Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 10. Yang Tidak Terduga (1)


__ADS_3

"Aku belum mau ambil resiko, Dira. Keputusan ini bulat, jauhi Nadia," tegas Radja padaku.


"Aku setuju dengan, Radja. Kita tidak tahu apakah Nadia benar-benar berubah atau berpura-pura," balas Miss Merry. Jika tangan sudah di depan dada, aku tidak bisa memberontak.


Sudah dua minggu sejak Nadia terbangun dari pertarungan panjangnya. Radja memang kembali bicara, tetapi masih menolak kehadiran gadis lain di kerajaan ini. Aku berusaha untuk mengubah keadaan, tetapi dua orang di hadapanku lebih keras daripada sebuah batu. Padahal semua orang berhak untuk kesempatan kedua, termasuk Nadia.


"Selain Miss Merry dan Miss Ann, tidak boleh ada yang mengunjungi Nadia," peringat peri tersebut. Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Tidak tahukah mengurung kehendak seseorang malah membuat kebencian semakin menjadi?


Nadia benar-benar jadi burung dalam sangkar. Mengingat bagaimana emosi pendahulunya yang tidak stabil dan berniat membunuh Hana, memungkinkan hal itu jadi alasan Miss Merry membuat peraturan ini. Emosi labil seorang remaja, bisa diporak-porandakan hanya dengan kata-kata. Azumi bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Selain Nadia, aku jadi ingat dengan Mamoru. Laki-laki itu hanya muncul di awal saja, tidak selebihnya. Bahkan aku tidak tahu di mana dia tinggal. Bizar juga tidak menceritakan banyak lewat data-datanya.


Ingin aku memaki; Hei, Hana, bagaimana bisa kamu menerima mereka untuk melindungi kamu?


Aku menengadah dan membuang napasku dalam. Melirik ke kanan-kiri berharap bisa menemukan sesuatu yang lebih baik selain buku-buku kuno. Miss Merry melihat kegelisahanlu, tetapi tidak merespons. Aku sadar, dia tidak ingin membuat aku semakin terjun dalam dunia mereka.


"Miss Merry akan pergi mencari tahu tentang Michio dan Azumi. Semasa kalian libur, gunakan sebaik-baiknya, kecuali berlatih keluar." Miss Merry memperingati kami lagi. Dia benar-benar seperti guru atau lebih tepatnya wali kelas.


Aku dan Radja sama-sama mengangguk. Lalu, aku melihat Radja kembali menutup mata sambil melipat tangan. Mulutnya terbuka sedikit, sepertinya dia begadang kemarin malam.


Berdiam diri di kerajaan sangat membosankan. Aku kembali menengadah, melihat Radja lalu beralih ke buku-buku di belakangnya. Tidak ada yang bisa aku baca, tidak pula aada hal yang harus aku kerjakan.


"Ja, kamu beneran tidur?" tanyaku iseng padanya.


Radja menggeleng. "Aku sedang masuk ke titik terdalam fokus untuk berkomunikasi dengan para naga."


Aku bungkam. Sepertinya Radja tidak bisa diganggu. Aku mengembuskan napas, mungkin mengunjungi laboratorium Bizar jadi solusi terbaik. Maka aku pun berdiri dari tempat duduk, menarik kursi dan mendorongnya kembali.


Di tengah meja besar tersedia sebuah toples berisikan cokelat. Aku mengambil toples dan membukanya, kurasa dua buah cokelat bisa aku bawa ke sana. Sebelum keluar, aku berbisik untuk pamit. Namun, Radja bergeming. Aku pikir laki-laki itu sudah masuk ke tahap fokus terdalamnya.


Setelah keluar dari perpustakaan, aku berjalan ke ujung sayap kiri. Mengingat laboratorium Bizar ada di paling pojok dan pintunya hanya ada di ruangan utama. Kalau pulang dari bumi, kami harus naik tangga yang cukup panjang. Ditambah jika langsung ke laboratorium, harus bertemu lagi dengan tangga yang melingkar. Konsepnya sangat tua, tetapi Bizar pernah bercerita padaku.


Semakin reinkarnasinya berkembang, tempat itu turut diperbaharui. Entah dalam segi apa pun. Kemampuan tiap reinkarnasinya hanyalah belajar dan cepat menerima informasi, menyimpan memori yang penting sejak 500 tahun lalu adalah nilai tambah untuknya. Jadi wajar jika Bizar tanpa belajar pun bisa lulus.


