
Aroma amis begitu kental dan dapat semua hidu dengan baik. Awalnya aku mual, sedikit darah tidak masalah. Namun, aku seakan sedang menginjak kolam darah. Berbeda dengan teman-teman lainnya, mereka justru tidak terpengaruh. Ralat, hanya laki-laki saja yang bertingkah tidak peduli pada genangan darah di bawah mereka.
Aku tidak habis pikir kenapa kami harus menyaksikan ini. Bertanya-tanya siapa orang yang melakukan pembunuhan massal ini dan apa tujuannya. Namun, tidak satupun petunjuk kapi temukan. Dulu, jika ada kasus, kami dengan mudahnya menunjuk Azumi sebagai pelaku. Ya, itu dulu.
Ini sudah lewat beberapa bulan dari kejadian itu dan kami sudah naik ke kelas tiga SMP. Azumi tidak mungkin menjadi dalang dalam kejadian ini, dia sedang berada di masa rehabilitas. Penjagaan untuk gadis itu sangat ketat dan tiap menit pergerakaannya akan dikirimkan kepada Bizar. Tidak ada hal aneh yang dilakukan Azumi.
“Mereka punya luka, bermacam-macam dan berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Paling banyak warga yang sudah mati memiliki luka tusuk di bagian jantung,” jelas Tiara pada kami semua.
Gadis itu kembali mengenakan masker hitam untuk menutupi identitasnya. Meski Bizar sudah membuat sistem, Tiara tetap memakai masker itu sebagai ciri khasnya. Aku mengira dia terus memakai masker saat sedang bertugas karena sering diarahkan dalam kasus penyelidikan lapangan. Ya, semenjak mereka mulai mengingat dan bisa kembali beraktivitas, Miss Merry membagi mereka menjadi beberapa divisi.
Aku tidak begitu berguna dalam penyerangan dan pertahanan menurut Miss Merry. Memang menohok, tetapi aku pun sadar diri soal itu. Jadi, Miss Merry memasukkanku ke divisi penyelidikan bersama Tiara dan Faizal. Ya divisi penyelidikan hanya segitu, tetapi bagian lapangan selalu diserahkan kepada Tiara.
Di dalam divisi penelitian hanya diisi oleh Bizar saja. Sementara yang lain masuk ke Divisi Pertahanan dan Penyerangan. Semenjak itu pula kami hanya difokuskan pada pelajaran masing-masing. Namun, Miss Merry terkadang memintaku ikut turun lapangan seperti saat ini.
Di mana kami ditugaskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada desa terpencil ini. Media tidak begitu mempublikasikan karena tempat ini memang terlalu jauh dari kota. Namun, kami terlambat datang dan sudah disuguhi mayat di mana pun.
Radja, Candra dan Bara mendampingi kami, jaga-jaga jika musuh berada di area. Aku kembali melihat ke sekitar. Hampir semua rumah tidak bisa dikatakan layak. Bangunan itu sudah hancur, atapnya hilang dan aku tidak yakin jika manusia biasa yang melakukannya.
Kembali ke penyelidikan. Luka yang berada di tiap warga rata-rata adalah berupa tusukan. Dibanding benda tajam seperti pisau, itu lebih pantas dibilang cakar. Apa yang terjadi?
__ADS_1
“Kayaknya kita gak bakal dapet apa-apa dari mayat-mayat ini. Can, kamu udah hubugi pemerintah? Mereka harus dimakamkan dengan layak,” titah Radja. Laki-laki itu lalu melihat ke arahku. “Kita cari orang yang masih bisa diselamatkan dan kita buat jadi dua tim. Aku dan Nadira, Tiara dan Bara.”
“Memangnya masih ada? Jika pun ada, pasti radar kita akan menunjukkan tanda kehidupan,” tanya Bara.
Aku tidak mau menyangkal apa yang Bara katakan, tetapi Radja tengah berharap munculnya cahaya sekecil apa pun itu. Jujur, aku pun merasa begitu. Siapa tahu mereka memang menemukan orang yang masih selamat walaupun lukanya parah. Setidaknya Miss Merry dan Kak Ron bisa mengobatinya.
