
"Woiiiii.... Risda masuk woiii!!" Tiba tiba terdengar teriakan begitu nyaring dan heboh dari dalam kelas.
"Anjiiirrr kaget gue! Teriakan lo udah kek toak masjid, cempreng banget dah, bisa bisa dunia rusak karena lo" Umpat Risda karena terkejut.
Teriakan itu berasal dari Mira yang heboh ketika melihat Risda berjalan mendekat kearah kelas mereka, terlihat Septia dan Mira langsung berlari kearah Risda, Risda yang belum siap menerima pelukan keduanya itu pun langsung membuat ketiganya terjatuh dilantai secara bersamaan.
Bhukkk....
"Anjiiirrrr.... Pantaat gue sakit!" Teriak Risda menggeram kesakitan.
"Akhirnya lo masuk juga Da, gue seneng banget lihat lo masuk" Teriak Mira ditelinta Risda.
"Seneng sih seneng, tapi ngak gini juga kali, lama lama gue bisa koma gara gara lo pada, kayak kagak pernah lihat gue setahun aja kalian berdua padahal juga baru sehari kagak masuk sekolah" Gerutu Risda seraya berdiri kembali.
Risda lalu membantu Mira dan Septia untuk berdiri kembali, ketiganya itu pun langsung berpelukan ketika sudah berdiri dengan tegaknya, seakan akan kerinduan mereka begitu besar padahal baru saja sehari tidak masuk sekolah.
"Lo kemana aja sih Da?" Tanya Mira.
"Wulan kagak ngasih tau lo apa? Gue sakit, mangkanya gue kagak masuk"
"Ngasih tau sih, dan gue ngak percaya kalo lo itu sakit, orang kayak lo kok bisa sakit sih Da?"
"Emang lo pikir gue apaan? Gue juga manusia kali, juga bisa sakit juga"
"Emang lo manusia Da?" Tanya Septia penasaran.
"Bukan! Gue dedemit"
"Pantes, sakit lo aneh Da, lo kagak masuk aja disekolahan ini langsung ada kasus"
"Kasus apa?"
"Kasus seseorang yang ngerusak pintu kamar mandi cowok, jadi kan kita kita dijemur kemaren, udah panas ngak ada perasaan lagi" Keluh Mira yang langsung terlihat lesu.
"Hah? Mampus kalian, untung gue kagak masuk jadi gue kagak ikut dijemur kek kalian" Ucap Risda yang merasa bangga.
"Dan kemaren lo dicariin sama Renzo, waktu gue nanya dianya malah pergi" Septia mengadu kepada Riada.
"Gue? Kenapa tiba tiba nyariin gue? Kesambet apaan tuh orang nyari gue?"
"Gatau gue, katanya lo itu muridnya, noh orangnya"
Septia langsung menarik tubuh Risda dan menolehkan wajah gadis itu untuk menatap kearah Afrenzo yang tengah berjalan dengan seseorang, melihat itu membuat pandangan Afrenzo langsung terarah kepada ketiga cewek itu.
Tatapan Afrenzo dan Risda bertemu, Risda langsung menundukkan kepalanya dalam ketika melihat wajah dingin dari Afrenzo itu, entah cowok satu itu selalu saja menatap dingin kepada siapapun.
"Selametin gue!" Keluh Risda dan langsung berlari masuk kedalam kelasnya.
"Eh lo ada apaan!" Teriak Mira.
Septia dan Mira langsung mengejar Risda yang berlari masuk kedalam kelasnya tersebut, sementara Afrenzo juga masuk kedalam kelasnya sendiri beserta dengan seorang pemuda yang bersama dengan dirinya itu.
Risda langsung bergegas duduk dibangkunya hingga membuat Wulan yang duduk disebelahnya itu pun langsung terkejut atas kedatangan Risda yang tiba tiba.
"Eh lo kenapa Da?" Tanya Wulan kepada Risda.
"Beneran gue kemarin dicariin sama Renzo?" Tanya Risda yang langsung to the point.
"Iya, eh emang lo ada apaan sama dia? Katanya lo muridnya, beneran?" Tanya Wulan yang mulai terlihat begitu kepo.
"Iya, gue emang muridnya sekarang, mati gue!" Sentak Risda dan langsung menutup mulutnya.
"Murid apaan? Emang dia guru?" Tanya Rania yang mendengar ucapan keduanya.
