Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 18. Bolehkah Mencoba


__ADS_3

Ruang makan ini tidak lagi sepi. Bizar tengah duduk, seperti biasa membawa hal berbau awam untukku. Tangan kanan dia gunakan untuk menyanggah buku, sementara tangan kiri dia pakai untuk menyuapi sereal dari mangkuk ke mulutnya. Andai sekali saja aku melihat isi serealnya tumpah atau salah masuk, bagiku itu hal baru yang dapat dikenang.


Dari salah satu pintu yang terhubung dengan dapur, Miss Merry dan si cowok yang menyebalkan itu datang. Mereka membawa makanan untuk sarapan. Hal yang sudah ditunggu-tunggu oleh perempuan di sampingku. Wajahnya berseri-seri hanya dengan menatap nasi putih di sana.


"Seperti biasanya kamu gak mau makan nasi ya, Bizar," ucap Miss Ann pada laki-laki tersebut.


"Sereal yang aku makan dari gandum. Jangan khawatir," balas Bizar singkat lalu kembali dengan bacaannya.


Radja tertawa, dia meletakkan nasi dan telur dadar untuk Nadia. Sementara Miss Ann menyimpan salad di atas meja. Barulah aku menyadari Radja menyimpan mangkuk di hadapanku. "Kamu belum terlalu sehat, jadi makan aja."


"Bubur lagi? Sebenernya aku tuh tinggal di mana sih, kok rasanya sama aja kayak rumah sakit ya," tegurku pada Radja.


"Ya, ya, selamat datang di rumah sakit dunia Twins! Sekarang makanlah, kita harus rapat," ujar Radja lalu duduk di seberang dan mengambil salad yang Miss Ann berikan.


"Sebelum kalian berdiskusi, ada yang harus aku ingatkan. Azumi dan bawahannya bisa saja sudah mengumpulkan pasukan. Aku dan Merry harus mengurusi Irish dan Faizal," ujar Miss Ann.


Sudah lama aku tidak mendengar kedua nama itu. "Mereka baik-baik saja?"


Aku melihat Miss Ann tersenyum, tetapi matanya seolah seperti lampu yang meredup. "Berdoa saja mereka bisa kembali lebih cepat."


Miss Ann lalu meninggalkan ruang makan. Mau tidak mau aku harus menatap nanar pada bubur di hadapanku. Polos tanpa lauk apa pun. Jika melirik pada Nadia, dia sangat bahagia dengan makanannya. Sudahlah.


Sambil menyuap, aku lihat Bizar baru saja selesai dengan makanannya, sementara Radja melanjutkan sarapan dengan makanan berat. Si ilmuwan pun membuka layar dengan kekuatannya. Memperbesar layar itu dan mengarahkannya di tengah-tengah meja makan. Di antara semuanya, hanya aku yang belum selesai melahap sarapan.


"Maaf karena aku dan Radja meminta diskusi sekarang. Aku perlu Nadia yang masih dalam keadaan sadar dan syukurlah Nadira juga lebih sehat," jelas Bizar.


"Ada apa?"


Radja menggeser bagian lain sehingga tertampil foto Bara di sana. Beberapa juga aktivitas yang sering laki-laki itu lakukan di sekolah. Aku lihat ada foto ketika dia sedang melakukan ospek di tahun ini. Tidak lama berubah mejadi foto murid baru. Begitu riang dan senang bergaul. Aktivitasnya sangat banyak dan lebih senang bergaul.


"Mereka Michio dan Mamoru, 'kan?" ucap Nadia. Kami bertiga sama-sama terkejut. Melihat dua laki-laki itu sama kagetnya, bisa aku tebak mereka belum pernah memberitahu foto itu.


"Nad, kamu tau mereka berdua? Michio dan Mamoru?" tanyaku penasaran. Nadia mengangguk.


"Kami sering bertemu di dalam mimpi. Namun, aku lupa apa yang kami bicarakan," balasnya.


Kali ini Bizar membuka suaranya. "Mimpi yang bagaimana?"


"Kadang mimpi bagaimana pedang yang Hana berikan menghilang. Kadang juga mimpi di mana kami semua terikat, tidak bisa bicara, tidak bisa menggerakkan badan." Kalimat terakhirnya membuatku teringat dengan mimpi itu.


"Terikat?!" Cukup besar suaraku keluar, tidak sengaja pula aku menggebrak meja. "Kalian ... kalian diikat di pondok?"


