!" Hanya selang beberapa menit hingga Bizar mengirimkan pesan padaku.
Menekan layar transparan di sana, aku lalu membuka data yang dia kirimkan. Sebuah dokumen dengan tulisan yang cukup panjang. Aku tersentak dengan nama yang menjadi pengirim. Bizar benar-benar berhasil membongkar data tersebut.
"Apa itu, Ja?" tanya Faizal padaku.
"Aku mendengar suara Faizal. Kamu lagi bareng dia?" tanya Bizar juga.
"Iya, aku lagi bareng Faizal. Masih banyak yang perlu dia lakukan. Kamu bisa bantu dia?" ucapku membalas Bizar lalu beralih pada laki-laki dengan jiwa seni yang terlalu melekat. "Faizal, Bizar akan menjelaskan semuanya ke kamu."
"Hey! Aku belum menyetujuinya," sanggah Bizar di sana.
Aku memutar mata bosan meski tahu laki-laki yang satu itu tidak akan melihatnya. "Aku akan menganalisa dokumennya. Kamu bantu Faizal."
"Aku bahkan baru bangun dan belum sempat sarapan oh maksudku makan sore," gurau Bizar.
"Kamu tidur kelamaan, Bizar. Sayangnya aku enggak menerima penolakan dalam bentuk apa pun."
Aku mendengar Bizar menggerutu. Cukup pelan. Setelah menunggu beberapa saat portal terbuka di dekat Faizal.
"Pergilah," lanjutku pada Faizal.
Faizal memijat tengkuknya dan kembali melihat padaku. Wajahnya kacau, entah ekspresi apa yang ingin dia tunjukan padaku. "Maaf aku enggak banyak membantu."
"Tidak masalah," balasku, "ingatan dan kekuatan kamu bakal segera pulih kok."
Faizal lalu menyentuh portal itu. Dia meneguk ludah, tetapi tidak meragukan portal tersebut. Dia yakin jika portal akan membawanya ke tempat Bizar.
Satu kendala sudah teratasi. Aku kembali melihat layar transparan. Membuka dokumen berisikan tulisan. Sangat banyak dan panjang. Di sanalah aku membaca apa yang Candra kirim melalui alam mimpi.
Tiap malam aku menemui Nadira dikejar-kejar tanpa arah oleh seorang gadis yang muncul dari air. Berulang-ulang dia seolah dibunuh.
Berulang kali pula, aku mencoba mendobrak pelapis dinding pemisah. Selalu gagal. Sampai akhir, aku hanya bisa diam dan mengawasi Nadira.
Kali ini berbeda, aku merasa Nadira dalam bahaya. Dia mendekati pondok dan terlempar begitu saja. Lebih gawat lagi ketika sebuah pedang berhasil dia dapatkan. Kamu enggak bakal percaya, tetapi aku yakin itu sangat berbahaya. Karena gadis pengguna air itu terlihat menyeramkan.
Setelah hari itu aku tidak pernah melihat Nadira. Aku merasa jika pedang itu membawa hal buruk. Aku mohon mengertilah! Lalu tolong aku. Karena ingatan ini tertahan di alam mimpi.
Aku bergeming, tidak percaya dengan apa yang aku dapatkan kali ini. Mengingat bagaimana dia sempat ketakutan dengan kekuatan air yang ada di dalamnya. Kembali menatap danau. Semakin aku mendekati ujung sana, perasaanku semakin tidak tenang.
"Nadira, pedang, ingatan, mengapa semua menjadi sulit seperti ini," bisikku pada angin yang berembus.
Teringat ketika Miss Ann menunjukkan pesan dari Candra. Esok hari ketika fajar telah bangkit, aku harus segera mencari tahu tentang Candra. Kembali melihat pada bumantara, aku lalu mengepakkan sayap di balik punggung.
-----------------------------------------------
Nadira belum terbangun. Keadaannya tidaklah baik maupun buruk. Tidak ada respons baik ketika semua sudah mencoba mengajaknya untuk bicara. Dia masih seperti putri tidur.
__ADS_1
Seperti pagi ini berbeda, Afly berdiri di hadapanku. Mencegal pintu masuk ke kelas. Entah apa yang diingin oleh laki-laki aneh ini. Aku tetap memaksa masuk, karena jika dibandingkan kekuatan fisik kami jauh berbeda. Hingga punggungnya berhasil membentur pintu dan aku berhasil masuk ke dalam kelas.
"Aku mau bicara," ucap Afly. Aku tidak ingin mendengarkan, tetapi dia malah menarik tali belakang di tas milikku.
Aku segera melirik padanya. "Apa?"
"Aku balik ke sekolah, sekarang kalian yang ngilang. Mau kalian tuh sebenernya apa sih? Aku stress?" ujar laki-laki tersebut tidak peduli kondisi kelas yang sangat ramai.