"Lo semua bakalan kagak ngerti deh, dia itu ternyata adalah seorang pelatih beladiri disekolah ini, dan gue baru tau soal itu sejak ikut beladiri" Jawab Risda seraya meletakkan tasnya.
"APA! SERIUSAN LO ANJJJING!!" Umpat teman temannya yang mendengar ucapan Risda.
"Kan, apa gue bilang, kalian kagak mungkin percaya kan? Gue kematin ngak latihan plus ngak izin sama dia, nanti bakalan kena marah deh"
"Emang latihan tiap hari? Bukannya kemaren emang bukan jadwalnya latihan?" Tanya Wulan bingung.
"Sekarang hari apa?" Tanya Risda yang emang lupa soal hari saat ini.
"Sekarang hari sabtu, kemaren itu hari jumat, bukannya emang latihannya itu hari senin, rabu, dan kamis ya?"
"Hehehe.. Gue lupa, gue pikir sekarang itu hari jum'at" Risda pun menyengir merasa tidak bersalah didepan teman temannya itu.
"WOIIII.... Baru ngak masuk sehari saja udah lupa hari aja lo" Teriak Mira.
"Maaf guys, dan gue salah jadwal dong, gue bawa mata pelajaran hari jum'at sekarang"
"Mampus! Rasakan lo" Umpat Rania yang memang dia adalah ketua kelas dikelas tersebut.
"Semoga saja ini hari keberuntungan buat gue" Risda mengucap harapannya.
*****
"Keluarkan buku tugasnya masing masing" Ucap seorang Guru wanita memerintahkan mereka untuk mengeluarkan buku tugas mereka masing masing.
__ADS_1
"Bu saya lupa ngak bawa" Suara Risda yang jujur.
"Kenapa ngak bawa? Kemana bukumu?" Tanya Guru tersebut kepada Risda.
"Lupa Bu, saya kira hari ini hari jum'at, dan saya bawanya mata pelajaran hari jum'at"
"Apa orang tuamu tidak memberitahumu?"
"Orang tua saya sudah pisah, terus saya mau diingetin sama siapa? Keduanya tidak pernah pulang Bu"
"Baiklah, kau boleh duduk kembali, keluarkan buku tulis yang ada dan salin semua materi yang akan saya terangkan, lain kali tanyakan kepada temanmu"
"Iya Bu, terima kasih atas pengertiannya"
"Oke anak anak, silahkan dicatat, sekertarisnya disini siapa?"
"Septia Bu!" Jawab mereka bersamaan.
"Septia maju kedepan, dan pelajaran hari ini hanya mencatat"
"Baik Bu" Jawab Septia dan langsung maju kedepan.
Septia langsung berdiri dihadapan Guru itu, ia pun mendengarkan apa saja yang perlu dicatat nantinya, setelahnya ia langsung mencatat materi yang akan diberikan oleh Guru tersebut dipapan tulis agar teman temannya bisa mencatatnya juga.
Risda pun mengeluarkan buku asal asalan karena memang dirinya yang tidak membawa buku pelajaran hari ini, untung saja gurunya baik sehingga dirinya tidak mendapatkan hukuman karena salah mata pelajaran yang ia bawa hari ini.
*****
"Risda, lo ngak kekantin?" Tanya Wulan disaat melihat Risda yang tengah sibuk mencatat padahal jam istirahat sudah berbunyi.
"Ngak, gue lupa ngak bawa uang saku" Jawab Risda sambil tetap fokus kepada bukunya.
"Mau ngutang dulu ngak? Gue ada lebih nih"
"Ngak usah, lagian hari ini juga pulangnya agak siang ngak sore seperti biasanya"
"Tapi lo kan baru sembuh Ris, ngak mau makan dulu apa?"
"Ngak, gue ngak lapar"
"Beneran?" Tanya Wulan sekali lagi.
"Iya Lan, lo kekantin aja keburu jam istirahat habis"
"Okelah, gue duluan ya"
Wulan langsung bergegas menuju kekantin sekolahan, sementara Risda masih sibuk dengan buku yang ada didepannya itu, Risda nampak terlihat sedikit pucat saat ini karena dirinya memang belum sembuh sepenuhnya akan tetapi dirinya memaksakan diri untuk berangkat sekolah.
"Kok kepala gue rasanya pusing ya" Guman Risda.
