Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 55. Terlalu Buru-Buru


__ADS_3

Tiba-tiba pintu yang hampir tertutup pun kembali terbuka. Radja ada di sana dengan wajah khawatirnya. Tanpa basa-basi dia segera menarikku keluar dari lift.


“Nadira ini gawat!” ujar Radja cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku berada di luar. Namun, tatapan laki-laki itu sangat khawatir.


Kembali ponselku berbunyi, kali ini orang yang menghubungiku adalah Tiara.


“Apaan sih Ja? Hal gawat apa?” ucapku agak khawatir dan tidak peduli lagi tentang Tiara yang menelpon.


Radja masih menggenggam tanganku dan sesekali aku lihat dia memeriksa jam tangannya. “Bizar ngirim lokasi, dia bilang ‘itu mungkin markas musuh’. Aku kirim ke Candra, kayaknya mereka udah pergi ke lokasi.”


“Terus apa yang gawat? Itu kan bagus. Ayo kita susul mereka!” ucapku dengan senang. Tiba-tiba Radja kembali menarik tanganku. Raut wajahnya jadi lebih tegas dan matanya memelotot. Laki-laki ini bisa menjadi seram dengan mudahnya, aku menelan ludah.


“Justru itu bahayanya. Mereka pergi tanpa pamit, tanpa rencana. Kita harus segera pergi dan menghentikan mereka. Aku tidak yakin jika pasukan Azumi akan terkejut, terlebih Tiara dan Faizal ada di bawah kendali musuh. Mereka bisa memanfaatkan keduanya kapan saja,” jelas Radja padaku.


Aku mengangguk paham. Ucapannya memang benar, dengan keadaan Tiara dan Faizal yang masih ada di bawah kendali musuh, kami tidak bisa membiarkan teman-teman langsung menyerang. Terlebih dari nada Radja yang tegas, aku bisa merasakan jika sangat meragukan markas musuh. Bukan berarti Bizar memberi informasi yang salah. Namun bisa saja, saat ini ilmuwan yang satu itu tenagh masuk perangkap musuh.


Radja membawaku kembali ke dalam kamarnya. Kami segera meminta Bizar untuk membuka portal terdekat. Bagusnya dia masih merespons kami dengan cepat. Sehingga kami mudah mencari letak teman-teman. Aku melihat beberapa titik yang diberi tanda jika itu adalah letak teman-teman kami. Mereka berpencar, tepatnya membagi tim dengan dua orang di dalamnya. Pergerakan masing-masing titik sangat konstan. Aku tidak yakin jika mereka baik-baik saja. Tentu laki-laki dengan sayap naga di sampingku pun berpikir begitu.

__ADS_1


“Aku tidak bisa menghubungi Bizar, Demina, Irish atau siapa pun. Bahkan Bizar tidak dalam jangkauan. Apa yang terjadi?” ujar Radja pelan. Ini benar-benar sangat gawat.


Bahkan Bizar pun tidak bisa kami hubungi. Apa musuh tahu kedatangan kami, sehingga memblokir akses milik ilmuwan itu? Bizar pasti kesulitan untuk menghubungi kami. Satu-satunya cara adalah membawanya ke Twins dan bertemu dengan komputernya lagi. Dengan begitu Bizar akan lebih mudah mengakses tempat ini. Namun, kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya. Aku dan Radja sudah terjebak. Hanya ada peta yang bergerak patah-patah saja sebagai petunjuk keberadaan mereka semua.


Radja tidak menginzinkan aku untuk berpisah dengannya. Dia takut jika kami berpisah, situasi akan semakin gawat dan tidak bisa dikendalikan lagi. Aku sadar tentang itu, tetapi teman-teman dalam bahaya. Jika kami berpisah, empat orang akan selamat dan kami bisa menyerang balik mereka. Akan tetapi, ini tidak semudah yang aku kira. Radja benar, kami tidak boleh berpisah.


“Jadi siapa yang akan kita selamatkan lebih dulu?” ucapku.


“Kita akan mencari Irish dan Candra. Mereka dekat dengan lokasi kita, setelah itu kita menyelamatkan yang lainnya,” ujar Radja sambil terus melihat peta pada layar yang berada di atas jam miliknya. “Semoga saja kita tepat waktu, Dira.”


