
Kata pepatah, jangan menilai sampul dari bukunya. Aku setuju soal itu, apalagi Radja terus mengucapkan pepatah tadi pada tiap orang yang menanyakan gadis mungil tersebut. Sebagian besar mereka berpikir jika gadis itu monster juga, aku pun sempat berpikir begitu sebelum akhirnya bertemu dengan monster yang asli.
Di bandingkan mengingat wajah manusia yang menjadi monster, aku lebih terngiang dengan suasana desa. Jujur, aku tidak sanggup melihat kematian banyak orang yang lebih banyak lagi. Bahkan saat ini tidak diketahui siapa yang membuat semuanya menjadi sepelik ini. Mengingatnya membuat aku ingin mencari udara segar.
Bau amis dari darah masih menempel di hidungku, padahal aku sudah berganti baju semenjak sampai di kerajaan. Radja sedari tadi berbaring di sofa, menunggu hasil pemeriksaan dari tim penelitian. Bizar pasti bekerja ekstra hari ini. Sambil mencari udara segar, aku pun memilih untuk membuka jendela dan melihat pemandangan luar.
“Kita tidak bisa mencegah kematian, kamu lebih kuat lagi, Dira,” ujar Tiara yang entah kapan ada di sampingku.
Aku menoleh padanya, tidak terkejut sedikit pun. Tiara memang cocok sebagai tim penyelidikan dibandingkan denganku. Hawa keberadaan yang begitu tipis dan dia bisa menyamar lebih baik.
“Aku hanya belum terbiasa, Tiara. Melihat darah yang begitu banyak dan mayat yang tergeletak membuat aku ingat masa lalu. Ya, saat orang tuaku dibunuh,” ucapku dengan lirih. Takut-takut jika apa yang aku katakan tadi menyinggung perasaan Nadia, gadis yang membunuh seluruh keluargaku karena hasutan Azumi.
Embusan napas keluar dari mulutku, aku segera berbalik. Rasanya hatiku sudah lebih lega dan semua ingatan semalam pun dikunci begitu saja. Tiara sedang menyesapi teh sambil bersandar pada tembok di samping jendela. Di ruangan ini hanya ada aku, Tiara, Radja dan Afly, tidak bertambah sedikit pun. Sepertinya mereka sedang fokus untuk belajar.
Menjadi anak kelas tiga membuat kami harus benar-benar bisa membagi fokus antara belajar dan menyelidiki keanehan ini. Nyatanya setelah Azumi direhabilitas pun kami tidak bisa tenang-tenang saja dalam menjalani kehidupan. Awalnya memang sulit, tetapi karena terbiasa, kami mulai mudah melakukannya. Seperti sekarang, teman-teman yang memang sangat mendambakan sekolah impian pun belajar dengan sungguh-sungguh.
“Ini sudah pagi dan mereka belum juga keluar untuk beristirahat,” celetuk Afly yang duduk di salah satu sofa. “Robot, bawakan aku minum!”
“Kamu khawatir banget sama Bizar, Afly. Beda banget sama tahun lalu,” balasku iseng.
__ADS_1
Afly memerengut. Dia lau mengambil cokelat yang dihidangkan di atas meja. Beberapa robot ciptaan Bizar pun mendekat, membawakan air minum untuk kami. Ilmuwan itu sudah memprogram robotnya untuk mengingat suara dan wajah kami, juga menyisipkan apa-apa saja yang disukai oleh kami semua. Seperti aku dan Radja, robot itu menyodorkan cokelat panas. Sementara Afly diberikan kopi susu. Sedangkan Tiara hanya diberi tambahan tehnya saja.
“Bukannya kamu harus pulang, Afly? Nenek kamu nanti bingung cari kamu ke mana lho,” ucap Radja yang masih senang berbaring menghadap langit-langit. Sesekali laki-laki itu menguap, entah karena bosan atau lelah.
“Hari ini aku sendirian di rumah. Ibu dan ayah ajak nenek ke Bogor, katanya lihat pernikahan saudara. Ya, aku terlalu muak dengan pesta,” jelas Afly santai. Dia lalu mengambil kopi.
