
“Karena batang lilin yang mencair, masih bisa menyala selama sumbunya
masih menampakkan diri”
“Nadira, Dia enggak mungkin kembali, kamu pasti salah liat,”
ujar Bizar padaku.
Aku mengembuskan napas. Mencoba untuk tenang, lalu menyeka
sisa-sisa air mata. Sekarang kepalaku jadi lebih berat, sampai mengantuk. Bizar
menyuruhku untuk tidur, dia bahkan sudah meminta salah satu robotnya untuk
mengatarkan diriku ke kamar tamu. Namun aku menolak dan dia tetap memaksa.
Tidak ingin ini berlanjut, aku pun mengiyakannya. Aku tidak begitu takut dengan Bizar, laki-laki
itu bahkan tidak tertarik dengan perempuan mana pun.
Kejadian tadi masih membekas dalam ingatanku. Mungkin memang
benar jika itu hanya ilusi, tetapi terasa sangat nyata. Aku melangkah, tetapi
beberapa kali bertemu cermin, aku segera menunduk. Inikah rasanya takut kepada
diri sendiri? Tenanglah, ini hanya
sebentar, Dira. Aku mencoba menguatkan diri sendiri sambil menunduk ke bawah.
Kenapa pula rumah ini harus memiliki banyak figura?
Sesampainya di kamar, aku beralih untuk tidur di atas kasur.
Tidak mau menoleh ke samping. Segera saja aku menutup mata. Namun, lagi-lagi
ada suara yang memanggil namaku. Degup jantungku semakin kencang. Tanpa sadar
jiwaku ini terlalu lelah untuk melawan. Tangisan tadi sudah banyak mengeluarkan
air mata demi menghapus Hana dari pikiranku.
“Nadira!”
Aku tetap tidak menoleh. Cukup menutup mata, berdoa agar
segera terlelap. Itu hanya ilusiku saja, tidak ada yang harus aku takutkan. Aku
tidak tahu kenapa Hana datang kepadaku secara tiba-tiba. Jauh di dalam hatiku,
aku sangat merindukan sosok itu. Seorang ratu dari dunia Twins yang
memberikanku kesempatan untuk hidup dengan sebuah kesepakatan.
Dulu, aku hanyalah seorang gadis berumur tiga belas tahun
yang tengah menderita oleh suatu penyakit. Tidak ada yang bisa menyembuhkanku
sampai Hana datang dan memasuki tubuh. Dia sering berbicara dalam pikiranku dan
memperdebatkan hal yang tidak penting. Dengan aku berjanji untuk menjaga
perdamaian bumi, dia menyembuhkan penyakitku.
Tiba-tiba suara pintu diketuk membuat aku terbangun, walau
memang dari sebelumnya aku tidak tertidur. Suara yang memanggilku pun turut
menghilang. Jadi aku segera beranjak mendekati pintu, lalu membukanya. Aku
bergeming. Tidak percaya karena Radja tengah berdiri di hadapanku dengan
__ADS_1
keringat yang mengucur. Bisa aku pastikan, dia baru saja berlari.
Seakan tidak cukup membuatku terkejut dengan hal itu. Dia
segera mempertemukan kening kami. Membuat wajahku agak memerah, entah bagaimana
bisa laki-laki yang sudah memiliki pacar ini melakukannya. Ini memang tidak
benar, tetapi aku menikmati hal ini. Begitu pun dengan hati yang menjadi nyaman
karena perlakuan Radja padaku.
“Syukurlah kamu enggak panas, berarti enggak demam. Dasar
Bizar itu, kasih informasi setengah-setengah,” gerutu Radja. Aku segera tertawa
dan menutupi mulut dengan tangan kananku. “Kamu baik-baik aja, Dira? Pipi kamu
merah.”
Aku segera mendorong tubuh tegapnya. Agak sulit karena perbedaan
tenaga. Jadi aku pun membalas ucapannya. “Aku baik-baik saja. Kamu ngapain ke
sini? Katanya mau kencan sama Sarah.”
“Oh ... Sarah ... dia tiba-tiba ada kerjaan,” ucap Radja
seraya menjauhkan tubuhnya dariku.
Aku masih bisa merasakan sensasi ketika poni agak panjang
milik Radja menyentuh kening. Memang hanya sebentar dan itu sangat membekas di
dalam hati dan ingatan. Napasnya yang sangat dekat dengan kulitku. Hei!
