Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 01. Kembali Ke Permukaan


__ADS_3

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”


Mataku sontak mengarah ke laki-laki yang masuk melalui pintu tanpa mengetuk terlebih dahlu. Seragam


putih biru yang dikenakannya, pertanda baru pulang sekolah. Namun, noda kecokelatan


jadi yang paling aku sorot. Belum lagi wajah laki-laki itu seperti benang kusut dengan simpul mati yang tidak bisa dibuka.


Aku mencoba untuk berbaring dengan punggung yang disokong oleh sandaran kasur. Setelahnya aku


melirik laki-laki sebaya denganku, kini dia ada di samping ranjang. Dia tengah meletakkan plastik putih berisi apel di atas nakas.


“Tiga kali pingsan dalam satu hari. Itu rekor terbaik dalam tiga bulan terakhir,” balasku disusul dengan embusan napas.


“Tubuh kamu belum sepenuhnya kuat untuk menampung kekuatan Hana. Ada baiknya kamu perbanyak


istirahat dulu, Dira,” balasnya mengingatkan kalau aku hanyalah manusia biasa yang dititipkan kekuatan. Agak menyebalkan pula, mengingat ada kehidupan lain yang tinggal dalam benakku.


“Terima kasih pengingatnya, Ja. Mungkin Vivian kelelahan harus menahan kekuatan super besar milik Hana.”


Radja, mantan teman sekelasku. Kami berpisah sejak dua bulan lalu, tepat di mana penyakitku


bertambah parah. Mau bagaimana lagi? Sampai saat ini Vivian, makhluk yang ada di dalam benakku, seorang diri menahan sakit anehku. Tidak pernah ada satu pun dokter yang tahu penyakit apa yang aku derita. Bagaimana menanganinya atau bahkan obat apa yang harus aku minum.


Radja mengambil bangku di samping nakas dan mendudukinya. Kulihat dia mengambil apel dan pisau. Terkadang


Radja memasang wajah kecut ketika mata pisau bersentuhan dengan kulit sawo matangnya. Ingin aku menghentikannya, tetapi dia begitu fokus.


Ketika apel itu telah terpisah jadi beberapa bagian, dia pun meletakkan pisau. Tidak lama, tangan kanannya mengambil buah tersebut untuk dimasukkan ke dalam mulut. Tunggu, apa?


“Ja, kamu motong apel buat sendiri?” tanyaku padanya yang sudah memakan tiga potong apel.


Radja mengangguk sambil memakan buah sendirian. Seandainya tubuhku tidak selemas ini, jitakan mungkin


sudah melayang padanya. Setelah makanan di dalam mulutnya habis, barulah dia bicara, “Ya, tentu saja. Emangnya kenapa?”


“Aku kira kamu potong apelnya buat aku.”


“Hah?” Satu alisnya terangkat sambil menatapku, “buat apa aku potong buah untuk kamu, Dira? Kamu udah besar, bukan anak-anak lagi.”


“Jaaa! Kamu nyebelin banget sih jadi orang,” geramku.


“Lho? Aku emang bukan manusia seutuhnya. Coba inget-inget lagi, aku keturunan naga.” Ah, satu fakta


tentangnya yang aku lupakan. Radja memiliki kemampuan naga. Dari yang kubaca melalui buku sejarah, keturunannya dilahirkan dari tetesan air mata tujuh naga dan diharapkan untuk membawa kedamaian di dunia.


“Jadi tujuan kamu ke sini bukan mau jenguk? Tapi kamu mau bikin aku kesel gitu?” balasku padanya.


Sejujurnya aku masih tidak mengerti. Masa iya orang yang nyebelin kayak dia bakal bawa kedamaian?


Lalu kudengar suara tawa keluar dari mulutnya. Dia baru saja memotong buah apel lainnya. Dia lalu


mengambi satu potong sebelum di arahkan padaku. “Nih makan.”


“Aku masih bisa makan sendiri, Ja,” jelasku padanya. Lagi-lagi dia tertawa dan mempermaikan aku yang ingin mengambil buah apel dari tangannya. Di bawa ke atas, ke bawah. Aku berhenti mengikutinya.


Sampai Radja puas dengan raut mukaku, baru dia memberikannya. “Ini, ini. Udah jangan ngambek. Aku potongin lagi kok.”


