
"Radja!"
Aku mencoba untuk mengejar cowok menyebalkan itu. Dia seolah tidak menyadari keberadaanku. Tidak. Dia tahu aku ada, terlihat dari beberapa interaksi mata kami ketika bertemu.
Aku memang tidak suka sikap Radja yang menyebalkan, tetapi nyatanya aku lebih tidak suka marahnya Radja. Dia tidak memaki, menjahili ataupun menunjukkan kemarahan dalam hal kasar. Radja hanya diam, menganggap aku seolah tidak ada. Pulang lebih larut dan latihan dengan bicara seperlunya.
Bizar? Laki-laki itu tampak normal. Bicara singkat seperti biasa, tetapi aku tidak bia mengganggu kesibukannya. Sudahlah, lebih baik aku putar haluan dan kembali ke kamar.
Ruangan ini tidak lagi sama. Nadia tengah tertidur di sana. Pertarungan panas antara dia dan Radja membuat gadis itu terlalu memaksakan diri. Ini sudah hari ketiga dan aku sangat khawatir.
"Dira, Miss yakin dengan putusanmu," ucap Miss Ann yang sepertinya ada di belakangku.
Miss Ann dengan wujud manusianya memeluk dan mengusap pucuk kepalaku. Hanya peri inilah yang mengerti keadaan dan keputusanku. "Miss, apa Nadia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dia belum sadarkan diri?"
"Tenanglah, Dira," ucap Miss Ann padaku. Miss Ann tidak lama melepas pelukannya setelah dirasa aku cukup baik-baik saja. "Aku akan bicara dengan Radja. Kamu tunggulah Nadia."
Aku mengangguk. Miss Ann benar-benar pergi, aku dapat merasakan kehangatan yang beranjak di balik tubuh. Maka aku pun melangkahkan kaki mendekati Nadia.
Aku berhenti ketika sampai di samping ranjang. Memilih untuk jongkok dan membuka laci. Mencari buku jurnal Hana yang aku simpan di antara tumpukan berkas lainnya. Sampul cokelat dengan judul emas itu ada di paling atas. Segera saja aku ambil.
Membaca jurnal ini tidak terlalu membantu mengungkap apa yang terjadi di masa lalu mereka semua. Termasuk Radja yang tidak setuju untuk mencari para kesatria terdahulu. Bukankah Kazuhiro, pendahulunya sendirilah yang memilih mereka. Bukankah mimpiku itu hadir untuk membantu kami mencari jalan keluar?
"Aku tidak akan menyetujui mereka kembali. Tidak pula dengan Nadia. Mereka hanyalah sekumpulan orang jahat yang Hana beri kesempatan. Tidak Dira, kita harus menjauhi mereka."
Lagi ucapan Radja terngiang di kepalaku. Apa tujuan Hana? Kenapa Radja sampai marah saat bertemu dengan Nadia? Andai buku ini menjelaskan padaku. Sayangnya tidak semudah itu.
"Untuk apa kita mencari tiga kesatria yang tidak ingin memahami perdamain? Sadarlah, Dira. Itu semua hanya membuang tenaga kita saja."
Aku mengembuskan napas. Memejamkan mata sebentar lalu kembali melihat pada buku jurnal. Aku mengusap pada bagian judulnya. Menghapus debu yang menutupi tinta emas di sana.
Perlahan aku membukanya, kertas itu mengeluarkan pantulan cahaya yang begitu terang. Tidak lama cahayanya memudar dan halaman dengan gambar tercetak di sana. Ada satu pedang di sana. Namun, aku tidak pernah melihatanya di manapun, termasuk dalam mimpi.
"Pedang siapa ini?"
Aku mencoba membacanya dari paragraf pertama. Tetapi tidak ada informasi penting seperti pemiliknya, kecuali nama. Mengapa Hana menulis dan membiarkan tulisan ini seakan belum selesai.
Aku menulis ini untuk mengingatkan padamu, Mizuki. Tidak pernah aku pahami kenapa kamu menitipkan benda yang sangat berharga ini padaku. Namun, aku akan menuliskannya di sini.
Caladbolg. Pedang yang kekuatan elementalnya meningkat jika berada di dekat air. Menambah kekuatan pemilik air. Mizuki mendapatkannya setelah bermeditasi panjang di Lux of Valey.
