
Setelah pencarian yang sia-sia di hotel, aku mendapatkan panggilan dari Radja. Seakan-akan laki-laki itu cenayang yang tahu aktivitasku. Ya, Radja marah karena aku tidak langsung mempelajari materi debat selanjutnya. Lomba ini cukup penting untuk meningkatkan kualitas sekolah dan juga menjaga rahasia kami pada kepala sekolah.
Afly sudah mempersiapkan segalanya dan aku harap laki-laki yang berlabelkan Raja Gombal ini tidak lupa untuk mengabari semua teman-teman di sana. Mungkin Bizar sempat mengabari, tetapi dia tetap kesulitan untuk mengirim informasi terkini. Maka, Afly adalah satu-satunya penghubung komunikasi kami. Dengan begitu mereka bisa mengamankan dan mencari tahu lokasi monster dengan mengandalkan media massa. Setidaknya untuk sementara waktu saja. Kami akan segera pulang di hari ketujuh. Ya, dengan piala dan juga kemenangan dari permainan dari musuh. Afly pasti bisa mencegah musuh mengambil teman-teman kami. Tidak lain tidak bukan, Miss Ann yang mencuci pikiran mereka.
Ngomong-ngomong, aku benar-benar bosan menunggu para peserta keluar dari pelatihan dan lomba mereka. Kenapa panitia lomba sangat ketat dalam aturan mereka sih? Aku tahu mereka takut jika monster ada di luar dan masuk untuk mengacau. Ini hal wajar karena mereka beberapa kali diganggu ketika sedang menyiapkan lomba. Seperti kemarin sore. Namun, mereka tidak tahu ciri-ciri sebenarnya dari para monster tersebut.
Ponselku kembali berdering dan aku belum mau mengangkatnya. Pasti Radja mencariku di dalam sana, tetapi tidak ketemu. Tentu saja, bagaimana dia bisa menemukanku jika aku saja berada di luar sekolah. Andai aku bisa mengelabui mereka dengan kekuatan. Sayangnya Bizar, Miss Merry dan yang lainnya pasti akan memarahiku. Maka aku pun mengangkat telepon dari Radja pipi yang menggembung.
“Kamu masih di luar? Kenapa lama banget?! Buru ke dalem, ada info penting nih soal lomba,” ujar Radja di dalam sana. Ucapannya benar-benar membuatku kesal dan rasanya aku ingin mencubit pelan lengan laki-laki yang satu ini.
“Aku susah masuk, para satpam enggak ngizinin aku masuk lagi. Lagian kan aku udah bilang sebelumnya. Sekarang aku balik lagi ke hotel aja ya? Aku janji aku bakal baca artikelnya, Ja,” ujarku meyakinkan laki-laki tersebut.
Akan tetapi dari kejauhan aku mendengar Radja yang mendengus. “Aku enggak bakal percaya. “Bilang sama pak satpam. Izinin kamu masuk nanti dikasih empat nasi box!”
“Ja, kamu lagi ngajarin aku nyogok orang?” tanyaku.
__ADS_1
Aku tidak percaya dengan laki-laki menyebalkan yang satu ini. Radja hanya bersikeras agar aku masuk ke dalam. Tidak akan aku turuti usulannya. Sebagai seorang siswi yang didik budi pekerti dan norma-norma yang berlaki, menyogok itu bukanlah hal yang patut dilakukan. Justru seharusnya aku melawan hal tersebut dan menjadi pelopor.
Pak Satpam masih tidak mengizinkanku masuk, katanya tunggu lomba selesai saja daripada mencari masalah dengan panitia. Serius, aku tidak bisa diam saja. Lagi pula, marahnya Bizar itu mengerikan. Lebih ngeri daripada berhadapan dengan sepuluh monster. Radja akan mendiamkanku selama tiga hari penuh dan aku tidak suka.
“Pak, aku emang peserta lomba karya sastra, tetapi aku juga peserta lomba debat. Cadangan sih. Aku benar-benar berkata jujur jika mereka sedang membutuhkanku saat ini. Mana mungkin aku berbohong pada Bapak,” ucapku pada salah satu pak satpam yang berada di dalam.
