Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 18. Rencana Merry


__ADS_3

Bizar menegadah ke atas langit. Aku takut denga apa yang akan laki-laki itu ucapkan. Terutama sebelumnya ilmuwan satu ini sempat memutuskan untuk pindah sekolah. Walau hatiku berusaha untuk tetap memercayainya, tetap saja ada rasa takut di dalam hati.


“Mungkin beberapa hari. Miss Merry juga sudah sembuh, aku akan mengirimkan informasi padanya jika ada bahaya yang berlanjut,” gumam Bizar.


-----------------------------


Memang ucapan Bizar sebelumnya sangat menjanjikan, Dia akan menghubungi kami lagi setelah mendapatkan informasi, tetapi sampai saat ini dia tidak kunjung memberi kabar. Rasanya ini membuatku khawatir. Bagaimana keadaa laki-laki itu sekarang, apa dia baik-baik saja? Andai ada cara agar kami bisa membantunya secara dekat.


Aku kadang mengambil izin pada Kak Ron untuk pergi ke Twins dan melihat keadaan. Berandai-andai jika Bizar ke sana, tetapi tidak. Mungkin memang seminarnya sangat sibuk sampai dia tidak punya waktu untuk kembali ke laboratoriumnya. Jika dipikirkan ulang, seharusnya itu adalah hari liburnya. Tanpa perlu pusing memikirkan bahaya, Bizar harusnya bisa menikmati seminar itu. Namun, kasus ini pasti mengganggu pikirannya.


Selama jam pelajaran di sekolah, aku hanya memikirkan cara untuk menghentikan perkembangbiakkan para monster. Di mana markasnya dan menerka ada berapa banyak orang-orang yang menduplikat kami. Di balik itu pula, aku mencoba mencari tahu siapa dalang dari semua ini. Semua patut dicurigai, bahkan Radja sekali pun.


Miss Sharron, selagi dia masih ada ... aku rasa aku bisa menanyakan soal sihir terlarang. Mungkin dia tahu ciri-ciri lain dari pengguna sihir tersebut. Jika aku menemukannya, mungkin aku bisa menemukan pelakukan. Tiba-tiba buku yang aku pakai untuk corat-coret ditarik oleh seseorang. Pastinya bukan Demina, sahabatku itu pasti sedang sibuk dengan sederet soal matematika dan fisika.


Aku pun menengadah, lalu kutemukan wajah Afly yang serius menatap buku milikku. “Kamu corat-coret apaan sih. Aku kira sibuknya kamu nulit itu buat nyatet materi, Dira.”


“Emangnya kenapa? Mau pinjem buku lagi? Kenapa sak sama Nadia atau Demina aja?” usulku pada laki-laki itu. Afly pun memutar bola matanya. Dia lalu meletakkan kembali buku tulis tersebut. Memang benar apa yang dia ucapkan. Ini sangat berantakan dan mungkin tidak bisa dipahami.

__ADS_1


“Enggak. Aku cuma kepo. Ngomong-ngomong, Miss Ann minta kita semua ke perpustakaan,” ucap Afly santai.


Mendengar itu, aku berharap ada informasi dari Bizar. Meski itu sekedar kabar. Memang seminarnya berapa lama sih, kenapa dia tidak punya waktu luang untuk membalas semua pesan dariku juga teman-teman lainnya. Jadi aku pun segera menuruti ucapan Afly.


Afly juga memberitahu Nadia, Radja dan Demina. Dia bilang pada teman-teman yang lain, jika kami ke perpustakaan untuk mengambil buku paket pelajaran selanjutnya. Tentu saja semua langsung percaya dengan laki-laki tersebut. Untuk urusan seperti ini, ucapan dan rayuan Bizar tidak akan kalah dari siapa pun.


Kami pergi ke perpustakaan dan meski Bizar mengatakan semua, yang ada di sini hanya sebagian dari kelompok kami saja. Tepatnya, Bara, Candra, Afly, Radja, Irish dan lainnya. Tidak termasuk dari SMP sebelah, sekolahnya Bizar dan Faizal. Di bandingkan itu, kami mencari Miss Ann. Sayangnya, peri itu tidak ada di perpustakaan, entah pergi ke mana. Mungkin sekolah tiba-tiba memiliki urusan dengan guru perpustakaan yang satu itu.


