Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 78. Kembali Beraksi (2)


__ADS_3

“Kabur? Radja, apa ada kemungkinan jika Ratih dan Tiara bersama. Tidak ... itu dia. Kita enggak bakal menemukan mereka dari langit. Cobalah berpikir bagai seorang pembunuh,” ucapku pada Radja. “Tiara pasti menyembuyikan Ratih di suatu tempat. Jelas bukan di atas atau reruntuhan gedung. Mereka bisa ada di bawah tanah atau di dalam gedung.”


“Kalau begitu, seharusnya kita sudah menemukan mereka, Dira. Sayangnya tidak. Semua yang berada di daratan sudah menyebar dan tidak menemukan keberadaan mereka,” ucap Radja.


Aku bertopang dagu. Bagaimana bisa mereka tidak ditemukan? Sebenarnya kekuatan apa yang Ratih miliki? Aku yakin jika Tiara membawa gadis itu bersembunyi, pasti tetap terlihat. Bagaimana juga, kami pernah satu divisi dalam menangani misi. Tiba-tiba terlintas ide yang sangat luar biasa dari kepalaku.


“Radja, ayo turun dan tinggalkan aku di bawah.”


Laki-laki itu segera melihat ke arahku. Tatapannya sudah setajam sebilah pedang yang siap membelah lawan. Wajahnya juga begitu datar hampir menyaingi tembok, tetapi ini membuatku bingung. Apa yang membuat dia kesal begitu? Aku rasa ucapanku sebelumnya tidak ada yang salah. Tidak seharusnya dia marah bukan?


“Kamu mau mengobral nyawa? Di daratan enggak aman buat kamu, apalagi banyak musuh yang berkeliaran. Tenaga kamu lebih lemah dari yang lain, sudahlah,” ucap Radja kesal.


“Tapi kita harus menemukan Ratih dan Tiara bukan? Mereka mengincarku, jadi biarkan saja aku ditangkap oleh para monster. Kamu ikutilah para monster itu. Jika yang mereka inginkan jiwa dan kekuatan Hana, artinya mereka harus bertemu denganku secara hidup-hidup. Aku tidak akan mati,” jelasku.


Mata setajam pedang itu kini melunak. Lebih seperti anak kucing yang ditinggal oleh induknya. Begitu menyayat hati, tetapi aku menekankan pada diri sendiri. Aku tidak akan mati. Mereka tidak akan membunuhku sampai bertemu dengan Miss Ann secara langsung.


“Apa tidak ada cara lain?” bisik Radja.


Tidak sanggup aku membiarkannya kebingungan. Segera aku pun menggenggam jari-jemari laki-laki yang selalu menolongku. Sudah saatnya aku yang membalas kebaikan Radja. Takut akan kematian memang ada. Aku tidak ingin mati di saat aku sudah mencoba untuk bersyukur dan menjalani hidup.

__ADS_1


Radja masih bersikeras untuk tidak mengiyakan usulanku. Namun, ini demi kebaikan semua orang. Demi perdamaian yang aku janjikan pada Hana. Tuhan mungkin memintaku hidup untuk melanjutkannya—atau mungkin bosan karena aku terus memohon untuk kembali. Saat ini tujuanku adalah mengembalikan kekuatan dengan ataupun tanpa kekuatan Hana.


Laki-laki itu akhirnya menerima usulanku dengan terpaksa, dia segera menurunkan Naga Putih ke bawah sana. Tangan kami masih saling menggenggam. Namun, kehangatan yang aku rasakan melebihi pikiranku sendiri. Ada kehangatan dan rasa percaya Bizar di dalamnya. Entah bagaimana, tetapi aku yakin jika laki-laki itu juga memercayai tindakanku ini. Aku tidak ingin mengecewakan mereka.


Bertarung dan bekerja sama hampir tiga tahun lamanya. Penuh drama yang bahkan tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Namun, Radja dan Bizar selalu percaya. Radja yakin kepadaku dan tindakanku—hanya kali ini dia ragu—sadar akan batas yang aku miliki. Meski Bizar tidak sepenuhnya akan percaya denganku, tetapi dia memiliki pikiran yang lebih logis. Dia tidak akan memercayai sesuatu hanya karena satu atau dua orang yang berbicara.


Mereka teman terhebat yang pernah aku kenal.


“Hati-hati, Dira. Aku akan menjagamu dari jauh,” ucap Radja pelan. Kami mulai melepaskan genggaman dan berpisah. Radja semakin terbang tinggi bersama Naga putih.


