Pelatihku

Pelatihku
Episode 54


__ADS_3

Afrenzo sedang berkeliling ke kelas kelas untuk mengobrak obrak para siswa untuk bergegas pergi kemasjid, seperti biasanya dirinya akan berkeliling kelas dengan sebuah kayu untuk menggertak siswa yang malas untuk pergi menunaikan sholat dhuhur.


Dirinya melihat beberapa kelas sudah kosong karena penghuninya sudah pergi ke masjid lebih awal, ada beberapa kelas yang masih ditempati oleh beberapa siswa dan ketika melihat kedatangan Afrenzo langsung membuat mereka bergegas meninggalkan tempat itu.


Paling terakhir dirinya masuk kedalam kelas Risda, ia melihat kelas itu sangat sepi dan itu artinya bahwa mereka semua telah pergi kedalam masjid. Ketika hendak meninggal kelas itu, tiba tiba dirinya mendengar suara pekikkan dari seseorang didalam.


Afrenzo langsung menghentikan langkahnya, ia pun kembali masuk dalam kelas itu. Sekilas dirinya melihat seseorang yang bersembunyi dibawah bangku yang ada ditempat lagian belakang, Afrenzo lalu mendekat kearah orang tersebut.


"Sudah pinter ya sekarang!" Sentak Afrenzo.


Jedhuakkk...


"Akh... Kepala gue sakit!" Keluh Risda.


Ketika mendengar suara Afrenzo, dirinya begitu terkejut dan langsung bergegas bangkit tanpa memperhatikan sekitarnya. Alhasil, dirinya justru terjedat meja tempat dimana dirinya bersembunyi itu, Risda pun langsung berusaha untuk bangkit dari duduknya itu.


"Kenapa sembunyi?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya.


"Renzo..." Ucap Risda dengan menyengir sambil mengusap usap kepalanya yang telah terbentur meja kayu itu.


"Jawab!" Sentak Afrenzo.


"Jangan galak galak gitu lah, sama cewek itu ngak boleh kasar kasar."


"Ke masjid sekarang juga!" Perintah Afrenzo sambil mengangkat kayu yang ada ditangannya itu.


"Besok aja ya? Gue lupa ngak bawa mukenah, tadi berangkat sekolahnya buru buru. Besok ya?"


"Sekarang, tidak ada tawar menawar lagi,"


"Renzo... Kan aku ngak bawa mukenah, kalo sholat kan harus pake mukenah,"


"Gue pinjamin."


Risda langsung membelalakkan kedua matanya itu, ia tidak memercayai apa yang dirinya dengar saat ini. Bagaimana bisa Afrenzo meminjaminya mukenah, padahal dirinya sendiri adalah seorang lelaki, lalu mukenah itu dari mana? Itulah yang ada dipikiran Risda saat ini.


"Maksud lo?" Tanya Risda yang merasa kurang jelas dengan ucapan dari Afrenzo.


"Gue pinjamin mukenah," Jelas Afrenzo.


"Lo punya mukenah? Lo kan cowok ngapain beli mukenah? Emang lo sholat pake mukenah? Kan ngak lucu banget, Renzo. Mukenah siapa yang lo pinjam? Jangan bilang lo mau pinjam paksa ke temen sekelas lo, atau jangan jangan lo sengaja beli dan pengen menyamar jadi cewek dimushola, jawab lo?" Pertanyaan dari Risda yang beruntun tanpa adanya cela.


"Sudah ngomongnya?" Tanya Afrenzo ketika merasakan bahwa Risda berhenti untuk terus bertanya kepadanya.


"Belom!" Sentak Risda.


"Lanjutkan," Ucap Afrenzo dengan santainya.


"Ngapain lo punya mukenah? Lo kan cowok Renzo! Lo mau cosplay jadi cewek waktu sholat? Terus bikin malaikat bingung sebenarnya lo itu cewek atau cowok, nanti amalan lo ditulis asal asalan. Lo mau seperti itu? Ngapain sih punya mukenah segala,"


"Sudah?"


"Udah, gue capek ngomong." Risda lalu menyahut sebuah botol minum dan langsung meminumnya setelah mengatakan kalimat begitu panjang itu.


"Ke masjid sekarang!" Perintah Afrenzo dengan dinginnya.


