
"Jadi kamu telat Dira?" ucap Radja yang aku tahu dia mencoba menahan tawanya.
Aku malas menjawab, lebih asyik juga kalau melihat-lihat menu makan siang. Radja benar-benar tidak bisa mengatur keinginannya untuk tertawa. Ya ampun, aku jadi semakin ingin melemparnya dengan kertas laminating ini.
"Oke, oke, jangan memelototi aku kayak gitu. Jadi jelasin kenapa kamu telat," bujuk Radja.
Tidak lama dari samping, sebuah mangkuk baso disodorkan kepada Radja. Begitu pula dengan nasi goreng pesananku. Lalu orang yang membawanya duduk di sampingku.
Aku tersenyum padanya. "Makasih Bizar."
Bizar diam, sibuk berkutat dengan buku tentang pemprograman bahasa C . Aku tidak tahu apa itu. Apalagi kalau baca, mungkin aku sudah pusing duluan. Benar-benar deh, masa aku harus mengurusi rasa penasarannya si Radja?
Radja tersenyum sambil memotong-motong basonya jadi bagian kecil-kecil. Sepertinya dia mengetahui apa yang aku rasakan. Sekarang cowok menyebalkan ini merasa menang, karena aku terpaksa menceritakan padanya. Aku mengembuskan napas panjang dan melahap nasi gorengku terlebih dahulu. Sayang banget kalau aku melewatkan makanan-makanan kantin demi Radja.
"Cerita dong." Pemaksaan! Aku menggigit sendok yang tengah berada dalam mulutku. Mengeluarkannya dan melihat Radja sambil mengunyah nasi di mulut.
Setelah nasi itu melebur dan aku telan, maka barulah aku membalasnya, "Ini gara-gara kalian ninggalin aku."
"Hah?" Singkat padat tanpa penjelasan membuat Radja dan Bizar sama-sama berucap. Ya, Bizar bahkan meninggalkan fokusnya terhadap buku.
"Tau deh! Mending cerita sama Demina!" ucapku dengan suara yang meninggi. Namun, aku tarik kembali perkataanku. Demina mungkin masih terapi, tidak mungkin aku mengganggu pemulihannya.
Radja dan Bizar pun ikut terdiam. Keduanya saling menatap lalu kembali pada aktivitas mereka. Radja memakan satu per satu basonya, sementara Bizar menutup buku dan mengambil roti lapis dari kantong belajaannya. Sepertinya aku mmang sudah salah dengan mengucapkan kata sakral bagi mereka.
"Maaf," ucapku lirih. "Aku akan menceritakannya pada kalian."
Bizar dan Radja kembali melirikku. Mereka berusaha untuk makan daripada membalas sesuatu yang membuatku kembali terdiam. Sejujurnya aku sangat ingin menceritakannya, tetapi Brittany muncul di belakang Radja. Tepatnya dia baru saja beranjak dari bangku belakang kami.
Sialnya aku baru menyadari itu. Sekarang Brittany berdiri dan melihat ke arahku. Suaranya yang imut-imut tapi menyebalkan itu masuk ke telinga kami bertiga. "Idih. Baru masuk lagi deket sama dua cowok. Ke mana tuh sahabat kamu si Demina?"
Aku bungkam, memilih makan nasi goreng. Seolah aku tidak peduli dengan apa yang Brittany ucapkan. Namun, tidak dengan Bizar dan Radja. Kedua laki-laki itu berdiri, dan keduanya sama-sama memperhatikan Brittany.
"Maaf?" ucap Bizar.
"Oh halo, Bizar! Sini deh biar aku kasih tahu. Nadira itu punya penyakit aneh jadi ...." Ucapan Brittany terputus ketika matanya menatap pada Radja. Aku tidak tahu apa yang cowok menyebalkan itu lakukan. Namun, bisa aku pastikan tangannya sedang mengepal.
"Kalau kamu gak suka, enggak perlu mendorong orang lain buat benci juga," lanjut Bizar. Brittany memutar matanya. Dia melipat tangan di depan dada.
"Aku peduli sama kamu, Bizar, Radja. Buat apa deket sama orang berpenyakitan? Nadira itu gak normal lho," hasutnya lagi.
Aku menunduk. Tidak tahu harus membela diri bagaimana lagi. Aku mencoba untuk tidak menangis. Benar jika aku berpenyakitan, benar juga jika aku ini tidak punya lagi keluarga. Aku hanya heran, kenapa orang-orang seperti Brittany suka sekali memojokkanku?
