Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 05. Jebakan Jembatan Jawaban (1)


__ADS_3

Cara balas dendam yang terbaik adalah memaafkan dan membuktikan diri kalau kamu baik-baik saja.


Aku ingat Pak Hisam, almarhumah guruku yang mengajarkanku untuk lebih berlapang dada dan mengubah rencana untuk memaafkan Azumi. Pada dasarnya gadis itu pun seorang remaja seumuran dengan kami. Membunuhnya membuat kami terlihat sama saja dengan Azumi. Namun, melihat kejadian belakangan ini membuat aku kembali berpikir. Apakah salah kami untuk memaafkan gadis itu? Apa seharusnya kami membunuh dia saja?


Mengingat perkataan Pak Hisam membuatku sedih. Bagaimana pun beliau adalah guru yang sangat disegani saat aku kelas sembilan dan sepuluh. Pak Hisam sering menegurku tetapi di akhir hayatnya dia sangat berdedikasi sebagai seorang pengajar. Dia tetap mendidik muridnya, untuk tidak menanam kebencian.


Pak Hisam percaya, apa pun yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kami remaja yang proses kedewasaannya agak berbeda dari teman-teman lainnya. Pak Hisam percaya pada kami, bahwa kami semua terlepas dari muridnya atau bukan ... beliau percaya jika kami akan membuka penerangan bagi bumi. Aku yang tidak begitu pintar, lemah dan sangat mengandalkan perasaan ini sangat dipercaya oleh beliau.


“Dira, Nadia, kalian rencana mau ke mana?” tanya Demina yang duduk di bangku seberangku. Lagi pertanyaan  merujuk pada masa depan yang sama sekali buram di benakku.


Gadis itu tidak pernah lepas dari yang namanya buku tebal berisi sekumpulan soal. Terkadang jika bosan dia akan memainkan ponsel, lengkap dengan berbagai macam game RPG kesukaannya. Demina belakangan ingin belajar dengan giat untuk Ujian Nasional. Nilai penentu untuk masuk ke sekolah impian.


Aku tahu jika di kelas dia akan membahas ini, apalagi saat jam istirahat. Semua orang memilih ke kantin, kecuali aku, Nadia dan Demina. Miss Ann dan Miss Merry melarang keras diriku ini untuk jajan sembarangan. Bahkan untuk mencegahnya, Kak Ron dengan antusias membuatkan sarapan untukku dan Nadia setiap hari. Semua itu dilakukan kakak karena takut kesehatanku kembali menurun. Padahal aku merasa baik-baik saja.


“Aku ngikut Nadira aja sih, Demina. Selama aku bisa berskolah seperti biasa saja itu suda bagus kok,” jawab Nadia. Dia lalu mengambil sesuap nasi goreng buatan Kak Ron.


“Nah, kalau kamu mau ke mana, Dira?” tanya Demina lagi.


Aku melihat buku paket sejarah dengan kosong. Harusnya aku fokus saja untuk merangkum materi yang sekiranya akan dipelajari hari ini. Namun, Demina dan Nadia membuat aku tidak memiliki pilihan lain selain menjawab. Aku tidak memiliki sekolah impian. Bahkan aku tidak peduli sekolah yang akan aku pilih nantinya SMA atau SMK.

__ADS_1


“Mungkin sekolah terdekat dengan rumah,” jawabku pelan.


“Ya udah, berarti kita ketiga sama pilihannya. SMK Bumi Nusantara!” celetuk Demina main asal menyimpulkan.


Aku merasa tertohok. Memang aku bilang sekolah terdekat tetapi masuk ke salah satu sekolah Bumi Nusantara itu sangat sulit. Walau kenyataannya memang dekat dengan rumahku. Lagi pula, sejak kapan Demina tertarik dengan sekolah kejuruan?


Baru aku mau bertanya, notifikasi pada jam kami bertiga berbunyi. Selagi kelas masih sepi, aku segera membuka pesannya. Pengirimnya dari Miss Merry. Peri tersebut hanya ingin memberitahu kami untuk segera pulang setelah jam sekolah berakhir. Ada pengumuman penting yang akan peri tersebut katakan. Tentu itu membuat kami penasaran.


Setelah beberapa jam berlalu dan sekolah pun berakhir, kami mengikuti intruksi Miss Merry untuk segera pulang. Dalam artian sesungguhnya, pulang ke kerajaan. Pasti ada hal mendesak yang membuat peri itu harus mengirim pesan serentak. Aku bahkan tidak sempat mengabari Kak Ron, karena kakak laki-lakiku pun pasti akan segera ke sana.