Tidak lama, sinar memenuhi ruangan dan di sana muncul Miss Merry. Masih berbalut dengan perban di berbagai tempat. Namun, kami tidak bisa menahan kebahagian kami untuk saat ini. Bahkan Demina dan Irish sudah berteriak histeris.


“Aku baik-baik saja. Syukurlah, kalian semua juga dalam keadaan baik. Sejujurnya aku ingin mengirim kalian semua ke lomba di luar sekolah. Ini ada kaitannya dengan monster yang kalian hadapi,” ucap Miss Merry pada kami. “Tapi, aku lupa kenapa aku memanggil Sharron ke mari.”


“Sejak lama kamu memang pelupa, Merry. Kamu terlalu parno pada bahaya yang muncul tiba-tiba, jadi lupa dengan hal-hal penting!” timpal Miss Sharron dengan kesal. “Kalau tidak ada urusan, kembalikan aku!”


Miss Merry lalu mengembuskan napasnya. Dia menjentikkan jari sehingga Miss Sharron terkurung begitu saja.  Tidak dia biarkan mengganggu terlebih dahulu. Lagi pula aku---kami semua agak risih denga peri cerewet yang satu itu. Kali ini kami sedang bicara tentang keadaan Miss Merry bukan kedatangan Miss Sharron.


Kembali dalam topik, Miss Merry meminta kami untuk ikut beberapa lomba dan dia sudah mendaftarkan kami lebih dahulu. Tanpa persetujuan siapa pun. Namun, ini bukan pilihan, ini adalah perintah. Kami jelas mengetahui soal itu, tetapi jika tiba-tiba begini aku pribadi merasa belum siap untuk mengemban nama baik sekolah.

__ADS_1


“Lomba ini diadakan di Jakarta. Kalian pergi ke sana bukan hanya untu mengharumkan nama sekolah, tetapi juga mencari informasi sebanyak-banyaknya soal monster itu. Aku sudah dengar dari Ann, kalau Bizar sudah lebih dahulu mengetahui markas dan sedang menyelidiki hal itu. Aku mau kalian semua saling bahu-membahu untuk menyelesaikan masalah ini,” jelas Miss Merry.


Miss Merry pun memberi kami sebuah selembaran yang berisi nama-nama orang yang akan diikutsertakan dalam lomba. Aku melihat dengan seksama dan  tidak percaya jika namaku ada di salah satu peserta lomba dalam bidang karya sastra. Padahal aku tidak punya bakat apa pun di sana. Bagaimana Miss Merry menunjukku?!


“Tunggu, kenapa aku satu regu sama Irish dan Candra?!” ucap Demina tidak terima.


“Kalian bertiga itu pintar dan sangat sering bersaing. Kali ini kalian harus bekerjasama, dengan otak bukan otot kalian,” balas Miss Merry santai.


“Lalu kenapa aku dihubungkan dengan Radja dan Bara, di lomba debat pula! Miss Merry, aku ini enggak jago nyanggah orang apalagi kalau ada temanya. Terutama belakangan ini nenekku sering sakit. Aku tidak yakin untuk ikut,” jelas Afly.


Miss Merry tersenyum. “Aku sudah memikirkan semua itu. Untuk tim cerdas cermat, aku tidak mengkhawatirkan apa pun selain kalian yang saling rebutan soal. Tim debat sudah aku persiapkan anggota cadangan. Nadira.”


Aku membelalak. “Miss, aku ada di cerpen bukan anggota tambahan tim debat!”


“Justru karena kamu ada di sana, Nadira. Panitia hanya mengizinkan orang yang menjadi peserta cadangan adalah orang yang mengikuti lomba lain. Irish, Candra dan Demina pasti dia akan kalah. Sementara kamu, cerpen, itu hanya satu kali lomba. Jika ada kendala apa pun, Afly bisa di gantikan olehmu,” jelas Miss Merry.


Aku menelan ludah. Jadi dalam artian aku mengikuti dua lomba jika Afly tidak ada? Sanggupkah seorang gadis lemah dan tidak begitu pintar menjadi pengganti? Entah kenapa aku merasa ini semua tidak akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2