
Malam tidak mengganggu pusaran gelap di atas sana. Aku menggulung ujung blazer yang sedang dipakai. Mataku masih mencari sosok Radja dan laki-laki satunya. Huft, kenapa dua-duanya begitu kelam sih? Bakal sulit kalau aku cari mereka di tengah hari gelap.
“Tolong aku!”
Sontak aku menoleh ke sumber suara. Lautan merah melambai-lambai. Kebakaran? Tidak. Semakin jelas kulihat, seekor naga hitam menyemburkan api melalui mulutnya. Itu api milik Radja, tepatnya naga peliharaannya. Namun suara orang yang meminta bantuan mengusik hati. Segera aku mengedarkan pandangan mencari si pemilik suara.
Aku tidak menyadari, banyak sekali rumah warga yang hancur, ada pula yang terbakar. Segera aku mengetikkan pesan melalui jam tangan pada Bizar. Keadaan darurat seperti ini, tenaga Bizar sangat dibutuhkan. Lalu sirine ambulan terdengar, syukurlah, tidak lama lagi mereka akan mendapatkan bantuan medis.
“To ... long!” Rintihan suara itu kembali terdengar. Aku mencoba menengok rumah dengan kobaran api yang cukup kuat. Sangat berbahaya jika menerjang tanpa persiapan. Namun, ini benar-benar mengusik hatiku.
Aku memilih untuk berlari menerjang api, menendang kuat pintu masuk. Kobaran api ada di mana-mana, asap mengepul dan mengarah ke arahku. Keadaannya makin parah, siapa pun bisa mati jika terlalu lama menghirup asap.
“Nadira, kamu terhubung denganku. Kita pakai telepati biar tidak mengganggu aktivitas.” Refleks aku mengangguk meski orang yang mengajakku bicara tidak di sini. Sambil mencari suara rintihan gadis, aku mencoba berkomunikasi dengan Bizar.
Bizar, kamu di mana? Tepat setelahnya sebuah balok dari atas rumah hampir jatuh menimpa tubuh jika aku tidak segera melompat. Rasanya tubuhku lebih lelah, mungkin efek karena pingsan tadi siang. Kepulan asap tidak lupa terhirup, membuat kepalaku berat dan panas pada pelupuk mata. Terlalu berbahaya jika aku tinggal lebih lama.
“Aku baru sampai lokasi, sekarang aku membantu tim medis menyelamatkan warga. Kamu pergilah dari sana, Dira. Bahaya.” Aku memilih untuk berlari dan terpaksa membenturkan punggung sendiri pada tembok di sebelah pintu. Aku tahu ini tindakan bahaya dan tergila yang pernah aku lakukan. Radja dan Bizar pasti akan melaporkannya pada para peri. Lalu Miss Ann dan Miss Merry akan khawatir, aku pun semakin lama jadi tawanan mereka.
Kamu tahu aku di mana? Tanyaku singkat. Melirik ke samping, terdapat pintu cokelat yang agaknya terbuka sedikit. Aku mendobrak pintu tersebut, curiga suara yang kudengar berasal dari sana.
“Tentu saja. Cepatlah pergi, sebelum rumah itu ditelan api dan kamu tidak bisa keluar.” Aku tidak mengindahkan apa yang dia ucapkan. Mataku membelalak ketika seorang gadis tergeletak di bawah kasur. Tubuhnya begitu lusuh, keringat pun keluar dari pelipisnya.
Aku tidak bisa, masih ada orang di dalam sini!
“Tidak, Dira! Itu tipuan!”
Tipuan? Gadis ini butuh bantuan, tapi bagaimana aku membawanya? Bahkan aku pun masih harus ditolong. Kenpa sulit sekali sih membuat Bizar bicara?
Aku menghampiri gadis tersebut setelah menghilangkan panah yang aku pegang. Berjongkok dan mencoba menaruh tubuhnya pada punggungku. Menggendong gadis ini tidak ada salahnya. Sekaligus menunggu Bizar sadar dengan ucapannya sendiri. Tiba-tiba ledakan terjadi di luar sana.
Jantungku berdegup begitu kencang, seakan ada yang berlari-lari di dalamnya. Harus ke mana? Bahkan aku tidak bisa menggunakan kekuatan karena kedua tangan kugunakan untuk menahan tubuh.
Hei Bizar!!! Tolong aku.
“Kamu keras kepala, sudah kubilang itu jebakan. Tunggulah, drone milikku akan menghancurkan tembok terdekat dengan keberadaanu.”
