
"Wah, masih belajar?" sindir Radja dan kubalas dengan mata melotot.
"Diem kamu yang libur sekolah," balasku, "aku harus ngejar kalian biar ujian besok bisa lulus dan aku naik ke kelas dua."
Radja menertawakanku, dia memeluk dirinya sendiri, entah apa yang lucu dari ucapanku. Barulah dia berkata, "Percaya diri amat bakal naik kelas."
"Ih, ropes!" Aku ikat dan gantungkan dia di atas langit-langit, lalu kembali pada buku dan soal-soal yang siap menelanku.
Radja terus memanggilku, tetapi apa peduliku? Nilai yang paling harus aku tingkatkan adalah matematika. Sudah tertinggal jauh, aku pun tidak mengerti. Sejak sakit, Miss Merry dan Miss Ann bergantian mengajar padaku. Benar, selama satu semester aku mengambil homeschooling. Jika lulus ujian nanti, aku bisa naik kelas bersama teman-teman lainnya.
Kubuka lembaran baru, soal baru dan penyelesaian yang berbeda. Aku tidak mengerti, Radja pasti lebih paham. Namun, rasa kesalku sudah sampai puncak! Masa iya aku harus meronta-ronta meminta bantuannya? It's not a big deal.
Ron memutuskan melanjutkan kuliahnya dan kembali secepat mungkin. Selama dua tahun, aku akan tinggal di Kerajaan Heart. Akhirnya setelah lama, aku tahu juga tempat apa yang aku tinggali. Kondisiku belum pada keadaan yang stabil. Beberapa kali tumbang dan tidak sadarkan diri membuat Miss Merry memaksa agar aku berhenti sekolah di bumi dan menstabilkan kondisiku terlebih dahulu.
"Nadira, apa kamu melihat Radja? Aku harus bertemu dengannya." Aku terbelalak. Dari ujung pintu kamar kerajaan, muncul seorang peri. Miss Ann.
"Halo Miss Ann, Radja? Aku tidak tahu ... he ... he," balasku dengan tawa yang kaku.
"Baiklah," balas Miss Ann, "kalau kamu bertemu dengannya, tolong sampaikan Merry mencari kalian. Katanya ada yang harus dibicarakan delapan mata."
Sepeninggalan Miss Ann, aku menengok ke arah Radja. Bahkan saat dia di atas pun, dia sibuk menyeringai tak jelas. Dia memang aneh dan aku baru menyadarinya.
Dengan rasa enggan aku menurunkan dia membiarkan dia kembali tertawa dengan riang. Aku kembali kesal, tanpa ampun kulayangkan jitakan padanya. Setidaknya itu bisa membuat dia diam terlebih dahulu. Sebelum Radja kembali meledek, aku segera menariknya ke ruangan Miss Merry.
"Aku tidak tahu kalian sedang apa, tetapi dengarkan aku. Keadaan Azumi semakin membaik, terlebih dia memiliki pasukan baru," jelas Miss Merry. Aku melepas cengkeraman pada lengan Radja, lalu memandangnya bingung, begitu pun dia padaku.
"Bukankah kondisi kesebelasan masih parah? Belum semua mental mereka pulih kembali, Miss," ucap Radja.
__ADS_1
Aku menimpali, "Bagaimana bisa kami melindungi bumi dengan keadaan kesebelasan yang mulai rapuh."
"Aku sudah memikirkan itu semua. Beberapa orang akan fokus pada sekolahnya masing-masing. Sementara sisanya melindungi bumi. Aku tidak minta kalian melawan Azumi, dia terlalu kuat untuk kalian," jawab Miss Merry. Aku ragu. Sampai sekarang Radja baru melatihku hal-hal mendasar, kemampuan Hana sendiri belum keluar. Tidak mungkin aku bisa melawannya.
"Bukankah ada cara itu?" Aku melirik pada Radja. Cara itu? Aku tidak paham maksudnya.
"Mencari empat elemen utama itu tidak mudah, Radja."
"Empat elemen?" tanyaku, "apa maksudnya?"
"Dira, kamu pasti belum membaca buku Hana. Oke buku itu memang aneh, tiap hari bacaan yang dikeluarkannya berbeda. Salah satu informasi yang sulit didapat adalah empat elemen.
