
Aku menggenggam erat pedang di sisi kanan. Kami sudah bertekad untuk menyerang Azumi atau tepatnya berperang? Sebuah mitos jika gadis itu tidak mengetahui keberadaan kami saat ini.
Kami tidak bisa membiarkan mayat hidup di bumi menyerang orang-orang lebih lama lagi. Kegilaan ini harus segera dihentikan, terlebih mayat hidup itu adalah manusia biasa! Jadi, untuk mengalahkannya kami pun menjebak Azumi.
Rencana kami bisa berjalan mulus jika semuanya saling percaya satu sama lain. Mungkin akan ada korban jiwa, tetapi sebisa mungkin kami mencegah semua itu terjadi. Ya, bagaimana pun panggung pertunjukan akan segera dimulai.
Aku dan Faizal menunggu aba-aba di atas gedung. Teman-teman sedang mencoba menghentikan pergerakan dari mayat hidup. Semua engga. Untuk menyerang, bahkan membunuh. Pada dasarnya mereka manusia biasa tetapi dikendalikan oleh Azumi. Kami yakin bisa menghentikan kekacauan ini.
Faizal tiba-tiba menepuk bahuku. "Kamu tegang?"
"Daripada tegang, aku khawatir orang-orang yang normal jadi patah semangat. Meski kita tidak bisa dikenali, tetapi Bizar tidak bisa menghapus memori sepenuhnya bukan?" jelasku pada Faizal.
"Kamu sadar?" tanya Faizal dengan lirih, "memang terlihat seperti menghilangkan. Sejujurnya konsep dari program yang dia buat sama saja dengan self-hypnosis."
"Apa itu?" balasku penasaran, tetapi mata tetap tertuju ke bawah. Mencari-cari teman-teman lainnya.
"Ini sama saja membuat otakmu bekerja untuk menyimpannya ke memori lain, lalu diintruksikan untuk melupakannya. Perintah itu membuat orang enggan untuk tahu apa yang terjadi. Padahal, jika mereka bisa memanggil ingatan sendiri, semua ingatan yang Bizar sembunyikan bisa muncul kembali," jelas Faizal panjang lebar dan aku tidak begitu paham.
Aku kembali melihat ke bawah gedung. Orang-orang berlari-lari tanpa arah, mengabaikan instruksi yang diberikan oleh polisi. Harusnya mereka tidak melakukan itu. Melanggar tidak menjamin nyawa mereka. Sementara para polisi sudah dibantu oleh Bizar untuk memblokir area-area mana saja yang didatangi oleh mayat hidup. Namun, pemikiran manusia memang sulit ditebak. Ego yang besar membuat mereka celaka sendiri.
__ADS_1
Tim di bawah sana tidak bisa banyak membantu. Terlalu banyak orang dan kami pun terlalu sedikit. Jika membagi kelompok lebih banyak lagi, mungkin ini bisa gawat. Bisa-bisa tenaga mereka habis lebih dahulu sebelum berperang dengan hidangan utama. Maka, dengan terpaksa kami harus merelakan orang-orang dengan ego tinggi mereka.
Mayat hidup ini seperti zombie. Aku sempat berpikir jika Azumi sedang bosan dengan pasukan tengkorak. Dia akhirnya membuat manusia yang ditangkapnya dulu menjadi sosok mayat hidup. Ya, mayat yang sempurna tanpa cacat—kecuali warna pucat itu bisa dikatakan sebagai cacat.
Mereka berusaha untuk tidak membunuh siapa pun. Mayat hidup juga manusia dan aku tahu mereka hanya terkekang oleh Azumi. Penyatuan empat pedang pasti bisa menyembuhkan mereka. Namun, kesempatan itu hanya bisa kami gunakan sekali. Kembali mengingat rencana, keempat pedang mengalahkan Azumi; pedang milikku, Nadia, Afly dan Bara.
Konon katanya, jika keempat elemen disatukan, akan terjadi sesuatu yang baik. Hana sendiri menyuruh aku melakukan itu. Syukur-syukur jika mereka bertiga mau melakukannya. Di dalam hatiku caladblog sudah siap untuk dipertemukan kembali dengan pedang-pedang lainnya. Aku sendiri tidak sabar untuk menghentikan semua kekacauan ini.