"Buat apa kamu punya mulut tapi semua yang diucapin omong kosong, sampah dan menyebar kebencian." Kali ini Radja yang bersuara.
Aku menengadah melihat sosok Radja. Jujur saja. Meski laki-laki itu menyebalkan, tetapi ucapannya benar. Sekalinya Radja bicara serius, tidak ada omong kosong. Dia memang sangat jahil, tetapi tidak menyebarkan kebencian.
Entah karena dia keturunan air mata naga yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya, kepemimpinan Radja sangat tampak. Bizar juga mengangguk. Dia kebali duduk dan menepuk bahuku. Tepukan pelan itu seakan menyalurkan semangat dan berbagai kalimat positif.
Radja berhenti memandangi Brittany. Teman-teman di kantin yang awalnya membela Brittany pun turut kembali pada aktivitasnya. Ketika menindas mereka menjadi satu-kesatuan, setelah dimarahi mereka seakan lupa. Aku muak dengan hal itu, mereka tidak mengerti tentang berharganya suatu ikatan.
"Jangan dipikirkan," ucap Bizar. Aku yakin dia membaca pikiranku yang campur aduk. Tidak lama Radja kembali duduk dan memandangiku.
"Kayaknya kau tau penyebabnya sekarang. Maaf, harusnya aku nungguin kamu," ucap Radja sambil melirik tajam ke orang-orang yang melirik ke arah kami.
"Eh? Tapi itu bukan cuma gara-gara Brittany," ucapku padanya.
Radja mengerutkan dahi. "Apa? Apa lagi? Kamu beneran ketiduran?!"
Aku menendang pelan kaki Radja yang ada di bawah meja. Kenapa juga sifat menyebalkannya kembali? Bizar hanya geleng-geleng. Dia memakan kembali roti lapis sambil membaca buku. Seolah tidak memperhatikan kami, tetapi aku percaya dia diam-diam peduli.
__ADS_1
"Bukan, Ja. Aku pusing setelah dilabrak sama ...."
"Sama aku?"
Kami bertiga serentak melihat ke sumber suara. Laki-laki yang ada di samping Radja. Ya ampun, terlalu fokus pada kesedihan aku sampa tidak sadar jika si Afly itu ada di sini. Kugunakan dua tangan untuk menangkup seluruh wajahku sementara. Kenapa pertahananku jadi kacau begini sih?
Afly duduk di samping Radja. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan, tetapi semua mata murid di kantin tertuju pada kami. Tolong jangan buat hariku lebih buruk dari ini lagi.
"Jangan khawatir," ucap Bizar melalui telepatinya.
Aku memandangi nasi goreng yang baru tersentuh beberapa kali aja. Kapan coba aku bisa makan siang dengan tenang. Afly memandangiku, lalu ke Bizar dan kembali lagi ke arahku. Dia tidak melihat Radja, tepatnya seolah tidak mau memandangi cowok menyebalkan itu.
"Aku sih gak mau ikut campur," ucap Afly tiba-tiba dan membuat kami semua heran, "tetapi apa yang kamu bilang ke Brita itu kejam lho, Radja."
"Siapa kamu?" tanya Radja yang berhenti melahap basonya.
Jujur aku merasakan atmosfer di kantin ini jadi berat. Bahkan udaranya jadi begitu dingin dan sesak. Aku memilih melahap nasi goreng, tetapi percuma. Itu malah membuat aku sulit menelan makanan.
"Dia Afly, Ja. Murid yang pindah dari Jakarta dua minggu lalu," balas Bizar.
Aku membelalak. Tidak aku sangka Bizar bisa tahu tanpa menggunakan peralatan seperti biasanya. Bahkan Bizar hanya sibuk membaca buku pemprogramannya saja. Dia tidak tertarik untuk bicara lebih lanjut dengan Afly.
"Kok kamu bisa tahu? Padahal kamu sendiri baru di sini, 'kan?" Bizar diam tidak menanggapi. Dua poin penting, dia tidak membeberkan identitas dan tidak mau ikut terpancing juga dengan Afly.
"Aku rasa, Bizar tahu pun gak ada hubungannya sama kamu, Afly," ucap Radja sambil memandang tajam pada Bizar.
Atmosfernya semakin aneh dan aku tidak suka. Ingin aku memaki Afly agar dia segera beranjak dari tempatnya. Namun, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulutku. Afly pun tetap memandangiku. Apa laki-laki itu tidak tahu arti tidak nyaman?
