Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 52. Rahasia Milik Miss Merry


__ADS_3

“Bertahanlah selama dua hari, Afly. Aku bakal minta Miss Merry memeriksa keadaan nenekmu. Setelah dua hari dan kita lolos di babak-babak awal, Nadira bakal jadi pengganti kamu,” ucap Radja.


Aku mengangguk, setuju dengannya. Besok pertandingan menulis karya sastra. Hanya sehari tetapi aku butuh waktu untuk mendengarkan pengumumannya. Lusa, aku akan jadi peserta debat dan mengusahakan kemenangan tim sekolah.


“Kamu tenanglah dulu, Afly. Jika perlu, kamu beristirahat dulu di sekitar sini, nanti kita telepon kalau kelompok kita udah dipanggil,” ujar Bara. Afly mengembungkan pipinya tetapi dia tetap menyetujui usul itu.


Ini memang seperti yang direncanakan. Namun, aku tidak menduga jika neneknya pun akan sakit. Aku tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Siapa pun dalangnya. Aku harus segera mengakhiri ini dan menemukan mereka. Jika benar ada yang aneh dari Tiara dan Faizal, maka aku akan mulai dari sana. Lupakan saja sejenak tentang penglihatanku.


Aku menatap pada Radja. Laki-laki itu juga sedang tidak percaya diri. Seakan semua itu ditarik kuat hingga akhirnya runtuh seperti bangunan. Aku tahu kebimbangan yang tengah bersemayam di hati kami, tetapi kami pun tidak mungkin diam begitu saja ketika pasukan Azumi mulai bermain-main seperti ini. Ini bukan hasil akhir penentu kemenangan musuh.


“Dira, kamu ikut aku. Kita ke Miss Merry sekarang. Aku ingin memastikan sesuatu,” ucap Radja tegas.


“Tunggu, gimana kalau kalian dipanggil setelah ini?” ucapku ragu-ragu. Terlebih tidak ada yang duduk dan menonton lomba debat.


Radja tidak mengulangi ucapannya. Dia justru mengambil telepon dan segera mengetik cepat. Entah ditujukan pada siapa surel tersebut. Jika itu baik, aku akan setuju-setuju saja. Laki-laki itu kembali mengajakku pergi menemui Miss Merry. Dengan seksama, aku yakin melihat rahang laki-laki itu lebih tegas. Seperti marah. Aku tidak dapat melihat matanya dari belakang, tetapi aku bisa menebak jika tatapannya bisa mengiris-ngiris dengan tajam bagaikan silet.


Langkah kakinya semakin lama semakin cepat dan aku sulit untuk mengimbanginya. Aku jadi penasaran dengan apa yang ingin dia pastikan padahal ini baru babak penyisihan. Miss Merry juga bisa dihubungi lewat telepon sebenarnya. Jadi tidak perlu pergi begitu saja dari lomba, apalagi jika ketahuan panitia. Bisa-bisa dia didiskualifikasi karena tidak ada perwakilan anggota.

__ADS_1


Di ruang lomba ada beberapa guru dari berbagai sekolah yang sedang berbicara dengan Miss Merry. Di sana mereka tengah bicara satu sama lain, tetapi peri yang satu itu tidak banyak bicara. Radja segera mengetuk pintu tersebut dan meminta izin untuk bertemu dengan Miss Merry. Bisa aku lihat jelas para guru itu keheranan dengan kedatangan kami.


“Ada apa Radja?” tanya Miss Merry sambil berjalan menjauhi ruang tersebut. Peri ini pasti tidak mau mengambil resiko jika pembahasan kami cukup berat.


“Afly harus segera kembali, Miss Merry. Neneknya sakit dan mungkin Miss juga belum tahu, Tiara, Faizal dan Bizar ada di sini,” jelas Radja.


“Kenapa mereka bisa di sini? Aku sudah memastikan mereka tidak terdaftar. Baiklah aku mencoba memahami Faizal dan Tiara, tetapi kenapa Bizar juga? Siapa yang mengawasi Twins selama perlombaan?” gerutu Miss Merry.


Peri itu menopang dagu, memikirkan sesuatu tentang apa yang kami ucapkan. Meski Bizar sudah mengatakan kami untuk tidak bercerita pada Miss Merry, tetapi Radja malah menyebutkannya. Aku ingin mengingatkan dia. Sayangnya, ketika mata kami bertemu, aku sadar jika Radja sangat yakin dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Maka aku hanya bisa menjadi pendengar dan memastikan apa yang ingin Radja buktikan melalui Miss Merry.


