
Twins ratusan tahun
lalu.
Merry tidak habis
pikir. Bagaimana bisa para peri begitu santai di tengah kekacauan yang terjadi.
Perang di dunia ini seakan tiada henti. Sebentar istirahat, esok kembali
bertumpah darah. Dia sudah jengah dengan kelakuan tujuh raja itu. Katanya
saudara, sedarah, tetapi saling membunuh.
Hanya danau di Desa
Putih saja yang membuatnya tenang. Tidak perlu memikirkan apa-apa soal mereka.
Peri Maya, ibunya, tidak seharusnya meminta Merry menjadi penerus. Mana mau dia
mengurusi ketujuh hati berbenturan itu. Sunyi dan gelap, cocok menggambarkan
keadaannya sekarang.
Merry menengadah ke
langit-langit di mana awan berkumpul memutar tidak sewajar biasanya. “Aku rasa
akan turun hujan badai,” gumam Merry.
Dia kembali melihat
kepada genangan air yang begitu tenang. Bergerak secara monoton. Merry harus
segera pulang. Dia lalu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Kakinya tidak lagi
menginjak tanah.
Namun, hujan terlanjur
jatuh membasahi Twins. Ya ampun, sayapnya terkena oleh air. Dia tidak bisa
terbang. Terpaksa jalan ke rumah pohon.
“Nona Merry,” seru
suara yang begitu berat dan membuat dirinya tegang, “lihatlah di atas.”
Tidak pernah dia
__ADS_1
mendengar suara seperti ini. Namun, rasa penasarannya lebih tingi dari semua
ketakutan yang dimilikinya. Merry sesekali menengadah meski wajahnya harus menengadah.
Hanya awan-awan saya yang dilihatnya.
Namun, tidak lama awan
itu membelah begitu luas. Mata Merry seolah dibohongi oleh apa yang dilihatnya
dari atas sana. Seekor naga emas turun. Dia tahu legenda para naga, tetapi dia
tidak pernah menyangka bisa menemukan naga paling legendaris itu.
“Nona Merry,” panggil
naga itu.
Merry menatapnya dengan
bingung. Antara takut dan bangga bercampur jadi satu. Untuk apa naga emas ini
menemuinya? Bukankah dia tidak memiliki urusan apa pun? Jantung Merry
berdebar-debar, takut jika naga emas yang memiliki tubuh bagaikan ular itu
ingin memakannya.
emas tersebut.
“Maaf, Tuan,” balas
Merry lirih.
“Aku tidak akan
basa-basi. Mewakili para naga, aku kemari. Kami melihat kondisi Twins yang sangat
kacau, tujuh saudara yang terus berperang membuat beberapa dari kami murka dan
hilang akal.
“Maka, kedatanganku ini
ingin menitipkan sesuatu. Tangisan para naga yang melihat kondisi Twins,
bisakah kamu menjaganya?”
Merry ragu. Namun, naga
__ADS_1
emas itu sudah membuka mulutnya. Tampaklah seorang bayi anak manusia yang
begitu mungil tetapi di beberapa bagian
badannya terdapat sisik warna-warni. Bayi tersebut tengah tertidur lelap.
Pipinya yang gembul membuat hati Merry goyah.
Merry mengangguk, dia
mengambil secara perlahan bayi laki-laki tersebut. Rambut hitamnya begitu
lembut ketika dia membelai. Kedua mata bayinya terbuka melihat Merry, lalu dia
tersenyum.
“Aku akan menjaganya,”
ucap Merry.
Naga itu mengangguk. “Syukurlah.
Aku harap kamu bisa menjaga Kazuhiro. Dia akan memimpin Twins ketika waktunya
tiba. Aku mohon padamu, aku sangat percaya padamu, Merry.”
“Aku mengerti, Tuan.”
Naga emas tampak senang. Seakan-akan kebahagiaan makhluk tersebut membuat hujan
turut berhenti.
Naga emas tersebut
kembali ke langit-langit. Merry mendekap Kazuhiro dengan hati-hati. Lalu dia
membawanya pulang.
Jujur saja, anak yang
lahir dari tetesan air mata para naga ini bisakah dia mendidiknya? Merry tidak
pernah menjadi ibu, bahkan bagi kaumnya dia terlihat terlalu muda. Mengingat
kembali naga emas sangat memercayainya, Merry mencoba untuk tenang.
“Kazuhiro, aku bukan
ibumu. Namun, aku akan membantu mewujudkan impianmu, impian para naga. Maka
__ADS_1
suatu saat wujudkanlah impianku juga,” bisik Merry. Dia lalu kembali ke desa dengan
berjalan kaki.