Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
Part Ekstra : Satria Bumi


__ADS_3

“Karena batang lilin yang mencair, masih bisa menyala selama sumbunya


masih menampakkan diri”


“Nadira, Dia enggak mungkin kembali, kamu pasti salah liat,”


ujar Bizar padaku.


Aku mengembuskan napas. Mencoba untuk tenang, lalu menyeka


sisa-sisa air mata. Sekarang kepalaku jadi lebih berat, sampai mengantuk. Bizar


menyuruhku untuk tidur, dia bahkan sudah meminta salah satu robotnya untuk


mengatarkan diriku ke kamar tamu. Namun aku menolak dan dia tetap memaksa.


Tidak ingin ini berlanjut, aku pun mengiyakannya.  Aku tidak begitu takut dengan Bizar, laki-laki


itu bahkan tidak tertarik dengan perempuan mana pun.


Kejadian tadi masih membekas dalam ingatanku. Mungkin memang


benar jika itu hanya ilusi, tetapi terasa sangat nyata. Aku melangkah, tetapi


beberapa kali bertemu cermin, aku segera menunduk. Inikah rasanya takut kepada


diri sendiri? Tenanglah, ini hanya


sebentar, Dira. Aku mencoba menguatkan diri sendiri sambil menunduk ke bawah.


Kenapa pula rumah ini harus memiliki banyak figura?


Sesampainya di kamar, aku beralih untuk tidur di atas kasur.


Tidak mau menoleh ke samping. Segera saja aku menutup mata. Namun, lagi-lagi


ada suara yang memanggil namaku. Degup jantungku semakin kencang. Tanpa sadar


jiwaku ini terlalu lelah untuk melawan. Tangisan tadi sudah banyak mengeluarkan


air mata demi menghapus Hana dari pikiranku.


“Nadira!”


Aku tetap tidak menoleh. Cukup menutup mata, berdoa agar


segera terlelap. Itu hanya ilusiku saja, tidak ada yang harus aku takutkan. Aku


tidak tahu kenapa Hana datang kepadaku secara tiba-tiba. Jauh di dalam hatiku,


aku sangat merindukan sosok itu. Seorang ratu dari dunia Twins yang


memberikanku kesempatan untuk hidup dengan sebuah kesepakatan.


Dulu, aku hanyalah seorang gadis berumur tiga belas tahun


yang tengah menderita oleh suatu penyakit. Tidak ada yang bisa menyembuhkanku


sampai Hana datang dan memasuki tubuh. Dia sering berbicara dalam pikiranku dan


memperdebatkan hal yang tidak penting. Dengan aku berjanji untuk menjaga


perdamaian bumi, dia menyembuhkan penyakitku.


Tiba-tiba suara pintu diketuk membuat aku terbangun, walau


memang dari sebelumnya aku tidak tertidur. Suara yang memanggilku pun turut


menghilang. Jadi aku segera beranjak mendekati pintu, lalu membukanya. Aku


bergeming. Tidak percaya karena Radja tengah berdiri di hadapanku dengan

__ADS_1


keringat yang mengucur. Bisa aku pastikan, dia baru saja berlari.


Seakan tidak cukup membuatku terkejut dengan hal itu. Dia


segera mempertemukan kening kami. Membuat wajahku agak memerah, entah bagaimana


bisa laki-laki yang sudah memiliki pacar ini melakukannya. Ini memang tidak


benar, tetapi aku menikmati hal ini. Begitu pun dengan hati yang menjadi nyaman


karena perlakuan Radja padaku.


“Syukurlah kamu enggak panas, berarti enggak demam. Dasar


Bizar itu, kasih informasi setengah-setengah,” gerutu Radja. Aku segera tertawa


dan menutupi mulut dengan tangan kananku. “Kamu baik-baik aja, Dira? Pipi kamu


merah.”


Aku segera mendorong tubuh tegapnya. Agak sulit karena perbedaan


tenaga. Jadi aku pun membalas ucapannya. “Aku baik-baik saja. Kamu ngapain ke


sini? Katanya mau kencan sama Sarah.”


“Oh ... Sarah ... dia tiba-tiba ada kerjaan,” ucap Radja


seraya menjauhkan tubuhnya dariku.


Aku masih bisa merasakan sensasi ketika poni agak panjang


milik Radja menyentuh kening. Memang hanya sebentar dan itu sangat membekas di


dalam hati dan ingatan. Napasnya yang sangat dekat dengan kulitku. Hei!