"Pondok apaan?" Nadia menggeleng-geeng dan tertawa, "Hanya itu yang bisa aku ingat. Seolah dari ikatan itu kami menunggu sesuatu."


Aku terdiam, mencoba melirik pada Radja yang menatapku tajam. Kembali aku menatap pada layar juga Bizar di sana.


Bizar kembali menjelaskan tentang Afly, orang yang tahu identitas kami. Laki-laki menyebalkan itu anak pindahan dari SMP Nusa Juara yang letaknya jauh dari sekolah kami. Kepindahannya bukan karena kedua orang tua yang pindah tugas, justru Afly memilih tinggal dengan neneknya.


Afly tipe orang yang mencari perhatian, bahkan ketika Bizar menjelaskan alasan laki-laki itu keluar. Kelas, teman dan semuanya dia anggap sudah tidak peduli. Memilih sekolahku dan membuat kehebohan. Sialnya, akulah salah satu akibat dari kehebohannya.


"Ya, aku tetap tidak bisa memaafkan laki-laki yang udah bikin Dira jatuh sih," balas Bizar, Radja setuju dengan anggukkannya.

__ADS_1


"Dia memegang kartu As. Identitas kita bocor dan Azumi bisa saja memanfaatkan teman-teman di sekitar kita," jelas Radja.


"Kalau gitu kita harus mendekatinya, 'kan?" saranku pada mereka.


Ketiga otang itu sontak menatap padaku. Memang apa yang salah dari ucapanku? Radja tidak lama mendengus. "Afly tahu siapa kita. Lagian, aku udah coba dan gagal."


Justru aku ragu kalau kalian yang mendekati mereka. Aku mengembuskan napas, mengingat hubungan yang tidak baik antara kami dan Afly. Radja dan Bizar selalu berusaha melindungiku. Meski Afly begitu jahat sebelum menggunakan kekuatannya, keadaan itu bisa aku manfaatkan.


"Aku punya rencana, Ja. Aku bisa deketin Afly," ucapku.


Radja menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kamu bakal ditindas sama dia. Lagian kamu homeschooling, Dira."


"Aku harap semester dua aku ambil sekolah biasa lagi. Penyakit aku udah gak parah dan kita punya masalah yang lebih genting. Bara dan Afly." Aku mencoba menjelaskan kepada mereka berdua, tetapi entah apa yang menutupi gendang telinga hingga keduanya tidak memperhatikanku.


Radja mengetuk-ngetuk permukaan meja makan, matanya melirik pada profil Afly. Sementara Bizar baru saja menerima telepon entah dari siapa. Aku tidak mengerti dengan pikiran mereka. Melirik pada Nadia, gadis berkekuatan api itu termenung.


Tidak berselang lama. Gambar bunga pada jam tanganku menyala. Aku segera membuka menu untuk mencari tahu siapa yang mengirimkan pesan. Sayangnya aku tidak tahu. Tunggu. Bukankah ini aneh.


"Bizar! Radja! Apa ada orang mengirim kalian pesan?" tanyaku cepat.


Refleks Radja langsung melihat pada jamnya lalu menggeleng. Sementara Bizar masih sibuk menelpon tetapi layar yang ada di dekat kami dikendalikan oleh Io untuk mencari data. Tidak lama aku lihat Io itu juga ikut menggeleng.


"Siapa, Dira? Miss Ann? Miss Merry?" tanya Radja padaku.


"Tidak ada nama pengirimnya, Ja." Aku menunjukkan pesan itu pada Radja, dia tidak melihat pengirim mana pun meski sudah mengacak-acak tempat penyimpanan berkasnya.


Bizar memutuskan sambungan teleponnya, dia membetulkan letak kacamatanya sambil melirik pada layar. Ilmuwan itu mengendalikan penuh isi jam tanganku. Di layar lain yang muncul berlatarkan hitam. Ada tulisan-tulisan berwarna di sana. Entah apa aku tidak mengerti.


Nadia yang sejak sebelumnya murung pun mendekat. "Aku pikir meski ilmuwan hebat, pasti ada celah kan?"


Bizar menjeling, dia kembali membetulkan letak kacamata. Kembali jari-jemarinya bergerak lincah melompati satu huruf ke huruf lainnya. Hingga aku melihat sebuah bar di sana dengan persentase 100 %. Bizar memelototi data itu lalu menutupnya dengan kasar.