"Nadira sakit, Bara masih pemulihan. Kamu enggak perlu khawatir begitu," balasku singkat. "Jadi lepaskan tasku."
Afly langsung melepas tas, tetapi bukan berarti dia berhenti sampai di sana. Laki-laki itu kembali menghadang. Aku mengepalkan tangan. Tahan, tahan, jangan sampai buat keributan, pikirku.
"Radja," panggil seseorang dengan nada yang cukup berat.
Aku segera berbalik. Di sana guru perempuan berkacamata merah melipat tangan depan dada. Melihat tajam padaku. Tanpa bertanya aku pun menghampiri Miss Merry.
Sayangnya Afly terlalu kepo, dia bahkan berjalan di belakang. Apa penjelasan yang aku berikan masih kurang jelas?
"Afly, sedang apa kamu?" tanya Miss Merry padanya. Aku tersenyum miring mendengar ucapan guru termasuk peri tersebut.
Afly membalasnya, "Aku mau bicara dengannya, Miss Merry."
"Sepenting apa? Karena Radja memiliki tugas yang lebih penting daripada itu," ujar Miss Merry.
Aku berbalik melihat pada laki-laki yang tengah menggeleng. "Maaf, tapi ini berhubungan dengan ...."
"Cukup, kamu boleh ikut," potong Miss Merry.
Aku mendengus padanya, lalu berjalan berdampingan dengan laki-laki yang notabenenya pernah menindas Nadira. Masih kesal ketika Afly membuat teman terdekatku harus menerima penindasan.
Miss Merry membawa kami ke sebuah gudang yang jarang dipakai. Dia menggunakan sihir dan menjadikan ruangan ini kedap suara. Mengartikan jika kami berhadapan dengan hal yang penting.
"Radja, aku tidak mengizinkan kamu ke bumi. Sekarang kamu sekolah, tahu betapa berbahayanya kamu di sini?" tegur Miss Merry padaku.
"Tunggu, mereka tidak sakit Miss?" celetuk Afly tiba-tiba.
"Tidak semuanya. Demina masih belum menguasai dirinya. Nadira tidak sadarkan diri, entahlah kapan gadis itu bangun," jelas Miss Merry.
"Udah puas? Ke kelas sana!" titahku.
Sayangnya Afly kuat-kuat menggeleng. Dia justru mengelilingi gudang penuh buku dan matras bekas. Menumpuk beberapa benda yang dia anggap bisa menopang tubuhnya.
"Aku pengen tahu kalian bicara apa," ucap Afly, "karena aku khawatir pada Nadira."
"Nadira akan baik-baik saja selama kita menjaganya. Afly, bagaimana pedang bereaksi padamu?"
Aku melipat dahi ke dalam. Bukannya Miss Merry ingin berbicara padaku? Kenapa tiba-tiba peri yang satu ini pindah haluan? Setidaknya Miss Merry tidak lagi membahas kenapa aku berada di tempat ini.
Afly terdiam. Dia hanya menggerakkan tangan dan memunculkan cahaya dari sana. Tatapannya lebih sendu. Tidak ada kesombongan yang aku lihat biasanya.
"Tubuh kamu itu menerima baik pedangnya?" Kali ini aku yang bertanya padanya.
"Butuh satu Minggu aku menyatu dengan kekuatan pedang. Sekarang, pedang diambil atau aku tinggalkan ... tidak memengaruhi apa-apa," jelas laki-laki tersebut.
Aku lihat Miss Merry menggangguk. Dia meminta satu tangan Afly. Menggunakan kekuatan dia tengah mencari sesuatu. Entah apa.
Jika dipikir, Afly tidak semenyebalkan sebelumnya. Bahkan jika aku ingat dia seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, memanggil pada penggemar untuk jadi pelindung. Padahal Nadira tidak melakukan banyak hal, apalagi aku sering melihat aktivitas mereka.
"Kamu berubah lebih baik," pujiku.
"Aku harap Bara juga. Dia hanya perlu pedangnya, Ja," balas Afly yang lalu aku balas dengan tangan yang menyilang.
__ADS_1
Miss Merry satu pemahaman denganku. Dia pun menjelaskan pada Afly, "Tidak semua bisa menerimanya. Kamu mungkin ingat dengan Mizuki. Dia juga pemilik pedang dan jadi gila."
"Aku percaya Bara orang baik, dia hanya kecewa karena tahu musuhnya selama ini sangat dekat."
"Azumi juga bisa mengendalikannya kapan saja," ucapku melanjutkan apa yang Miss Merry katakan, "Syukur karena kamu bisa berubah lebih baik."