"Kan gue udah bilang, kalo gue kagak bawa mukenah, Renzo. Kenapa lo kagak paham paham sih?"


"Gue pinjami!" Ucapnya dengan tegas.


"Tapi gu...."


"Ikut gue!"


Tanpa mampu untuk menolak, Afrenzo langsung memotong ucapannya itu dan langsung menarik tangan Risda untuk bergegas pergi dari tempat tersebut. Risda sama sekali tidak bisa menolak soal hal itu, karena Afrenzo menariknya dengan sangat kuat untuk pergi dari kelasnya.

__ADS_1


Karena masjid ditempat itu harus melewati aula beladiri, sehingga Afrenzo membawa Risda terlebih dulu ketempat itu untuk mengambil mukenah. Afrenzo langsung mengajak Risda untuk masuk kedalam aula beladiri, Afrenzo sendiri langsung bergegas menuju ke sebuah lemari yang berada disana.


Dirinya pun mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari itu, dan langsung menyerahkannya kepada Risda. Risda pun menerimanya dengan penuh tanda tanya, bagaimana bisa cowok itu memiliki mukenah sehingga dirinya dipinjami mukenah olehnya.


"Cepat ke masjid sekarang!" Perintah Afrenzo.


"Ini mukenah milik siapa?" Tanya Risda sambil ngelihati mukenah yang berwarna putih bersih itu.


"Milik gue," Jawab Afrenzo dan langsung membuat Risda membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo.


"APA!!" Teriak Risda yang tidak memercayai apa yang didengarnya itu, "Jadi lo bener bener mau cosplay jadi cewek, Renzo? Gue ngak nyangka kalo lo selama ini pake mukenah ketika sholat."


"Pikiran lo terlalu buruk,"


"Lah terus yang benar gimana? Orang jelas jelas lo bilang kalo mukenah ini punya lo, ya gue curiga dong kalo tuduhan gue itu bener."


"Itu memang punya gue, tapi bukan berarti gue yang make."


"Lah terus siapa yang pake? Harum lagi, kayak tiap hari dicuci bersih,"


"Buat anggota beladiri yang cewek, biasanya ada yang ngak sholat dengan alasan ngak bawa mukenah. Jadi gue beli, untuk jaga jaga," Jelas Afrenzo.


"Ohh.. seperti itu? Sorry ya, gue sudah berburuk sangka sama lo," Ucap Risda sambil cengengesan.


"Cepat ke masjid!" Perintah Afrenzo.


Ketika Risda hendak melangkah keluar aula itu, tiba tiba adzan sudah iqomah. Risda pun menghentikan langkah kakinya, dirinya pun kembali menatap kearah Afrenzo.


"Telat Renzo," Ucap Risda dengan kecewanya akan tetapi didalam hatinya dirinya nampak begitu senang.


"Sholat sendiri," Ucap Afrenzo.


"Gimana kalo lo yang ngimamin gue disini? Jadi kita sholat berdua," Risda pun memberi ide kepada Afrenzo.


"Ngak, kita bukan mahram. Tidak sebaiknya sholat berdua, sholat kita tidak akan sah kalo gue yang ngimamin lo sendirian. Haram bagi gue dan juga bagi lo, kita bukan suami istri dan tidak sebaiknya melakukan hal itu. Kecuali hadirnya orang ketiga disini, jadi gue bisa ngimamin kalian, kalo cuma berdua, gue ngak bisa."


"Ada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, jika seorang lelaki berdua dua'an dengan wanita, maka setan yang menjadi ketiganya.’ Beliau juga bersabda, ’Janganlah seorang lelaki berdua'an dengan seorang wanita.’ Ini larangan. Para ulama mengatakan, berdasarkan hal ini, tidak boleh seorang lelaki mengimami shalat dengan wanita yang bukan mahram, secara berdua-duaan. Karena bisa jadi keluar dari tujuan utama yaitu shalat, menjadi sumber fitnah syahwat. (Syarh Zadul Mustaqni’, 3/149)."


"Gue baru tau soal itu, Renzo. Jadi kita sholat sendiri sendiri?"


"Iya. Ambil air wudhu sekarang, setelah itu kembali ke kelas,"


Risda pun mengangguk paham dengan penjelasan dari Afrenzo itu, ia pun bergegas untuk menuju kekamar mandi yang ada diaula tersebut, sementara Afrenzo langsung bergegas kelantai atas aula beladiri itu.


