
Tidak lama ada portal ain yang terbuka. Afly terbang di atas langit dan segera menghampiri kami. Laki-laki yang hampir menyerupai menyebalkannya Radja itu pun segera mencubit pipiku. Dia berkali-kali bilang bahwa dirinya sangat cemas. Aku bisa memahami itu, bahkan aku belum sempat berterima kasih atas bantuan Afly sebelumnya. Tanpa dia, aku pasti tidak akan bisa sampai di lokasi Radja dan Candra.
“Ada ide di mana dia akan bersembunyi, Tiara?” tanya Radja dan laki-laki itu mendelik pada gadis yang menggunakan masker. Tatapan mereka sama tajamnya dan siap membelah siapa saja orang yang akan menentang mereka. Sangat mengerikan!
“Mereka tidak akan sembunyi di gedung itu lagi, Ja. Sepertinya aku tahu mereka berada di mana, tetapi lawan kita tidak akan mudah untuk ditumbangkan,” ujar Tiara seraya tangannya menyentuh permukaan tanah. Mungkin itu caranya mencari keberadaan Ratih.
Radja tidak mempermasalahkan hal itu. Justru dia segera meminta Tiara menunjukkan jalannya. Aku turut mengikuti langkah Tiara, sementara Afly dan Radja menggunakan sayap mereka untuk terbang sekaligus mengawasi keadaan. Kelompok kedua yang bertugas untuk menghentikan Miss Ann juga memiliki kewajiban untuk menghentikan monster di sekitar kami. Jadi terkadang aku melihat mereka muncul dan melawan para monster itu. Meski tidak bisa disembuhkan, bukan berarti mereka bisa membunuhnya.
Tiara mengarahkan kami pergi ke hotel. Aku sempat berpikir untuk apa Ratih bersembunyi di sini. Namun, pertanyaan itu tidak akan mendapatkan jawaban. Kami tiba-tiba dihentikan oleh serangan bola api yang cukup besar. Mirip seperti kekuatan Nadia. Segera aku pun menggunakan kekuatan air untuk menahannya. Asap mengepul sebagai bukti pergulatan antara air dengan api. Sampai akhir bola api itu terkikis habis dan kami bisa bernapas.
Baru saja Afly terbang, tetapi secara tiba-tiba sebuah pedang terarah pada laki-laki itu. Untungnya kami semua memiliki refleks yang cukup baik, sehingga pedang itu tidak dapat melukai kami. Lagi pula, jika orang yang dia incar Afly, itu percuma saja. Laki-laki itu memiliki pelindung cahayanya sendiri dan sulit untuk dihancurkan. Aku segera mengedarkan pandanganku—siapa orang yang berani mencegah kami?
Aku tidak akan menganggapnya monster. Biasanya para monster akan datang tidak hanya satu. Serangan mereka berpusat pada fisik bukan kekuatan elemental seperti sekarang, oleh karenanya aku sangat ragu. Nyatanya tidak hanya aku yang memikirkan hal ini. Baik Radja, Tiara maupun Afly memikirkan hal serupa. Aku segera bergerak maju dan menempelkan punggungku dengan punggung Ratih. Mata kami melihat ke segala arah, begitu pun dengan Radja dan Afly. Musuh bisa menyerang kapan saja dan di mana pun.
__ADS_1
Serangan lainnya kembali datang. Kali ini musuh sengaja meretakkan tanah sehingga aku dan Tiara terpaksa memisahkan diri. Keadaan kami di bawah cukup tidak aman. Sayangnya di atas pun sama kacaunya dengan keadaan di bawah sini. Radja dan Afly mendapat serangan angin yang entah dari mana asalnya. Aku masih mengedarkan pandang, mencari si pelaku.
Dari atas kami kembali dihujani oleh panah api. Sial. Aku pun segera mengangkat tangan dan memunculkan air yang cukup banyak. Tanpa berlama-lama, segera aku gunakan sebagai pelindung. Demi melapisi airku, Afly menggunakan cahayanya sendiri sehingga panah yang awalnya menyerang kami pun hancur lebur karena kekuatan cahaya milik Afly.
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya Tiara juga menyadari hal serupa. Dalam sekejap gadis bermasker hitam dengan belatinya pun berlari. Tidak ada yang bisa mengalahkan Tiara dalam urusan mengejar. Bahkan aku nyaris tidak mengetahui keberadaan gadis itu. Tidak lama aku mendengarkan suara besi yang beradu.