"Dikirim dari bumi. Biar datanya aku proses di laboratorium nanti. Siapa pun pengirimnya, akan segera kita ketahui. Meski aku curiga pada seseorang," tukas Bizar.


Aku mengusap tangan. Syukurlah jika tidak bermasalah sedikit pun. Lalu, aku kembali melihat pada Nadia yang lagi-lagi murung. Entah hanya perasaanku atau dia semakin pucat.


Radja kembali memintaku duduk. Bizar mengembalikan pembahasan ke arah Afly dan Bara. Hanya diam memandangi dan membaca profil mereka berulang-ulang membuatku muak. Aku harus bertemu dengan keduanya.


"Gimana caranya aku bikin kalian percaya? Aku tahu resikonya, Radja. Ini kesempatan yang bagus!"


"Kamu kayak tikus bodoh yang masuk perangkap," sindir Radja.


Aku tidak mau kalah. "Aku yakin aku bisa, Ja. Percayalah padaku! Setidaknya aku akan menggali informasi tentang Afly dan Bara."


"Baiklah, Dira! Kita bertaruh, kalau kamu berhasil meyakinkan Miss Merry aku baru menyetujuinya," balas Radja. Kedua mata cokelat itu menatapku dalam. Tetapi seringai yang tercetak di mukanya seakan yakin kalau aku akan gagal pada tantangan ini.


Aku memerengut, tetapi dalam hati menyetujui ucapan laki-laki itu. Kulihat Bizar mengangguk dan menuliskan hasil laporan sebelum mengirimkannya pada kami, kecuali Nadia. Baru saja aku ingin mengembuskan napas tetapi panggilan dari Miss Merry tiba-tiba muncul mengagetkan kami. Panggilan itu langsung dimatikan. Tidak lama pesan serupa masuk pada kami berempat.


Azumi muncul di pusat kota. Dia sedang mengacau, aku dan Miss Ann tidak bisa membantu. Pergilah, aku mengizinkan Nadira dan Nadia turun ke bumi.


Hampir saja aku berlarut dalam kebuntuan jika Bizar tidak segera membuka portal. Jangan lupakan jitakan dari Radja di atas kepalaku. Aku mencoba menenangkan diri. Mengingat kekuatan lain tubuh di dalamku saat ini.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam portal setelah Nadia. Kami berempat menggunakan topeng penyamaran masing-masing dan lalu dihadapkan dengan kerumunan orang yang berlari tanpa arah. Para polisi yang menerjang dan mencoba mengamankan warga.


"Ini buruk." Aku setuju dengan apa yang Nadia ucapkan.


Apa yang terlihat olehku hanyalah kehancuran. Aspal yang retak, bangunan tidak lagi berbentuk. Cakrawalah yang memerah, dengan pusaran angin di sana. Jika sampai menyentuh permukaan semua bisa tersedot.


"Kita bagi tugas. Nadira, Radja kalian ulur waktu. Aku dan Nadia akan membantu polisi mengamankan warga," balas Bizar. Secepat mungkin dia mengetikkan sesuatu pada layar transparan itu. Seteleh selesai, empat titik kordinat nampak di layar yang muncul pada jam tangan masing-masing.


Nadia menahan lengan baju Bizar sebelum aku dan Radja berangkat. "Kalian yakin? Aku menyelamatkan manusia lain?"


"Ini bukan waktunya, Nad. Ikutlah denganku, kamu bakal baik-baik aja," balas Bizar. Nadia melihat ke arahku seakan meminta izin padaku. Dengan cepat aku mengangguk.


"Dira, kamu mau liat aku terbang atau jalan?" tanya Radja padaku. Aku memandanginya dengan datar.


"Itu pilihan?"


Radja tertawa, tidak lama memunculkan sayap dan mengulurkan tangannya padaku. Dengan senang hati aku menggenggam tangan laki-laki itu. Sementara Nadia dan Bizar melakukan teleportasi. Aku menatap lurus ke depan di mana Bara tengah terbang dan ada satu laki-laki lain yang berada di atas gedung.


"Kamu yakin bisa melawan orang itu? Bahkan kamu enggak pernah melawannya," balas Radja.


Aku mengedipkan mata. "Tenanglah, Ja. Kita harus berkerja secara tim, 'kan?"


