Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 53. Bagaimana Mungkin


__ADS_3

“Kamu tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berbohong, Nadira,” ujar Ratih padaku.


Tanganku perlahan mengepal. Memang ini bukan waktu yang tepat, tetapi bukan untuk berbohong. Aku tidak tahu Ratih adalah orang baik atau jahat. Menyatakan identitas diri hanya akan membawa kesialan. Ya, kesempatanku hanya separuh persentase, karena motif gadis ini belum begitu terlihat. Bohong atau tidak, lawan atau kawan.


“Aku enggak paham dengan yang kamu bilang, Ratih. Aku memang terlihat aneh, tetapi sejujurnya aku melarikan diri. Jika kamu mau mengatakannya pada kakak panitua silakan saja,” balasku tanpa keraguan sedikit pun. Debaran jantungku tidak karuan, tetapi yang dia balas hanyalah tawa dari gadis tersebut.


Bersamaan dengan Ratih tertawa, pintu hotel pun terbuka dan menampakkan dua orang wanita yang merupakan panitia lomba. Aku menelan ludah, apa yang akan Ratih katakan nanti? Sudah tidak mungkin membuat kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya. Harusnya aku berada di atap saja, jadi tidak akan sulit seperti sekarang.


“Sedang apa kalian di hotel dan tertawa begitu kencang?” tanya salah satu panitia yang menatap nyalang pada kami. Saat aku lihat, Ratih tengah memegang pundakku.


“Kami lagi bercanda, Kakak. Dira bercerita tentang pengalamannya di sekolah dan itu sangat lucu. Oh ya, kenapa Kakak sekalian memeriksa kamar kami?” tanya Ratih yang lalu tersenyum pada kedua wanita itu mengangguk. Kecurigaan mereka mulai mengendur.


“Kami hanya mengecek apakah semua peserta baik-baik saja. Ada kejadian yang tidak terduga sebelumnya. Syukurlah kalau kalian berada di tempa ini dengan aman,” ucap panita satunya lagi. “Jangan lupa besok kalian masih ada lomba menulis. Hadirlah tepat waktu!”


Ucapan itu membuat kami berdua mengangguk dan para panitia itu pun pergi dari kamar kami. Mungkin memeriksa kamar lainnya. Aku lalu melihat ke arah Ratih. Tidak aku sangka jika dia tetap membantuku untuk membuat alibi. Dia kembali tersenyum dan lalu membuka kembali buku jurnalnya. Aku pun turut melihat kembali kertas folio yang masih sangat polos ini.


“Wajah kamu terlalu tegang untuk orang yang berkata jujur, Dira,” ucap Ratih seraya melirikku beberapa kali. Aku menelan ludah. Sadarkah dia jika aku tengah berbohong? Aku memang pernah membaca dalam sebuah novel, jangan bohongi seorang penulis, karena mereka lebih jeli dalam menilai kepribadian orang lain. Namun, aku kira itu hanya kutipan biasa.

__ADS_1


Aku kembali menatap gadis itu lalu tersenyum. Sungguh, aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi. Ratih bisa saja mengungkapkan pikirannya yang lain. Walau begitu aku tetap berterima kasih karena dia baru saja berbohong agar tidak menimbulkan asumsi-asumsi lainnya bagi para panitia. Aku melihat ke arah jam. Sebaiknya aku pergi menemui Miss Merry sekarang.


Segera aku melipat folio bergaris itu, lalu meletakkannya ke dalam tas. Tidak lupa sebelum pergi, aku pun berpamitan pada Ratih. Kali ini tidak berbohong, aku memang akan bertemu dengan Radja. Dengan begitu dia tidak akan curiga jika aku berkata ingin bertemu dengan seorang teman.


Di atap hanya ada Radja dan Miss Merry, katanya Bara sudah turun sejak peserta lomba mulai berdatangan. Laki-laki itu menyelinap masuk ke dalam rombongan untuk membuat alibi baru tentang Radja pada panitia. Itu membuat kami bisa berbicara sebentar sebelum malam hari. Orang-orang bisa saja ke lantai atas untuk belajar. Kerusuhan hari ini juga menguntungkan bagi tim yang belum melaksanakan perlombaan.