“Bukannya kami tidak ingin, tetapi keberadaan kamu yang di luar ini sangat mencurigakan. Aku tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan kamu masuk ke dalam. Pulanglah ke hotel. Soal teman-temanmu, biar bapak yang mengabarkannya pada mereka,” balas pak satpam tidak mau kalah dalam berargumen.
Aku harus mendapatkan argumen yang tepat agar pak satpam yang satu ini mengizinkanku masuk ke dalam sana. Daripada Radja nantinya marah. Jika dia mendiamkanku sehari saja itu berefek buruk. Komunikasi kami di luar lomba saja sudah terputus, masa iya yang di dalam pun ikut terputus. Aku pun menengadah mencari cara yang tepat. Sekelebat muncul cara yang sepertinya akan berhasil mengelabui para satpam ini.
Aku mengambil ponsel dan pura-pura terhubung dengan Miss Merry, pembimbingku. Jika saja peri yang satu itu selalu siap siaga membawa ponsel, aku pasti tidak akan kesulitan seperti ini. Namun, aku tahu jika ponsel miliknya berada di dalam loker guru dan panitia.
Aku jarang menelpon dan sekarang aku sedang berpura-pura. Namun, ini ternyata membuahkan hasil yang cukup bagus. Dari balik pagar aku mendengar salah satu satpam mengembuskan napas. Tampak pasrah dan segera membukakan pintu gerbang. Aku pun segera menurunkan ponsel ke bawah.
“Bapak berubah pikiran?” tanyaku ragu-ragu.
__ADS_1
“Sudah, masuk saja sana. Tapi cepat jangan sampai para panitia tahu jika aku membantu kamu. Gimana pun bapak gak ingin disangka orang yang menghambat kemenangan sekolah kamu,” jelas Pak Satpam.
Aku segera tersenyum dan berterima kasih pada satpam. Beberapa kali aku mengecek ponsel sambil berjalan dan mencari tempat mereka. Radja hanya bilang berkumpul di perpustakaan. Namun, tidak aku sangka banyak sekali peserta lomba yang tengah berdiskusi ataupun sekedar berbincang-bincang. Oh ya ampun, kepalaku pusing karena semua orang tampak sama saja.
Karena berjalan tanpa hati-hati aku merasakan kakiku tidak sengaja menendang sesuatu yang lebih berat sehingga tubuhku condong ke depan. Untungnya di saat itu ada orang yang membantuku dengan menarik pundak. Saat aku menoleh ternyata dia adalah Radja. Oh ini sungguh menyebalkan.
“Radja!” panggilku agak berteriak. Malu dan kesal pun bercampur jadi satu.
“Kamu lama banget. Kita udah pindah tempat. Kalau aja aku enggak ketinggalan barang, aku gak bakal ketemu kamu. Ayo cepat. Ini sangat penting dan apalagi Afly bakal pulang sama Miss Merry hari ini,” ucap Radja yang lalu menarik tanganku cukup kuar.
Entah kenapa aku jadi curiga jika ini buka tentang lomba. Apalagi Radja terlihat agak panik. Aku pun mencoba menyamakan langkah laki-laki yang sangat cepat ini. Jika aku tidak berjalan, pasti tubuhku sudah menyatu dengan tanah. Jadi aku harus mengikuti langkah Radja. Satu yang aku pahami, dia sangat terburu-buru.
Sampai di sana, aku melihat Afly, Bara, Demina, Candra dan Irish tengah berbincang-bincang. Wajah mereka kurang mengenakan dan aku tidak tahu apa yang terjadi saat lomba. Jika mereka hanya kalah, pasti tidak akan seperti ini.
“Teman-teman apa yang terjadi? Kenapa aku merasa ini ada sesuatu yang enggak baik-baik aja ya?” ucapku tanpa ragu. Mereka semua kecuali Radja, mengangguk sebagai balasan dari pertanyaanku
__ADS_1