
Bizar terlihat kelelahan. Dia bahkan tidak mengucapkan apa pun dan hanya melihat ke arahku. Namun, melihat wajah itu ... entah kenapa aku merasakan firasat buruk. Hatiku terasa sangat sakit dan mataku begitu perih.
“Maaf, Dira, sebaiknya kamu mencari tempat berlindung sekarang. Tidak perlu masuk ke tempat mereka. Kita sudah kalah,” ucap Bizar pelan.
Hatiku mencelos bahkan seketika kehilangan tenaga begitu saja.
“Tunggu Bizar, aku tidak paham dengan apa yang kamu maksud! Kenapa aku harus mencari tempat berlindung? Katakan padaku bagaimana keadaan Radja, Afly, Demina dan teman-teman lainnya?” ucapku menggebu-gebu. Aku tidak masalah jika kami harus kalah, tetapi aku tidak sanggup jika harus mendengar ada yang gugur. Sudah cukup, jangan lagi. Kumohon.
“Faizal menggunakan kekuatannya untuk memasukkan Demina, Irish dan Bara ke alam mimpi. Sekarang mereka terjebak di dalam sana dan aku sudah mengamankan mereka ke Twins. Sementara Candra dan Radja hampir kehabisan tenaga, begitu juga kamu. Sia-sia saja jika kamu ingin pergi ke sana. Mungkin mereka sudah ... kamu tahu sendiri Tiara sangat ahli dalam menikam musuhnya dari belakang.
“Teman-teman lainnya tidak bisa mendekat. Mereka dihadang oleh berbagai monster, kini sudah ada yang tumbang dan sedang diobati oleh Kak Ron. Vaksin yang kami buat masih membutuhkan seharian penuh untuk bereaksi. Andai kita memiliki bala bantuan lain,” jelas Bizar. Aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku.
Benar ucapan Bizar. Andai kami bisa mendapatkan banyak sekali bala bantuan. Mungkin kami masih bisa menahan pertempuran ini. Aku begitu berharap jika keajaiban masih berpihak kepada kami. Sampai aku merasa ada tepukan di antara kedua pundakku. Tentu itu membuatku menengadah dan melihat kedua laki-laki tersebut.
“Ini bukan waktunya kamu bersedih, Nadira. Aku bisa meminta anggota Defenders untuk membantu kalian,” ucap Rico.
“Benar, aku pun bisa meminta bantuan pada teman-temanku. Tidak perlu sungkan, lagi pula tujuan kita ini sama. Melindungi bumi,” timpal Alwi. Aku segera mengusap air mataku. Mereka benar, masih ada kesempatan dan bukan waktunya menangisi hal yang tidak perlu.
Kami sama-sama kesatria pelindung bumi, sudah seharusnya kami bekerja sama untuk menghentikan kekacauan ini. Masih ada peluang untuk menang. Bizar yang mendengar hal tersebut membuka portal. Dia hanya mampir sebentar untuk menyerahkan sebuah earphone untuk berkomunikasi pada Alwi dan Rico. Meski rasanya aku jarang mendengarkan ucapan terima kasih dari mulutnya, tetapi Bizar tanpa malu atau ragu segera mengucapkan kata itu.
__ADS_1
Jika tidak ada mereka, kami memang sudah kalah telak. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi. Musuh sekarang bukanlah yang kemarin sore. Mereka memiliki kemampuan hebat dari serpihan kekuatan Azumi yang tersebar. Tidak ada yang bisa menduga, bahkan Miss Ann yang terlihat baik pun justru berada di pihak lawan.
Aku ingat, saat aku berkhianat pada teman-teman dan menjadi anggota Azumi ... dia bilang dirinya punya mata-mata dari dalam. Aku tidak mencurigai siapa pun, justru aneh. Dari mana Azumi memiliki seorang mata-mata? Namun, sekarang semuanya sudah terungkap.
“Alwi, Rico, aku mengandalkan kalian. Aku akan mencoba mencari cara agar vaksin yang kami buat bisa dipakai lebih cepat. Benda ini akan membantu kalian terhubung denganku.”
Bizar sungguh terlihat kacau. Dia memang tidak pernah mengeluh jika dirinya terpaksa harus menghubungi kami semua. Itu memang nilai lebih yang dia miliki. Bahkan, aku tidak yakin jika manusia sejenis Bizar masih ada lagi. Ilmuwan muda ini memang sangat langka.