Pedang ini, sangat berharga. Aku ingat ketika Azumi iseng meminjam pedangmu. Caladbold melempar dirinya sendiri ke dasar danau. Entah karena pedang ini milikmu atau pula karena pedangnya sangat pemilih. Berbeda sekali denganmu.
Mizuki, aku tidak tahu sampai kapan hidupku ini berjalan. Sampai sekarang, aku belum bereinkarnasi. Kamu tahu, di antara kita bertiga, hanya ada satu yang akan bereinkarnasi. Jika ... di kala itu bukanlah kamu. Maka pedang ini akan memilih siapa?
Karena aku sendiri tidak sanggup untuk memakainya.
Aku merenung. Mizuki? Satu di antara tiga orang. Aku benar-benar tidak paham. Hana tidak pernah menceritakan ini selama dia berada di dalam tubuhku. Jika aku bisa bertanya pada Vivian, apakah peri itu tahu? Atau jika aku bertanya dengan Miss Ann dan Miss Merry, apakah mereka berdua akan menceritakannya.
Tidak mungkin aku bertanya pada Bizar dan Radja. Satu masalah saja belum beres, mana mungkin aku menambah masalah sekarang. Aku mengembuskan napas, lalu kembali membaca dua paragraf terakhir.
Jujur saja, Mizuki. Jika aku bisa memilih kamu bertemu dengan pedang ini atau tidak ... jawabanku adalah tidak. Bahkan aku bersyukur jika pedang ini nantinya tidak memilih siapa pun.
Aku tidak ingin orang yang mendapatkannya jadi gila. Melebihi kegilaan bunuh diri yang kamu lakukan di hadapanku.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan hingga jurnal itu pun menutup dengan sendirinya. Hana pun menyaksikan kematian orang yang dia sayangi? Tidak, bukankah itu memang sudah pasti. Mengapa aku harus begitu terkejut seperti ini?
__ADS_1
Dadaku kembali nyeri. Tidak mungkin aku kambuh sekarang, 'kan? Sesak. Tidak bisa kuhidu apa pun. Pasokan oksigen berkurang di kepalaku. Ya ampun, semua yang kuliat sangat buram. Aku mencoba melihat pada Nadia.
Seandainya dia sadar, akankah dia membantu setelah semua perlakuan buruk yang diterimanya? Dengan sisa-sisa tenaga.Aku mengarahkan tanganku padanya. Menggenggam erat tangan kanan Nadia, bersamaan mataku mengerjap. Semakin lama semakin pudar dan gelap.
oOo
"Syukurlah Vivi bisa bertemu dengan kamu lagi, Dira," ucap seseorang bahkan aku tidak tahu siapa.
Aku coba membuka mata, di sanalah aku melihat peri kecil yang tersenyum padaku. Dia memelukku dengan tangannya. Sangat kecil dan pendek, pelukannya bahkan tidak sampai menutupi wajahku.
"Vivian, bagaimana bisa kita bertemu?" tanyaku.
Vivian menarik dirinya dan terbang ke di depan mukaku. Dia tidak beranjak jauh, takut suaranya tidak dapat aku dengar.
"Mungkin karena tubuh kamu kembali lemah. Ini semua karena kamu memaksakan diri ke bumi. Sudah lama, tetapi efeknya baru sekarang," omel Vivian, "ya apa boleh buat juga?"
Vivian tidak berubah sama sekali dengan sebelumnya. Berukuran sepuluh sentimeter saja dan memakai pakaian yang begitu indah tetapi mungil. Suaranya yang imut pun tidak berubah.
"Padahal aku sudah diobati," keluhku.
Vivian mengembungkan pipinya, lalu mengembuskan napas. "Iya di luarnya. Aku yang menahan semua sakitmu ini tetap kerepotan, Nadira."
Aku terkekeh. Menggaruk pipi dan tersenyum miring padanya. Harusnya aku tidak mengeluh. Sudah susah payah Vivian menahan penyakitku. Bahkan saat ini, aku bisa meihat benang-benang yang kadang muncul dan tidak dari balik punggungnya. Vivian menyelamatkan hidupku ketika masih bayi. Meski sulit dipercaya, tetapi aku memercayai kisahnya.
