Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 22. Ucapan Selamat Tinggal


__ADS_3

a“Kakak, aku jadi ingat soal Bizar yang mengirimkanku sebuah email. Dia bilang itu informasi soal monster yang sering kita lawan. Tapi, sebelumnya, apa Miss Ann atau Miss Merry udah kasih tau orang-orang di sini?” tanyaku.


“Belum ada informasi dari siapa pun, Dira. Isi email Bizar apa? Coba kamu buka,” ucap Kak Ron seraya menyuapiku sesendok sereal lagi.


Aku sendiri baru ingat soal emailnya dan belum membuka pesan itu sejak kemarin malam. Setelah melawan monster, aku pergi tidur. Di sekolah aku fokus belajar dan saat belajar bersama pun tidak ingat. Jika Miss Merry dan Miss Ann belum tahu, apa artinya Bizar belum yakin?


Semuanya akan terjawab jika aku membuka pesan. Segera saja aku membuka email melalui jam tanganku. Mataku menyipit saat membaca isinya.


Dari : Bizarscientist@gmail.com


Maaf aku baru bisa mengimkan kamu pesan. Aksesku ke Miss Ann dan Miss Merry di blokir. Kamu tidak perlu khawatir, jangan khawatir. Aku masih baik-baik saja.


Saat kamu membaca pesan ini, tolong pergi ke laboratoriumku. Nyalakan komputer, kata kuncinya xxxxxxxx xxxx xxxx. Di sana ada semua file tentang kekuatan gelap yang aku teliti dan semua data yang aku kerjakan di sini akan segera terkirim ke sana. Hanya komputerku yang aman, mungkin setelah ini tidak akan ada pesan dariku lagi.


“Tidak mungkin! INI?!” Aku berteriak kencang. Apa-apaan ucapan Bizar itu? Dia tidak akan mengirimkan aku pesan lagi?


Aku tidak habis pikir dengan apa yang Bizar lakukan sekarang. Dari sekian banyak rencanannya, ini adalah hal paling gila. Terlebih bukankah sangat buruk jika akses komunikasi pada kedua peri di tutup? Kenapa dia berikap seolah semuanya akan baik-baik saja? Kembali  aku pun membaca pesan dari Bizar lagi.


Aku tau kamu akan teriak. Cepatlah pergi. Hanya kamu yang aku berikan akses untuk membuka komputer. Semua cara membuka portal dan lain-lainnya pun sudah aku buat jadi otomatis. Sekarang hanya kamu yang bisa memerintahnya. Tidak ada satu pun orang yang bisa aku percaya selain kamu dan Radja.


Jika kamu bisa, tolong hentikan bus yang akan pergi ke tempat seminar pada puku 20:00 WIB. Itu jebakan, di seminar ini terdapat beberapa monster. Mereka sama seperti orang yang pernah kita lawan.

__ADS_1


Kalau kamu mau membantuku, tolong turuti ucapanku.


Kututup pesan darinya, lalu melihat pada Kak Ron yang menatapku bingung. Aku segera memeluk kakakku yang satu itu. Tidak bercerita apa-apa, karena ini adalah hal penting. Justru aku harus mengumpulkan semuanya agar mereka mendapatkan informasi merata. Sempat aku mendapat pikiran jika sebenarnya ini sudah direncanakan oleh si mereka. Harusnya aku sadar, mungkin ini bukan kelelahan, tetapi ini pertanda.


“Kak Ron, bantu aku pergi ke laboratorium milik, Bizar! Ini darurat!” ujarku.


“Tunggu, Dira, sebenarnya ada apa? Cerita pada kakak.” Aku menolak permintaan Kak Ron. Aku benar-benar bersikeras tentang pergi ke laboratorium. Akhirnya kakak mengalah dan menuntunku pergi ke sana.


Sesampainya di laboratorium, aku meminta Kak Ron untuk menuntunku ke tempat di mana monitor besar berada. Aku pun segera duduk dan mencari tombol untuk mengaktifkannya. Setelah menemukan cara untuk mengaktifkan, monitor itu lalu menyala. Aku lalu disambut oleh Io, asisten virtual milik Bizar. Sepertinya data-data itu dikirimkan pada Io.


Io mengarahkanku untuk mengisi kata sandi. Tidak aku pedulika celotehan yang sedang Kak Ron ucapkan. Saat ini aku sibuk untuk mengisi kata sandi, mecocokkannya dengan yang dikirimkan Bizar. Kata sandi cocok. Semua komputer, tidak, lampu di lab pun menyala. Itu membuat mataku pusing, tetapi aku tidak boleh menyerah.