“Ini masih pagi dan kamu udah bertingkah kayak bapak-bapak. Masa minum kopi sih, Afly?” tanyaku agak risih.
“Kamu kayak nenek aku aja, Dira. Udah ah, bawel,” balas Afly.
Aku hanya bisa menggeleng. Afly memang tidak mau kalah kalau urusan berdebat tentang kopi dan apa pun yang dia sukai. Lagi pula, menghadapi laki-laki itu sama saja dengan menghadapi dua orang menyebalkan.
Kak Ron menghampiriku, dia segera mengusap pucuk kepalaku. Kakak satu-satunya yang tersisa meskipun dia bukanlah kakak kandungku. Aku sudah menyayanginya tanpa peduli siapa dia.
“Kamu udah sarapan, Dira? Bertugas dari malam hari pasti menguras tenaga,” ucap Kak Ron padaku dengan lembut.
“Aku belum berselera makan, Kak. Oh ya, apa kalian sudah menemukan sesuatu?” balasku.
“Dua orang yang kalian bawa sudah terinfeksi oleh sesuatu. Kita sebut saja virus walaupun aku tidak begitu yakin. Virus di dalam tubuh mereka ini membuat sel-sel di dalam mereka tergantikan. Gadis kecil itu masih bisa diselamatkan oleh kami dan sekaligus kami mengambil sampelnya.
__ADS_1
“Sementara laki-laki itu bentuk evolusi dari sel yang tergantikan. Aku takut itu belum sepenuhnya. Entah siapa yang melakukan ini, tetapi aku juga menemukan sesuatu yang mengejutkan dan itu dari keduanya,” jelas Bizar lengkap.
“Pasti serpihan kekuatan Azumi,” celetuk Radja.
Kami semua sama-sama membelalak, kecuali tim penelitian. Aku melihat pada Kak Ron dan laki-laki itu pun mengangguk, membenarkan apa yang Radja katakan. Bagaimana mungkin?
“Tapi gimana caranya? Azumi sudah kita kalahkan dulu. Kita sudah memastikan semuanya dengan baik bukan?” celetuk Tiara pada kami.
“Bisa saja itu terjadi sebelum kita melawannya. Semua ini bisa kita tanyakan pada Bara, dia sudah bersama Azumi sejak lama,” jawab Radja.
Aku mengangguk. Memang benar jika Bara dulu adalah tangan kanan Azumi, dia pasti tahu beberapa hal tentang atasannya dulu. Namun, apa laki-laki itu mau membocorkannya? Aku kenal Bara, dia sangat menjaga rahasia dan privasi orang. Entah musuh atau bukan, dia tidak akan membeberkannya begitu saja. Bahkan, Azumi harus menggunakan kekuatan jahatnya dulu agar Bara mau melakukannya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan pada anak kecil itu? Kalau harus menjaganya, kita tidak mungkin. Miss Ann dan Miss Merry juga harus bekerja di sekolah bukan?” tanya Tiara.
“Kami harus memeriksanya secara berkala, virus itu bisa datang kapan saja. Daripada mengarahkan anak kecil itu pada dinas sosial yang justru akan membahayakannya, aku memilih untuk membiarkan dia di sini,” jelas Miss Merry. “Bizar akan membantuku untuk membuat perlindungan khusus dan hanya orang-orang tertetu yang dapat mengunjunginya.”
Aku mengangguk paham, lalu kembali menyesapi cokelat hangat. Meski Azumi sudah dikalahkan, tetap saja kami harus menghadapi sisa-sisa kejahatannya. Ternyata aku ataupun yang lain tidak bisa tenang begitu saja ya.
Suara notifikasi tiba-tiba masuk dari jam kami secara bersamaan. Bizar segera membuka layar transparannya dengan lebih lebar agar dapat dibaca oleh semua orang. Pesan itu berisi rekaman suara entah siapa yang mengirimnya atau mungkin robot-robot pengawas Bizar yang mendapatkannya. Namun, kami semua saling melirik.
__ADS_1
“Monster lagi?!”