
“Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menggunakan sihir pembagi bayang untuk waktu tertentu. Saat ini Ann pasti tahu jika aku sudah mengatakan ini pada kalian. Tapi, selama itu ... aku minta kalian cari cara agar Tiara dan Faizal terbebas dari sihir miliknya,” ucap Miss Merry.
“Apa itu akan berhasil? Walau Miss Merry mengejar, aku rasa Miss Ann sudah pergi lebih dulu,” balas Radja dengan lirih. Aku tahu dia juga kecewa. Bahkan lebih kecewa dariku. Miss Merry dan Miss Ann adalah pengasuhnya sejak dia pergi dari rumahnya sendiri.
“Miss Merry, jangan pergi. Tetaplah di sini, kita sudah sejauh ini untuk mencari tahu siapa dalangnya. Karena kami tidak bisa pergi ke Twins, biarkan saja dia muncul di hadapan kami,” balasku.
Miss Merry mengembuskan napas. Dia lalu mengangguk, setuju untuk tetap tinggal. Aku segera menyeka air mata yang masih turun membasahi pipi. Hatiku masih sakit dan terluka, bagaimana mungkin dalang dari pasukan Azumi yang kami cari malah orang terdekat? Pasti ada alibi yang lebih tepat daripada ucapan Miss Merry.
Miss Merry mengarahkan agar kami segera kembali ke kamar masing-masing. Sebentar lagi jam makan malam. Selain itu kami memang harus mendiskusikan ini pada semuanya. Bizar pasti akan besar kepala, kecurigaannya selama ini mendekati puncak. Itu pun jika memang Miss Ann yang selama ini kami curigai. Namun, aku yakin, Radja juga ingin mencari tahu kebenaran dari semua ini sebelum mengambil tindakan.
Tanpa kembali ke kamar, aku ikut dengan Radja. Aku merasakan ponselku bergetar. Jadi segera aku ambil dari saku. Sesekali mataku melihat arah langkah Radja. Setelah mendapatkan yang diinginkan, aku lalu membuka pesan. Teman-teman sudah mengambil nasi box dan ditempatkan pada kamar hotel laki-laki. Keputusanku mengikuti Radja ternyata memang ada benarnya.
Kami sampai di kamar laki-laki dan aku bisa menghidu aroma nasi dan ayam. Ternyata mereka sudah membuka makanan mereka sambil menunggu kami. Namun, aku tidak melihat adanya Bizar. Apa sesulit itu dia pergi ke mari? Padahal kabar ini sangat penting untuk semuanya.
“Ada kabar apa dari Miss Merry? Kok Dira nangis? Kamu apain dia Ja?!” ucap Demina dengan nada yang membentak pada laki-laki di sebelahku. Buru-buru aku menggelengkan kepala. Bisa-bisanya gadis itu menuduh Radja.
“Aku enggak ngerjain Dira kok. Ngomong-ngomong, Bizar belum ke sini atau emang enggak bisa dateng?” tanya Radja pada semuanya.
__ADS_1
“Dari awal, kami sudah menghubungi Bizar. Dia harus ikut pergi dengan teman-teman sekolahnya. Mereka memanfaatkan ini sebagai ajang jalan-jalan juga. Aku bertaruh jika Bizar sedang kesal karena tidak bisa berdiskusi dengan kita semua,” jelas Candra pada kami berdua. Membayangkan Bizar yang tengah beristirahat itu mustahil. Aku yakin jika laki-laki yang satu itu tengah memikirkan cara keluar dari kerumunan.
Kami berdua segera mengambil sisa makanan yang sudah disediakan panitia. Jantungku kadang berdebar lebih cepat ketika memikirkan reaksi mereka ketika tahu apa yang akan mereka dapatkan jika tahu Miss Merry mencurigai Miss Ann adalah dalang dari semua ini. Nafsu makanku langsung hilang begitu saja, tetapi aku tetap harus makan. Aku tidak mau sakit bahkan sebelum perlombaan dimulai.