Radja mengangguk. Kami terbang di atas gedung, laki-laki itu tidak berniat turun karena Bara lebih dahulu menyadari keberadaan kami dan mulai menyerang dengan pedang yang diselimuti aura kegelapan. Bisa aku lihat bibir Radja menggumamkan permintaan maaf sebelum dia menjatuhkan tubuhku.


Dengan persiapan yang tidak tepat, aku berusaha untuk mengatur adrenalin. Kali ini aku harus berhasil melakukan pendaratan yang tepat. Ini sangat berbahaya, aku mencoba menumbuhkan akar-akar dari atas gedung. Nyawaku ini bukan untuk diobral. Selagi membuat akar, aku juga memunculkan anak panah dan menarik tali busurnya.


Anak panah itu melesat dengan sangat cepat pada laki-laki yang mengenakan tudung tanpa menutupi bagian atasnya. Dia terlalu sibuk sampai tidak sadar ada anak panah yang menancap di tubuhnya. Laki-laki itu berbalik, menarik paksa anak panah milikku. Tepat, ketika aku berhasil menapaki kaki di atas daun sirih yang sangat besar untuk menopang tubuh.


"Siapa kamu yang menggangguku?" ucap laki-laki itu. Aku tidak mengenalnya, tetapi bisa aku lihat melalui mata kepalaku sendiri. Ada aura lain yang bercampur di sana.


Tidak sampai di sana, penglihatanku kembali berfungsi secara acak. Melihat laki-laki bertudung itu mengumpulkan tenaga dari para tanaman hingga layu. Dia gunakan kedau tangannya untuk menurunkan angin topan. Aku mana mungkin berdiam diri saja.


Saat menutup mata, laki-laki itu mulai menyerap tanamanku. Segera mungkin, aku mengepalkan tangan dan membuat tanaman-tanaman hancur berkeping-keping. Apa yang terlihat dari mata harus aku percayai sedikit. Dengan cekatan aku mengganti panahan dengan pedang.


"Aku adalah orang yang akan menghentikanmu," ucapku sambil memegang kedua pedang sejajar dengan apa yang aku lihat.


Laki-laki itu mengenakan tudungnya. Tidak aku sangka dia berlari dengan penglihatan yang terbatas, belum lagi langkahnya yang panjang. Segera aku mengejar sebelum dia mencari berbagai cara untuk menurunkan angin topan. Di atas sana, Radja dan Bara bertarung tanpa henti hingga kabut menebal. Aku tidak boleh berleha-leha.


"Jangan mengejarku!" teriaknya, "atau kamu menyesal."


Aku memutar bola mata, tidak lama aku melompat tinggi agar jarak kami mendekat. Sayangnya, laki-laki itu justru melompat dari gedung tinggi ke gedung lainnya. Aku melihat bagian angin topan yang semakin mendekat. Dengan menunjukkan telapak tangan sebuah akar pohon tumbuh di antara kedua gedung, sempat ragu melewatinya, tetapi tidak bisa aku biarkan dia melarikan diri.


Laki-laki itu mengepalkan tangan. Dia celingak-celinguk mencari jalan lain. Tidak lagi! Aku menarik tangan menyamping. Aku hanya mengira jika tanaman belukar yang keluar, nyatanya air dari tanganku menuju pada kaki laki-laki itu dan mengikat bagian pergelangan kaki.


"Bisakah kita bekerjasama?" ucapku sambil mendekat ke arahnya.


Bukannya mendengar dia menolak, justru yang aku dapatkan adalah tawa menggelegar. Laki-laki itu tidak memedulikan keadaannya yang terpojok. "Sepertinya kamu tidak memercayaiku. Baiklah."


Aku merasakan aura laki-laki itu semakin kuat. Kekuatan air yang kumiliki tiba-tiba hancur. Apa yang terjadi? Aku meneguk ludah bersamaan dengan mata yang menyalang itu. Dia mengibaskan tudung hingga aku dengan jelas melihat wajahnya yang penuh dengan tato.


"Apa yang terjadi?" gumamku.

__ADS_1


Laki-laki itu tertawa sejadi-jadinya. Dari kedua tangannya, tumbuh kuku yang sangat panjang seolah bisa menggores permukaan tebal dinding. Jika terkena tubuh mungkin sama saja seperti manusia yang merobek kertas. Ini gawat. Bisakah aku menyerangnya?


__ADS_2