Aku mengambil potongan apel dari tangannya, lalu kulahap. Rasa manis menyebar dalam mulutku. Enak sekali!


Melebihi nasi lembek alias bubur yang harus kumakan selama satu minggu terakhir. Sementara Radja kembali mengupas apel merah. Setelah dirasa cukup, dia sibuk memperhatikan kamar tidurku.

__ADS_1


“Eh iya, Ja, bumi apa kabar? Aku kangen.” Radja menggaruk pipinya sendiri. Aku tahu dia gugup, tapi


kenapa? Aku pun kembali bertanya, “Ja?”


Radja lalu menatapku. “Bumi baik-baik aja. Dibanding itu, gimana homeschooling kamu di sini?”


“Di dunia ini, Twins, bener-bener sepi tanpa manusia. Kalau enggak kamu paling Bizar di sini, buat nemenin aku. Sisanya tinggal makhluk astral yang enggak aku tahu, Ja. Beneran deh, aku gak tahan sendirian terus.” Aku mengembuskan napas.


Dimensi lain tanpa ada manusia itu memang aneh. Seandainya aku bisa memilih untuk tinggal, tetapi kakakku sendiri yang mengambil putusan. Radja dan aku tinggal bersama, didampingi oleh dua peri dewasa sekaligus guru sekolah kami. Mereka jugalah yang menarik paksa agar aku sekolah di rumah.


“Aku kangen bumi, Ja,” ucapku lirih.


“Dira, kamu tahu keadaan kamu masih lemah banget. Harus jadi tawanan sementara waktu di dunia


ini. Sekaligus kita cari yang terbaik agar kamu bisa mengendalikan kekuatan itu meski Vivian melemah,” balas Radja sambil memegang tanganku. Mengelusnya perlahan-lahan. Tidak sadar tindakannya malah membuatku ingin menangis.


“Aku pengen ziarah ke makam ayah dan ibu. Aku rindu mereka. Aku kangen rumah. Aku pengen sekolah


biasa lagi kayak dulu. Masih berharap jika ini semua mimpi.” Tanpa aku sadari, air mata pun terjatuh dari pelupuk mata.


Radja mengeratkan pegangannya. “Kamu harus bersabar, Dira. Semua tahu, cewek lemah di hadapanku ini bisa melewatinya. Kamu kuat, hebat, enggak mau menyerah lagi dengan penyakitmu.”


Aku menunduk, embusan napasku, membuat dia terdiam.


-------------------------------------------


Pukul tujuh malam, tubuhku lebih enak dari sebelumnya. Di kamar pribadiku, Miss Ann, guru sekaligus seorang peri di dunia ini sedang menginput nilai dari ulangan harian. Senyumnya melebar sambil menyerahkan ujian kertasku.


“Sudah kuduga, nilaimu cukup bagus. Namun, masih perlu ditingkatkan,” ujarnya. Setelah mengoreksi ulanganku.


Kertas matematika, pelajaran yang tidak menarik minatku. Terlalu banyak angka pengecoh di antara


banyaknya pilihan ganda. Terlalu banyak pula jawaban pasti yang belum aku temukan meski pakai rumus. Oke, aku sadar kalau aku tidak memahami matematika seperti dia juga yang tidak memahamiku. Kenapa matematika harus membuat semuanya rumit?


Tiba-tiba jam tangan yang tidak terlalu jauh letaknya denganku bersinar. Menandakan ada pesan masuk dari Bizar, hanya laki-laki itu saja yang punya akses mengirim pesan. Kulihat Miss Ann masih sibuk dengan nilai sekolah. Aku pun meraih jam tangan dan menepuk pelan pada bagian tengah. Lalu layar transparan pun muncul tanpa aba-aba.


Garis yang menyerupai diagram naik turun muncul di tengah-tengah berwarna biru muda. Ketika ada suara yang terdengar, diagram akan meregang dan kembali normal.


“Dira, ada apa?” Miss Ann sontak menghampiriku, meninggalkan semua pekerjaannya.


Aku menggeleng. “Aku tidak tahu, Miss.”


“Dira! Akhirnya aku bisa terhubung denganmu.”


“Bizar?” tanyaku setelah mendengar suara anak laki-laki itu terburu-buru. Perasaanku tidak enak, “ada apa?”