Aku mengembuskan napas lega karena tidak lama terdengar suara ketukan pada tembok di depan sana. Lalu tembok itu hancur, tepat drone yang Bizar bilang terbang di atas. Segera aku berlari sekuat tenaga. Ternyata sulit juga menggendong.
Ledakan di rumah itu terjadi lagi, syukurlah aku sudah cukup jauh. Meski hal tersebut memicu adrenalinku. Petugas medis segera menghampiri dan membawa gadis tersebut pergi. Baru kusadari ketika petugas memberikan oksigen padanya.
Wajah yang aku kenali, tetapi tidak tahu siapa namanya. Baru aku ingin menahan para petugas medis, Bizar lebih dahulu datang dan mencegahku. Dia mencubit pipi kananku hingga rasa sakit itu menghentikan debaran jantung yang tidak normal. Tangan lainnya dia gunakan untuk menunjuk ke atas langit.
“Mereka gila, tapi kamu lebih gila lagi. Aku sudah bilang itu jebakan, Dira,” ucapnya padaku setelah melepas cubitan. Aku memajukan bibir bawahku, mengelus pelan pipi yang sakit.
“Kenapa kamu bilang itu jebakan? Jelas aku membawa korban, Bizar,” sanggahku tidak mau kalah. Bizar hanya membenarkan letak kacamatanya.
“Satu nyawanya tidak lebih berharga dibanding nyawamu.”
Aku terbelalak. Segera menumbuhkan akar yang merambat untuk menahan Bizar bergerak. “Kamu tidak berperikemanusiaan! Sudahlah, aku mau menghentikan Radja.”
Aku meninggalakan Bizar yang terus menyerukan namaku. Tidak peduli! Dia bahkan hanya mendapat hukuman ringan. Tidak akan lama pun tim medis atau drone akan membebaskannya.
Bagaimana keadaan Radja? Kenapa perasaaanku tidak enak. Tuhan, tolong jaga dia terlebih dahulu.
------------------
__ADS_1
Lautan kemerahan di atas sana membuat hati meringis. Kegelapan menyelimuti di antaranya, membentuk
spiral. Naga Radja dan laki-laki bersayap kelelawar itu bergerak cepat hingga aku tidak bisa mengimbangi serangan mereka meski hanya lewat penglihatan. Kedua laki-laki itu sangat bruntal.
Oke, jadi bagaimana caranya aku bisa menarik mereka ke bawah? Satu-satunya cara selain terbang menunggu salah satunya jatuh ke bawah. Itulah yang sedang aku lakukan sekarang. Menunggu sambil mengamati bagaimana Radja mengarahkan naganya dan laki-laki itu menguar lalu menghilang. Musuh yang dia lawan tiba-tiba berada di belakang Radja.
Spontan aku berteriak memanggilnya, “Radja, di belakangmu!”
Radja mengikuti intruksiku. Dia berbalik seraya menyemburkan api tepat di depan laki-laki itu hingga terdorong ke bawah. Segera aku berlari mengikuti perkiraan di mana dia akan terjatuh. Menumbuhkan tanaman dolar rambat yang cukup besar untuk menahan tubuh itu terjatuh. Tanaman rambat yang aku arahkan pun mengikat badan, tangan dan kakinya.
“Apa-apaan ini, lepaskan aku!” bentaknya. Aku tidak mau mengindahkan apa yang ucapkan. Tidak
lama Radja turun setelah dia menggabungkan dirinya dengan naga hitam.
Matanya yang tajam melirik pada anak laki-laki. Aku tidak mengerti apa yang akan Radja lakukan,
tetapi menahan dengan kondisiku yang semakin berkurang membuat penglihatanku berkunang-kunang. Tidak. Tidak boleh seperti ini.
“Katakan siapa kamu? Salah satu pasukan Azumi?” tanya Radja tanpa basa-basi.
“Hah?” Tidak lama kudengar dia tertawa meski tanamanku masih mengikatnya. “Apa urusanmu?”
“Semua yang mengancam kedamaian bumi itu urusanku. Jadi katakanlah sebelum cakarku yang bicara,” balas Radja lagi, kini kulihat dia semakin mendekat. Tangannya berubah menyerupai sisik naga dan hanya memiliki
dua kuku. Aku berdigik ngeri, ini baru pertama kalinya aku lihat Radja sampai menggabungkan tangan dengan naganya.
