
"Suara itu terus memanggil lembut namaku, menarik tubuhku dari sisi terkelam. Suara itu pula yang membenamkan rasa gamang yang bertengger erat dalam hati." - Nadira, Twins Knight.
Kepalaku berat. Berlapis-lapis bantal pasti berada di atas jidat. Siapa pun yang melakukannya sangat tega. Tidak tahukah aku jadi sulit membuka mata?!
"Nadira, apa kabarmu? Maaf karena aku merepotkan kamu selama ini. Bangunlah, semua orang sudah menunggumu!"
Entah siapa yang bicara, nadanya begitu lembut. Aku tidak mengenalinya, atau malah sekarang aku tidak mengenali suara siapa pun lagi. Ingatan terakhir yang kuingat pun hanyalah tentang Naira, Vivian dan rasa takut.
Aku memaksa membuka mata lebar-lebar. Cahaya dari jendela pun langsung menyorot jelas ke arah mata. Terlalu menyilaukan. Di sampingku ada seorang anak laki-laki dan anak perempuan. Keduanya tertidur di sofa, pasti sangat pegal rasanya ketika bangun.
Daripada memikirkan orang lain aku melirik keadaanku sendiri. Tubuhku sangat lemas dan semakin kurus. Susah untuk menggerakkan tangan maupun bicara. Seakan bicara satu patah kata pun akan membuatku kelelahan.
Anak perempuan yang tertidur mulai mengucek matanya. Dalam setengah sadar dia mengedipkan mata lalu menutup mulut. Tangan lain yang bebas mendorong tubuh anak laki-laki agar ikut terbangun juga.
"Loh?" Kata pertama yang dilontarkan anak perempuan tersebut membuat anak laki-laki di sebelahnya terbangun."
"Apa sih? Kamu tahu kan aku butuh istirahat lebih. Ini gara-gara kamu ngajak main UNO gak sadar waktu," celotehnya.
"Ih," kesal anak perempuan, "Radja! Itu lihat Nadira bangun."
Anak perempuan itu langsung menghampiriku. Dia melirik ke samping nakas, ada air minum, entahlah minum apa itu. Tanpa disuruh dia membantu aku berbaring agar bisa minum.
"Nadira, kamu sadar? Syukurlah!" ucap anak laki-laki tersebut. Semakin jelas aku melihatnya, aku ingat sekarang. Dia Radja.
"Kamu sudah tertidur selama sebulan, Dira. Kami mencemaskanmu. Setelah melawan Naira kamu tidak sadarkan diri. Kami ketakutan." Aku menatap wajahnya, mengenali suara dan menyamakan dengan suara yang memanggilku saat tertidur. Percuma saja, ini berbeda.
Aku cukup kaget mendengar waktu tidurku. Sebulan? Lama sekali. Bagaimana bisa? Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Apa? Apa?!
"Kak Ron bilang, kamu berada di ambang kematian. Dibilang ada, tidak bisa, dibilang sudah tiada pun ... tidak. Bizar menganalisanya, jiwa kamu dan Naira terbawa ke ruang hampa. Naira tiada, tetapi kamu masih mengambang.
"Bizar juga bilang, jika pun kamu berhasil melintasi konflik ini ... belumlah tentu kamu ingat semuanya. Kamu pasti lupa beberapa hal, dan salah satunya suara kami. Tidak, itu bukan masalah berat, Dira.
__ADS_1
"Ingatan itu akan datang padamu dengan sendirinya. Satu per satu, kami yakin kamu akan mengingatnya," ujar Radja padaku. Aku mengangguk lemah.
"Kamu pasti lupa suaraku, Dira. Aku Demina, sahabatmu." Aku hanya menatapnya. Bergeming dalam pikiran yang membelenggu ingatan.
Tiga hari selanjutnya keadaanku membaik. Beberapa orang mengunjungiku, berbagi cerita mereka. Semua berpikir itu mampu mengembalikan ingatanku. Realitanya tidak. Aku belum ingat, mungkin karena aku belum benar-benar sembuh.
"Apa kabar, Dira?" Anak perempuan langsung berlari masuk ke dalam kamarku. Dia duduk di sofa, menyimpan tasnya dan juga blazer sekolah.
Aku tersenyum. "Sama sepertinya, Demina."