Cukup lama kami menunggu, tetapi Bizar tidak kunjung bicara. Akhirnya Miss Ann pun turut menanyakan hal serupa, “Tidak biasanya kamu panik. Ada apa?”


Suara “dum” yang cukup kuat membuatku membelalak. Di mana keberadaan anak laki-laki berkacamata itu sekarang? Kenapa ada suara ledakan dan apa yang terjadi sebenarnya. Senyum Miss Ann bahkan luntur, bukan hanya aku yang khawatir.


“Ayolah, Bizar, jangan membuat aku dan Miss Ann panik,” ucapku pada Bizar.


“Ah ... maaf, Dira! Ledakan tadi abaikan saja, ramuan gagal, harusnya aku tidak masukkan CaC2 ke dalam penelitianku. Eh, kenapa aku jadi curhat?”


“Aku yakin, kamu tidak menghubungi Nadira untuk itu,” potong Miss Ann yang sepertinya tahu apa yang baru saja ingin aku lakukan. Menutup telekomunikasi dengan ilmuwan cilik gila karena informasi yang bahkan tidak aku mengerti.


“Maafkan aku. Tapi apa yang kukatakan saat ini juga penyebab kenapa ledakan itu terjadi. Miss Ann, Dira, aku ingin kalian menghentikan Radja pergi ke bumi.” Suaranya begitu dingin, hingga suasana turut beku dan menanggalkan tanda tanya untuk kami.


Tidak berselang lama seberkas data berbentuk film dikirimkan oleh Bizar. Aku segera menekan data tersebut hingga memunculkan gambar. Langit jingga menjadi latar yang indah, hingga detik ke dua puluh, belum ada yang aneh. Aku ingin protes, tetapi kembali urung niat ketika petir tanpa awan gelap menyambar pohon.


“Ini terlihat aneh,” bisik Miss Ann, aku menyetujuinya.

__ADS_1


Di detik ke empat puluh, sosok berambut hitam dengan bajunya yang monoton menyambut di tengah badai angin. Dari kedua tangannya dapat terlihat aura kegelapan. Aku tidak tahu siapa, tidak, bahkan aku tidak paham.


“Bagaimana manusia biasa bisa memiliki kekuatan sehebat itu?” ucap Miss Ann dengan matanya yang begitu terbuka lebar.


“Dia memang bukan manusia biasa. Namun tidak terdeteksi dalam data yang disimpan. Coba dengarkan apa yang dia ucapkan, Miss.” Bizar lalu mengirimkan pesan lagi padaku, berisi rekaman suara yang diputar secara otomatis.


“Azumi akan kembali, menghancurkan kedamaian yang kalian bentuk.”


Mataku langsung membelalak. “Bagaimana bisa, Miss Ann?”


“Itu tidak mungkin, seharusnya Azumi masih dalam pemulihan. Aku juga tidak pernah melihat laki-laki


itu, tetapi jika Azumi merekrutnya sebagai tangan kanan lainnya ... maka dia berbahaya,” jawab Miss Ann begitu serius.


“Aku setuju dengan, Miss. Delapan menit lalu, Radja dan aku berdebat, tepat sebelum aku mengabari Nadira. Akhirnya dia memutuskan sepihak untuk pergi mencari laki-laki itu. Badai gelap tanpa aba-aba sudah menjelaskan jika laki-laki itu berbahaya. Aku masih tidak mengerti kenapa Radja begitu keras kepala? Kurasa aku harus menutup pesan, sebelum para korosif membuat laboratoriumku hancur.”


Aku menutup pesan dari Bizar. Tidak ada waktu memikirkan siapa laki-laki kelam itu. Aku ingat Bizar memintaku mencegah Radja, artinya si cowok kelewat menyebalkan itu akan pergi menemuinya.


Tidak bisa dibiarkan! Setidaknya dia harus mengajakku.


Aku meninggalkan Miss Ann keluar dari ruangan. Mencari-cari si cowok menyebalkan. Kamarku dan dia berseberangan, harusnya dia di sana. Tetapi apa yang aku dapatkan? Hanya pintu cokelat dengan gantungan ‘RUANGAN RAJA’ dan tidak bisa aku buka.


Aku terus mengetuknya tanpa memikirkan itu menyalahi aturan. Tidak peduli jika Radja terganggu. Namun, aku terlalu takut jika Radja sebenarnya sudah pergi menjauh meninggalkanku. Aku menggigit bibirku sendiri. Sepertinya aku harus mencari di tempat lain.