“Itu dia, Tiara sedang melawannya!” ucap Radja menunjukkan ke suatu tempat. Tentu saj aku tidak mengetahui apa yang sedang laki-laki itu tunjukkan. Menyadari hal itu, Afly segera turun dan mengulurkan tangannya padaku.
Afly memegang pundak untuk menahanku tetap berada di atas langit. Sementara Radja pergi menolong Tiara. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Segera saja aku menyuruh laki-laki ini untuk menurunkanku di salah satu gedung. Setelahnya Afly bisa turun untuk membantu, sementara aku menyiapkan panah untuk membidik musuh. Sepertinya apa yang Tiara ucapkan benar, mungkin lawan kami tidak akan mudah ditumbangkan.
Aku segera membidik pada musuh. Laki-laki yang terus menduplikasi kecepatan Tiara. Bahkan gadis itu dibuat kewalahan dan lelah. Bagaimana pun menggunakan kecepatan sebanding secara terus-menerus akan membuat Tiara lelah. Terlebih melawan kekuatan sendiri itu lebih sulit dari pada yang dibayangkan. Aku bahkan cukup kesulitan saat melawan duplikasiku. Dalam serangannya dia memang lebih baik dan lebih bervariasi.
Saat aku melepaskan tarikan sulur, anak panah itu tidak mengenai lawan. Justru menancap pada tanah. Laki-laki yang menduplikasi itu pasti sangat kegirangan karena kami tidak bisa menghentikannya. Namun, bagaimana pun caranya kami harus menyelesaikan pertarungan ini. Bagaimana pun yang menjadi prioritas adalah Ratih. Keberadaan gadis itu benar-benar dipertanyakan dan kami tidak memiliki waktu banyak. Semakin cepat semakin baik.
__ADS_1
Aku kembali menembak, kali ini mengenai lengannya meski hanya berupa goresan saja. Kecepatannya menjadi menurun dan aku bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Kali ini Radja langsung turun tangan. Dia mengeluarkan napas dinginnya untuk membekukan lawan. Sayangnya, laki-laki yang menjadi lawan kami menduplikat lagi, sekarang dia menggunakan napas api.
Kekuatan laki-laki itu memang aneh. Namun, sepertinya hanya kekuatanku saja yang tidak diduplikasi. Mungkin karena ada orang khusus yang sudah menduplikasiku. Segera saja aku pun menggunakan tanaman untuk mengikat tubuh laki-laki tersebut. Jika belum kuat, aku akan menambahkannya dengan akar tanaman. Namun, sebelum menambahkannya Radja sudah lebih dulu memukul wajah laki-laki tersebut. Mereka lalu kembali ke atas dan menjemputku di atas gedung.
“Kerja bagus, Dira. Untunglah kamu mengikat dia. Namun, ini belum berakhir. Masih ada banyak musuh yang seperti dia,” ujar Tiara pada kami, “kita tidak bisa senang dulu.”
“Tidak masalah, sekarang kita susul Tiara. Semua keadaan ini akan berubah jika kita menghancurkan buku menyebalkan itu. Jadi sebaiknya kita berangkat sekarang—masih banyak hal yang menunggu kita,” ujar Radja.
Namun, Tiara kembali berjongkok, dia menyentuh dasar tanah dan ekspresinya langsung berubah. Tatapan gadis itu yang sudah tajam makin terlihat menyeramkan. Tiara kembali berdiri dan membuat laporan. Miss Ann berada di gedung ini. Hal itu sukses membuat kami meneguk ludah. Namun dalam sekejap Radja sadar dan dia mengingatkan prioritas kami.
Sambil beranjak, aku segera melaporkan hal tersebut pada Bizar. Tentu dengan fitur baru yang ditingkatkan, laki-laki itu tidak perlu mengirimkan pesan dan lokasi tambahan. Dengan mudah Bizar mengirimkan lokasi pada kelompok lain. Sementara kami fokus pada tujuan utama. Menemukan Ratih dan menghancurkan jurnal tersebut.
Kami berdiri di depan hotel, kembali beberapa orang dengan muka yang sama seperti orang sebelumnya pun bermunculan. Kali ini lebih banyak dan lebih menyeramkan.
__ADS_1