Radja lalu memegang tanganku. Dia membawaku terbang ke langit. Namun kali ini dia lebih berhati-hati, ini sarang musuh, bisa saja pelapis pelindung itu kembali muncul dan malah melukainya. Aku sesekali mengetes dengan menembakkan air ke sana. Benar saja, ada pelindung yang mengitari kami semua. Aku tidak bisa bernapas dengan lega saat ini. Mereka sudah siap menyambut kami dengan senyum indahnya.


Beralih mataku pun menatap pada satu monster yang tidak jelas bentuknya. Seperti gumpalan magma, tidak terlihat sedikit pun sosok manusianya. Aku juga tidak melihat adanya kristal kegelapan di sekitarnya. Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini jika kami tidak bisa mendekati mereka. Sekarang aku jadi tahu apa yang menyebabkan mereka sangat kelelahan.


Aku menggenggam erat tanganku. Tidak peduli bagaimana caranya, kami harus bisa mencegah ini semua. Masih teman lain yang membutuhkan bantuan. Aku tidak bisa bersantai-santai seperti sekarang. Segera aku mengepalkan tangan dan memunculkan anak panah dari akar-akar tumbuhan. Jika aku menembak, mungkin kayuku akan terbakar habis.


Radja mengedipkan matanya padaku. Seakan tahu isyarat yang laki-laki itu lontarkan, aku pun segera menarik tali busur dan memunculkan anak panah dengan elemental es. Bersamaan dengan itu, Radja menggunakan napas dingin untuk membuat monster melambat. Aku lalu melompat seraya menengadahkan tangan ke depan. Mengubah es yang sebelumnya Radja keluarkan mengadi air. Dengan cepat aku pun membungkusnya.

__ADS_1


“Tahan dia, Nadira. Akan aku gunakan kekuatan yang dulu. Mendorong kekuatan gelap itu keluar. Bisakah kalian lebih berjauhan denganku?” ujar Radja. Aku yang kembali menapak kaki di atas tanah pun segera berjalan mundur sambil mengepalkan tangan dengan kuat. Keringat muncul di pelipisku, monster ini benar-benar kuat.


Laki-laki bersayapkan naga itu pun segera mendekati monster yang merupakan pasukan Azumi. Dia berusaha untuk mengurangi korban. Ya, dengan mengeluarkan kekuatan gelap, itu sama saja dengan membiarkannya bebas. Kami harus berhati-hati. Namun saat ini aku tidak bisa ikut campur dan membantunya lebih dari ini. Terakhir kali aku menopang tubuh musuh, justru aku yang kena imbasnya.


Radja menggunakan kekuatan penuhnya untuk mendorong kekuatan gelap dari lawan. Sebelum kegelapan semakin menyebar, Irish segera mengeluarkan tabung penyucian dari balik kantongnya. Dengan begitu, kekuatan gelap pun akan tertarik ke dalam tabung. Tubuh monster itu perlahan berubah menjadi sosok manusia lagi dan Radja turun dari atas.


Kami masih belum bisa keluar dari pelindung ini. Namun, Radja kembali ke tujuan awal. Kami semua berniat mencari teman-teman lainnya, Demina, Bara dan Afly. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, tetapi hatiku tidak tenang. Firasat buruk menyerangku saat ini. Mereka dalam bahaya.


Aku terlalu takut jika teman-teman tengah terluka saat ini. Mereka memang ingin menghentikan Pasukan Azumi secepat ini, tetapi bagaimana jika inilah yang memang diinginkan mereka? Membuat kami kelelahan dan akhirnya memperbudak kami seperti Tiara dan Faizal. Tunggu ... apa yang aku  pikirkan? Bagaimana jika itu memang itulah yang terjadi pada mereka berdua. Mataku setengah membelalak dan melotot. Tidak aku sangka mereka sangat licik.


“Kamu baik-baik saja, Nadira?” tanya Irish di sebelahku.


Aku mengangguk. Sadar jika sebelumnya aku terlalu banyak berpikir. Kami kembali berlari dengan Radja yang menuntun jalan di atas langit. Tiba-tiba aku melihat sihir berwarna merah mengikuti Radja dari belakang. Tidak ... tidak ... apa yang ingin dilakukan sihir itu. Segera saja aku berteriak memanggil nama laki-laki menyebalkan itu.


“RADJA! DI BELAKANGMU!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2