“Coba saja dulu. Kita enggak bisa pulang dengan tangan kosong, kecuali kalian mau menerima hukuman dari Miss Merry,” celetuk Radja. Laki-laki itu segera berjalan pergi mendahului yang lain.
Dasar! Sampai kapan pun Radja memang menyebalkan! Dia yang mengajak tetapi aku ditinggalkan sendiri. Aku tidak mau bedebat lebih lanjut, maka aku pun segera menyusulnya.
Kami mulai menyusuri satu per satu rumah. Karena sebagian besar bangunannya sudah rusak dan sulit untuk mengangkat bongkahannya, Radja menggunakan penglihatan naganya. Aku tidak keberatan dan tidak takut dengan mata laki-laki itu yang berubah menyerupai mata naga. Mereka memiliki tugas penting. Jika ada orang yang dapat diselamatkan, kenapa tidak?
Selagi Radja fokus mencari seseorang di dalam rumah, aku memilih untuk mencari tahu lewat mayat yang tergeletak. Tanpa ragu aku keluarkan air dari tangan. Kuarahkan kekuatanku pada semua mayat yang terdekat, lalu mencoba mendengarkan detak jantung mereka semua. Tidak ada yang berdetak.
“NADIRA!”
Aku agak menjauhkan telinga dari tanganku. Bisa-bsanya ilmuwan gila satu itu langsung berteriak padaku, entah apa yang merasukinya. Bizar jarang panik bahkan berteriak pada seseorang seperti ini.
“Aku di sini, Bizar,” balasku agar dia tidak cemas dan langsung melacak keberadaan kami semua.
__ADS_1
“Kalian semua harus hati-hati! Aku baru bisa melacak dan menemukan siapa yang udah bikin onar di desa itu, kalian tidak akan percaya ... tapi, di sana ada satu orang yang masih hidup. Tolong jangan berjauhan!” ucap Bizar singkat namun begitu dipenuhi dengan penjelasan yang membuatnya malas berpikir. “Jangan lupa beritahu yang lain. Mereka terus mengabaikan pesan masuk dariku.”
Aku mengangguk dan percakapan pun diputuskan sepihak oleh Bizar. Sepertinya sudah waktunya aku kembali pada Radja dan menjelaskan keadaan dari orang kepercayaan mereka. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Radja terbang menggunakan sayap hitamnya. Sangat jelas karena hari sedang dan warna itu membuat orang menyebalkan itu jadi pusat perhatian. Namun, jika aku menyipitkan mata ... aku bisa melihat dia membawa seorang gadis mungil.
Sayangnya aku tidak boleh percaya begitu saja, terlebih Bizar sudah memberikan mereka peringatan. Entah gadis itu lawan atau kawan. Aku tidak bisa membuat yang lain dalam ancamanan. Sebagai jaga-jaga, aku sudah menggunakan kekuatan tanaman untuk memanggil pedang.
“Ja, Bizar baru memperingati kita lho. Katanya di sini masih ada yang hidup dan kemungkinan itu musuh kita,” ucapku.
“Bagus dong, Dira,” balas Radja dengan senyumnya yang menyebalkan.
Aku tidak bisa habis pikir dengan apa yang baru saja kudengar dari mulut Radja. Dia memang menyebalkan, tetapi ini masalah yang cukup serius. Bukankah seharusnya laki-laki paling mengesalkan ini lebih berhati-hati.
Setelah dia melihat aku yang menyilangkan tangan, Radja akhinya menurunkan gadis mungil itu. Aku kira dia akan melepaskannya, ternyata tidak. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah cahaya biru di atas tubuh gadis tersebut. Seolah sedang mencari tahu keadaannya. Aku memang memperingati, tetapi sepertinya pemikiranku pun salah. Mana mungkin seorang gadis mungil menghancurkan satu desa?
“Nadira aku punya permintaan, kamu sedang memegang pedangmu, kan?” tanya Radja yang masih fokus dengan kekuatannya sendiri.
“Apa, Ja?” balasku sambil melihat pedang yang masih diikat oleh tanaman.
__ADS_1
“Aku butuh beberapa menit lagi untuk memastikan keadaaan gadis ini, jadi tolong tahan monster di belakangmu,” jelas Radja.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. “Ya?”