"Nadira, Azumi muncul! Cepat naik ke awan yang aku gambar. Ingat untuk menghentikan dia selagi mereka menahan serangan," ucap Faizal
Aku melihat awan itu segera menghampiriku. Tidak sempat berpamitan, aku segera menaiki awan di mana gambar itu membuat suhu tubuh tersamarkan. Aku melihat Radja tengah mengusap keringatnya. Tidak lama dia terbang mendekat ke arahku, seolah sedang mengawal.
Radja mengembuskan napas, lalu melihat padaku. Dia sadar keberadaanku yang tertutup oleh awan buatan milik Faizal. "Kita pasti bisa. Tidak. Kita memang harus berhasil, Dira. Pak Hisam sudah percaya kalau kita bisa mengubah keadaan ini."
Benar, Pak Hisam percaya kami bisa mengubah Azumi dan mengembalikannya ke jalan yang benar. Aku tidak boleh mengecewakannya. Saat ini bukan hanya kami saja yang berjuang, tetapi beliau juga. Miss Merry sedang mencoba untuk menyelamatkannya dengan menyelinap menjadi dokter di salah satu rumah saki. Aku menarik napas, semoga saja operasinya berhasil.
Tiba-tiba sebuah lingkaran hitam tercetak di bawah sana. Sekumpulan tengkorak merangkak naik ke atas, seolah meminta untuk dibebaskan. Itu pasukan tengkorak. Sial, Azumi benar-benar ingin memojokkan kami semua. Ini bahkan di luar rencana dan dia belum masuk sedikit pun ke dalam perangkap. Aku menelan ludah, ini tidak akan berjalan mulus.
“Kita kekurangan orang, ini tidak akan berhasil. Lupakan rencana sebelumnya dan masuk ke rencana C,” ucap Bizar melalui jam tangan kami.
__ADS_1
“Apa? Kenapa langsung ke C? Bukannya rencana B juga masih bisa digunakan?” balas Radja.
“Masih banyak orang yamg berkeliaran di sin dan semua pasukan Azumi tersebar di mana-mana. Kita jalankan rencana C, lupakan untuk membuat gadis itu menjadi baik!”
Aku segera melompat dari awan, karena tanah cukup dekat. Namun sebelum Azumi menemukan keberadaanku, aku segera bersembunyi di balik bongkahan bangunan. Setelahnya aku mengaktifkan mikrofon dan segera membuka suara pada semua orang.
“Dengarkan aku, tidak peduli rencana yang mana, kita selamatkan orang-orang lebih dahulu. Aku tahu kita kalah jumlah, tetapi nyawa orang banyak adalah prioritas kita. Biar Azumi menjadi urusanku,” ucapku.
“Apa? Kakak tidak mengizinkan kamu melakukannya, Nadira. Azumi terlalu kuat untukmu, lupakan saja,” ucap Kak Ron. Aku mengembuskan napas. Sampai mataku menangkap melihat Radja terbang ke arahku dengan tatapan tajamnya.
“Lakukan saja, Kak. Aku akan baik-baik saja, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Di dalam hatiku ada Hana dan Vivian yang akan terus membantuku,” ucapku meyakinkan.
“Benar, jangan khawatir, aku akan ikut bertarung. Kalian selamatkan saja orang-orang tidak bersalah itu,” timpal Radja yang lalui melihat ke arahku. “Bizar, bimbing kami.”
Tidak lama setelah Radja mengucapkan itu, Bizar mengirimkan sebuah peta dengan titik merah pertanda Azumi. Ada beberapa keterangan di sana, tetapi kami tidak punya waktu untuk membancanya. Aku bisa mendengarkan suara bongkahan tembok lain di angkat ke atas oleh pasir. Maka aku pun segera menahannya dengan menggunakan tanaman rambat untuk mempertahkan posisi dari benda tersebut.
Radja segera terbang ke atas sepertinya mencari keberadaan Azumi. Aku tidak bisa membantunya, karena aku pribadi pun sedang kesulitan. Sepertinya Azumi bersikeras untuk melemparkan bongkahan tersebut untuk menghancurkan hal lainnya. Sekuat tenaga aku terus menambah akar-akar rambat ke atas untuk mengunci pasir tersebut.
Sampai akhirnya pasir itu turun, aku pun melihat ke segala arah untuk menyimpan bongkahan ini. Aku arahkan benda tersebut ke samping dan ditopng oleh bangunan lain. Setelahnya, aku hilangkan tanaman rambat dan mulai melihat pada jam. Di sana keberadaan Azumi tidak jauh dariku, bahkan sebenarnya ada di seberang sana. Namun, aku tidak melihat apa pun.
__ADS_1