Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 17. Sudut Pandang Radja


__ADS_3

"Nadira belum sadarkan diri?" tanyaku pada dua orang peri di dalam kamar si gadis yang sudah terlelap dua hari penuh.


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya ruangan lega, kasur empuk dan selimut yang menjadi saksi bisu di sepanjang malam. Nadira hanya bercerita pasal mimpi dan pedang. Aku mengembuskan napas, ada sesuatu yang menyentil hati jika berlarut-larut di dalam kamar ini.


"Hukuman yang aku beri sudah kamu lakukan?" tanya Miss Merry padaku.


Peri berkacamata itu sangat tegas, terlihat dari dia yang tengah membenarkan kacamata lalu melipat tangan. Tidak lama melirik dari ujung kaki hingga kepala. Bertanya-tanya apakah bajuku kotor atau tidak, mungkin pula mencari keringat yang keluar dari tubuh.


"Membersihkan kerajaan, memangkas tanaman liar dan bertapa di bawah pohon empat musim. Semua aku lakukan dengan baik, Miss Merry," balasku pada peri sangar yang selalu Nadira takuti.


"Baguslah. Kita ke laboratorium sekarang," titah Miss Merry lalu melirik pada rekan kerjanya, "Ann, jaga Nadira. Kalau dia bangun, tolong kabari kami."


"Tentu, Merry. Nadira dalam jangkauanku. Kamu tidak perlu khawatir," balas peri tersebut mantap.


Sayangnya aku malah khawatir. Kehilangan Nadira beberapa hari membuatku bingung harus melontarkan candaan pada siapa. Enggak mungkin banget ke Bizar, anak laki-laki itu lebih mudah sensi. Aku juga menolak kalau disuruh mendekati Nadia. Meski sudah menebarkan rasa percaya, hati kecilku masih sulit menerima permintaan Nadira.


Miss Merry terbang di belakangku, tidak suka memimpin. Dia hanya tegas dan aku tahu sifat itu berasal dari ratusan tahun lalu lamanya. Miss Merry lebih berpengalaman dan tahu apa yang terjadi di masa lalu sebelum reinkarnasi ini telah sampai puncaknya.


"Ya, kita sampai."


Aku melirik ke sekitar, tidak terasa sudah sampai di depan pintu masuk. Miss Merry menggunakan sayapnya untuk turun, begitupun denganku. Di sana Bizar sedang berkutat dengan komputer, entah mencari apa.


Menyadari keberadaan kami berdua, dia segera berbalik. Terlihat warna hitam lebam di bawah matanya. Apa dia tidak tidur semalaman? Aku tidak ingin menghiraukannya, tetapi dia tetap teman dan rekan kerjaku.


"Apa yang aku minta sudah ketemu?" tanya Miss Merry.


Aku memasang wajah datar, meski hatiku mempertanyakan apa yang peri itu katakan. Bizar memegangi tengkuk leher dan memijat pelan. Aku yakin efek samping dari duduknya di bangku semalaman.


"Belum, Miss. Untuk terhubung dalam mimpi Nadira, kita harus memakai kekuatan Faizal," balas Bizar.


Miss Merry menutup mata, dia menghela napas panjang. Sementara aku melirik pada layar besar tempat Bizar menghabiskan waktunya. Dibandingkan mimpi, aku lebih mengkhawatirkan keadaan gadis itu.


"Aku rasa ini ada kaitannya dengan kekuatan Mizuki dan pedangnya," balasku pada mereka. Keduanya sama-sama melihatku dengan mata bulat yang berbinar-binar, menimbulkan rasa penasaran juga tidak percaya.


Miss Merry, peri tegas itu lebih dahulu sadar dari rasa penasarannya. Dia bertanya padaku, "Kenapa kamu bisa mengira karena pedang Mizuki?"


"Eh?" Aku menggaruk pipi, bingung bagaimana harus menjawab.


"Ja, aku hanya membuka ingatanmu tentang para kesatria pedang dan Nadia," ujar Bizar.


"Apa salahnya aku mengingat masa lalu Kazuhiro lebih dalam lagi?" Mereka berdua terlihat bagai orang yang tersedak oleh biji salak. Memandangiku dengan horor, padahal menurutku tidak ada yang salah.


Miss Merry menggelengkan kepalanya sambil melipat tangan. Tatapan peri yang seperti baru melihat hantu itu tetap mengarah padaku. Dia bahkan tidak tersenyum atau mengeluarkan ucapan apa-apa lagi.