“Kamu ngapain di sini, Dira?” Segera aku berbalik dan menemukan Radja di sana. Dia nampak heran, sementara aku diam mengamati. Sayap naga abu-abu tua ditekuk di belakang punggungnya.


“Harusnya aku yang nanya, Ja!” amukku sambil memukul pelan bahunya, “kamu dari mana?”


“Sakit hei! Kebiasaan banget sih.” Dia memajukan bibir bawahnya sambil melirikku tajam. “Aku baru beres latihan.”


“Ja, kamu bohong, ‘kan? Aku tahu kamu ke bumi,” dugaku, dia terdiam.


Embusan napas Radja menjelaskan semuanya, dia kembali berbalik dan baru saja melangkah. Namun tertahan karena aku memegang lengan bajunya. Dia tidak memberontak, bukankah ini yang dinamakan kesempatan bagiku berbicara?


“Kalau mau pergi, kamu harus bawa aku,” lanjutku.


“Enggak, Dira. Kamu bisa pingsan lagi. Biar aku yang membereskaan masalah ini, sebelum Azumi kembali menyerang bumi,” balasnya. Aku semakin erat menggenggam lengan bajunya.


“Azumi berbahaya, dia musuh kita dan aku enggak pernah melupakan fakta kalau dia bisa membunuh kamu, Ja.”


Radja lalu berbalik menatapku. Tangan kirinya memaksa agar aku melepaskan genggaman. Matanya tetap melirik tajam ke arahku. Namun, tidak sedikit pun mengurung niat agar aku menyerah.


“Aku tidak mau kamu terluka,” ucap Radja, “fisikmu masih lemah, Dira.”


“Dan aku lebih gak mau kehilangan siapa-siapa lagi, Ja! Bawa aku, biar kita berdua menghadapi laki-laki itu.” Mataku berkaca-kaca. Sudah cukup kehilangan kedua orang tua, aku tidak ingin kehilangan siapa pun, termasuk Radja.


“Kamu harus ngerti, Dira,” bisik Radja pelan. Sorot matanya mengarah padaku. Lagi-lagi tanpa ekspresi.


“Kamu yang harusnya paham.” Aku mencoba memelas, meski tahu Radja tidak pernah terpengaruh.


Radja lalu memegang pundakku, lalu mendorong pelan hingga punggungku bertemu dengan pintu kamarnya. Lalu samar-samar aku mendengar dia meminta maaf. Aku sadar, tubuhku memang lemah. Namun, saat ini, untuk apa aku beristirahat jika bumi saja terancam keamanannya?


Aku tidak bisa berdiam diri di sini. Lagi pula, Bizar memintaku untuk menghentikannya, bukan? Sudah tugasku untuk menyusulnya. Aku bisa berkilah dengan alasan itu pada para peri. Memutar jarum jam tangan sekali putaran, lalu aku pun memejamkan mata.


Bayangkanku tentang bumi, latar yang Bizar tunjukkan sebelumnya. Memfokuskan diri hanya pada itu saja. Memisahkan gambaran lainnya ke tempat lain. Aku harus segera ke tempat itu!


Merasakan kembali pusaran dimensi, seakan masuk ke dalam mesin cuci. Tidak berselang lama aku bisa hidu aroma petrikor lagi. Tanah bercampur air, dan tanaman dengan embunnya. Bisa melakukan apa yang baru saja aku harapkan pada Radja. Tidak aku sangka secepat ini!


Aku kembali membuka mata, melirik ke samping ketika Miss Ann segera menghampiriku. Kupu-kupu cahaya menguar dari bawah, menghapus sedikit demi sedikit bagian tubuhku. Berhasil. Aku akan kembali.


“Dira!” panggil Miss Ann dengan tangannya yang mencoba terulur padaku. “Jangan! Tubuhmu masih lemah, kamu tidak akan kuat.”

__ADS_1


Dengan wujud perinya yang lebih kecil dibanding wujud manusia, ia tidak bisa mencegahku lebih cepat. Tangannya terlalu pendek untuk memegang bagian tubuh yang belum menghilang. “Tidak perlu khawatir! Aku akan baik-baik saja.”


Kira-kira seperti apa bumi sekarang?


__ADS_2