"Jadi orang yang terlalu terlalu hebat itu enggak ada enaknya. Perasaan aku mati, Dira. Aku gak punya teman yang bisa mengimbangiku."


Aku menggeleng, membenarkan apa yang Bizar ucap sekarang. Terlalu berlebihan itu tidak baik. Seperti halnya Bizar yang terlalu pintar, tetapi bukan berarti dia hidup tanpa kelemahan.


Clek


Aku membuka pintu dan disambut oleh rak buku yang mengeliligi ruangan. Namun, di depanku terdapat sebuah tangga yang mengingatkan dengan permainan anak-anak ular tangga.


"Bizar, aku mampir ya," ucapku agak berteriak agar dia dapat mendengarnya.


Menuruni anak tangga mungkin memangkas waktuku selama sepuluh menit, tetapi tidak masalah ketimbang menjadi pengangguran di perpustakaan. Seandainya aku punya sayap atau berani melompat, sudah aku lakukan sejak tadi.


Dari atas aku bisa melihat Bizar tengah menyibukkan dirinya dengan tiga layar komputer yang sangat besar. Laki-laki itu menggunakan baju latihan yang telah dirombak ulang oleh Radja. Namun, kacamata yang dikenakannya saat bertarung tidak diganti. Kali ini dia hanya menggunakan kacamata di sebelah kiri. Berwarna biru transparan dengan lingkaran dan gelombang ya ada di dalam layar.


"Tumben ke laboratorium," ucapnya tetapi Bizar tidak mengalihkan pandangannya kepadaku.


"Bosen aja." Bizar bergeming. Tangannya bergerak lincah pindah dari satu layar ke layar lainnya. Dia juga menggabungkan satu dengan lainnya. Seperti kepingan puzzle.


"Radja gak ikut?" tanya Bizar lagi.

__ADS_1


Aku menggeleng, meski tahu Bizar tidak melihatnya. Suara notifikasi yang cukup besar terdengar di telingaku. Itu bentuk data yang baru saja Bizar kerjakan. Dari jauh sebuah robot berbentuk tabung menghampiri kami. Dia membawa sebuah jam tangan dan baju.


Robot tersebut jalan ke arahku, dia juga menyerahkan kedua benda tersebut padaku. Aku menerima dan membukannya. Baju adat yang mirip dengan budaya jepang, tetapi kainnya lebih tipis. Sementara, jam yang diberikan robot itu terlihat biasa saja. Namun, untuk apa?


"Yang kamu pegang itu benda milik Ame, kalau jamnya sih emang jam biasa," ucap Bizar. Aku memiringkan kepala, masih tidak mengerti untuk apa.


Bizar menarik tangan dari atas ke bawah, sebuah intruksi memunculkan ikon digital. Kudengar dia memberi intruksi, "Io kumpulkan berkas-berkas tentang kesatria pelindung Hana yang ditunjuk Kazuhiro."


Io, ikon yang ada di layar itu mengangguk. "Baik Tuan Bizar," ucapnya dengan suara lucu dan menggemaskan. Sayangnya dia hanya berbentuk data dan tidak bisa aku cubit pipinya.


"Aku baru tahu soal Io," celetuk diriku ketika Bizar berbalik.


"Kamu kan gak nanya," balas Bizar, "Lagi pula apa sih yang ilmuwan hebat ini gak bisa. Menciptakan asisten seperti ini hanya lima menit pun jadi."


Mataku hanya memandang datar pada Bizar sebelum teralih oleh Io. Dia melompati berkas-berkas, berlari di antara layar dan mengambil berkas. Aku pun kembali bertanya, "Kalau kamu punya asisten, kenapa gak kamu kendaliin dari jauh dan kamu bisa hidup sebagai manusia normal, Bizar?"


Bizar menopang dagu, saat dia menghela napas, aku bisa merasakan bebannya yng sangat berat. "Ilmu semakin berkembang, aku juga gak mungkin diem di tempat."


"Bizar ...."


"Lagian pendahuluku tidak pernah ada yang diakui sebagai ilmuwan cilik hebat! Di umur lima tahun aku bahkan bisa mengalahkan para IT yang tengah bergelut dengan hacker. Haha!"


Entah kenapa aku jengah memiliki teman seperti Bizar. Kesombongannya begitu norak, dia juga tidak peduli dengan hal lainnya. Ya ampun, tidakkah ada teman yang normal di dunia ini?


