Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 96. Penjaga Jurnal


__ADS_3

Monster itu menggunakan tangannya yang seperti tubuh kadal sebagai pelindung. Itu membuat api milik Radja melukai tangannya. Warna hijau dari kulitnya kini bercampur dengan warna hitam. Gosong. Monster tersebut langsung membuka mulut dan mengeluarkan suara aneh. Hal itu sukses membuat kami menutup telinga dan tidak bisa bergerak.


Tidak lama monster itu kembali menutup mulut dan berjalan ke arahku. Mungkin karena kau berada di daratan jadi monster itu akan menghabisi yang terdekat. Sayangnya tubuhku tidak bisa bergerak. Apa ini efek samping dari suara milik monster? Sial, aku harus melakukan sesuatu.


Di saat monster itu mengangkat tangannya. Aku segera memaksakan diri untuk menggerakkan tangan. Meski tubuhku lemas, tetapi aku tetap berusaha untuk bertahan dengannya. Sial, kepalaku pusing sekali. Monster itu belum kalah. Dia masih bergerak bahkan mungkin dia tidak merasakan apa-apa dari serangan pedangku. Suara tadi benar-benar menguras tenaga dan membuat tubuhku tegang secara bersamaan.


————————————-


Awalnya aku mengira jika perjalanan menuju akhir cerita pada jurnal ini akan begitu sulit, tetapi rata-rata penjaga halaman yang kami lawan adalah monster serupa. Kami bahkan tidak perlu memikirkan cara untuk membunuhnya. Serangan mereka selalu sama. Menggunakan suara untuk mengagetkan lalu menyerangku—yang ada di daratan. Selalu begitu.


Bahkan beberapa monster Radja kalahkan dengan mata tertutup. Aku sudah tidak habis pikir dengan monster-monster tersebut. Mungkin seharusnya penjaga tiap halaman di beri monster berbeda. Setidaknya itu membuat kami sedikit bersemangat. Harus aku akui melawan monster serupa itu sama saja seperti mengerjakan soal matematika. Cukup menyebalkan dan membosankan di saat bersamaan.


Kami bisa mengetahui jika ruangan setengah-setengah dengan bentuk yang sangat tidak jelas ini adalah halaman terakhir. Namun, aku tidak tahu bagaimana mengacaukannya. Ini kisah yang seharusnya terjadi. Mereka menang, Radja, Tiara dan Afly mati. Tersisa aku yang siap diambil jiwa dan kekuatannya. Lalu, akhir yang Ratih tuliskan masih belum selesai. Di depan sana ada seseorang tetapi tertutupi oleh warna kelabu. Seolah itulah akhir yang belum dia tuliskan. Apakah jiwaku ini akan dipakai oleh orang lain?


Aku dan Radja semakin mendekat, meneliti tiap ruang pada halaman terakhir. Dunia yang ada pada jurnal sangat misterius. Agak menakutkan karena targetnya aku, tetapi lebih mengerikan lagi jika Radja yang mati. Sesuai dengan apa yang aku lihat di dalam mimpi, tetapi ada tambahan Tiara dan Afly. Aku mencoba tenang. Ini tidak akan terjadi, Radja bahkan sedang berkacak pinggang dan melihat dirinya sendiri di atas lantai.


“Aneh sekali melihat mayat sendiri. Dibandingkan itu, aku enggak nyangka kalau aku ganteng banget ya? Padahal di halaman terakhir aku tuh dibunuh,” gumam Radja.

__ADS_1


Aku mendengus, agak menahan tawa. Ada juga yang melihat mayatnya sendiri langsung bicara begitu? Bagaimana pun Radja memang laki-laki yang cukup menyebalkan. Jika dia tidak menyebalkan, maka dia kekurangan obat. Aku lalu mendekati orang yang masih dalam bentuk sketsa kelabu. Rasa penasaran ini sudah menjulang tinggi.


Meski aku merabanya, dia tidak terasa seperti manusia. Justru tekstur dan aromanya seperti kertas. Ini sama saja seperti aku memegang gambar pada kertas HVS. Tipis sekali. “Radja, menurut kamu siapa dia?”


Radja menoleh ke arahku, lalu mengalihkan pandangannya pada gadis yang aku tuju. “Mungkin itu Miss Ann? Atau mungkin Azumi. Bisa saja setelah kita dibunuh, peri satu itu membawa Azumi keluar dari tempat rehabilitasi.”


Walau rasanya ingin membantah, tetapi tidak ada penjelasan lain yang lebih tepat dibandingkan itu. Jadi aku pun bergegas meninggalkannya dan mencari kunci terakhir—kunci yang juga dapat menghancurkan jurnal ini. Sejak tadi tidak ada monster yang muncul, aku jadi curiga. Jika penjaga di halaman terakhir bukanlah monster, lalu apa? Pertanyaanku juga tidak akan terjawab karena tempat ini tidak sempurna.


