Pelatihku

Pelatihku
Episode 9


__ADS_3

Seluruh siswa dikumpulkan didalam lapangan sekolahan untuk membahas masalah yang saat ini tengah berada didalam sekolah tersebut, ada salah satu siswa yang telah merusak fasilitas sekolah sehingga mereka semua dikumpulkan.


Afrenzo langsung berbaris dibarisan kelasnya, dirinya memandang kearah anggota OSIS yang berada dibarisan terdepan dan saat ini sedang menatap kearah dirinya itu, Afrenzo langsung menatap tajam kearah orang tersebut hingga membuat mereka langsung menundukkan kepalanya.


"Ada apa sih tiba tiba dikumpulkan seperti ini" Keluh Mira yang tengah mengipas ngipas wajahnya dengan kedua tangannya itu.


"Ngak tau, udah tau panas masih aja dijemur kek cucian gini" Sahut Septia.


Baris kelas Afrenzo dengan Risda bersebelahan sehingga Afrenzo yang mendengar keluhan mereka pun hanya berdiam diri, dirinya pun malas untuk mengikuti kegiatan ini yang bila mana tidak akan mengetahui siapa pelakunya.


"Kalian tau, kenapa kalian semua dikumpulkan disini sekarang?" Ucap ketua OSIS.


"Ngak tau Kak!" Jawab mereka serempak.


"Ada seseorang yang merusak fasilitas sekolahan, pintu kamar mandi lelaki rusak, kalo saya tau pelakunya, saya akan memberi hukuman yang berat!"


Mendengar itu membuat banyak orang yang berbisik bisik dan ada yang saling menuduh satu sama lain, tempat itu semakin terlihat ricuh karena masalah hal tersebut, sementara hanya Afrenzo saja yang terlihat berdiam diri tanpa berbicara kepada sebelahnya.


Semua mulai mengutarakan agrumen mereka tentang kasus saat ini, sementara Afrenzo pun langsung bergegas pergi dari tempat tersebut karena baginya percuma mengumpulkan para siswa tersebut dan akan membuat pelakunya semakin berhati hati dalam bertindak.


"Renzo!" Panggil seseorang kepada Afrenzo.


Afrenzo yang dipanggil itu pun hanya berdecak kesal karenanya, ia pun menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kearah ketua OSIS itu, entah apa masalahnya sehingga membuat Afrenzo harus terlibat dalam masalah ini.


Afrenzo pun menghentikan langkahnya, ia membelakangi ketua OSIS tersebut dengan kedua tangan yang sudah terkepal, dapat dilihat wajah kesal yang tercetak diwajahnya itu.


"Kenapa lo buru buru pergi?" Tanya ketua OSIS.


"Bukankah sudah gue katakan? Murid gue tidak akan terlibat dalam masalah ini, gue sendiri yang akan mencari tahu, dan menghajar pelakunya" Ucap Afrenzo dengan dingin.


"Jika lo merasa tidak bersalah seharusnya tidak usah pergi dari sini, apa jangan jangan lo pelakunya?"


"Kenapa bukan lo pelakunya? Lo sebenernya punya masalah apa sih sama gue?"


"Gue ngak punya masalah sama lo, gue hanya mau menyelesaikan masalah ini secepat mungkin"


"Buang buang waktu" Ucapnya langsung melangkah pergi dari sana.


"Renzo!" Teriak ketua OSIS memanggil.


Afrenzo pun berhenti dan menoleh kepada seorang pemuda yang menjadi tangan kanannya itu, seraya mengatakan, "Kumpulkan anggota beladiri sekarang!" Perintah Afrenzo kepada Satria.


"Siap Renzo" Jawab Satria.


Satria langsung bergegas untuk mengumpulkan anggota beladiri yang menjadi bagian dari perguruannya disekolah tersebut, memang ditempat tersebut tidak ada guru yang mengawasi kegiatan mereka sehingga Afrenzo tidak ingin berlama lama ditempat tersebut.


*****


Risda masih setia memejamkan kedua matanya karena rasa pusing yang ia alami saat ini, untuk membuka kedua matanya saja dirinya merasa sangat sulit dan berat karena pusing yang menyerangnya saat ini.


Dapat terlihat dipergelangan tangannya berubah menjadi membiru karena cengkeraman erat dari Kakaknya sebelumnya, akan tetapi dapat terlihat dipelupuk matanya sedang mengalirkan setetes kristal putih bening disana.


"BANGUN!!" Bentak Indah dan langsung menarik tangan Risda untuk membangunkan gadis itu.


"Kak, tangan Risda sakit!" Teriak Risda lirih.


