
Aku tidak menyangka jika Radja bisa setenang itu dalam menghadapi Naga Hitam. Sudah berapa kali mereka bertemu? Tidak. Sedekat apa hubungan mereka? Apa pun itu, ini membuktikan jika orang yang bukan reinkarnasi dari Kazuhiro pun bisa mendapatkan kekuatan pantas. Ya, selama orang itu bekerja keras dan menolak untuk menyerah begitu saja.
Naga Hitam itu mengangguk. “Tentu saja, apa kamu ke mari ingin mempelajari teknik baru?”
“Tawaran yang bagus, tetapi aku kembali ke sini bukan untuk itu. Ini tentang sahabatku dan pasukan Azumi. Bisakah kamu menolongnya?” ujar Radja seraya mengulurkan tangannya.
Naga Hitam itu seolah melihat ke arahku dengan dua bola mata besarnya. Rasanya seperti sedang dianalisa dari awal hingga akhir, entah kenapa. Aku yang tidak mau bertatapan pun menoleh ke arah Radja. Mencoba mencari ketenangan daripada terus bertatapan dengan naga.
Kali ini hawa panas muncul dari napas naga besar yang satu itu. Cukup untuk mencairkan es dari Rima jika pun masih ada di dalam tubuhku. Naga Hitam itu lalu menarik tubuhnya naik ke atas, sehingga aku dapat melihat seberapa besar ukuran dari naga tersebut. Sangat mengagumkan dan menakutkan di saat bersamaan.
“Gadis ini ... reinkarnasi Hana? Aku tidak percaya tubuhnya sangat lemah. Memang selama ini aku bisa merasakan dari kekuatan yang aku titipkan. Namun, melihat langsung dia, ternyata lebih mengejutkan,” jelas Naga Hitam. Suaranya yang menggema semakin membuat aku tertampar dengan kenyataan Hana itu kuat.
Radja melirik ke arahku, lalu kembali menatap pada Naga Hitam. Sepertinya sadar apa yang menjadi kecemasanku. “Dia bukan reinkarnasi Hana. Nadira hanya orang yang dipercaya dan bisa menggunakan kekuatannya. Sudahlah, Naga Hitam, kami membutuhkan bantuanmu karena kristal kegelapan di dalam tubuhnya bisa meledak. Mungkin dua jam lagi.”
“Jadi dia bukan Hana? Lantas untuk apa aku menyelamatkannya? Tugas kamu hanyalah mendamaikan dunia, bukan menyelamatkan orang-orang. Bahkan kadang kala kamu harus merelakan jika mereka terpaksa dikorbankan. Jika Nadira bukanlah Hana, maka cepat atau lambat dia akan menghadapi kematian.” Perkataan Naga Hitam membuat mataku membelalak, tetapi hatiku mencelos. Perasaaan ini bercampur aduk di dalam hatiku.
“Atas dasar apa kamu bicara begitu, Naga Hitam?!” amuk Bara yang akhirnya membuka suara.
“Nadira hanya manusia biasa, sebuah pion. Tapi baiklah, aku akan menyembuhkannya ... oh tidak semudah yang kalian kira saat ini. Radja, kamu harus berhadapan denganku. Jika kamu menang, aku akan menyembuhkan gadis itu,” ucap Naga Hitam menantang Radja.
Aku ingin menahan Radja, mungkin memang sudah suratan takdirnya jika aku harus mati. Namun, Bara memegang tanganku. Tidak mengizinkan aku untuk ikut campur dalam urusan ini. Padahal diriku sendiri adalah penyebab dari tantangan Naga Hitam pada Bara. Aku tidak ingin laki-laki itu sangat repot hanya dengan mengurusiku.
__ADS_1
Namun Radja lebih cepat mengucapkan jawabannya. “Aku bersedia.”
Radja membentangkan sayapnya. Dia juga mengubah tangannya menjadi cakar naga, warna senada dengan lawannya saat ini. Sedangkan Naga Hitam terbang lebih tinggi. Aku ingin membantunya, tetapi tiba-tiba ada dinding pembatas di antara kami. Segera aku menyerukan nama Radja memukul pelan pembatas tersebut, berharap hancur dan aku bisa membantunya.
Aku mengira jika Radja akan menghadapi naga besar itu. Namun ternyata, Naga Hitam mengubah bentuknya. Dia menyesuaikan diri dengan Radja sebagai manusia, tetapi tubuhnya lebih seperti orang dewasa. Sama seperti Radja, Naga Hitam memiliki sayap, cakar dan kaki naga. Siap untuk menerima dan melakukan serangan kepada remaja di hadapannya.
“Hidup di bumi membuat kamu tidak sadar dengan batasanmu, Radja. Padahal kamu bukanlah pemilik asli kekuatan itu,” ujar Naga Hitam dengan suara beratnya.
“Aku tidak ingin mendengarkan ceramah darimu, Naga Hitam. Kecuali kamu berubah pikiran dan menyelamatkan Nadira tanpa syarat apa pun,” balas Radja dengan tenang. Namun, penawarannya ditolak mentah-mentah oleh Naga Hitam.