Tunggu. Ini suatu kebetulan! Baru saja aku ingin bertemu dengan Vivian. Mungkin ini juga petunjuk. Mataku berbinar-binar menatap Vivian. Dia tampak menaikkan satu alisnya, mungkin bingung melihat aku yang sangat sumringah dengan keadaan ini.
"Sejujurnya, ada hal yang ingin aku tanyain ke kamu, Vivi," ucapku.
"Soal apa? Halaman jurnal yang kamu baca tadi?"
Anggukan aku berikan sebagai jawaban untuknya. Dia lalu mulai bercerita, "Yang aku ketahui, pedang itu memiliki kemampuan air. Kalau Mizuki ... aku tidak tahu ... apakah aku berhak menceritakannya padamu. Ann dan Merry lebih berhak menuturkannya."
"Memangnya kenapa? Tidak ... tidak, apa itu ada hubungannya kenapa reinakarnasi Hana selalu tidak mampu menopang kekuatan dan ingatan Hana?" Vivian mengangguk. Dia menghela napas panjang, sesekali menegadah di antara ruang hampa ini.
"Dugaan kamu nyaris benar, tetapi sebagian lagi karena setengah kekuatannya ada padaku. Tidak mungkin aku memberikannya, selama orang-orang yang berenkarnasi pun menjadi gila dan mati," jelas Vivian.
"Lalu kamu memilih aku. Padahal kamu tahu aku berpenyakitan. Kenapa?"
"Karena kamu mirip dengan Hana. Tidak, lebih tepatnya almarhum ibumu berhati lembut seperti Hana."
Aku mengernyitkan dahi. "Berhati lembut? Tunggu aku makin bingung."
"Bukan hanya aku, Ron juga merasakannya. Dia tahu ibumu seakan-akan seperti Hana. Lembut tetapi misterius. Seakan kamu dan ibumu terkena percikan sifatnya. Sudahlah ... bukannya kamu lebih penasaran dengan Nadia?"
Aku tidak menjawab apa pun, sibuk berpikir tentang sifat Hana dan ibuku. Aku tidak pernah mengenal lebih tentang ibu dan ayahku sendiri. Kala mereka masih berada, mereka selalu kerja demi pengobatanku.
Vivian hanya tersenyum. Sayapnya yang kecil saling mengepak, bersamaan dengan tangan yang ia tengadahkan. Pelan-pelan dia meniup sesuatu yang ada pada tangan. Aku tidak melihat apa pun, tetapi tidak lama serbuk perak berhamburan di depan muka.
"Pejamkan matamu. Biar aku bawa kamu ke ingatan Hana tentang Nadia," bisik Vivian dan aku pun menurut.
oOo
"Hana!"
Aku membuka mata ketika mendengar suara berat dari entahlah di mana. Tubuhku menjadi transparan dan di sana sosok Hana berdiri dengan memegang pedang. Persis dengan yang aku baca di jurnal tadi. Namun, kenapa mata wanita itu begitu menusuk? Adakah yang mengganggu dirinya saat ini?
__ADS_1
Sosok lainnya muncul dengan mengepakkan kedua sayap. Dia seakan duplikasi Radja ketika dewasa nanti. Tatapannya begitu tajam, tidak ada senyum. Dalam konteks tersenyum, pria itu berbeda jauh dari Radja.
"Untuk apa kamu ke sini, Kazuhiro?" ucap Hana dengan suaranya yang lembut tetapi tegas.
Kazuhiro menarik lengan Hana hingga mata mereka saling bertemu. Namun, hanya beberapa saat saja dia memalingkan muka. "Sejak awal aku menerima keputusanmu. Namun, apa yang aku dapat sekarang? Kau terluka."
"Ini bukan salah Ame, dia hanya belum bisa mengatur emosinya," sanggah Hana tidak mau kalah, "aku tahu dia bisa melindungiku."
"Dia tidak akan pernah bisa mengatur emosinya sampai kapanpun. Kamu tahu kekuatan apinya menghapus logika dan Ame hanya bisa memanfaatkan perasannya saja." Argumen Kazuhiro membuat Hana diam. Pernyataan benar tanpa perlu ditunggu. "Sekarang kembalilah. Aku akan membereskan semua ini."
Semua ingatan itu diputar dengan cepat. Semua yang terlihat mulai memburam seakan terganti sedikit demi sedikit dengan latar yang baru. Kali ini tempat yang tidak asing denganku. Di sanalah Hana berjalan dengan anggun. Namun, tatapannya yang tajam itu tidak juga menghilang.
