Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
Merry dan Naga Emas


__ADS_3

Twins ratusan tahun


lalu.


Merry tidak habis


pikir. Bagaimana bisa para peri begitu santai di tengah kekacauan yang terjadi.


Perang di dunia ini seakan tiada henti. Sebentar istirahat, esok kembali


bertumpah darah. Dia sudah jengah dengan kelakuan tujuh raja itu. Katanya


saudara, sedarah, tetapi saling membunuh.


Hanya danau di Desa


Putih saja yang membuatnya tenang. Tidak perlu memikirkan apa-apa soal mereka.


Peri Maya, ibunya, tidak seharusnya meminta Merry menjadi penerus. Mana mau dia


mengurusi ketujuh hati berbenturan itu. Sunyi dan gelap, cocok menggambarkan


keadaannya sekarang.


Merry menengadah ke


langit-langit di mana awan berkumpul memutar tidak sewajar biasanya. “Aku rasa


akan turun hujan badai,” gumam Merry.


Dia kembali melihat


kepada genangan air yang begitu tenang. Bergerak secara monoton. Merry harus


segera pulang. Dia lalu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Kakinya tidak lagi


menginjak tanah.


Namun, hujan terlanjur


jatuh membasahi Twins. Ya ampun, sayapnya terkena oleh air. Dia tidak bisa


terbang. Terpaksa jalan ke rumah pohon.


“Nona Merry,” seru


suara yang begitu berat dan membuat dirinya tegang, “lihatlah di atas.”


Tidak pernah dia

__ADS_1


mendengar suara seperti ini. Namun, rasa penasarannya lebih tingi dari semua


ketakutan yang dimilikinya. Merry sesekali menengadah meski wajahnya harus menengadah.


Hanya awan-awan saya yang dilihatnya.


Namun, tidak lama awan


itu membelah begitu luas. Mata Merry seolah dibohongi oleh apa yang dilihatnya


dari atas sana. Seekor naga emas turun. Dia tahu legenda para naga, tetapi dia


tidak pernah menyangka bisa menemukan naga paling legendaris itu.


“Nona Merry,” panggil


naga itu.


Merry menatapnya dengan


bingung. Antara takut dan bangga bercampur jadi satu. Untuk apa naga emas ini


menemuinya? Bukankah dia tidak memiliki urusan apa pun? Jantung Merry


berdebar-debar, takut jika naga emas yang memiliki tubuh bagaikan ular itu


ingin memakannya.


emas tersebut.


“Maaf, Tuan,” balas


Merry lirih.


“Aku tidak akan


basa-basi. Mewakili para naga, aku kemari. Kami melihat kondisi Twins yang sangat


kacau, tujuh saudara yang terus berperang membuat beberapa dari kami murka dan


hilang akal.


“Maka, kedatanganku ini


ingin menitipkan sesuatu. Tangisan para naga yang melihat kondisi Twins,


bisakah kamu menjaganya?”


Merry ragu. Namun, naga

__ADS_1


emas itu sudah membuka mulutnya. Tampaklah seorang bayi anak manusia yang


begitu mungil tetapi  di beberapa bagian


badannya terdapat sisik warna-warni. Bayi tersebut tengah tertidur lelap.


Pipinya yang gembul membuat hati Merry goyah.


Merry mengangguk, dia


mengambil secara perlahan bayi laki-laki tersebut. Rambut hitamnya begitu


lembut ketika dia membelai. Kedua mata bayinya terbuka melihat Merry, lalu dia


tersenyum.


“Aku akan menjaganya,”


ucap Merry.


Naga itu mengangguk. “Syukurlah.


Aku harap kamu bisa menjaga Kazuhiro. Dia akan memimpin Twins ketika waktunya


tiba. Aku mohon padamu, aku sangat percaya padamu, Merry.”


“Aku mengerti, Tuan.”


Naga emas tampak senang. Seakan-akan kebahagiaan makhluk tersebut membuat hujan


turut berhenti.


Naga emas tersebut


kembali ke langit-langit. Merry mendekap Kazuhiro dengan hati-hati. Lalu dia


membawanya pulang.


Jujur saja, anak yang


lahir dari tetesan air mata para naga ini bisakah dia mendidiknya? Merry tidak


pernah menjadi ibu, bahkan bagi kaumnya dia terlihat terlalu muda. Mengingat


kembali naga emas sangat memercayainya, Merry mencoba untuk tenang.


“Kazuhiro, aku bukan


ibumu. Namun, aku akan membantu mewujudkan impianmu, impian para naga. Maka

__ADS_1


suatu saat wujudkanlah impianku juga,” bisik Merry. Dia lalu kembali ke desa dengan


berjalan kaki.


__ADS_2