"Jika aku pikir-pikir, mungkin ingatanmu terpicu. Jadi ingatan lain selain kesatria yang kamu pilih pun bisa bermunculan," balas Bizar tidak lama.


Aku mengangkat dagu, mengapitnya dengan jempol dan jari telunjuk. Bisa jadi, mengingat aku bukanlah reinkarnasi Kazuhiro sebenarnya. Kakakku, Abimanyu, lebih berhak untuk itu.


"Ada kemungkinan juga karena Abimanyu membuang segalanya padamu," lanjut Miss Merry.


Aku mendengus mendengar nama itu. Kakak yang tidak memedulikan adik dan ayah yang mengorbankan anak bungsunya. Menyebalkan.


"Aku rasa mencari cara biar Nadira bangun lebih penting. Soal ingatan Kazuhiro tidak perlu dibahas sekarang," balasku ketus.


Spontan Miss Merry menarik hidungku. Ngilu. Selain tegas ternyata tenaganya seperti gajah yang sedang dicubit oleh seekor semut. Berselang tiga puluh detik dia akhirnya melepaskan cubitannya.


"Hebat juga kamu tidak berteriak, Ja," tegur Bizar. Laki-laki itu memegang perut dan ujung-ujung bibirnya berkedut.


"Justru ucapannya membuat kita tahu bagaimana cara keluar dari hutan berkabut buta ini," balas Miss Merry. "Radja, aku ingin kamu menggali masa lalu dan mencari tahu pedang dan kekuatan Mizuki."


"Serius? Miss, jangan bergurau." Aku coba untuk melihat kebohongan dari mata Miss Merry. Tatapan itu menanam, seperti pisau yang baru diasah. Memberi sedikit penekanan jika dia tidak bercanda.


Ruangan laboratorium yang luas ini, semakin sepi dengan keheningan yang kami ucapkan. Aku tahu dua orang ini menunggu jawaban yang benar dariku. Ya atau tidak.


"Baiklah, ayo kita lakukan."


Miss Merry bernapas lega, dia mengelus rambutku dengan senyum. "Jika kamu takut, tolak saja, Radja."

__ADS_1


"Benar, kamu pernah bilang soal sifatmu berubah sejak itu," lanjut Bizar.


"Aku yakin aku tetap menjadi diriku sendiri. Bukan Kazuhiro atau Abimanyu. Radja tetaplah raja bagi namanya sendiri," balasku mantap untuk meyakinkan mereka.


Bizar melirikku, dia masih ragu menggunakan kekuatannya. Aku mengepalkan tangan dan memukulnya pelan. Bizar tahu apa maksudku, dia hanya mengangguk pasrah.


"Aku harus kontrol ke ruangan Nadira. Apa pun soal Mizuki, kumpulkan. Kita akan mendiskusikannya nanti malam."


Kami berdua mengangguk. Setelah Miss Merry mengepakkan saya untuk beranjak ke luar laboratorium, aku kembali melihat Bizar. Laki-laki itu membenarkan kacamata birunya.


"Aku akan melakukannya lagi. Setelah mencari datanya, aku akan merekayasa ingatan Kazuhiro dalam otakmu lagi," jelas Bizar. Aku mengangguk paham, dia sudah pernah menjelaskannya padaku.


Aku tidak peduli dengan kegiatan Bizar selanjutnya. Terlalu membosankan, aku memilih memejamkan mata. Terhenyak dalam alunan suara ketik dari jari-jemari laki-laki itu.


---------------------


Aku membuka mata, tidak sadar jika waktu sudah berlalu. Mencoba untuk merogoh gadget yang kusimpan. Pukul 17.00. Kurang lebih dua jam aku ketiduran.


"Bizar mana?" gumamku di laboratoriumnya.


Mendekat ke ruang kerja Bizar, aku mendapati dia menulis note. Pesan singkat yang hanya bertuliskan dua kalimat yang berisi masing-masinh tiga kata. Membacanya membuat aku ingin meremasnya.


Ingatannya sudah kembali. Aku pergi latihan.


Ingatan apa pun, tidak hinggap ke kepalaku. Benar-benar tidak ada. Bahkan saat ketiduran aku tidak mendapatkan bunga tidur. Apa iya Bizar sudah melakukannya dengan benar? Kenapa aku jadi meragukan teknologi canggihnya sekarang?