Aku menarik napas. Sudah terlambat untuk mundur, sekarang yang aku bisa lakukan hanyalah berjalan terus tanpa ragu. Sambil memunculkan caladbolg aku mencoba terhubung dengan Bizar. Berharap jika laki-laki itu pun akan terus mengawasi dan bisa mengirimkan bantuan. Takut-takut jika apa yang aku perkirakan salah. Tidak ada rencana yang benar-benar sukses sepenuhnya.


Ini tidak membuat kekuatanku berkurang banyak. Satu pukulan terakhir dari monster tersebut berhasil mengenai bahuku. Sakit dan membuat tubuhku terpental pada pecahan bagian gedung. Benturan itu membuat kepalaku sakit dan segala yang aku lihat mulai menggelap. Di sela-sela itu, bisa aku lihat Radja dan Naga Putihnya turun ke bawah.


—————————


Jujur saja, kepalaku agak berat. Bekas benturan itu masih terasa di sekujur tubuhku. Namun, satu-satunya yang aku sadari sekarang adalah udara sangat berat di sekitarku—sulit untuk bernapas. Pengap sekali dan ini sangat gelap. Aku tidak tahu di mana ini. Satu hal yang jelas, aku tidak mati. Mereka benar-benar mengincarku.


Aku segera memperbaiki posisi, bertumpu dengan kedua tangan untuk duduk. Mencari sebuah penopang, tetapi sepertinya aku berada cukup jauh dari tembok. Kegelapan ini cukup membuat penglihatanku tertutup. Aku mencoba menyalakan fitur jam. Setidaknya ada lampu meski pun lebih redup dari yang aku kira.

__ADS_1


Meski jamku bisa digunakan, tetapi aku tidak bisa menghubungi Bizar. Tidak ada sambungan. Aku mencoba mengutak-atik dan menghubungi Radja dan teman-teman lainnya. Sayang sekali, aku tidak mendapatkan sinyal atau tepatnya memang sengaja diputus. Perasaanku tidak tenang. Apakah Radja berhasil mengejar? Jika pun tidak, aku mulai kehilangan kepercayaan diri sendiri. Dapatkah aku melawan Ratih dan Tiara bersamaan?


Tiba-tiba dari tiap penjuru, cahaya pun muncul bersamaan hawa panas. Bola-bola api muncul di sekitar. Aku bisa melihat dengan jelas ruangan gelap ini. Begitu banyak tumpukan barang. Ini gudang, tetapi aku tidak tahu gudang apa. Gelap dan sunyi ini mengundang kewaspadaanku untuk tetap dalam siaga. Musuh bisa datang kapan saja.


“Kamu bangun di saat yang tepat.”


Aku mencari asal suara itu berada. Suara kepakan sayap dapat aku dengar dari belakang. Aku segera menoleh dan bisa kulihat wajah itu samar-samar. Tidak ingin aku memercayinya, tetapi apa yang harus aku lakukan? Dadaku sesak. Lebih dari yang pernah aku rasakan.


“Miss Ann?” ucapku spontan. Peri itu mendekat ke arahku dengan wajahnya yang agak meninggi. Membuat dirinya terkesan sangat sombong dan lebih kuat.


Jari-jemari lentik itu dia gunakan untuk mencengkeram leherku. Di saat seperti ini, aku tidak tahu kenapa tubuhku sangat sulit digerakkan. Peri itu berniat untuk membunuhku. Meski dia terlihat rapuh dan lemah dari luar, sejujurnya dia mampu untuk mencekikku sekarang juga. Dia bisa membunuhku kapan pun.


“Kamu benar-benar rencanaku yang paling sempurna sebelum akhirnya memberontak. Ya, kamu yang sekarang mulai membuatku repot, Nadira. Bagaimana mungkin orang lemah seperti kamu bisa mendapatkan keberuntungan terus-menerus? Sekarang hanya ada kamu dan aku. Tidak ada yang akan mengganggu kita,” ucap Miss Ann.


Aku menggeleng dan air mataku mulai. “Kenapa ... Miss Ann? Kenapa ... semua ini harus dilakukan. Apa yang salah? Aku tidak mengerti kenapa harus Miss Ann yang menciptakan kekacauan ini?”


Miss Ann tiba-tiba membanting tubuhku hingga tembok. Bagian pundakku terbakar oleh bola api. Panas sekali. Aku masih tidak mengerti alasannya. Namun, jika melihat pada mata peri itu, aku yakin ... dia melihatku penuh dengan tatapan benci. Rasa sakit di dadaku ini masih ada dan bersarang dengan hebat.


“Kamu tahu kenapa? Hana telah mengambil segalanya dariku. Sekarang aku yang akan mengambil segalanya.”

__ADS_1


__ADS_2