Laki-laki itu tiba-tiba memberontak. Aku coba untuk mengeratkan pegangan, tetapi pusing kembali melanda. Bukannya menahan, aku malah terjatuh sambil memegangi pelipis. Radja sontak terbang ke arahku. Sorot
matanya begitu khawatir ketika aku mulai batuk. Dia dengan sigap menepuk pelan punggungku.
“Lemah sekali. Aku tidak mengerti kenapa gadis lemah sepertimu mampu menahan kekuatan orang lain sampai saat ini. Ratu Azumi benar, gerakanmu monoton,” ucap laki-laki tersebut. Entahlah, mungkin dia baru saja
Aku menggeleng pada Radja. Menatapnya seolah berkata aku-tidak-apa-lawan-saja-dia.
Kini dari tangan Radja keluar sebuah api berwarna biru,
satu tingkat di atas kekuatan api yang biasa dia gunakan. Aku terbelalak karena
dia benar-benar menggunakan api biru, padahal yang aku tahu itu akan membuat
tenaganya semakin cepat terkuras. Memikirkannya saja tidak akan menghentikan
penyerangan musuh. Bagaimana juga, aku harus bergerak.
Aku merentangkan tangan dan menutup mata. Kudongakkan kepala ke atas langit, merasakan getaran tanah yang bergerak. Membuka lebar-lebar lubang untuk memunculkan tanaman. Entah tanaman apa yang aku panggil, karena sempat-sempatnya aku memikirkan beberapa tanaman berbahaya. Ini semua karena pelajaran IPA beberapa minggu lalu.
Ketika aku membuka mata, dua tanaman liar mengapitku. Mereka memiliki katup, tetapi terdapat lidah layaknya makhluk hidup. Tanaman apa ini? Aku sama sekali tidak tahu. Fokus Dira! Orang di depanmu lebih membutuhkan bantuan.
“Wow, kamu menumbuhkan Jealique? Tanaman berbahaya yang dapat membawa seseorang pada kematiannya sendiri?” ucap laki-laki tersebut padaku.
Aku mengernyitkan dahi. Tidak kenal apa yang disebutkan. Namun, aku tidak peduli, kuulurkan tangan ke arah laki-laki tersebut. Selang beberapa detik, tidak terlihat pergerakkan apa pun dari tanaman ini.
“Dira, tidak ada gunanya menggunakan tanama itu. Pria bertaring susu seperti dia masih bisa aku kalahkan dengan tangan kosong!” bentak Radja padaku. Dia kembali terbang memutar, membuat bayang-bayang angin topan mengelilingi lawan.
“Aku tidak bisa berdiam diri saja!” kilahku padanya seraya berusaha menggerakkan Jealique untuk menyerang Radja.
__ADS_1
Meski kami begitu jauh, aku bisa tahu Radja sedang menggertakkan giginya. Mata tajam itu mengarah padaku. Tidak lama pula lawan kami kembali tertawa sebelum menegurku, “Begini, Jealique gak bakalan bisa kamu
pakai selama tubuhmu itu lemas. Malah, aku punya tawaran.”
Aku bungkam. Perlahan kedua tanaman yang mengapit di antara tubuhku pun menghilang. Jantungku seakan ditikam dari belakang, dan kaki tidak kuat untuk menopang. Aku bersimpuh. Kedua tangan aku arahkan pada dada kiri, tepat di mana alat vitalku diremas-remas.
“Bagaimana jika kalian beri aku sedikit darah kalian,” ucapnya. Aku ingin menggeleng. Untuk apa? Memangnya dia vampir?
Radja semakin menebalkan angin topan, dia buat perlindungan yang bahkan tidak siapa pun bisa melihat ke dalam. Benar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku dikejutkan dengan suara tawa dan jeritan. Debaran jantungku tidak menentu adanya penglihatan kala Radja terpental hingga membentur tanah. Darah terurai di mana-mana. Tidak boleh terjadi!
Perlu menunggu lima menit, perlindungan angin topan yang Radja menghilang begitu saja. Aku bisa melihat dia terhempas ke arahku sesuai dengan apa yang aku lihat. Sebelum kepala itu membentur, segera aku menumbuhkan
tanaman untuk menahan tubuhnya. Namun terlalu kuat, aku tidak sanggup. Tanamanku terbawa dengan kecepatannya.
“Code breaker!”