"Air, cahaya, kegelapan dan api. Mereka adalah salah satu cara yang dapat menghentikan kegilaan ini. Azumi dapat dikalahkan oleh mereka. Hanya saja, mereka bukanlah kesebelasan.
"Radja yang memiliki kekuatan kegelapan dan api pun tidak bisa menjadi salah satu dari mereka. Kalau kita mencari keempat elemen, itu hanya buang-buang waktu saja," tutur Miss Merry. Aku jadi teringat satu hal. Orang yang telah membunuh keluargaku. Bukan Naira, tetapi orang yang membantunya.
Miss Merry mengangguk. Dia menggambar simbol di langit langit. Bentuknya menyerupai masih-masing elemen.
"Saat bertransformasi mereka bisa mengubah warna mata mereka sesuai dengan elemen mereka. Saat mereka bergenggaman tangan pun akan ada cahaya yang muncul. Cahaya itu yang akan menuntun pada orang selanjutnya. Namun, belum ada satu pun tanda kemunculan mereka."
Aku dan Radja mengangguk paham. Hanya ada empat orang yang harus aku cari. Itu tidak mudah, tetapi dibilang sulit semuanya akan jadi sulit.
Namun, jika tidak, semua akan hancur. Bumi tidak lagi terselamatkan. Jika memang empat elemen adalah harapan terakhir, aku yakin kami semua mampu menemukannya.
"Dan sebelum kamu memikirkan lebih jauh soal empat elemen, kamu harus ingat ujian besok, Dira," ucap Radja padaku. Aku mati rasa. Bahkan soal matematika baru itu tidak bisa aku kerjakan!
Aku meliriknya, mengeluarkan jurus andalan untuk meminta bantuan. "Radja, bantu aku ya?"
__ADS_1
"Enggak! Kerjain sendiri sana!"
Miss Merry hanya bisa geleng-geleng. Dia kembali berkutat pada pekerjaannya, membaca buku tua. Lalu, dia kembali menatap kami.
"Aku pikir, kalian harus beristirahat dahulu," ucap Miss Merry.
"Libur?" tanya Radja, "disaat seperti ini?"
"Sampai satu semester berakhir, mereka semua aku bebaskan. Kita susun rencana tepat sambil mencari empat elemen. Mereka juga butuh menguatkan pondasi mental, 'kan?"
Aku setuju. Miss Merry benar. Kesebelasan masih butuh waktu membangun kepercayaan diri mereka. Kami juga butuh pemulihan.
"Hanya saja, aku rasa tidak untuk kalian berdua. Maksudku libur kalian tidak sepanjang itu. Nadira masih kurang dalam melawan dan fisiknya masih lemah dalam artian sebenarnya.
“Nadira masih butuh bimbingan, dan yang bisa membimbing dia hanyalah aku dan kamu, Radja. Kekuatan Hana tidak sebatas mengikat lawan menahan dan membuat tanaman, itu hal paling mendasar. Tidak mungkin itu terus-menerus kamu andalkan.
“Radja, kamu pun masih butuh bimbinganku. Dulu aku sempat menitipkan kamu pada Ann. Namun, entahlah, aku hanya merasa pergerakanku jadi lambat sekarang. Oh ya, tolong rahasiakan ini dari semuanya. Kita mana tahu ada yang telah tertipu oleh Azumi," jelas Miss. Merry. Lagi. Aku mengangguk, lalu menatapnya. Sekilas aku melihat Hana yang berdiri dan tersenyum. Mungkin itu imajinasi. Namun, aku boleh untuk mengatakan ....
Hey Hana, terima kasih karena kamu sempat transit di hidupku. Pengalaman tidak terduga ini membuatku sadar. Untuk apa aku takut pada hal yang mungkin saja bisa aku atasi? Kamu benar, aku hanya butuh satu hal. Percaya.
Aku janji padamu, pada keluargaku. Biarkan mereka lihat, seorang gadis lemah mencoba menyelamatkan bumi dari kekacauan. Biarkan aku membongkar satu per satu rahasia dalam akar bumi, agar mereka tahu ... aku tidak lagi selemah itu.
-----------------------------------------------------------
SEASON 1 TAMAT
Twins Knight : The History
__ADS_1