
“Kamu berjanji padaku untuk melindungi bumi.”
Aku segera menengok ke belakang dan menemukan seorang gadis bergaun Kebangsawanan tengah berdiri di antara pohon-pohon. Tentu saja aku mengenalinya, karena dialah yang memberikanku kekuatan untuk bertahan hidup sampai sekarang. Ini adalah mimpi, aku tidak tahu apa tujuan Faizal yang sebenarnya.
“Hana, aku tidak ada punya waktu untuk mengobrol. Saat ini bumi dalam bahaya dan aku sedang berusaha untuk menepati janjiku padamu,” ucapku dan kembali berjalan. Namun, begitu banyak tanaman menjalar muncul di hadapan, sehingga aku pun tidak bisa menerobos masuk ke.
“Kamu terlempar ke dunia roh, bukan dunia mimpi, Dira. Inilah yang mereka inginkan, menghilangkan jiwamu sedikit demi sedikit lalu mengambil kekuatan milikku,” ujar Hana.
Aku menaikkan sebelah alisku. Apa dia pikir aku akan memercayainya? Ini hanya dunia yang diciptakan oleh Faizal. Hanya karena laki-laki itu temanku dan dia mengenal baik masa laluku, bukan berarti apa yang diucapkan gadis itu benar.
“Kalau kamu tidak berbalik sekarang juga, aku tidak bisa memberitahukan kamu cara untuk keluar dari dunia roh, Dira. Ini bukan mimpi dan Faizal justru sedang mencarimu. Waktuku terbatas,” ucap Hana.
“Sebenarnya apa maumu? Hana, kamu sudah tiada ... jangan membuatku berharap akan kehadiranmu lagi,” balasku seraya menggenggam tangan begitu erat.
“Benar, aku sudah mati. Karena itulah aku bisa bertemu denganmu di dunia roh untuk beberapa menit saja.”
Aku melihat ke arah Hana yang begitu tenang. Dia berjalan dan daun-daun pun memberi jalan bersih untuknya. Seakan-akan alam memang merestuinya. Aku bisa melihat bagaimana pohon menari melalui dedaunan mereka. Ini memang Hana sang Ratu Alam dari dunia Twins. Sepertinya gadis itu benar, aku ada di dunia roh. Tidak mungkin Hana masih hidup.
“Aku tidak pernah ingin kamu datang ke sini lebih awal, Dira. Takdirmu masih panjang dan kecerobohanmu ini bisa mengakibatkan banyak teman-temanmu dan teman-temanku berguguran. Aku tidak menyalahkanmu, karena aku pun pernah ada di posisi kamu. Maka dari itu, biarlah orang dari masa lalu sepertiku ini memberikan saran untukmu,” ujar Hana padaku.
“Mereka ... tidak akan selamat? Hana, jangan bergurau. Aku benar-benar ingin menyelamatkan mereka. Prioritasku sekarang adalah Demina, Irish dan Bara. Mereka terjebak di dalam dunia mimpi dan seharusnya aku ada di sana,” balasku agak memohon agar Hana langsung mengatakan jalan keluarnya. Namun, gadis yang menjadi ratu di masa lalu ini berpikir lain. Dia menatapku dengan sendu, salah satu hal yang tidak aku sukai.
Rasanya seperti bau kekalahan memang sudah terhidu jelas bagi kami. Tidak ada peluang untuk menang. Lalu Hana kembali bicara, “Aku tahu kamu dan Miss Merry mencurigai Miss Ann. Jika dia memang penjahatnya maka akan sangat sulit ditaklukkan. Nadira, Ann tahu semua tentangku. Mungkin ini pun termasuk ke dalam rencananya.
__ADS_1
“Benar jika kamu bisa menyelamatkan mereka dengan kekuatanmu sendiri. Di alam mimpi, kekuatanku tidak akan berfungsi. Jangan menatapku begitu, aku tahu karena di masa lalu aku pun pernah hampir terbunuh di dalam mimpi. Dengan orang yang sama.”
“Apa?” gumamku tidak percaya. Orang sekuat Hana pun bisa dibunuh dalam mimpi? Aku tidak dapat memercayainya. Jika dia saja bisa, bagaimana denganku? Inikah yang dia maksud membahayakan teman-teman? Posisiku, Radja, Bara, Iris ataupun Demina tidak menguntungkan. Bisa saja terbunuh sewaktu-waktu atas kehendak Faizal.
“Tapi seperti yang aku bilang, kamu bisa memakai kekuatanmu sendiri,” balas Hana seraya menggenggam tanganku, “kekuatanku berevolusi denganmu. Dengan banyaknya orang yang percaya dan berharap, kamu bisa mendapatkan begitu banyak kekuatan. Lalu, memunculkan sebuah Hope, di mana kamu dapat meminta permohonan.”
“Bagaimana kamu bisa tahu, Hana?” tanyaku heran. Tentu saja, aku ini manusia biasa dan Hana juga sudah lama mati. Aneh jika dia mengatakan aku memiliki kekuatan baru, kekuatanku sendiri.
