
"Bara, apa ini kerjaan kamu?!" ucap Afly yang tiba-tiba menuduh Bara.
"Aku bahkan gak tau apa-apa soal itu! Jadi jangan asal tuduh, Alfy," balas Bara tidak mau kalah.
Aku kembali melihat isi pesan, tetapi suara langkah kaki membuatku ingat sesuatu. Masih ada orang di kelas. Segera aku mengajak mereka pergi ke perpustakaan, setidaknya di sana ada Miss Ann atau Miss Merry. Tidak akan ada murid yang ke sana untuk membaca buku sampai sore hari.
Sesuai perkiraan, perpus memang sepi. Bahkan Miss Ann pun tidak berada di perpustakaan untuk menjaga tempatnya. Kami berempat duduk di bangku yang kosong. Semua membuka pesan dari Radja, kecuali Bara.
Aku mengamati tiap kata dengan seksama. Memang benar hanya pesanku yang berbeda. Mungkin dia salah menulis atau ada hal yang perlu dibicarakan denganku.
"Kita gak bakal tahu mana yang asli kalau kita gak cek sendiri," ucap Bara tiba-tiba.
"Tapi kalau kami dapat di lapangan, yang lain juga bakal dateng ke lapangan. Jangan-jangan ini kerjaan kamu, Bara. Emang, penjahat gak mungkin berubah dalam waktu cepat," sindir Afly.
Aku mengembuskan napas mendengarkan apa yang Afly ucapkan. Memang tidak mudah untuk berubah, tetapi aku yakin Radja tidak mungkin salah memberikan informasi. Apa aku harus ikut dengan mereka? Namun, aku ingin mencoba percaya dengan kiriman Radja. Laki-laki itu pasti punya rencana yang lebih baik.
"Afly, Demina, kita datangi tempat masing-masing aja. Kalau misal ada yang salah info, kita bisa saling berkabar," usulku.
"Oke, terus Bara gimana?" tanya Demina.
Aku melihat Bara, menanyakan laki-laki itu mau ikut siapa. Tidak butuh waktu lama, dia memilih mengikutiku dibanding dengan Afly dan Demina. Wajar, hubungan kedua laki-laki itu belum juga membaik dan aku hanya bisa mengembuskan napas saja.
------------------------
Radja memang bilang akan terlambat, jadi aku memutuskan untuk menunggu setengah jam dari waktu yang telah ditentukan. Bara sendiri tidak masalah dengan hal itu. Untuk membunuh waktu kosong, kami menyibukkan diri dengan membaca buku pelajaran atau mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
Belum ada konfirmasi dari teman-teman lainnya, ini membuat aku agak risih. Apa memang Radja salah mengirim pesan? Lagi-lagi aku mengembuskan napas.
"Baru kalian berdua? Di mana yang lain?" tanya orang yang datang dari portal.
"Radja? Bizar?" gumamku.
Radja dan Bizar baru saja melalui portal, lengkap dengan pakaian tugas mereka. Artinya pesan yang aku dapatkan memang benar dari dia.
"Bukannya kamu yang suruh mereka datang ke lapangan?" ucapku.
"Lapangan mana?"
Bara pun menimpali, "Lapangan sekolah. Kami pergi ke taman, sebaiknya kita hampiri mereka."
"Pesan yang Radja kirimkan semua sama rata. Di taman. Sebelum memberi kabar, aku akan periksa keadaan mereka," ujar Bizar.
Sambil menunggu informasi aku melihat pada Radja, ada peluh keringat dari dahinya. Sepertinya laki-laki itu baru saja selesai berlatih.
"Kenapa kamu bilang bakal terlambat, Ja? Apa ada masalah?" tanyaku.
"Azumi menyerang kami di tengah jalan. Kalian pasti terkejut, tapi inilah yang ini aku jelaskan pada semuanya. Jadi aku minta bantuan Bizar untuk mengirimkan kalian pesan. Aneh kalau aku menyuruh kalian berkumpul di lapangan," jelas Radja yang membuatku tertegun.
"Mereka dalam bahaya." Ucapan Bizar membuat kami membelalakkan mata. Kaget dengan apa yang baru kami dengar.