“Dira, apa ini ada hubungannya sama monster kemarin?” ujar Demina.


Aku mengangkat bahu. “Mungkin. Aku berharap Bizar dan Miss Merry sudah menemukan cara untuk mengembalikan mereka. Kita juga harus menemukan siapa saja yang terkena serpihan kekuatan jahat Azumi.”


Kami bertiga keluar terakhir dibandingkan teman-teman lainnya. Rencana kami adalah membuka portal untuk masuk dan keluar kerajaan dengan cepat. Semua juga pasti melakukan yang sama. Terkecuali Radja dan Bara, kedua laki-laki itu memang mengambil izin.


Dalam sekejap ruangan yang dipenuhi oleh bangku pun diubah menjadi hamparan hijau dengan beberapa tanaman liar tumbuh di sekitarnya. Kami menemukan teman-teman lainnya sudah datang, lengkap dengan baju seragam sekolah mereka. Dari dalam, Radja segera terbang menggunakan sayap naganya.


Aku tidak tahu harus mendeksripsikan seperti apa wajah Radja. Pokoknya, laki-laki itu sangat menyeramkan. Entah apa yang teradi di Twins selama dia mengambil izin. Mengingat Radja mengambil izin untuk menyelidiki soal monster melalui Bara. Jika tebakanku benar, penyelidikan ini tidak berjalan dengan baik. Bagaimana pun Bara sulit untuk mengungkapkan rahasia orang lain, apalagi itu pun mengingatkannya pada masa lalu.

__ADS_1


“Kenapa Miss Merry tiba-tiba kirim pesan seperti ini? Kalau Miss Ann aku waja, tapi kalian semua tahu ... ini bukan gayanya Miss Merry,” ujar Faizal.


Sekilas aku melirik pada Bizar yang sedang menguap, lalu mendekatinya. Laki-laki itu menarik kacamata untuk membersihkannya. “Bizar, kamu tahu sesuatu soal ini?”


“Tidak. Miss Merry bertindak sendiri. Aku dan Radja sama-sama menyelidiki soal serpihan kekuatan Azumi melalui info dari Bara. Sayang semuanya berjalan dengan tidak mulus,” jelas Bizar padaku. “Jadi kalau kamu tanya apa ini ada hubungannya dengan Miss Merry, maka aku akan jawab ini semua tidak ada hubungannya.”


“Bizar, kamu gak ke sekolah lagi?” tanyaku. Jujur saja aku terkejut karena Bizar tidak lagi pergi ke sekolah, tetapi dia memakai seragam.


Sepertinya dia sempat ingin mengelabuiku, terlihat jelas karena Bizar tiba-tiba berhenti membersihkan kacamatanya. Jelas-jelas dia baru saja tertangkap basah. Bizar lalu memasang kembali kacamatanya dan memalingkan muka. Baiklah, untuk saat ini aku urungkan niat untuk mengomeli laki-laki tersebut.


Radja menghampiri kami, dia berdecak sebal. Melalui apa yang disampaikan oleh Bizar, asumsiku soal penyelidikan yang tidak akan berjalan mulus pun ternyata benar. Dia sudah memasukkan kembali sayapnya dan kini melipat tangan di depan dada. Kadang melihat Radja yang sebal cukup mengusik pikiranku juga.


“Udahlah, Ja. Biar nanti aku yang coba tanya sama Bara,” celetukku. Radja tidak membalasku dia hanya mengangguk.


Beberapa di antara kami sedang bergosip, memikirkan apa yang akan dikatakan Miss Merry nantinya. Karena peri yang satu itu belum datang juga sejak kami berkupul sepuluh menit lalu. Sampai sebuah angin bertiup kencang dan samar-samar ada seorang peri. Awalnya aku mengira itu Miss Ann, karena rambutnya dikuncir. Namun, dilihat lagi, rambutnya bergelombang. Tidak mungkin Miss Merry yang berada di sana.


Tidak lama angin berhenti berembus. Kami dapat melihat peri tersebut sudah ada di depan mata sambil tersenyum miring. Seringainya sangat menyebalkan entah kenapa.


“Jadi kalian adalah anak didik Merry dan Ann? Bocah semua,” ujarnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2