Sebenarnya apa yang aku pikirkan?


jelas, laki-laki di hadapanku ini sudah punya pacar. Ya, Sarah Aprianti, gadis


yang terkenal kesibukannya. Gadis itu merupakan artis yang sedang naik daun.


Aku tahu maksud Radja, tentang gadisnya yang membatalkan kencan. Ini bukan yang


pertama kalinya.


Meski aku menyibukkan diri dengan mengambil misi untuk


menghentikan kekacauan di berbagai tempat, aku tetap dipasangkan dengan Radja.


Bizar bilang, orang terdekat dan paling bisa ditunjuk sebagai kelompok hanya


dia. Memang tidak ada masalah jika kami berada di SMP, tidak ada masalah apa


pun. Meski Bizar sudah memperingatkan agar aku tetap profesional dalam


menjalankan misi. Mana tahu jika nantinya aku akan pergi misi dengan orang yang


tidak disukai.


Radja membawaku duduk di atas tempat duduk. Dia pun berbaring,


sangat lelah. Tidak ada yang berubah dari semenjak aku mengenal laki-laki


menyebalkan satu ini. Bahkan perlakuannya padaku masih tetap sama. Baik dan


bersahabat.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Cerita padaku. Tunggu ... aku


izin berbaring, terlalu lelah,” ucapnya dengan nada yang dipaksakan tegas.

__ADS_1


Jelas-jelas dia menuntut agar aku menguraikan apa yang sudah terjadi.


“Aku hanya berhalusinasi soal Hana yang kembali. Jelas-jelas


dia sudah tiada dan aku tidak bisa mengembalikannya lagi,” jelasku pelan. Dengan


suasana yang sepi, suaraku pun terpantul jelas dan pasti bisa didengarkan oleh


laki-laki tersebut.


“Hana?” Aku merasakan Radja segera membenarkan posisi


duduknya. Dia lalu melihat ke arahku dengan seksama. “Sepertinya kamu terlalu


rindu padanya, Nadira. Kita sudah lama tidak menghadapi sebuah misi yang


berkaitan dengannya lagi.”


Radja mungkin benar, tetapi logikaku menolaknya. “Bagaimana


jika Hana datang untuk mengambil kekuatanku lagi, Ja? Enggak ... gimana kalau


dia datang untuk mengambil alih tubuhku karena dia tahu aku enggak kompeten


dalam menggunakan kekuatannya. Dulu aku menjadi wadah kekuatan miliknya,


sekarang dia muncul untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.”


“Hana udah mati dan dia menyerahkan bibit kekuatan itu


padamu,” ucap Radja, lalu mengembuskan napas, “itu artinya dia percaya padamu


Dira. Hanya kamu yang bisa melanjutkan misinya.”


Radja mengelus puncak rambutku. Dia tersenyum, begitu manis.


Perlakuannya justru membuat aku semakin sulit untuk melupakan perasaan.


Buru-buru aku menarik selimut untuk menutupi seluruh badan, lalu mendorongnya.


“Ja, aku mau tidur! Kamu sama Bizar aja ya!” ujarku cepat.


“Iya deh.”


Setelah mengucapkan itu, aku bisa mendengarkan suara langkah


kaki yang semakin lama semakin menjauh. Syukurlah. Aku bisa bernapas dengan


tenang. Radja terlalu sulit untuk aku gapai, menjadi teman dekat saja sudah


cukup bagus. Seharusnya hati ini tidak menyalahartikan perlakuan laki-laki itu


terhadapku. Mungkin sama bagi semua perempuan yang pernah dekat dengannya.


Ting!


Suara notifikasi dari ponsel membuat aku sadar. Segera saja


aku merogoh saku dan mengambil benda canggih tersebut. Ada pesan tiga pesan


masuk. Di antaranya dari Kak Ron—kakakku, Demina—sahabatku dan nomor yang tidak


dikenal. Dua pesan di awal itu aku buka dan  membalasnya. Paling kakak bertanya kapan aku pulang, sementara Demina


mengingatkan jadwal tentang kerja sambilan di kafe milik keluarganya. Akan


tetapi, aku ragu untuk menjawab pesan dari nomor tidak terkenal. Sampai aku


tidak sengaja membuka pesan tersebut.


Dari : +62882-xxxx-xxxx

__ADS_1


Apa kamu tidak penasaran dengan sosok yang muncul di dalam cermin?


__ADS_2