Risda pun memegangi kepalanya yang terasa pusing tersebut, ia pun memutuskan untuk berhenti menulis dan meletakkan kepalanya kepada kedua tangannya seraya untuk menghilangkan rasa pusingnya itu.
"Ris, makan dulu" Tiba tiba seseorang meletakkan sebungkus roti didepan Risda.
Riada pun mendongak kearah orang tersebut dan mendapati Satria yang tengah berdiri didepannya itu, melihat wajah Risda yang pucat membuat Satria merasa gelisah.
"Lo kenapa Ris? Kalo lo belum sembuh jangan sekolah dulu" Ucap Satria.
"Gue ngak papa, lagian gue bosen dirumah" Jawab Risda.
"Pucet begitu kok ngak papa sih Ris? Sudah buruan makan nih roti buat ngisi perut lo, jangan pikirkan soal harganya, gue iklas ngasih ke lo"
"Gue ngak papa, cuma pusing doang kali, lo nya aja yang lebay, nanti gue ganti kok uangnya, thanks ya"
"Kenapa sih lo itu kalo dikasih selalu aja ganti dengan uang, padahal gue iklas ngasih ke lo"
"Gue ngak suka dikasihani, jika lo kek gini terus, gue ngerasa gue udah kayak beban aja"
"Gue ngak ada niatan seperti itu Ris, beneran deh"
"Gue tau, tapi dengan cara lo seperti ini bikin gue ngak nyaman"
"Iya, maafin gue, tapi makan dulu, soal bayar nanti aja"
"Iya"
Risda pun mengambil roti tersebut dan memakannya, Satria selalu perhatian dengan dirinya itu, akan tetapi Riada menganggap perhatiannya itu hanyalah sebatas rasa kasihan, dan hal itulah yang sangat tidak disukai oleh Risda.
Meskipun begitu Risda tetap memakannya dengan perlahan lahan, karena dikelas tersebut hanya ada Risda dan Satria saja membuat Risda merasa agak risih jika dilihatin oleh Satria seperti itu dan Risda memakannya sampai habis.
"Gue mau ke toilet dulu Sat" Ucap Risda.
"Mau gue anterin ngak? Takut lo kenapa kenapa"
"Ngak usah, emang lo pikir ini gue anak kecil? Kalo lo ikut malah dikira lo ganti gender, mau lo dikatain orang orang?"
"Ya ngak gitu sih, gue anterin sampai depan pintu toilet saja kok"
"Ngak usah, gue bisa sendiri kok"
__ADS_1
Risda langsung bangkit dari duduknya untuk bergegas keluar dari kelasnya, ia pun melewati lapangan bola basket yang memang berada tidak jauh dari kelasnya, ketika ia akan lewat tiba tiba sebuah bola melesat menuju kearahnya.
"Woi minggir!" Teriak seseorang kepada Risda.
"Aaaa....." Teriak Risda ketika melihat bola melayang kearahnya.
Risda pun tiba tiba berjongkok karena takut terkena bola basket tersebut, ia pun memejamkan kedua matanya menunggu bola itu mengenai tubuhnya akan tetapi yang ditunggu tunggu tak kunjung datang.
Risda pun memberanikan diri untuk membuka kedua matanya dan mendapati sosok Afrenzo tengah berdiri dihadapannya sambil memegangi bola basket yang melayang sebelumnya, Afrenzo pun melemparkan bola tersebut dengan keras hingga masuk kedalam ring basket.
Melihat itu membuat beberapa gadis yang menyaksikan permainan itu langsung bersorak heboh karena Afrenzo, Afrenzo pun langsung mengulurkan tangannya untuk Risda.
Melihat itu membuat Risda terpanah dengan Afrenzo tanpa sadar dirinya pun hanyut kedalam lamunannya, uluran tangan dari Afrenzo tak kunjung diterima oleh Risda hingga membuat Afrenzo menghela nafasnya.
"Bangun" Ucap Afrenzo dengan dingin.
"Eh iya, maaf" Risda baru menyadari akan lamunannya itu dan langsung menerima uluran tangan dari Afrenzo.
Afrenzo lalu menarik tangan Risda untuk membantu gadis itu berdiri, apa yang dilakukan oleh Afrenzo itu tak luput dari perhatian seluruh siswa, bagaimana bisa seorang pemuda sedingin itu membantu Risda begitu saja.
"Thanks ya Renzo" Ucap Risda setelahnya.