Saat ini pukul 19.00, masih ada satu jam lagi sebelum mereka berangkat ke seminar. Saat ini Io masih menggiringku ke beberapa tempat. Andai saja aku membuka pesan dari Bizar lebih awal, mungkin tidak akan seperti ini hasilnya. Setelah mendapatkan perintah yang tepat, aku pun mengetiknya di layar besar itu.


Aku sangat berutang penjelasan pada Kak Ron, tetapi saat ini aku mulai terhubung dengan yang lain. Tentu ini termasuk jam tanganku sendiri. Jantungku berdebar-debar, mengingat ini menyangkut sebuah nyawa. Maka segera saja aku mengirimkan pesan suara pada semuanya.


“Bizar kamu udah pulang?” tanya Irish padaku, begitupun teman-teman yang lain.


“Maaf membuat kalian kecewa, ini aku, Nadira. Ada kabar penting dan aku sedang berusaha membuka portal untuk kalian semua. Oh ya, Faizal, kamu ada di mana dan bagaimana kondisi di sana? Apa kalian sudah pergi ke tempat seminar?” ucapku sambil mencari cara untuk membuka portal. Untunglah Io membantuku.


“Nadira, bukannya kamu harusnya ada di kamar, kenapa malah pergi ke lab? Sejak kapan Bizar memberikan kamu akses untuk melakukan ini?” tanya Radja bertubi-tubi padaku.

__ADS_1


“Di sini aman, kami sedang beristirahat di hotel. Beberapa siswa sudah pergi ke tempat seminar. Memangnya ada apa?” jelas Faizal dan itulah yang aku butuhkan.


“Bizar dalam bahaya. Tempat seminar itu adalah target mereka sebenarnya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Bizar menyutuhku untuk mencegak kalian ke seminar. Di sana ada monster yang menunggu kalian.


“Bizar tidak bisa menghubungi kalian. Dia baru berhasil mengirimkan email padaku kemarin. Namun, dia tidak sempat memberitahu kalian. Terlebih komunikasinya terhadap Miss Ann dan Miss Merry juga dikunci. Aku rasa ini adalah rencana mereka.


“Menghancurkan menara kita,” jelasku panjang lebar.


Aku kembali mengetik dan membuka akses portal. Saat ini aku perlu menjadi menara. Bizar hanya mengizinkanku. Maka aku meminta mereka semua pergi, Sebagian menghentikan kendaraan yang akan pergi ke seminar. Sebagian lagi pergi ke dalam seminar untuk menyelamatkan orang-orang. Tidak ada waktu untuk memikirkan media massa.


Sejak awal pesan itu memang ditujukan pada Bizar. Satu-satunya orang yang di luar jangkauan kami. Aku tidak percaya jika mereka ingin menghancurkan mental kami semua dengan ini. Dadaku terasa sesak sekarang. Kak Ron ikut pergi, dia harus mengawasi semua orang yang berada di dalam seminar.


Sambil menunggu mereka menjalakan tugas. Aku segera mencari berkas yang dikirimkan oleh Io. Tentang para monster, pasukan Azumi. Io pun memberikanku begitu banyak berkas. Namun, aku tertarik untuk membaca dokumen terbaru.


Monster itu, mereka pasukan Azumi. Ini tidak ada kaitannya dengan rencana Azumi di masa lampau. Aku sudah memastikannya dengan menyuruh robotku bertanya pada gadis itu. Ini semua murni atas kehendak mereka sendiri. Kekuatan gelap yang mereka dapatkan dapat diambil dengan cara lain. Karena menggunakan botol penyucian tidak begitu efektif.


Aku pun menemukan cara lain yang bisa dilakukan oleh semua orang. Hancurkan intisari dari monster-monster itu. Bentuk intisari tiap monster berbeda. Namun, dalam wujud manusia, kita bisa mengetahuinya dengan cepat. Tenanglah, ini bukan berarti kita harus membunuh mereka semua.


Bentuk intisari ada yang berupa tanda api, tanah, udara dan elemen lainnya. Sekilas mereka terlihat seperti memakai tato. Ini salah satu cara yang lebih efektif.


Pesan ini aku tulis, aku tidak tahu apakah besok masih ada matahi yang cerah. Mungkin ini terakhir kalinya. Jadi Io, aku memintamu bekerjasama dengan Nadira dan juga Radja. Mereka orang-orang yang dapat dipercaya.

__ADS_1


Bizar.


 


__ADS_2