Miss Merry berkeringat, sepertinya dia baru saja melakukan pekerjaan yang begitu melelahkan. Tentu, selain mengalihkan perhatian guru lain dan para panitia, dia pasti berusaha untuk mengetahui pergerakkan kami. Terlebih kami tidak bisa menghubungi Bizar begitu saja. Aku rasa itu cukup menjelaskan dari mana keringatnya berasa. Tidak lama peri itu mengeluarkan kacamata dan mengelap bagian yang berkeringat. Sesekali membenarkan letak kacamata.


“Syukurlah kalian kembali dengan selamat. Apa kalungku berhasil melindungi kamu, Dira?” tanya Miss Merry sontak membuat aku memegang liontin dari kalung yang dia berikan.


“Kalung ini menyala saat sihir ditujukan padaku, Miss. Aku rasa itu artinya berguna,” balasku.


Aku mencoba mencerna apa yang dijelaskan sebelumnya. Peri yang menggunakan sihir tingkat tinggi selain Miss Merry. Memang ada berapa peri yang sangat hebat? Apa karena Miss Sharron yang melakukannya? Namun, dia sudah mati dan aku memang tidak mengenalnya walau begitu tidak bisa kami jadikan satu-satunya alasan yang menyatakan dia adalah dalang dari semua ini.


“Tunggu, Miss,” ucap Radja. Matanya membelalak dan tangannya bergetar. Aku tidak ingin menerima kenyataan itu. Apa yang laki-laki itu pikirkan adalah salah. Sayangnya itu hanya harapanku saja. “Apa maksud Anda Miss Ann yang berada di belakang ini semua?”


Miss Merry mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Aku benar-benar tidak bisa percaya. Semudah itukah mereka menetapkan kawan menjadi lawan? Kuat-kuat aku menggeleng hingga keduanya sama-sama menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. Perasaan yang ada di hatiku terus menolak kenyataan. Padahal aku tahu pemilik kekuatan sihir dan sekaligus peri yang tersisa hanya Miss Ann. Tidak ada lagi yang bisa disangkal.

__ADS_1


“Tidak ada peri selain Ann yang berhasil menandingiku. Bahkan Sharron sangat lemah jika dibandingkan denganku. Sejujurnya aku ingin mengungkapkan semua kecurigaan ini kepada kalian. Namun, kadang kedekatan kalian dengannya sangat mengganggu. Maka aku menahan diri untuk tidak menceritakannya pada kalian.


“Awalnya aku sangat penasaran. Kenapa monster kembali hadir padahal kalian semua sudah membantainya? Lalu kenapa harus Nadira yang jelas-jelas tidak menggunakan jam, harusnya identitas dirinya tersembunyi. Ann harusnya tahu, tetapi dia tidak kembali dan menyelamatkan kamu. Tentu saja, ini semua rencananya,” ujar Miss Merry.


Aku menutup mulut. Entah kenapa air mataku keluar. Sesakit inikah rasanya pengkhianatan? Jika aku tahu sebegitu dalamnya rasa sakit dari pengkhianatan, aku tidak pernah mau mendapatkannya lagi. Radja perlahan menyandarkan tangannya ketika aku menunduk. Memberi ruang untukku menangis.


“Sihir merah itu adalah pemicu selanjutnya. Siapa sangka jika Ann ingin mewujudkan impian lama Azumi? Menguasai dunia dengan memanfaatkan kekuatan sihir terlarang milik Hana,” ucap Miss Merry dengan santainya. Tidak. Peri itu juga tidak baik-baik saja. Butuh keberanian untuk menjelaskan ini semua pada kami.


Aku bergeming. Hanya air mata yang jatuh dan bersuara. Tidak ada lagi yang bisa aku ucapkan.


“Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menggunakan sihir pembagi bayang untuk waktu tertentu. Saat ini Ann pasti tahu jika aku sudah mengatakan ini pada kalian. Tapi, selama itu ... aku minta kalian cari cara agar Tiara dan Faizal terbebas dari sihir miliknya,” ucap Miss Merry.


“Apa itu akan berhasil? Walau Miss Merry mengejar, aku rasa Miss Ann sudah pergi lebih dulu,” balas Radja dengan lirih. Aku tahu dia juga kecewa. Bahkan lebih kecewa dariku. Miss Merry dan Miss Ann adalah pengasuhnya sejak dia pergi dari rumahnya sendiri.


“Miss Merry, jangan pergi. Tetaplah di sini, kita sudah sejauh ini untuk mencari tahu siapa dalangnya. Karena kami tidak bisa pergi ke Twins, biarkan saja dia muncul di hadapan kami,” balasku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2