Miss Merry mencoba memikirkan hal itu dengan baik. Aku yakin peri ini juga tidak tahu apa-apa soal tugas yang diberikan Miss Ann pada Tiara dan Faizal sebelumnya. Karena sejak Radja menyebutkan itu, aku melihat mata Miss Merry membulat. Segera saja peri yang satu itu membenarkan posisi kacamatanya. Adakah yang salah di sini?


“Sekarang kembalilah ke lomba debat, Radja. Bersikap biasa saja pada mereka. Biarkan Nadira di sini bersamaku dan membahas ini. Cukup kalian berdua saja yang tahu. Jangan buat teman-teman lainnya khawatir. Soal Afly, aku akan mengurus surat-surat pengunduran diri sekaligus memasukkan Nadira ke tim kalian,” jelas Miss Merry.


Radja mengangguk. Dia segera beranjak dari tempatnya tanpa berkata-kata. Padahal aku berharap dia membalas ucapan Miss Merry dan tidak bersikap seperti ini. Aku ingin semuanya baik-baik saja. Menjalankan misi sesuai rencana. Walaupun memang ada kemungkinan untuk gagal dan segera menggunakan rencana cadangan. Lalu, aku yang melihat punggung Radja semakin menjauh pun merasakan Miss Merry memegang pundakku.


“Aku harus memberitahu kamu dan Radja, seharusnya ini aku katakan setelah keadaan normal. Sudahlah, mari kita ke hotel dan membicarakan hal penting ini di sana,” ujar Miss Merry seraya menarikku ke hotel. Memang seharusnya begitu rencana kami. Namun, kepalaku pun kembali sakit.

__ADS_1


Ruangan itu menampilkan kembali bayangan hitam yang tengah berdiri. Aku terasa familier dengan hal itu, tetapi di mana? Perlahan aku melihat sinar merah yang sama sama dengan milik Faizal dan Tiara. Bedanya sinar pada orang itu tidak menghilang dengan cepat. Aku tidak tahu wajah aslinya seperti apa. Namun apa yang dilakukannya membuat sinar itu mengalir ke suat tempat, entah di mana.


Bersamaan dengan itu aku mendengar suara ledakan yang diikuti suar merah. Miss Merry tengah memapahku dan dia terlihat sangat panik. Aku tahu apa yang menjadi kecemasannya. Bizar masih ada di tempat lomba, pasti dia pun sulit mengirimkan kabar pada kami. Hanya aku yang bisa pergi.


“Miss, aku tidak apa. Aku akan pergi untuk memeriksa keadaan,” ucapku.


“Dengar ini mungkin saja berbahaya. Kamu tidak bisa berangkat sendiri. Kita berdua akan mengulur waktu sampai bala bantuan datang,” ucap Miss Merry. Aku menoleh pada para guru yang sedang keluar.


“Jangan, Miss. Aku yakin aku bisa mengatasinya. Miss panggil saja bala bantuan seperti Kak Ron dan lainnya. Aku ragu jika peserta lomba tidak bisa keluar. Terlebih pengawasannya sangat ketat. Kalaupun bisa keluar, mereka pasti diarahkan untuk berlindung,” ucapku padanya.


Miss Merry mengembuskan napas. Dia lalu menengadahkan tangan, lalu memunculkan sebuah kalung berbentuk hati dengan bagian luarnya dilindungi oleh besi. Dia pun memasangkannya padaku.


“Jangan pergi tanpa perlindungan. Kalung ini akan melindungimu hingga bala bantuan datang. Aku juga akan menceritakan semuanya kepadamu dan Radja setelah pertempuran berakhir,” seru Miss Merry.


Aku memegang liontin tersebut. Entah untuk apa, tetapi aku memang bisa merasakan sebuah perisai berada di sini. Miss Merry segera mengambil ponsel dan mungkin sedang menghubungi teman-teman lainnya. Aku mengembuskan napas pelan. Miss Merry menutupi diriku agar bisa berubah tanpa ketahuan. Meski ada ragu, aku tidak bisa berhenti melangkah.


Aku akan mencari tahu apa yang terjadi, sekaligus menyelidiki bayangan hitam yang ada di penglihatanku sebelumnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2