Di kejauhan, dua orang laki-laki berpakaian lengkap tengahpl
menunduk padanya. Mungkin sejak awal sudah menunggu Hana kembali ke kerajaan. Satu di antara mereka memakai topeng, jadi tidak bisa aku terka wajahnya. Sedangkan satunya lagi mirip dengan laki-laki yang aku temui di sekitar Lux of Valley.
"Ratu, maafkan kami," ucap laki-laki tersebut.
Hana memejamkan mata seraya mengembuskan napas. "Tidak ada yang perlu aku maafkan. Berdirilah."
"Tidak mungkin kami berdiri setelah apa yang Ame lakukan padamu, Ratu." Kali ini laki-laki bertopenglah yang mengatakannya.
"Raja juga tidak akan memaafkan kami," balas laki-laki satunya.
Aku mengerjapkan mata. Baru aku sadari satu hal, Raja dan Ratu Alam. Kehidupan di Twins pada zaman dahulu. Hana dan Kazuhiro menikah? Oh ayolah, aku rasa itu bukan urusan anak kecil sepertiku. Sepertinya efek terlalu sering membaca cerita drama romantis membuatku seperti ini.
Kembali aku melihat ketika keduanya berdiri. Entah apa yang aku lewatkan, tetapi laki-laki itu mencabut pedang mereka. Tidak lama bersimpuh dengan pedang yang ditengadahkan ke arah Hana.
"Ambil ini, Ratu. Kami benar-benar tidak layak mendapatkannya," ujar laki-laki bertopeng.
Mamoru pun turut menimpali, "Sampai waktunya tiba, kami akan kembali padamu."
"Kalian tahu setelah pedang ini terlepas, kalian akan menjadi liar," balas Hana, "bahkan ketika bereinkarnasi."
Keduanya saling melirik lalu kembali menunduk. Tidak sedikit pun tangannya turun untuk menarik kembali apa yang telah diputuskan oleh mereka. Hana tanpa ragu mengambil pedang yang berwarna kehitaman terlebih dahulu.
"Kami yakin jika Ratu bisa menemukan kami dalam keadaan yang lebih baik," ucap Mamoru.
Hana berbalik, seakan melihat ke arahku. Nyatanya tidak, dia melihat pada seorang gadis berambut merah menyalang. Aku melihat mulut gadis tersebut sedang memaki pada Hana. Namun, tidak ada yang aku dengar. Tepatnya perlahan-lahan tubuhku menghilang. Hanya satu hal yang kulihat terakhir kali sebelum tubuhku benar-benar menghilang.
Hana tersenyum. Matanya terpejam meski gadis berambut merah ---yang kuyakini Ame--- mengeluarkan api dari tangannya.
oOo
Semua informasi itu seperti bunga tidur yang sangat menyesakkan di dalam kepala. Aku memaksa untuk membuka mata. Berharap bisa bertemu Vivian lebih lama, tetapi yang kulihat sekarang hanyalah jurnal Hana dan Nadia yang masih terbaring.
"Aku rasa kamu perlu istirahat juga," celetuk suara dari belakang punggungku.
Aku berbalik hingga menyadari selimut tipis terjatuh dari punggungku. Radja tengah bersandar di tembok yang terdekat dengan nakas. Wajahnya membuatku ingat betapa Kazuhiro marah saat itu. Entah mengapa aku mulai sedikit memahami perasaannya.
"Maaf," ucapku lirih.
Radja menggeleng. Dia menarik tubuhnya untuk mendekat. Mengambil jurnal milik Hana dariku. "Aku hanya terlalu khawatir. Padahal aku cuma keturunannya. Gak seharusnya aku mempermasalahkan ini."
Aku tertawa, menyeka air yang menetes di ujung mata. "Tapi aku bahagia, kamu mengkhawatirkanku. Kamu teman yang baik dan aku bersyukur mengenal kamu ... kamu, Bizar, dan semuanya. Haha."
__ADS_1
"Kamu baru menyadarinya, dasar!" Aku langsung mengembungkan pipi. Apa-apaan ini. Dipuji sedikit, dia jadi menyebalkan lagi. Namun, di antara tawanya dia kambali berucap, "aku juga bersyukur bisa ketemu kamu, Dira."