"Lo sakit?" Tanya Afrenzo ketika melihat wajah pucat dari Risda.
"Gue ngak papa kok, tumben lo perhatian? Biasanya juga lo paling cuek dengan gue"
"Lo murid gue"
"Jadi lo sudah setuju buat ngelatih privat gue?"
"Untuk sementara waktu jangan latihan dulu, lo masih sakit"
"Gue ngak papa Renzo, besok juga bisa latihan lagi kok"
"Keras kepala"
Afrenzo langsung bergegas pergi meninggalkan Risda yang penuh dengan tanda tanya, entah mengapa lelaki itu selalu bersikap misterius kepadanya, mungkinkah karena hutangnya kepada lelaki itu sehingga lelaki itu bersikap sedemikian dengan Risda.
Risda pun melamun sesaat dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo itu, ia merasakan hal yang berbeda dari lelaki tersebut, jika demikian itu artinya Afrenzo sudah menyetujui tentang permintaannya untuk melatihnya dengan cara privat.
"Renzo pria aneh yang pernah gue temui selama ini" Guman Risda.
Risda pun mewurungkan niatnya untuk kekamar mandi, ia lalu bergegas kembali kekelasnya ketika mendengar suara bel masuk berbunyi, sebenarnya dirinya tidak ada perlu kekamar mandi akan tetapi karena hanya berduaan dengan Satria membuatnya merasa tidak enak.
Risda masuk kedalam kelasnya setelah melihat teman temannya sudah berada dikelas setelah selesai dari kantin sekolahan, Risda langsung bergegas untuk duduk dibangkunya.
"Eh Da, besok lo ada acara kagak?" Tanya Rania.
"Ngak ada, emang kenapa?" Tanya Risda.
"Gue sama Nanda, sama Septia, mau jalan jalan, lo ikut kagak?"
"Jalan jalan kemana woi?"
"Ke wisata yang deket sini, mumpung besok kan libur"
"Gue tanya dulu sama Kakak gue ya, tapi gue ngak tau pastinya dibolehin atau ngaknya, Kakak gue kan ya begitulah"
"Semoga aja di bolehin ya Ris, sekalian refreshing untuk lo"
"Siap"
Risda pun mengacungkan kedua jempol tangannya kepada Rania, ia pun kembali membuka bukunya yang sebelumnya ia tutup itu, tak beberapa lama kemudian seorang guru pun datang kekelas tersebut untuk memulai sebuah pelajaran.
*****
Pulang sekolah pun tiba, Risda dan yang lainnya segera bergegas keluar dari kelasnya secara ramai ramai, Risda pun tanpa sengaja melihat Afrenzo sedang mengobrol dengan anggota OSIS disebuah bangku yang ada ditaman.
"Sudahlah Renzo, akui saja perbuatanmu itu" Ucap ketua OSIS kepada Afrenzo.
"Sudah gue bilang, bukan gue pelakunya! Kenapa lo nuduh gue sih" Ucap Afrenzo dengan sebalnya.
"Kalo bukan lo terus siapa lagi?"
"Lama lama gue bosen ya denger suara lo, nuduh ngak ada bukti"
"Lo kan yang pegang kunci sekolahan ini, kalo bukan lo siapa lagi?"
Entah karena apa hal itu langsung membuat Afrenzo memegangi erat kerah baju ketua OSIS itu, setiap kali bertemu dirinya selalu disudutkan oleh ketua OSIS tersebut, tatapan dingin diberikan oleh Afrenzo kepadanya.
"Renzo!" Teriak Risda ketika menyaksikan kejadian tersebut, "Kalian ini apa apaan sih? Lo lagi, ketua OSIS yang sok sok an, mundur aja deh lo dari jabatan lo, ngak pantes sama sekali jadi ketua, lo lebih cocoknya jadi sampah!" Omel Risda yang memang ngak ada remnya apalahi filternya itu.
"Eh lo, lo itu cewek jangan ikut ikutan, ini sudah jam diluar sekolah jadi lo ngak usah nasehatin gue, disini gue bebas!"
"Emang apa hubungannya kalo gue cewek? Lo itu cowok jangan main mulut lo! Udah kayak mak mak aja"
"Lepasin gue! Gue mau bikin pelajaran dengan nih cewek" Teriak ketua OSIS itu kepada Afrenzo.
"Hadapin gue sebelum dia!" Ucap Afrenzo lebih dingin.
__ADS_1