Indah dengan kasar langsung melemparkan tangan Risda hingga membuat Nadhira memekik kesakitan, Risda langsung memegangi pergelangan tangan karena merasa pergelangan tangannya sakit.


"Cepat minum obatmu!" Sentak Indah.


"Ngak!" Jawab Risda yang tidak kalah kasarnya.


Indah pun memegangi rahang Risda dengan kuat dan memaksa Risda untuk meminum obat yang telah ia hancurkan sebelumnya, Risda yang tidak bisa memberontak dan ia pun pasrah atas apa yang dilakukan oleh Indah.


Uhuk uhuk...


Risda pun terbatuk batuk karena tersedak obat yang masuk kedalam tenggorokannya, pahit, perih, panas bercampur menjadi satu ditenggorokkannya itu, hal itu membuat suara Risda tidak bisa keluar karena batuknya.


"Tinggal minum aja susah! Nyusahin aja sih jadi anak itu!"


Risda pun memegangi dadanya yang sesak karena tersedak, dirinya pun terus terbatuk batuk tanpa bisa berhenti, sakit banget rasanya terbatuk karena tersedak, apalagi tersedak karena obat, tersedak karena air putih saja sudah sakit apalagi karena cairan lain.


"Sakit banget Ya Allah" Batin Risda menjerit.


Tanpa memedulikan Risda yang terbatuk batuk, Indah segera bergegas pergi dari kamar tersebut dan meninggalkan Risda begitu saja, Risda pun langsung membaringkan tubuhnya kembali dan berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya itu.


Setelah 15 menit terus terbatuk batuk akhirnya batuknya tersebut berhenti akan tetapi meninggalkan rasa sakit ditenggorokkannya setelah itu, ia mampu bernafas dengan lega meskipun dirinya agak kesusahan untuk menelan.

__ADS_1


"Kenapa ngak bunuh Risda langsung saja sekalian?" Ucap Risda lirih dan hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.


Risda kembali memejamkan matanya, ia sudah tidak tahan lagi jika dirumah terus terusan, ingin sekali ia pergi menghilang dari muka bumi ini selamanya akan tetapi dirinya tidak ingin meninggalkan Ibunya.


Jika Risda pergi untuk selama lamanya, ia pasti akan mengecewakan Ibunya karena hanya Ibunya yang selalu baik kepadanya, dan hanya Ibunya yang menyekolahkan dirinya sampai di jenjang SMA itu tanpa ada campur tangan dari Ayahnya.


*****


Satria dan Afrenzo kini sudah berada didepan barisan anggota beladiri, Afrenzo nampak sangat kesal saat ini karena muridnya yang dituduh telah merusak fasilitas sekolah itu, Satria pun menyampaikan kepada anggota perguruannya tentang maksud darinya untuk mengumpulkan segalanya.


"Pelatih, bukankah ini sama saja penuduhan sembarangan!" Ungkap salah satu senior yang ada disana.


"Iya benar itu, bisa bisanya kita yang dituduh seperti ini" Sahut yang lainnya.


"Kita tidak boleh tinggal diam begitu saja"


"Benar, jika seperti ini, maka nama perguruan kita akan tercemar"


"Iya aku tau itu, mungkin dari kalian ada yang curiga dengan seseorang, kemaren yang pulang terlambat siapa?" Tanya Satria.


"Kemarin yang pulang terlambat adalah Risda dan Pelatih sendiri, mungkin pelatih bisa mengatakan siapa pelakunya"


"Risda ngak mungkin melakukan itu, untuk apa dia masuk kekamar mandi cowok? Dan pelatih juga tidak mungkin melakukan itu kan?" Tanya Satria yang membela Riada.


"Ada yang sengaja menjebakku" Ucap Afrenzo tiba tiba.


"Kita harus selidiki hal ini secepatnya, bagaimana mungkin ketua OSIS itu langsung menuduh kearah pelatih tiba tiba, selama ini tidak pernah ada kejadian seperti ini"


"Karena kunci" Ucap Afrenzo sambil mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.


"Bukankah itu sudah lama lo pegang kunci itu? Kenapa sekarang jadi masalah?" Tanya Satria berbisik kepada Afrenzo.


"Dia iri dengan gue" Ucap Afrenzo lirih.


"Apa? Jadi lo sebenernya sudah tau siapa pelakunya?"


"Gue ngak mau nuduh sembarangan"


"Terus untuk apa kita kumpulkan anggota beladiri ini?"


"Ada mata mata diantara kita" Jawab Afrenzo lirih dan hanya didengar oleh Satria.


Ada satu orang yang menurutnya seperti sedang ketakutan, Satria pun mendekat kearah orang tersebut, hingga membuat pemuda itu berkeringat dingin ketika didekati oleh Satria.