Sebenarnya apa yang aku pikirkan?
jelas, laki-laki di hadapanku ini sudah punya pacar. Ya, Sarah Aprianti, gadis
yang terkenal kesibukannya. Gadis itu merupakan artis yang sedang naik daun.
Aku tahu maksud Radja, tentang gadisnya yang membatalkan kencan. Ini bukan yang
pertama kalinya.
Meski aku menyibukkan diri dengan mengambil misi untuk
menghentikan kekacauan di berbagai tempat, aku tetap dipasangkan dengan Radja.
Bizar bilang, orang terdekat dan paling bisa ditunjuk sebagai kelompok hanya
dia. Memang tidak ada masalah jika kami berada di SMP, tidak ada masalah apa
pun. Meski Bizar sudah memperingatkan agar aku tetap profesional dalam
menjalankan misi. Mana tahu jika nantinya aku akan pergi misi dengan orang yang
tidak disukai.
Radja membawaku duduk di atas tempat duduk. Dia pun berbaring,
sangat lelah. Tidak ada yang berubah dari semenjak aku mengenal laki-laki
menyebalkan satu ini. Bahkan perlakuannya padaku masih tetap sama. Baik dan
bersahabat.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Cerita padaku. Tunggu ... aku
izin berbaring, terlalu lelah,” ucapnya dengan nada yang dipaksakan tegas.
__ADS_1
Jelas-jelas dia menuntut agar aku menguraikan apa yang sudah terjadi.
“Aku hanya berhalusinasi soal Hana yang kembali. Jelas-jelas
dia sudah tiada dan aku tidak bisa mengembalikannya lagi,” jelasku pelan. Dengan
suasana yang sepi, suaraku pun terpantul jelas dan pasti bisa didengarkan oleh
laki-laki tersebut.
“Hana?” Aku merasakan Radja segera membenarkan posisi
duduknya. Dia lalu melihat ke arahku dengan seksama. “Sepertinya kamu terlalu
rindu padanya, Nadira. Kita sudah lama tidak menghadapi sebuah misi yang
berkaitan dengannya lagi.”
Radja mungkin benar, tetapi logikaku menolaknya. “Bagaimana
jika Hana datang untuk mengambil kekuatanku lagi, Ja? Enggak ... gimana kalau
dia datang untuk mengambil alih tubuhku karena dia tahu aku enggak kompeten
dalam menggunakan kekuatannya. Dulu aku menjadi wadah kekuatan miliknya,
sekarang dia muncul untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.”
“Hana udah mati dan dia menyerahkan bibit kekuatan itu
padamu,” ucap Radja, lalu mengembuskan napas, “itu artinya dia percaya padamu
Dira. Hanya kamu yang bisa melanjutkan misinya.”
Radja mengelus puncak rambutku. Dia tersenyum, begitu manis.
Perlakuannya justru membuat aku semakin sulit untuk melupakan perasaan.
Buru-buru aku menarik selimut untuk menutupi seluruh badan, lalu mendorongnya.
“Ja, aku mau tidur! Kamu sama Bizar aja ya!” ujarku cepat.
“Iya deh.”
Setelah mengucapkan itu, aku bisa mendengarkan suara langkah
kaki yang semakin lama semakin menjauh. Syukurlah. Aku bisa bernapas dengan
tenang. Radja terlalu sulit untuk aku gapai, menjadi teman dekat saja sudah
cukup bagus. Seharusnya hati ini tidak menyalahartikan perlakuan laki-laki itu
terhadapku. Mungkin sama bagi semua perempuan yang pernah dekat dengannya.
Ting!
Suara notifikasi dari ponsel membuat aku sadar. Segera saja
aku merogoh saku dan mengambil benda canggih tersebut. Ada pesan tiga pesan
masuk. Di antaranya dari Kak Ron—kakakku, Demina—sahabatku dan nomor yang tidak
dikenal. Dua pesan di awal itu aku buka dan membalasnya. Paling kakak bertanya kapan aku pulang, sementara Demina
mengingatkan jadwal tentang kerja sambilan di kafe milik keluarganya. Akan
tetapi, aku ragu untuk menjawab pesan dari nomor tidak terkenal. Sampai aku
tidak sengaja membuka pesan tersebut.
Dari : +62882-xxxx-xxxx
__ADS_1
Apa kamu tidak penasaran dengan sosok yang muncul di dalam cermin?