Risda pun langsung menunaikan sholatnya diaula itu dengan beralaskan sebuah sajadah dan matras yang ada disana. Kali ini dirinya sholat sendirian, biasanya dirinya akan ikut jama'ah jika hatinya yang mengegerkannya untuk melakukan itu.


Rissa memang orangnya pemalas, bahkan jika dirinya malas untuk menunaikan sholatnya maka dirinya akan beralasan halangan sebagai alasan utamanya. Akan tetapi, dirinya tidak mampu beralasan dihadapan Afrenzo, karena Afrenzo sepertinya tengah mengawasinya.


Setelah sholat, Risda langsung duduk disebuah bangku yang ada diruangan aula itu untuk menunggu Afrenzo turun dari lantai atas. Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo pun turun dari lantai atas, dan dirinya mengerutkan keningnya ketika melihat Risda masih ada disana.


"Gue udah suruh lo balik, kenapa ngak balik?" Tanya Afrenzo.


"Gue nungguin lo, Renzo. Gue mau mengembalikan mukenah ini ke lo,"


"Masukkan saja ke lemari, setelah itu kembali ke kelas,"


"Lo ngak balik ke kelas?"


"Gue ada urusan, gue udah izin pulang lebih awal,"


"Urusan? Urusan apa'an kok mendadak amat?"


"Buat persiapan lomba beladiri di kabupaten beberapa hari lagi."


"Lo kok ngak ngasih tau gue kalo mau ada lomba? Gue kan juga pengen ikut lomba."

__ADS_1


"Belom saatnya, di gelanggang itu keras, kalau tidak pandai beladiri maka akan mudah cidera. Bahkan bisa menjadi bulan bulanan musuh, dan lo belom siap untuk itu."


"Sekeras apakah di gelanggang itu?"


Afrenzo pun menjelaskannya kepada Risda tentang apa yang dirinya ketahui, Afrenzo yang sudah berkali kali merasakan sakitnya di gelanggang itu pun mampu menjelaskannya dengan se detail mungkin tentang apa yang ada di gelanggang.


Tidak jarang orang yang habis bertanding di gelanggang memiliki luka, bahkan kadang kala ada yang sampai meninggal akibat gagalnya dalam teknik bantingan dan mendaratkan kepalanya terlebih dulu, kadang ada musuh yang terus berusaha untuk menciderai musuhnya dengan banyak cara yang bisa dirinya gunakan.


Seorang pesilat yang berani main di gelanggang dan bahkan hebat beladiri pun bisa terluka akibat kurangnya ke fokusan yang mereka miliki, atau bisa karena teknik musuhnya belum bisa dipecahkan oleh siapapun.


Tidak jarang juga di gelanggang akan kembali dengan keadaan tidak baik baik saja, kadang ada yang tangannya patah, kakinya patah, keseleo, mengalami luka memar, berdarah, bahkan ada yang jalannya tidak bisa lancar akibat tendangan musuh yang mengenai tepat pada alat ***********.


Pertandingan beladiri dan luka adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena itu, kenapa disetiap pertandingan beladiri selalu diawasi oleh pihak rumah sakit ataupun para perawat. Meskipun tidak dilukai dengan benda benda tajam, akan tetapi dengan tangan kosong pun mampu membuat musuhnya cidera.


Didalam gelanggang, musuh tidak akan segan segan untuk melukai lawannya ataupun membanting lawannya dengan teknik bantingan. Karena setiap mereka mampu melukai lawannya, poin mereka akan bertambah dan kemenangan akan menjadi milik seseorang yang mampu membuat musuhnya kalah ataupun menyerah.


Kadang kala terjadinya bentrok antar perguruan, karena tidak terima murid mereka dihajar oleh siswa yang ada di perguruan lainnya. Dan terjadilah sebuah bentrokan antar perguruan, demi membela perguruannya masing masing.


Oleh karena itu, seorang pelatih akan memilih milih siswa mana yang unggul dan tidak akan sembarangan memilih siswa untuk turun ke gelanggang, karena mereka tau resiko yang akan dihadapi oleh siswanya ketika berada diatas gelanggang.