Setelah makan malam seesai, kami kembali berdiskusi tentang lomba besok. Tim debat belum masuk ke dalam seleksi. Jadi Afly harus menunggu hingga tengah hari, barulah dia bisa pulang. Aku dan Radja saling menatap. Jika kami menceritakan soal Miss Ann, apakah dia akan baik-baik saja jika pergi ke Twins? Aku ragu berbalut takut.
“Kalian berdua kenapa sih?”
Pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh teman-teman. Aku semakin bingung untuk mengungkapkan pada mereka. Berharap Radja mau menggantikan peranku saat ini. Aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa.
“Miss Merry mencurigai Miss Ann yang menjadi dalang dari pengendali pasukan Azumi. Ini masih dugaan, jadi kalian jangan main hakim sendiri. Lagi pula kita harus mencari bukti lainnya,” ucap Radja.
“Kamu benar, Candra. Sekarang satu di antara mereka sudah Bizar kalahkan. Jika kita menempatkan beberapa kejadian, sepertinya target selanjutnya adalah Nadira. Entah kapan dia akan menyerang, tetapi pasukan Azumi tidak akan membuat kita tenang begitu saja,” jelas Radja dan aku turut mengikutinya.
Mungkin inilah maksud dari penglihatanku. Bayangan hitam itu ... apakah dia orang yang sama dengan waktu itu? Aku bahkan belum sekuat itu untuk menyerangnya. Beda dengan Bizar yang langsung berkembang cepat. Radja sendiri sudah berkembang, terlebih dia sempat diajarkan langsung oleh Naga Hitam. Ngomong-ngomong bayangan hitam, ke mana bayangan itu pergi saat aku nyaris bertemu dengan dirinya.
“Sebaiknya kamu berhati-hati, Dira. Mereka terus membuat kekacauan, ini pasti jebakan. Mereka mencari peluang untuk menangkap Nadira. Bukan hanya mengalahkannya, tetapi memanfaatkan mental kita semua,” ucap Bara.
__ADS_1
“Kenapa kamu berpikir seperti itu, Bara?” tanya Irish.
“Wajar saja, Irish. Nadira berhasil mengumpulkan aku, Bara dan Nadia. Kalau dia diculik, kami pasti akan memprioritaskan untuk menyelamatkannya lebih dulu,” jelas Afly.
“Mereka tidak akan bisa menculik Nadira selama dia memiliki kita semua,” ucap Radja seraya mengacak-acak rambutku. Aku memang harusnya merasa aman, tetapi aku tahu jika musuh sebenarnya melawan kami dari berbagai sisi. Ini sangat menakutkan, tetapi mereka bersikap seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa.
Aku tidak ikut melanjutkan diskusi. Rasanya aku butuh udara segar. Apakah kami akan bertahan dalam tujuh hari? Besok kami semua turun lomba, apa semua akan baik-baik saja? Aku takut jka musuh kembali bermunculan. Di saat seperti ini, hanya kami yang bisa Bizar hubungi. Itu pun jika Bizar tidak sibuk dalam lomba. Kenyataan ini benar-benar menampar kami semua.
Tujuan utama kami adalah mencari markas utama musuh. Mungkin ini akan menambah bukti dalam pencarian dalang. Jika benar Miss Ann yang melakukannya, seharusnya ada beberapa bukti yang menunjukkan peri tersebut terlibat dalam hal ini.
Aku ingin istirahat dan kembali berlatih. Aku harus menyiapkan amunisi sebelum berlomba. Mengingat poin-poin penting untuk ditulis. Segera aku menekan tombol lift dan segera menekan tombol lantai. Tidak banyak orang yang berada di dalamnya. Sepertinya mereka semua masih kaget dengan kejadian sebelumnya.
Tiba-tiba pintu yang hampir tertutup pun kembali terbuka. Radja ada di sana dengan wajah khawatirnya. Tanpa basa-basi dia segera menarikku keluar dari lift.
“Nadira ini gawat!” ujar Radja cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku berada di luar. Namun, tatapan laki-laki itu sangat khawatir.
Kembali ponselku berbunyi, kali ini orang yang menghubungiku adalah Tiara.
__ADS_1