Seruan itu memunculkan molekul-molekul untuk membentuk sebuah balon pelampung seperti yang ada pada taman bermain air. Cukup menahan Radja dari benturan keras, meski tidak lama balon itu mengempis. Kembali
terurai hingga tidak bersisa. Aku mengembuskan napas lega. Syukurlah masih ada yang membantu kami.
“Huh? Bertambah satu orang? Memangnya kalian bisa melawanku meski menambah jumlah saja?” ujar lawan kami. Dia mendengus. Lewat jari-jemari, dia menuntun aura hitam mengikuti gerakan tangannya yang gemulai. “Lagi-lagi orang lemah.”
Aku berbalik mengejar Radja; meski bukan pertama kali baginya berhadapan dengan bahaya dan jatuh dari ketinggian. Di sana Bizar yang entah mungkin sudah lolos dari kekuatanku turut memapah tubuh Radja. Ini
menyebalkan, aku tidak bisa berbuat banyak.
Bizar melakukan teleportasi ke ujung, di perumahan yang halamannya hancur. Lalu membantu Radja untuk duduk dekat dengan pohon di sekitar pemukiman. Melakukan teleportasi kembali ke sampingku. Dia juga berbisik, “Radja hanya butuh istirahat sebentar.”
“Bagus kamu datang di saat yang tepat,” ucapku. Jujur, masih terasa, debaran jantung yang begitu kuat dan berulang ketika Radja seakan dekat dengan kematian.
“Hahaha!” Laki-laki yang menjadi lawan kami kembali tertawa, kini matanya begitu gelap dan kosong menandakan waspada. Rambut hitamnya yang berantakkan pun turut membuatku mengapitkan kedua alis. Sejak
kapan laki-laki itu lebih kelam dari sebelumnya? Bahkan aura kegelapan semakin mengikut dirinya.
“Michio, Sang Kegelapan?” bisik Bizar yang begitu lirih.
Aku spontan memegangi kepalaku yang dilanda pusing. Jangan sekarang, tahan Dira.
Lawan kami, Michio, menatap Bizar dengan malas. Seringainya sajalah yang membuatku bisa melihat gigi taring panjang layaknya vampir. “Benar. Kamu mengetahuiku karena sebelumnya kita pernah bertemu.”
“Apa? Aku tidak pernah melihatmu,” kilah Bizar. Dia yang tengah memegangi kacamata birunya dengan cepat menghempaskan layar transparaan. “Aku tahu dia dari data, Dira.”
“Lucu sekali kamu melupakan pertemuan kita. Aku masih ingat pakaian sekolah yang kamu kenakan, Bizar. Sepertinya jatuh cinta kamu ke pengetahuan berakhir dengan hilangnya buku ingatan tentang hidupmu sendiri ya?
“Oke, lupakan. Kurasa tangan dan gigiku mulai gatal mencium aroma kehidupan kalian berdua,” ucap Michio pada kami.
Gemertak gigi Bizar dapat aku dengar, dia lalu menutup data tentang Michio dan membuka suatu layar gelap dengan catatan aneh. Mata kami saling lirik dan listrik menyengat ke tubuhku. Bizar mencoba menghubungkanku dengan seseorang.
“Dira, jangan sampai mendekati Michio. Dia berbahaya untuk serangan jarak dekat, Hindari pedang dan penggunaan tanaman lainnya.” Suara itu menginstruksi diriku. Segera aku menoleh ke ujung perumahan. Radja sedang tertidur, tidak mungkin dialah yang aktif denganku.
“Radja, berapa lama lagi?” tanya Bizar sekarang.
“Regenerasiku butuh sekitar sepuluh menit lagi. Tolong tahan dia selama itu.” Aku mengangguk dan mengeluarkan anak panah, Bizar dengan cepat mengetikkan sesuatu. Entah apa. Aura hitam disedot masuk ke dalam tubuh laki-laki tersebut. Aku memekik kaget ketika mata hitamnya mengeluarkan kilatan merah yang begitu dekat.
Tidak, ini memang begitu dekat. Dia ada di bawah, mengangkat tinggi tubuhku. *** erat leher ini hingga aku sulit bernapas. Dingin dari tangannya, seakan menandakan dia vampir, diperkuat pula dengan wajah pucat. Otakku tidak bisa bekerja dengan baik, tidak ada kekuatan pula yang membantuku.
__ADS_1
Satu pertanyaanku, sejak kapan dia ada di hadapanku dengan radius yang begitu dekat?
“Hentikan sampai di sana, Michio!”