"Brita bakal sakit hati, aku gak suka." Aku menatap Afly heran. Laki-laki ini bahkan melindungi Brita yang jelas-jelas sudah menghinaku di depan umum. Oke, dari awal dia juga menjatuhkanku. Harusnya julukan cowok menyebalkan aku serahkan pada Afly.
Radja juga tidak terlihat suka. Dia mengepalkan tangannya. Namun, tidak lama dia memasukkan kedua tangan pada saku celana birunya. Sebelum beranjak, dia berkata, "Begitu juga aku, Afly. Aku benci omong kosong. Maaf aku harus belajar."
Bohong. Radja hanya ingin mengakhiri pembicaraan yang baginya tidak penting. Bizar tidak lama menutup bukunya. Dia juga mengambil kantong plastik yang masih berisikan makanan. Mengangguk padaku lalu beranjak pergi.
Bizar tidak peduli. Tidak sampai Afly menggebrak meja. "Apa maumu? Tidak kurangkah kamu menganggu acara makan kami?"
"Aku gak peduli. Aku mau bicara sama perempuan aneh itu."
Aku melihat Bizar geleng-geleng. Menarik lenganku sebagai intruksi percepat jalan. Aku melihat ke sekeliling, bagaimana wajah mereka yang saling menautkan alis tertuju pada kami. Tentu mereka marah.
"AKU BILANG BELUM BERES BICARA!"
Aku terkejut dengan Afly yang membentak Bizar dan menarik tanganku hingga. Dia sangat kuat hingga Bizar pun tidak bisa menahanku. Entah mungkin karena Bizar jarang menggunkan kekuatan fiksinya. Namun, Afly benar-benar marah.
"Kamu pikir setelah menyakiti temanku, aku bakal diam aja? Kalian juga harus ngerasain dong," desis Afly.
Ujung mataku memanas. Tanganku mengepal, ingin sekali aku memukul Afly. Namun, saaat aku sadari emosiku tidak terkontrol ... akar-akar merambat dari pot tanaman sekitar. Gawat. Aku menarik lengan Bizar.
Kita harus pergi.
Bizar mengangguk padaku. "Aku tahu kamu sedang membela pura-pura, Afly. Buat apa kamu punya banyak teman, tetapi semuanya palsu?"
Baik aku maupun semua yang ada di kantin ini saling melirik. Tidak mungkin Bizar bicara hal yang seperti itu. Aku menggigit bibir bawahku lalu kembali menarik lengan Bizar.
"Aku gak tahu apa fungsinya semua teman-teman palsumu itu. Tapi, meski Dira punya penyakit dia gak punya orangtua, kamu harus tahu kalau dia baik," ucap Bizar.
Entah aku harus terharu atau malah merasa tidak enak. Semua murid jadi menunduk. Sementara Afly seakan menahan amarahnya. Aku tahu dari giginya yang bergemeletuk. Bahu laki-laki itu bergetar. Oh tidak, apa ucapan Bizar membuatnya sangat marah?
Afly tidak lagi menanggapi. Dia malah pergi dengan menubruk sedikit tubuh Bizar hingga terhuyung. Aku membantu menahan agar si ilmuwan cilik ini tidak jatuh.
__ADS_1
Tidak lama Bizar pun menoleh padaku. "Ayo, ke ruangan ujian lagi."
oOo
Pulang ujian lebih lama dibandingkan jadwalnya Radja, harusnya membuat aku agak senang. Bizar mengantarku ke taman sekolah, kukira dia tahu jalan pikirku. Namun, di sana ada Radja. Dia tengah mendengarkan lagu dan menggunakan earphonenya. Buat apa pula laki-laki itu menunggu kami melebihi dua jam ujiannya berakhir.
"Dira, ada yang mau kita berdua omongin. Soal latihan. Lumayankan, sekolah udah sepi," jelas Bizar yang tahu jalan pikiranku.
Kemampuan telepatinya mengerikan. Aku tahu dan aku harusnya berhati-hati.Hanya saja, Bizar itu laki-laki yang bisa aku percaya. Dia sangat baik, hanya agak sombong kalau sudah masalah pelajaran dan dalam membuat alat.
Kami menghampiri Radja. Kupikir dia hanya mendengarkan lagu, tetapi nyatanya Radja tentang memainkan ponsel. Tepatnya aku lihat dia sedang menonton video pembelajaran mata pelajarannya besok. Memang sih, Radja masih ada tanggungjawab untuk beajar besok.
"Ja," ucap Bizar sambil menepuk bahu laki-laki tersebut.