"Ya, apa yang Radja ucap benar. Ngomong-ngomong, soal Candra kamu boleh memeriksanya. Jangan lupa beri laporan dan jangan pulang malam!"
Aku mengangguk paham dengan ucapan Miss Merry sebelum dia menggiring kami berdua pergi dari gudang. Tepat ketika bel berbunyi. Aku menatap pada Afly. Kami berdua santai saja berjalan ke kelas, untuk apa terbirit-birit ke sana?
--------
Candra tidak kunjung keluar dari kelas. Begitulah informasi yang aku dapatkan dari kelas-kelas sebelah. Sedikit bantuan, ralat, dibantu juga oleh Afly. Laki-laki dengan relasi luar biasa itu membuat aku lebih mudah untuk mengetahui kondisi Candra.
Sesekali aku memeriksa ponsel, mengirim pesan pula pada Bizar. Tidak ada jawaban yang membuatku lebih tenang soal Hana. Namun, apa yang Candra kirimkan melalui alam mimpi membuat aku yakin di akan kembali secepatnya.
"Kenapa kamu gak pilih masuk ke kelas terus ajak dia ngobrol? Kalau kayak gini dia keburu pulang" tanya Afly.
"Aku emang nunggu Candra pulang. Lebih enak bicara langsung tanpa banyak orang yang tahu," balasku.
Entah bagaimana satu keuntungan untuk kami karena guru pengajar hari ini hanya menitipkan tugas. Tidak perlu waktu lama untuk mengerjakannya. Sayang sekali, aku harus membagi contekan pada Afly.
Bel pulang berbunyi, sontak semua murid dari berbagai kelas keluar. Suasana gaduh, bahkan membuat adik kelas seliweran dengan suara kaki dan mulut yang beradu.
Mataku tidak bisa beranjak dari satu per satu murid yang keluar dari kelas Candra. Sayangnya anak laki-laki yang kucari belum juga menampakkan batang hidungnya. Jangan tanya Afly sedang apa karena para semut merah sudah mengerubungi gulanya.
"Candra!" Panggilanku membuat laki-laki dengan pipi agak gembul itu menoleh.
Satu alisnya terangkat ketika dia melihat ke arahku. Meski begitu Candra tetap mendekat. Setidaknya kami juga pernah jadi partner wakil dan ketua kelasnya.
"Eh, Ja! Apa kabar?" serunya padaku.
Dia menjabat tangannya denganku, tentu aku balas dengan ramah. "Baik. Lama enggak ketemu. Padahal kita satu sekolah."
"Haha! Kamu sih sibuk banget. Tumben ke sini, ada apa?" tanya Candra.
"Aku mau ngomong sama kamu. Bisa enggak? Kita ngobrol di taman sekolah yuk," tawaranku. Candra menimang-nimang dia melihat pada jam tangannya, lalu mengangguk.
Aku membiarkan Afly dan semut-semut merah yang masih setia mengerubungi. Candra juga tidak peduli, mungkin dia tidak mengenali laki-laki itu. Ya memang tidak terlalu ada untungnya juga.
Canda terlihat lebih kurus dan lemas, jauh berbeda. Dahulu dia adalah deretan pasukan depan paling kuat. Jika aku berada di atas, Candra selalu menyerang di daratan. Perpaduan yang tepat.
"Kamu kurus," celetukku.
"Aku banyak pikiran. Enggak tahu kenapa kayak kekuras gitu tiap pagi," tuturnya sambil berjalan ke taman.
"Kekuras? Pegel-pegel gitu?"
Kami sampai dan Candra langsung duduk di salah satu bangku kosong, barulah aku mengikutinya. Jauh dari orang-orang yang tengah bertukar canda di sana. Cukuplah untukku diam-diam mengaktifkan mode jangan ganggu.
"Entah. Tiap pagi aku sering ngerasa gak nyaman. Kayak mimpi buruk. Padahal aku gak mimpi apa-apa," balasnya.
"Candra, kamu yakin enggak mimpi apa-apa?" tanyaku meyakinkannya.
Candra menggeleng. "Hitam gelap, hanya itu yang aku ingat. Emangnya kenapa sih?"
"Candra ... ini serius, kamu gak mimpi apa-apa? Ingatan atau soal Nadira gitu?"
"Ja, kamu aneh," tegurnya. "By the way kamu mau ngomong apa?"
Aku diam beberapa saat. Kembali aku menatapnya. Dalam. Mencari ingatan yang katanya terkunci itu.
__ADS_1
Candra juga membalas tatapanku dengan bingung tetapi dia menampilkan senyumnya. Aku mengembuskan napas dan melirik pada tanah yang entah kenapa lebih indah dipandang.
"Ini tentang kamu dan masa yang kamu lupakan, Candra."