Aku terpikirkan untuk menggunakan kekuatan hope sekarang. Namun, aku bingung harus melakukannya di mana dan pada media apa. Di antara semua ilustrasi ini pasti ada kuncinya. Terlebih aku tidak tahu bagaimana cara mengaktifkan hope jika yang ditujunya saja tidak ketahuan. Aku kembali mendengus, sepertinya ini lebih sulit daripada yang diduga. Meski kami sudah melalui berbagai halaman, tetap saja di bagian akhir kami terjebak.


“Bagaimana caranya kita menghancurkan jurnal ini, Ja? Kita bahkan terjebak di bab terakhir. Aku enggak kepikiran apa-apa lagi,” gumamku pelan, “aku harus pake hope  di mana?”


“Kekuatan hope Cuma bisa aku pakai kalau ada yang percaya. Kedua belah pihak percaya. Seperti aku mengangkat tanda pada Faizal dan Tiara. Mereka percaya padaku. Di sini enggak ada yang bisa aku lakukan dengan hope, Ja.”


“Aku tahu sedikit dari Naga Hitam dan Naga Air. Mereka pernah bilang, ‘Selain menurunkan orang yang kami percaya akan membawa perdamaian, kami pun menurunkan pasangannya, seorang gadis dengan kekuatan harapan. Kekuatan itu mampu digunakan ketika orang-orang begitu mengharapkan sesuatu yang sama. Seperti perdamaian.


“Kami hadirkan Kazuhiro untuk membantu jalannya gadis yang memiliki kekuatan itu. Sayangnya dia menghilang bersama dengan kekuatannya. Namun, sekarang aku merasa Hope akan kembali dan meski kamu bukan pemilik kekuatan yang sebenarnya, aku sangat berharap kamu bisa mendukungnya.’ Kira-kira itu yang mereka ucapkan saat aku belum bertemu denganmu. Aku juga awalnya tidak percaya, terlebih saat itu umurku masih dua belas tahun,” tutur Radja.

__ADS_1


Aku tertegun. “Jadi aku bisa menggunakan kekuatan ini? Tapi ... bagaimana kalau apa yang orang-orang harapkan sekarang berbeda, Ja?”


“Kamu enggak perlu khawatir soal itu. Di luar sana, mereka memercayai kita untuk mengembalikan kedamaian bumi. Mereka juga lelah berlari dan bersembunyi bahkan kehilangan. Dira, aku akan mendampingimu,” balas Radja seraya mengulurkan tangan kanannya.


Perlahan aku memegang tangan laki-laki tersebut. Memegangnya dengan erat, tidak lama kami bergenggaman. Sebuah kerlap-kerlip muncul dan naik ke atas. Mereka menari-nari di sekitar kami. Perlahan halaman terakhir pun terkikis. Semua ilustrasi itu hancur lalu membentuk sebuah monster yang begitu besar.


Kepalanya seperti burung, tetapi tubuhnya berkaki empat. Monster ini juga memiliki sayap yang begitu lebar. Ini memang monster penjaga terakhir yang harus kami lenyapkan sebelum menghancurkan jurnal ini. Aku melihat ke arah Radja. Laki-laki itu tidak sedikit pun menunjukkan bahwa dirinya takut. Mungkin bagi Radja ini hanyalah permainan saja.


Aku gusar, agak takut dengan apa yang akan kami hadapi. Radja perlahan melepaskan genggamannya. Dia mengganti kedua tangan dan kakinya menjadi milik naga. Tidak hanya itu, dia pun menumbuhkan sayap dan siap bertempur. Aku tidak tahu kenapa dia tidak memusatkan kekuatannya pada salah satu tangan atau kaki saja. Jika seperti ini dia bisa kewalahan!


Radja segera mengeluarkan napas api pada monster tersebut. Itu tidak memiliki efek banyak, bahkan monster itu tidak terluka sama sekali. Aku yakin jika Radja tengah berdecak sebal. Di saat sepeti ini, mendapatkan informasi dari Bizar memang sangat diperlukan. Kami bahkan tidak tahu makhluk apa ini.


Perlahan aku pun memunculkan pedang bermata biru—caladbolg. Di saat terdesak, kekuatan pedang ini bisa meningkatkan kekuatan airku. Sebelum monster itu menyerang Radja dengan cakarnya, aku segera memunculkan ombak besar yang lalu di arahkan padanya. Sayangnya, burung itu lebih cepat dari dugaanku.


Namun, bisakah kami mengalahkan seekor burung besar satu ini?


 

__ADS_1


 


__ADS_2