Radja menghentikan kegiatannya. Dia lalu menoleh pada kami dan memasukkan ponsel miliknya ke saku. Aku baru sadar kalau Radja tidak lagi memakai baju seragam putihnya, tetapi celana biru itu masih dia pakai. Mungkin karena terlalu gerah Radja berganti pakaian dengan kaos hitamnya. Eh tunggu! Pakaian gelap kan malah membuat suhu jadi lebih panas.
"Aku lupa ngasih kalian berdua ini," ucap Radja. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah baju set dalam plastik. "Jangan dibuka sekarang."
Aku dan Bizar menerimanya, tetapi sesuai instruksi kami tidak dibuka. Bisa nanti lagi. Saat ini yang lebih penting itu latihan. Setelah itu aku akan meminta izin untuk berkunjung ke rumah baru pulang ke Twins dengan menggunakan jam tanganku.
"Aku dan Miss Merry sudah mendesain ulang baju kalian. Setidaknya itu cocok buat menutupi identitas kita bertiga. Terutama kamu, Dira," ucap Radja.
"Lho kok terutama aku?" protesku.
"Karena aku bisa bersatu dengan naga, otomatis identitasku tidak ketahuan," jelas Radja dan aku menyetujuinya.
Bizar turut menimpali, "Sementara aku bisa membuat program dan mengubah wajahku. Mereka bisa salah mengenali."
Oke ini menyebalkan. Aku benar-benar kesal dengan kemampuan mereka. Tidak bisakah aku seperti mereka? Radja lalu tertawa, lagi dan lagi.
"Cukup, sekarang kita bahas latihan yuk," usulku. Keduanya menyetujui.
Radja menyuruh kami untuk pindah ke banku jamur. Di mana di atasnya ada bendungan untuk menutupi orang-orang dari panas dan hujan. Di sana pula bangkunya melingkar, cocok bagi kami bertiga untuk berdiskusi.
"Sebenernya aku denger dari Miss Ann. Dira kamu bermimpi aneh terus?" Suara Radja seolah seorang polisi yang sedang mengintrograsi ketika operasi lilin sedang berlangsung.
Aku menelan ludah sendiri sambil mengangguk. "Iya, kata Miss Ann dan buku yang aku baca ... kisahnya para kesatria yang dulu. Dia dipilih langsung oleh pendahulu kamu, Ja."
"Eh? Siapa? Aku tidak punya ingatan tentang itu," elak Radja.
Bizar turut masuk dalam diskusi. Dia menatap Radja kembali, "Mungkin ingatannya ada pada kakakmu, Abimanyu. Aku bisa bantu kamu, Ja."
"Ngapain kalian masih di sekolah?" ujar anak laki-laki di depan kami. Dia menggunakan blazer yang sangat familier dengan sekolah. Warna cokelat terang dengan logo di dada. Di bawahnya terdapat tulisan MPK. Kami tersentak, takut jika orang itu mendengar pembicaraan kami.
Bara, laki-laki yang aku temui sebelumnya. Berdiri di sana sambil melipat tangan di depan dada. Dia semakin mendekat ke arah kami. Duh, bagaimana jika dia mendengar semuanya? Apa identitas kami berakhir di sini? Aku melirik pada Bizar dan Radja. Kenapa dua-duanya sangat tenang sih?!
"Kita mau belajar, Bara," balas Radja pada anak laki-laki itu dengan santai.
Bara tampak menimbang-nimbang. Aku tahu kami akan diusir sekarang. "Gimana ya? Sebenernya sih gak apa. Cuma, anak MPK mau survei. Katanya ada yang curang. Jadi kalian bisa pulang gak?"
Kami saling memandang. Jujur aku bingung harus bahagia atau malah terdesak. Hilang sudah kesempatanku untuk puang ke rumah. Benar saja Radja memandangiku dengan tatapan yang tidak meyakinkan.
"Gak ada pilihan lagi, 'kan? Dira kamu pulang duluan," ucap Radja, "aku sama Bizar biar belajar bareng."
Aku menggeleng. "Aku mau ke toko buku dulu."
"Tapi pulanglah lebih awal. Aku gak mau kamu dimarahi ibu," ucap Radja dengan kebohongannya. Aku mengangguk paham.
"Kalian berdua tenang aja. Hehe."
__ADS_1
Bara sekilas memandangiku aneh. Mungkin hanya perasanku saja. Tidak lama Bara berucap, "Makasih ya. Maaf aku harus ngusir kalian."
"Santai saja," balas Bizar sambil menenteng tasnya. Radja merangkul si ilmuwan cilik itu lalu berjalan keluar gerbang. Aku turut mengikuti mereka dari belakang.