Lamunanku terhenti ketika suara dentingan muncul dari komputer Bizar. Io baru saja mengirimkan data ke layar portabel yang bisa ilmuwan itu buka di manapun dan kapanpun dengan menekan tombol di gagang kacamatanya. Di sanalah banyak data tertampil begitu sempurna.


"Ternyata memang sulit mencari tahu soal mereka," geram Bizar.


Dengan cepat dia menggeser layar itu dan kembali duduk di depan komputer. Aku penasaran, untuk apa dia mencari tahu para kesatria tersebut. Dengan tergesa aku menghampirinya.


Bizar tengah menopang dagu melirik ke layar komputer. Bisa kulihat kerutan di dahinya, padahal dia masih sangat muda untuk keriputan seperti kakek-kakek. Matanya fokus menatap pada data yang sedang diunggah.


"Pendahuluku bereinkarnasi sebelum Hana dan Kazuhiro. Aku jadi penasaran dengan kesatria terdahulu. Mereka seperti teka-teki yang Hana sembunyikan," jelas Bizar tanpa aku memintanya.


"Jadi kamu mencoba mencari informasi lewat Nadia?" terkaku asal, tetapi dia menjawab dengan heningnya.


Tidak lama Bizar mengangguk setelah melihat data tentang Nadia muncul di layar. Di antara ruangan lega penuh dengan alat, aku mereka tempat ini jadi sempit. Aku tambahkan pula sesak, ketika aku membaca kehidupan yang Nadia alami selama ini.


"Ame selalu sulit mengontrol emosinya. Aku pikir tidak salah jika dia diasingkan di desanya sendiri karena membunuh banyak orang," celetuk Bizar.


"Tapi dia juga manusia. Dia hanya perlu teman."


"Jangan naif," desis Bizar, "dia bahkan nyaris membunuhmu jika kamu ingat. Tanpa Hana kamu tidak mungkin ada di sini."


Aku memiringkan kepala. "Bukan begitu. Nadia bertingkah seperti itu karena masa lalunya. Bisa saja dia seperti Mizuki yang mendapatkan pedang dan menjadi sangat gila."


"Mizuki?" tanya Bizar kebingungan. Aku mengangguk padanya. Tidak lama dia kembai berucap, "Dari makan kamu kenal Mizuki?"


"Jurnal Hana," balasku jujur.


Wajah Bizar seketika memucat. Tangannya gemetar ketika menyentuh keyboard on the screen. Lewat pelipisnya, mengalir keringat bercucuran. Ada apa dengan Bizar?


Dia lalu berdiri menghadapku. Tidak dia lupa mencengkeram kedua bahuku. Jujur ini menyakitkan. "Kamu udah ceritain itu ke Radja?"

__ADS_1


"Eh? Enggak, aku belum cerita apa-apa." Kulihat dia mengembuskan napas. Kenapa si ilmuwan ini panik sekali sih? Memangnya Mizuki terlalu gila sampa membuatnya takut?


"Bagus, Dira. Jangan ceritakan apa-apa. Pemulihan ingatan dari Kazuhiro ke otak Radja masih proses. Kamu ingatkan marahnya dia padamu saat tahu ada Nadia?"


"Tunggu! Jadi kemarin dia marah karena ingatan Kazuhiro mulai muncul?" tanyaku penasaran.


Bizar melepaskan tangannya dari bahuku. Dia kembali duduk, menyandarkan kepalanya pada bangku yang sering dia pakai. "Katakan semua yang kamu tau, Zar."


Bizar akhirnya bersuara kembali. "Begitulah. Aku hanya sedikit memicu selagi mencari tahu pedang-pedang yang kamu maksud. Tiba-tiba ingatan itu mengganggunya. Kamu tahu betapa sulit menahan monster yang tidak terkendali? Beruntung dia tidak membunuh Nadia dan kamu saat itu."


Aku menutup mulut. Kaki-kakiku yang menyangga pun melemas. Aku ingat betapa dinginnya Radja. Meski kami berakhir dengan perdamaian lagi, tetapi sama sekali tidak aku ketahui jika cowok menyebalkan itu sedang berusaha agar ingatan Kazuhiro tidak mengganggunya.


"Zar, apa aja yang bisa bikin dia marah?"


"Untuk sekarang jangan bahas tentang pedang dan kesatria terdahulu. Kamu bisa bahas sama aku aja dulu," jelas Bizar. Dia melepaskan kacamatanya sambil memijat pelipisnya sendiri.