Setelah beranjak, Bizar menitipkan pesan padaku untuk menyelamatkan teman-teman yang lainnya. Tentu saja aku setuju. Namun, aku tidak tahu siapa yang harus aku selamatkan. Bizar segera mengirimkan prosedurnya dengan cepat. Entah karena pikiranku yang terlalu transparan atau dia sudah memprediksi hal seperti ini. Tanpa berlama-lama tiga portal pun terbuka. Khusus untukku, Rico dan Alwi.
Aku ditempatkan ke lokasi yang tidak jauh dari tempat Radja dan Candra. Memang benar begitu banyak monster yang mendekat. Di satu sisi, Tiara turut menghentikan pergerakan Candra dan Radja. Aku tidak habis pikir dengan gadis itu. Selain susah ditebak, dia memang ahli dalam hal membunuh dan menyelidiki. Tidak mau membuat masalah lebih lama, aku segera berhadapan dengan Tiara. Aku gunakan caladbolg sebagai lawan pedang tipis miliknya.
Gadis itu sangat cepat. Sulit bagiku untuk menandingkannya, jadi aku hanya bisa bertahan. Sesekali menggunakan kekuatan es untuk membuat penghalang. Memakai tanaman rambat untuk menghentikan pergerakannya. Namun, itu tidak bertahan lama. Meski tenagaku sudah hampir habis, aku tidak boleh menyerah sekarang.
“Tiara! Sadarlah! Orang yang kamu serang ini adalah temanmu,” teriakku tetapi gadis itu tidak menggubrisnya. Dia justru kembali menebas pedangnya.
Aku buru-buru melompat ke belakang, tetapi kekuatan tebasannya tetap mengenai lenganku. Kini darah segar pun mulai keluar dari luka tebasannya. Perih dan pedih. Beginilah rasanya serangan teman sendiri. Aku sudah sangat lemas. Namun, Radja dan Candra pun sudah tidak bisa melawan.
Dari kejauhan, aku tiba-tiba melihat Ratih. Dia sangat tenang. Aku tidak tahu apa yang sedang gadis itu lakukan di sana. Apakah dia yang mengendalikan para monster ini? Jelas-jelas dia bukan manusia biasa. Aku kembali menghindar dari serangan Tiara, lalu melompat dan tanpa sengaja menabrak tubuh Radja.
__ADS_1
“Kamu enggak apa? Tiara terlalu sulit dikalahkan, apa lagi dia memiliki kekuatan gelap. Kita sudah mencoba mencari siapa pengendalinya, tetapi tidak ada. Kemungkinan di tempat satu lagi,” ujar Radja.
Tiara lagi-lagi menyerangku. Sebelum itu berlanjut, Candara segera menghadang. Dia gunakan seluruh kekuatannya untuk membuat perisai transparan. Itu bukan kekuatan sembarangan, Candra pasti menghabiskan begitu banyak tenaganya. Ini tidak akan bertahan lama.
“Candra, kamu jangan pakai kekuatan sebesar itu. Bagaimana jika kamu jadi terluka?” tanyaku dengan perasaan yang berdebar. Aku sungguh takut.
“Jangan pedulikan aku. Kalian berdua adalah harapan semuanya. Carilah penggunanya dan kita akan selamat!” ujar Candra.
Lagi. Aku kembali melihat ke arah Ratih. Entah kenapa firasatku berkata jika dialah orang yang sedang kami cari saat ini. Meski rasanya tidak mungkin, tetapi dia selalu berkelakuan aneh. Aku pun mengembuskan napas, lalu melihat ke arah Radja. “Sepertinya aku tahu siapa dalang di balik ini semua. Ratih.”
“Teman sekamarmu? Apa kamu yakin, Nadira?” tanya Radja.
Aku mencoba untuk menutup mata. Tiba-tiba saja penglihatan sebelumnya pun kembali muncul. Kali ini aku tidak lagi melihat sosok bayangan hitam. Sejak awal Ratih sudah sampai dan dia mengawasiku. Dia selalu menulis di dalam jurnal. Lalu, acara pun berputar ketika aku naik ke bus. Ratih sibuk dengan bukunya sendiri. Entah apa yang dia tulis, tetapi aku yakin setelahnya dia pun merapalkan mantra, lalu hilang begitu saja.
Saat aku kembali dari latihan bersama Radja kemarin, Ratih baru saja selesai menulis. Dia Melihat ke arahku, mengucapkan jika Irish dan Demina akan mengajakku makan di luar. Seteahnya dia pun melihat kembali ke isi buku.
“Besok, pertempuran yang sesungguhnya. Silakan nikmati malam terakhir kalian.”
__ADS_1