Aku menyatukan tubuh dengan sayap naga dan pergi dari laboratorium ini. Sejujurnya aku ingin mengunjungi Nadira, tetapi hati kecilku ragu jika dia sudah bangun. Sudahlah, lebih baik aku menyusul Bizar sekarang.


Aku menyusuri hutan yang mengelilingi Lux of Valley. Dermaga itu menjadi pusat perhatianku. Nadira dan kekuatan airnya juga ketakutan yang ingin dia atasi. Dua hari penuh setelah Miss Merry dan Miss Ann menegur kami, gadis itu bertranformasi menjadi putri tidur. Putri tanpa pangeran, tidak ada yang bisa membangunkannya kecuali dirinya sendiri.


Jujur, aku tidak suka. Ini mengusik hati kecilku, takut jika dia tidak bangun lagi. Seharusnya dalam keadaan seperti ini aku memanggil walinya. Ron. Dia bisa menetralkan kekuatan Nadira.


"Radja!" seru Bizar yang tiba-tiba muncul melalui layar pada jam tanganku.


Aku mengangkat tangan pelan. "Ya?"


"Perjalanan ke Lux of Valley, tunggu aku di sana." Tanpa menunggu intruksi Bizar mengangguk dan dia segera mematikan komunikasi.


Aku segera mencondongkan badan ke bawah dan membiarkan sayap tidak mengepak sama sekali. Sehingga tubuhku lebih cepat turun menapaki kayu-kayu yang disatukan menjadi dermaga. Sesuai yang Bizar bilang, Lux of Valley bercahaya.


Mataku jauh memandangi di tengah danau. Hijau kebiru-biruan samar-samar terlihat. Entahlah apa itu, sepertinya aku memeriksanya. Sebelum turun, aku memastikan keberadaan Bizar. Ilmuwan aneh itu belum nampak juga.


Bukannya bertemu Bizar, justru aku merasa ada getaran dari bawah dermaga. Pusaran air di mana-mana. Pertanda yang tidak bagus. Aku menarik pedang sebagai jaga-jaga.


"Lama tidak bertemu."


Jelas aku mendengarnya dari salah satu pusaran air yang terus bergerak. Siapa pun itu jika berbahaya harus aku lawan.


Perlahan tidak lama seekor naga transparan berwarna sebiru air keluar dari sana. Dia memiliki tubuh yang panjang tanpa sayap. Beda jauh dengan Naga Hitam yang ada dalam tubuhku.


"Aku merasakan hawa panas dan kekuatan Naga Hitam," lanjut naga tersebut.


"Itu aku. Keturunan Kazuhiro," balasku padanya sambil menurunkan pedang.


Naga itu mendekatiku dengan menyatukan tubuh dengan air danau. Dari dua lubang hidung, dia seolah sedang menghidu aromaku. Meyakinkan jika aku keturunan? Apa pun itu, tidak membuatku mundur.


"Kamu bukan keturunan murni," ucap Naga Air tersebut, "kamu bukan pewaris sebenarnya, 'kan?"


Aku mengepalkan tangan. Meski tahu, hati tetap terasa terusik. Aku menatap Naga Air itu dengan tajam. "Kurasa itu tidak penting. Aku kira hydra yang akan menjaga tempat ini."


"Hydra tidak suka hidup di danau cantik ini. Haha! Kamu itu lucu sekali," balas Naga Air.


"Sejujurnya aku tidak punya waktu mengobrol. Jadi, bisakah kamu memberitahu apa yang terjadi di dasar laut?"


Naga air itu mengangguk, dia lalu menenggelamkan diri ke dasar laut. Tidak berselang lama dia kembali. Aku menatap kedua kumis yang menjadi kelemahannya. Ini bukan saat yang tepat untuk berburu kekuatan.


"Sepertinya, pedang Mizuki bereaksi. Seseorang ingin mengambilnya," jelas naga air.

__ADS_1


"Siapa?" Naga air menggeleng.


"Aku ragu," balas Naga Air, "gadis yang kemari tenggelam ingin mengambil pedang itu."


Mataku membulat. Kedua alis ikut mendekat saling bertanya. Mencoba mengingat, Nadira ada di atas kasur empuknya. Terbaring lemah selama dua hari penuh.


"Jangan bergurau! Nadira bahkan tidak sadarkan diri," ucapku meninggi.