Aku mengangguk paham padanya. Dengan mata tertutup Bizar menekan satu tombol hingga seorang robot datang menghampiri kami. Dia membawa sebuah kursi yang lalu menyimpan di dekat aku berdiri.


Tidak lama pula robot seperti telur ayam datang. Dari bagian perut yang terbuka dan papan bergerak maju, dia mengambil sebuah teko dan dua cankir. Menuangkan isi di dalamnya pada cangkir. Lalu, ketika selesai, teko itu kembali masuk ke dalam perutnya. Sedangkan kedua tangan mekanik itu membawa cangkir untuk diserahkan padaku dan Radja.


"Dira, kamu ngerasa ada yang aneh gak sih dari mimpi kamu. Pertemuan kamu dengan Nadia. Semua itu seakan berhubungan, aku sudah mencoba mencari tahu tentang mimpi-mimpi kamu itu," jelas Bizar padaku. Dia berhenti sejenak untuk meminum tehnya.


Aku mengusap-usap cangkir tersebut. Hangat sekali. Wangi herbal membuatku lebih rileks. "Jadi kita bahas sekarang?"


"Aku sudah lelah mencari informasi, mending kamu aja yang cerita sekarang."


Aku mengembuskan napas, mungkin ada baiknya menceritakan apa yang ada Vivian tunjukkan padaku. Itu bisa membantu Bizar mencari titik terang dari apa yang selama ini abu-abu. Aku bisa memercayai Bizar, seperti memercayai Miss Ann dan Radja.


"Kamu tahu, aku bertemu Vivian. Dia membantuku untuk melihat masa lalu Hana. Saat itu Hana memegang pedang. Dia sangat dingin dan Kazuhiro memarahinya. Mereka membahas Ame yang tengah mencelakai mereka.


"Lalu tentang dua kesatria. Aku lihat orang yang pernah menyelamatkanku dari Michio, namanya Mamoru. Sepertinya dia juga orang yang ditunjuk Kazuhiro dulu, satu orang lagi ... aku tidak tahu. Dia memakai topeng," jelasku panjang lebar padanya.


Bizar terdiam seakan tidak memercayai apa yang aku katakan. Namun, dia tetap tenang dengan meminum tehnya. Saat cangkir itu dia serahkan pada robot, tangannya mulai bergerak lincah di depan layar. Data tentang Mamoru dia cari dengan teliti dibantu Io.


"Data Mamoru lebih lengkap dibandingkan Ame!"


Mata Bizar berbinar-binar, dia membaca berkas itu dengan cepat. Tidak sampai satu menit dia mendapatkan semua informasi. Bahkan aku yang suka membaca saja masih melihat di antara dua kalimat pada paragraf pertama.


"Ini tidak mungkin," ucap Bizar lirih.


Aku menengok padanya, tetapi mata hitam pemilik kulit sawo matang itu kembali mencari data. Susunan foto dari Mamoru di tiap angkatan yang berbeda muncul. Tidak hanya itu, di sana nama-nama lain laki-laki tersebut.


"Afly?!"


Aku dan Bizar sama-sama berteriak. Tidak mungkin jika anak laki-laki yang sering menggodaku itu adalah Mamoru. Sosok yang menyelamatkanku dari Michio. Bahkan, aku lebih percaya jika Afly adalah Michio. Keduanya punya persamaan yang bisa ditarik garis. Jika dengan Mamoru? Ya ampun, apakah dunia ini sudah tidak mendapatkan keadilan?


"Bizar, aku gak bisa percaya," ucapku sambil geleng-geleng. Aku meletakkan cangkir teh pada robot. Lalu ikut dengan Bizar untuk memastikan kebenarannya.


"Begitu juga aku," balas Bizar, "sepertinya ada data tentang Afly yang aku lewatkan."


"Lalu apa sekarang? Kita harus bertanya padanya?" tanyaku.


"Tidak." Jelas Bizar aku menolak, mengingat perlakuan buruknya pada Afly waktu itu, "Kamu saja, Dira. Kamu selalu menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Aku mau, tetapi bagaimana caranya aku bisa sampai ke bumi?" balasku pada Bizar. Kali ini, kebuntuan benar-benar berada di pihakku. Belum lagi, Radja juga tidak menyukai Afly. Ya Ampun ....


__ADS_2