Tidak jarang juga adanya sebuah kericuhan didalam podium karena masing masing perguruan akan mendukung perguruan mereka masing masing. Sehingga mereka akan nampak begitu sangat ricuh dengan yel yel yang dimiliki oleh perguruan masing masing.


(Authornya terlalu paham dengan dunia beladiri ya, hehehe... Kalo bela kamu didepan keluarga, author ngak bisa ya)


Seseorang yang sekali memasuki dunia pertandingan, yang kuat akan terus berambisi untuk masuk kedalam pertandingan lagi dan lagi tanpa mempedulikan efek yang akan diterimanya itu. Sementara yang lemah akan berhenti untuk masuk kedalam dunia gelanggang, dan mereka akan insecure untuk masuk kembali karena takut akan terluka dan cidera.


"Sampai disini paham?" Tanya Afrenzo.


"Paham paham kok, jadi seperti itu di gelanggang?" Tanya Risda sambil membulatkan kedua matanya ketika mendengar penjelasan dari Afrenzo.


"Iya, gue udah bertahun tahun bermain di gelanggang."


"Tapi lo ngak papa kan? Apa ada yang cidera atau patah tulang?" Tanya Risda dengan antusiasnya.


"Cidera, tapi sudah sembuh. Waktu gue pertama kali masuk ke gelanggang,"


"Umur berapa lo pertama masuk ke gelanggang?"


"Masih kelas 3 SD, gue ikut beladiri sejak gue masih kecil dan belom masuk sekolah SD."


"Jadi diusia segitu lo sudah ikut beladiri? Kok bisa?"


"Nyokap dan Bokap gue adalah seorang pesilat yang ahli beladiri, jadi gue sudah diizinin ikut sejak kecil. Jadi karena itu, gue bisa menjadi pelatih diusia segini,"


"Jadi keduanya seorang ahli beladiri? Kalo berantem nantinya bakalan gimana ya? Mungkin bakalan ada perang dunia ke tiga didunia ini lali ya, terus gelas, piring, panci, wajan, baskom paling langsung berterbangan didapur lo. Gue ngak bisa bayangin kalo mereka berantem kayak Nyokap dan Bokap gue,"


"Mereka ngak pernah berantem, pikiran mereka kayaknya memang sudah sejalur."


"Hebat ya, gue ngak nyangka denger ini. Pantes saja lo bisa ngelatih beladiri diusia yang sama seperti gue, mungkin karena didikan orang tua ya?"


"Orang tua gue itu keras, apalagi keduanya ahli beladiri yang tidak suka untuk dibantah."


"Mungkin sikap lo juga turunan dari mereka, pantas saja lo itu keras kepala, selalu nampak sangat serius, tidak suka dibantah, terus kagak bisa tersenyum lagi. Lo memang berbeda dari yang lainnya, pantas saja gue ngerasa hal seperti itu, Renzo."


"Kalo gue ngak mirip mereka, lalu gue anak siapa?"


"Iya juga sih, yang jelas bukan anak tetangga.


"Habis ini masuk, cepat kembali ke kelas," Ucap Afrenzo sambil melihat kearah jam tangan yang melilit dipergelangan tangannya itu.


"Yaudah gue balik dulu ya,” Ucap Risda dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Afrenzo.


Risda pun langsung bergegas untuk pergi dari ruangan aula beladiri itu, dirinya langsung menuju ke kelasnya karena jalanan yang dilewati oleh para siswa yang pergi ke masjid itu pun terlihat sepi. Itu artinya, mereka sudah kembali ke kelas masing masing, dan Risda langsung bergegas untuk ke kelasnya.


Ketika hendak masuk kedalam kelasnya, tiba tiba dirinya teringat akan sesuatu hal. Dirinya pun langsung menghentikan langkah kakinya untuk masuk kedalam kelasnya, ia pun membalikkan badannya.

__ADS_1


"Gue tadi kan mau tanya ke Renzo soal Benni, tapi kok gue kelupa'an ya soal itu. Dia sudah pergi lagi, gimana gue bisa nanya kepadanya kalo seperti ini caranya, bisa bisa besok gue kelupa'an lagi,"


Risda pun tidak melihat bayangan Afrenzo yang masuk kedalam kelasnya itu, karana dirinya balik lebih awal akan tetapi tidak balik ke kelasnya, melainkan keluar dari sekolahan itu.


__ADS_2