"Nadira? Gadis yang kamu bilang itu sedang bergelut dalam mimpinya," jelas Naga Air tersebut.


Aku benar-benar sulit memercayainya. Naga Air tiba-tiba mendekatkan mulutnya padaku memberi sebuah permata? Tidak, bentuknya mirip kelereng, tetapi mirip dengan gumpalan air.


"Aku tahu kamu mengkhawatirkan temanmu itu. Pakailah mutiara air dariku, dia akan sadar dari ilusi mimpinya." Aku memperhatikan beda bulat tersebut. Menatap Naga Air penuh keheranan, tetapi tanpa penjelasan lain dia segera menghilang dari hadapanku.


"Bagaimana cara memakainya?" bisikku pada angin yang berlalu. Aku segera memunculkan sayap untuk terbang.


------------------------------


"Ja," panggil Bizar yang sepertinya baru kembali dari latihan.


Aku menutup buku jurnal milik Hana, menyimpannya di atas nakas kamar Nadira. Si ilmuwan menghampiri sambil membawa buah jeruk. Sayangnya yang mau dijenguk belum juga melihat dunia.


"Aku ke Lux of Valley, kamu di mana tadi?" balasku dan dia sibuk membenarkan letak kacamatanya.


"Waktu latihan dan menemukan hal aneh, ada panggilan dari profesor. Mereka meminta aku datang ke Australia untuk melihat uji coba," jelas Bizar dia berusaha untuk meyakinkanku.


Aku mengambil satu jeruk dari plastik tanpa seizin Bizar. Mengupasnya perlahan dan memakan buahnya. Masam di lidah, tetapi manis setelahnya.


Tidak lama kulihat dari ujung pintu Miss Merry membawa sebuah cangkir. Dia berjalan mendekati Nadira. Mungkin ramuan yang dicampur dengan mutiara tadi.


"Ngomong-ngomong, di Australia, aku bertemu Kak Ron. Dia tanya kondisi Dira," celetuk Bizar.


"Kak Ron? Apa lagi?" balasku.


Miss Merry menghentikan obrolan kami, dia memintaku untuk jadi senderan Nadira sementara selagi dia memberikan ramuan tersebut. Mataku masih menatap dalam pada Bizar. Menunggu di memberitahu kelanjutannya.


"Liburan nanti dia pulang," balas Bizar, "bagaimana jika dia tahu kondisi Dira yang sebenarnya?"


"Tenangkan dirimu, Bizar. Kita tunggu obatnya bereaksi pada Nadira," celetuk Miss Merry.


"Miss Merry, aku juga bawa kabar baik," ucap Bizar yang kali ini beralih pada Miss Merry.


Miss Merry menanggapi dengan sebatas anggukan. Dia masih memfokuskan cahaya yang keluar dari telapak tangannya. Tidak luput pengecekan setelah ramuan obat diberikan pada Nadira.


Bizar baru mau bicara, tetapi suara batuk mengejutkan kami semua. "Uhuk! Umm ...."


Enam mata memandang pada gadis yang sama. Matanya perlahan terbuka sebentar lalu menutup kembali. Segera aku memapah Nadira untuk berbaring kembali.


"Obatnya berhasil," gumam Miss Merry.


"Syukurlah," balas kami berdua saling berjabat tangan.


"Kalian sedang apa?" balas Miss Merry.


Aku tertawa. Tanganku tidak diam saja. Menarik Bizar dalam rangkulan dan memberi cengiran. "Kalau dia gak suruh ke Lux of Valley, aku gak bakal dapet itu."


Miss Merry geleng-geleng. Namun, dia tetap tersenyum. "Saat ini Nadira perlu istirahat. Kemungkinan besok pagi dia sudah siuman. Sekarang kalian istirahatlah!"


Aku menoleh pada Bizar, begitupun dia."Kami ingin menjaganya."


"Tidak boleh!"


Dua kata itu membuat senyuman masam seperti jeruk yang Bizar bawa. Menyebalkan. Mataku melihat pada Nadira, dia terlelap dengan tenang.


Mimpi Nadira, bagaimana cara kami mengatasi masalah itu?


Aku mengembuskan napas selagi melepas rangkulan. Mengambil jurnal milik Hana. Meski sulit menemukan apa yang kucari, tetapi informasi apa pun akan kusimpan sebaik mungkin.

__ADS_1


Demi teman-teman dan melindungi bumi.


__ADS_2