"Demina, Miss Merry mencari kamu! Kenapa kamu malah ngacir ke kamar Nadira? Pergi sana," ucap Radja yang masuk ke dalam kamarku. Demina cemberut, dia lalu memelukku sebelum pamit pergi ke ruangan Miss Merry. Sementara Radja mendekatiku. Dia sudah berpakaian bebas, tidak lagi mengenakan seragam.
"Radja, sebenarnya ada hal yang menggangguku," ucapku terus terang. Entah mengapa aku lebih terbuka pada Radja dibandingkan Demina. Aku masih lupa dan aku berharap segera ingat apa saja yang telah kulupakan.
"Apa?"
"Naira sudah kalah, lalu sekarang bumi aman, 'kan?" tanyaku.
"Untuk sementara iya. Hanya saja, Azumi belum kalah. Kamu ingat dia, 'kan? Kami gagal melawannya," jelas Radja padaku.
"Begitu ya." Aku kembali melihatnya. Dalam pikiran aku tangkap beberapa memori-memori yang masuk. "Apa aku masih memilih kemampuan Hana?"
"Menurutmu?" tanyanya, "Naira kalah, artinya kemampuan Hana ada padamu. Kamu berhak memilikinya atau mengembalikannya."
"Maksudmu?"
Radja menunduk. "Bukankah kamu ingin lepas dari semua ini? Aku akan mencari tahu mantra apa yang dapat mengembalikan semua keluargamu."
Aku menatapnya tajam. Kenapa dia bicara seperti itu? Dia masih menunduk. Seakan memang tidak ada harapan lagi untuk menyelamatkan bumi atau malah aku yang tidak dibutuhkan.
"Radja," panggilku dengan memelototi dirinya, "kita bukan Tuhan. Ini sudah garis hidup kita. Apa yang aku awali tidak mungkin diakhiri di tengah jalan begini. Kamu mikir apa sih?"
__ADS_1
"Kamu benar, Dira. Hanya saja, melawan Azumi bukanlah perkara yang mudah. Semakin lama dia semakin kuat. Sedangkan tim kita, semakin melemah," ucap Radja padaku.
Dia mulai bercerita. Meskipun saat berkunjung mereka terlihat bersemangat, nyatanya di dalam semangat itu hati mereka hancur. Retak. Takut tersakiti. Mental mereka sudah jatuh, tiap hari mereka harus konsultasi dengan Miss Merry dan Miss Ann. Entah apa yang telah terjadi sampai mental mereka hancur hingga akar.
Aku jadi teringat Hana, teringat pula saat-saat keluargaku tiada. Hana ada untuk menopangku saat-saat itu. Dia melindungi aku yang bahkan bukanlah reinkarnasinya. Memberikan kesempatan untukku kembali berjuang meneruskan harapannya.
Harapan. Benar, harapanku apa ya?
Melindungi orang-orang yang aku sayangi? Membuat orang terkesan? Membuat banyak pertemanan? Tidak, tidak. Harapan macam apa itu?
Hana hanya memintaku untuk mengambil kemampuannya, selanjutnya dia menyerahkannya padaku. Melanjutkan atau tidak. Itu terserah pada hatiku. Aku harus memutuskannya.
Harapanku adalah ....
"Aku sudah putuskan!" ucapku bersemangat.
"Putuskan apa? Emangnya kamu punya pacar? Ya ampun masih kecil aja ... awww iya, iya, jangan cubit pipiku juga dong." Aku menghentikan aksiku, lalu tertawa.
"Radja, aku akan meneruskan tugas Hana. Melindungi bumi sebagai Nadira," ucapku.
Radja terbelalak. "Seriusan? Musuh bumi tidak hanya Azumi. Masih banyak yang lebih kuat, Dira."
"Aku akan menemukan cara untuk melawan Azumi, atau bahkan yang lainnya. Percayalah!"
"Padahal mengunakan kemampuan saja kamu masih kurang. Bagaimana mau melawan Azumi?" sindirnya padaku. Aku kembali mencubit pipinya.
Setelah kulepaskan aku kembali bicara, "Ya sudah aku gak jadi nih."
"Eh, gak gitu maksud aku, Dira," balas Radja, "kalau kamu benar-benar yakin. Aku akan membantumu. Mendukung semua keputusanmu dan aku akan mengasah kemampuanmu."
Aku tersenyum pada Radja, dia balas senyumku. Dalam bisikan angin aku mengucapkan terima kasih padanya. Mulai sekarang kehidupanku tidak akan mudah lagi. Namun, itulah tantangannya bukan?
__ADS_1