“Yang Maha Berkehendaklah yang menyuruhku bertemu denganmu dan memberitahu soal kekuatan barumu. Ini memang kekuatan pasif dan Hope juga tidak akan muncul begitu saja. Aku yakin kamu lebih paham dariku, jika kepercayaan itu sulit untuk didapatkan,” ujar Hana.
Aku melihat tangan Hana yang menggenggamku. Perlahan-lahan dari hangat pun berubah menjadi dingin. Tidak hanya itu, dari ujung kaki sampai pinggang pun jadi terlihat transparan. Apa dia akan pergi lagi? Aku masih memiliki banyak pertanyaan. Dia sudah memicunya dan sekarang mau pergi begitu saja.
“Bagaimana dengan pelukan perpisahan?” Aku tidak menanggapi ucapan Hana dan langgung memeluk gadis itu. Perasaanku campur aduk. Kenapa aku selalu lemah? Bahkan setelah aku memiliki kekuatan hebat seperti milik Hana. Selalu seperti ini, merepotkan bahkan membahayakan orang lain. Sungguh aku tidak pernah ingin hal itu terjadi. Mereka sudah banyak membantuku.
Perlahan daun-daun pada pohon pun berguguran bersamaan dengan Hana yang menghilang. Aku segera berjongkok dan menyembunyikan wajahku. Ini bukan saatnya untuk menangis. Masih ada hari untuk diselamatkan. Hana benar, dengan kekuatanku sendiri, aku bisa menyelamatkan mereka. Membalikkan keadaan dengan menggunakan Hope.
“Nadira!”
Aku segera mendongak ketika sadar suara Radja terdengar. Apa aku masuk ke dalam dunia mimpi? Laki-laki menyebalkan itu menghampiriku dan dia ikut berjongkok. Tangannya yang lebih besar mencoba menggenggam tanganku. Menyalurkan keberanian dengan mengambil rasa takut dan sedih di dalam tanganku sendiri.
“Jangan menangis. Kamu bertemu Hana bukan? Aku juga bertemu Kazuhiro,” ucap Radja lembut dan tidak tahu kenapa itu memang sukses membuatku tenang. “Faizal tidak jauh dari sini. Sebelum dia membunuh teman-teman, kita harus lebih dulu bertindak.
“Tunggu ... kenapa leluhurmu menghampirimu, Ja?” tanyaku. Radja menengok ke bawah. Baru aku sadari jika yang kuucapkan salah. Tidak seharusnya bertanya di saat seperti ini.
__ADS_1
“Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Sekarang ketiga teman kita sedang dalam bahaya. Ayo, aku akan membawamu ke tempat di mana mereka berada.”
Radja segera menarik tanganku, memaksa agar aku ikut berdiri. Aku tidak tahu dia mau membawaku ke mana. Namun, laki-laki ini begitu cemas—dapat aku rasakan dari tangannya yang agak berkeringat. Kami melalui hutan-hutan tanpa daun. Mencari hawa kehidupan tempat teman-teman dikurung. Sampai akhirnya, Radja berhenti berjalan dan memintaku untuk bersembunyi di salah satu batang pohon.
Kami seolah seorang pencuri yang sedang mengintip, mencari waktu yang tepat untuk mengambil target. Aku bisa melihat Bara, Irish dan Demina sudah terluka parah.
Mulutku agak terbuka. Jika luka mereka di sini saja sudah cukup parah, bagaimana dengan kenyataannya? Aku bisa membayangkan bagaimana sibuknya Kak Ron untuk menyelamatkan mereka, setidaknya bertahan dan koma. Radja tiba-tiba melempar kerikil ke arahku. Memberi instruksi untuk mengambil alih perhatian, sementara dia menodongkan pedang—pertanda Radja yang akan menyerang.
Hana bilang aku harus memiliki orang yang percaya padaku. Ini terjadi karena aku terlalu lama menghadapi musuh. Sudah sepantasnya jika akulah yang bertanggung jawab. Jadi aku mengambil pedang dari Radja dan berlari ke arah Faizal. Kudengar Radja mencoba megejar sambil meneriaki namaku.
Maaf Ja, aku yang harus menebus semua ini. Kekuataku di dunia mimpi masih cukup banyak. Aku rasa bisa jika hanya mengalahkan Faizal. Tidak. Tepatnya membalikkan keadaan. Akan lebih baik apabila laki-laki itu sadar dan kembali menjadi kawan kami.
“Faizal, hentikan ini! Kamu bukan orang seperti ini,” ucapku berteriak. Laki-laki yang memegang kuas itu tertawa begitu keras.
“Nadira, kamu terlalu naif. Kekuatan kegelapan ini membuat aku bisa mengendalikan dunia mimpi dengan sempurna. Bahkan aku bisa membuat kamu jadi abu hanya dengan bertatapan,” ancam Faizal.
Aku balas dia dengan menyiapkan pedang. “Jika kamu berani, ayo kita berduel dan jangan ada sedikit pun kecurangan. Pemenang menentukan hukuman.”
__ADS_1