Radja mulai melesat dengan cepat dan menyerang Naga Hitam dengan tangannya. Namun, dengan tubuh dewasa itu, lawan bisa lebih mudah menghindar. Naga Hitam mengembalikan serangannya pada Radja. Dia tidak segan-segan untuk memukul laki-laki itu hingga terdorong. Namun, Radja tidak mau kalah begitu saja dan tetap memaksa bangkit.
Naga Hitam tersenyum. Meski pertarungan mereka berada di atas langit, tetapi aku menyadari senyum yang sangat menikmati kegiatan sangat ini. Mungkin, aku juga tidak begitu tahu. Namun, tidak lama aku juga melihat senyum mengembang dari wajah laki-laki yang selalu menyebalkan. Mereka menikmati apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
Kali ini Naga Hitam tidak mau kalah. Dia pun membalas dengan hal serupa. Namun api miliknya lebih kuat dan berwarna biru. Ini pun membuat Radja jatuh ke bawah dan menghantam pembatas di hadapanku. Laki-laki itu sulit untuk berdiri, tetapi dia tetap memaksakan dirinya. Aku pun memanggil nama Radja lagi. Dia sudah terlalu banyak mendapatkan luka dari Naga Hitam.
“Sudahlah, Radja. Aku enggak mau kamu lebih banyak terluka daripada ini, sebaiknya kita sama-sama mencari jalan lain,” ucapku.
“Tidak, Dira. Aku enggak bakal kalah dari Naga Hitam yang sombong dan suka memamerkan kekuatannya,” ujar Radja sambil mengangkat kembali pedangnya.
“Aku suka semangatmu ini, Radja. Seperti biasanya, tidak mau kalah dariku. Baiklah, naik ke atas dan mulai serang aku lagi,” teriak Naga Hitam.
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak. Namun, Naga Hitam seperti sedang memprovokasi Radja untuk melakukan sesuatu. Masa iya seorang naga tertinggi meminta seorang anak remaja untuk mengalahkannya? Sungguh tidak bisa dipercaya.
Radja kembali naik ke atas. Dia kini memanfaatkan semua kekuatan miliknya, bahkan hal-hal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia tidak memunculkan naga, percuma saja. Untuk apa melawan Naga Hitam dengan miniaturnya sendiri? Maka, Radja hanya menggunakan pedang, cakar dan kaki naganya dalam menghadapi monster di hadapannya.
Sebagaimana pun dia melawan, Naga Hitam berhasil menangkisnya. Dia tidak ingin membuat Radja senang lagi. Hingga akhirnya laki-laki itu memukul Naga Hitam dengan tangan kosong. Tanpa kekuatan seekor naga. Aku tidak mengerti, kenapa Naga Hitam hanya menahan saja, tidak lagi membalas.
“Sudah cukup, Radja. Latihanmu selesai, sekarang kembalilah,” ucap Naga Hitam.
Radja mengembuskan napas setelah dia berada di bawah. Pembatas pun menghilang dan aku segera menghampiri laki-laki tersebut. Radja sangat kelelahan, mungkin itu karena aku. Namun tidak aku sangka jika pertempuran tadi adalah latihan.
“Radja, kamu sudah menyadari jika kekuatan yang kamu miliki memang tidak bisa selalu digunakan. Itu kekuatan milik kakakmu, kamu punya kekuatan sendiri. Kelak, kamu akan mengetahuinya,” ucap Naga Hitam di hadapan kami.
“Naga Hitam, apa maksudmu? Aku hanya ingin menyelamatkan Nadira. Nyawanya bukanlah mainan! Tidak sepantasnya kamu mempermainkan pertarungan tadi,” ujar Radja.
“Sejak awal aku tidak mempermainkanmu. Radja, tidakkah kamu sadar dengan apa yang aku lakukan? Aku sedang menguji apakah kamu memang benar melakukan ini untuk teman-temanmu. Selain itu, aku memanfaatkan ini untuk memicu kekuatanmu,” ucap Naga Hitam.
Sosok Naga Hitam dalam wujud manusianya pun mendekatiku. Dia menempelkan satu jari tepat di dahi. Aku bisa merasakan sesuatu naik ke atas kepala dan keluar begitu saja. Sampai Naga Hitam menarik kembali tangannya, aku bisa melihat sebuah kristal keluar begitu saja. Setelahnya dia lalu kembali mengembalikan wujudnya menjadi seekor naga besar lagi.
“Kembalilah kalian. Bawa kristal itu untuk diteliti. Untuk kamu Radja, aku harap dalam waktu dekat kamu bisa menyadari makna latihan kita saat ini. Jaga terus teman-temanmu.”
Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, tetapi Naga Hitam itu segera beranjak dari tempatnya. Menghilang begitu saja. Sementara Radja terus mengepalkan tangannya.
__ADS_1