Laki-laki itu langsung membagi layarnya menjadi empat dengan skala kecil agar kami bisa melihat dengan seksama. Kendali video masih dipegang oleh Bizar. Laki-laki itu dengan telaten menggerakkan kamera drone lebih dekat dengan objek.
__ADS_1
Aku bisa melihat mereka semua sudah berkumpul, bahkan orang seperti Tiara, Irish dan lainnya yang masih trauma. Mereka dipertemukan kembali dengan Azumi. Ya, gadis itu benar-benar masih hidup. Benar sekali seperti apa yang dikatakan Radja padanya.
Walau tidak tahu rencana jelas dari Azumi, tetapi semua yang di sana dalam bahaya. Pertama, kekuatan musuh sudah sepenuhnya kembali. Kedua, hanya ada lima orang yang siap bertarung dan sisanya ketakutan. Bahkan itu malah membuat ingatan mereka terpicu lebih cepat, hasilnya tidak akan bagus.
Miss Ann dan Miss Merry pun tidak ada di sana. Sialnya, masih ada beberapa murid di sekitar sekolah. Tentu saja mereka sedang melakukan kegiatan sekolah. Ya ampun! Ini sudah sangat gawat dan sangat berbahaya!
"Mengalahkan Azumi akan sangat sulit. Kita tidak bisa melawannya di bumi, terlalu banyak korban," ucap Radja, bagaimana dengan Twisn World? Apa itu memungkinkan, Bizar?
"Di Twins World sangat tidak menguntungkan. Dia bisa berevolusi lebih buruk lagi. Jika aku dan Nadira saja gagal, apalagi kalian?" balas Bara dengan nada sarkas. Namun, itu memang faktanya.
Azumi lawan yang sangat tangguh. Kami tidak bisa berleha-leha begitu saja. Pilihan pun sangat sulit. Menyerangnya di bumi tetapi menjatuhkan korban jiwa yang cukup banyak atau menyerang di Twins dengan resiko kekuatannya berlipat. Bara cukup lama bersama Azumi, dia tahu kekuatan gadis itu lebih kuat lagi. Terlebih kami sudah pernah mencoba membunuh dan gagal.
Aku melihat Radja mengembuskan napas. Dia lalu menengadah ke langit. Untung saja taman ini sepi, jarang ada pengunjung dengan tingkat kekepoan yang tinggi. Bahkan sekarang saja hanya ada kami berempat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya lagi, tetapi aku rasa Radja sangat berpikir keras soal itu.
"Kita pikirkan nanti saja untuk menyerang. Bizar, kamu cari cara untuk evakuasi semua orang yang masih ada di sekolah. Aku, Nadira dan Bara akan menghadapi Azumi di garis depan.
"Kalian berani, kan? Aku tahu dia akan menyebut kalian berdua pengkhianat. Namun, jika kita membiarkan ini lebih lama, mental teman-teman akan semakin jatuh," jelas Radja.
Aku melihat Bara, takut jika laki-laki itu menolak. Bagaimana pun, Azumi sendiri yang sudah mendidik laki-laki itu dan aku sudah mengajaknya untuk keluar dari lingkaran hitam. Bara tiba-tiba memegang pundakku, dia menatap lalu mengangguk.
"Aku tidak masalah. Ini sudah jadi keputusanku," ucapnya pasti.
Radja lalu tersenyum. "Nyalimu tidak buruk juga, Bara. Aku harap kamu bertahan sampai akhir."
"Kamu pastikan saja dengan mata kepalamu sendiri."
__ADS_1
Aku tidak tahu harus menanggapi apa dengan kedua laki-laki yang dulu bermusuhan. Bara sudah memunculkan sayapnya, tanpa perlu mengganti pakaian. Laki-laki itu berubah total, tidak lagi terlihat seperti Bara. Namun, memakai seragam sekolah hanya akan membuat kekacauan.
Ingin menegur, tetapi keduanya sudah meninggalkan aku dan Bizar. Mungkin hanya aku. Bizar sibuk dengan programnya dan drone untuk memastikan keadaan semua orang. Maka aku pun berinisiatif untuk pamit dan segera menyusul ketertinggalan.