"Siapa nama lo?" Tanya Satria kepada pemuda tersebut.


"Devan Mas" Jawabnya dengan ragu ragu.


"Lo siswa baru kan disini?"


"Iya Mas"


"Tidak boleh sembarang orang ikut beladiri" Ucap Afrenzo.


*****


Risda mulai membuka kedua matanya disaat lampu kamarnya menyala, pertanda bahwa langit pun mulai menggelap saat ini, Risda pun bangun dari tidurnya dan mendapati bahwa begitu banyak panggilan telpon dari Ibunya.


Dirinya sama sekali tidak mengetahui bahwa ponselnya berdering begitu banyak akan tetapi dirinya masih terpejam seperti tidak mendengar apapun dari ponselnya tersebut.


"Kenapa begitu banyak panggilan" Guman Risda pelan.


Kepalanya nampak sedikit mendingan daripada sebelumnya sehingga dirinya bisa bangkit untuk duduk ditepi kasurnya, ia pun menelpon Ibunya kembali karena ia tidak tau apa yang akan dikatakan oleh Ibunya saat ini.


"Halo assalamualaikum Bun, ada apa?" Tanya Risda ketika telponnya sudah terhubung.


"Waalaikumussalam, kemana saja sih Ris, dari tadi dihubungi kok ngak diangkat angkat" Jawab Ibunya dengan nada khawatir.


"Risda baru bangun Bun, tadi kepala Risda sangat pusing jadi tidak dengar waktu Bunda telpon"


"Sekarang gimana? Sudah mendingan? Sudah minum obat? Sudah makan"


"Alhamdulillah sudah mendingan Bun, besok sudah bisa sekolah lagi"


"Jangan latihan beladiri dulu, badanmu masih belum benar benar sehat, atau keluar saja dari beladiri ngak usah ikut ikutan seperti itu"


"Bun, ini semua ngak ada hubungannya dengan latihan beladiri, Risda ngak mau meninggalkan beladiri Risda, Risda ingin menjadi wanita yang bisa beladiri"

__ADS_1


"Beladiri itu ngak penting untuk wanita, karena biar bagaimanapun lelaki nantinya yang jaga wanita"


"Bun, ngak semua ratu diperlakukan dengan baik oleh raja, dan Risda ngak mau hanya mengandalkan lelaki untuk bisa melindungi Risda, Risda juga ngak mau jadi beban orang lain"


"Kakakmu bilang, sejak kamu mengikuti beladiri kamu suka membantah Risda, Bunda ngak mau kalo kamu jadi suka membangkang seperti itu kalau dibilangin"


"Jadi Bunda lebih percaya Kakak daripada Risda sendiri? Apakah Bunda sudah tidak percaya lagi dengan Risda?"


"Bunda bukannya tidak percaya dengan dirimu Nak, tapi ada benarnya juga, lebih baik tinggalkan saja latihanmu, ngak usah ikut ikutan seperti itu"


"Bunda, Risda ngak mau! Risda akan tunjukkan kepada Bunda bahwa Risda mampu untuk mencetak sebuah prestasi dari latihan beladiri, Risda akan berusaha untuk mendapatkan juara dari beladiri, assalamualaikum"


Risda langsung memutuskan sambungan telponnya itu, ia tidak habis pikir kenapa Ibunya justru lebih percaya dengan ucapan Indah daripada ucapannya, memang sakitnya ini tidak ada hubungannya dengan beladiri justru karena tekanan dari keluarganya itu.


Risda hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah, begitu mudah bagi Indah untuk mengubah kenyataannya, baru kali ini Ibunya lebih mempercayai Kakaknya daripada dirinya.


Risda pun memejamkan kedua matanya dan menggenggam erat selimutnya tersebut, rasa sesak langsung menyelimuti dirinya, sakit yang teramat sangat ketika orang yang sangat berarti bagimu sudah tidak mempercayaimu lagi.


Harapan satu satunya untuk dirinya tetap hidup didunia ini sudah tidak mempercayainya lagi, Risda pun meneteskan air matanya.


"Apakah disaat Risda sudah mati kalian baru akan menganggap Risda itu berharga? Semua orang itu berharga ketika sudah tiada dan tidak akan kembali lagi" Ucap Risda lirih.


Risda pun melempar ponselnya ke kasur kamarnya itu, tak beberapa lama kemudian ponselnya kembali berbunyi pertanda ada pesan yang masuk, ia pun melihat kearah layar ponselnya dan mendapati nomor yang tidak dikenal disana.


"Siapa ini" Guman Risda dan langsung mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang masuk tersebut.


Isi pesan :


Woi, kenapa lo kagak masuk anjiiiiirrr, gue sama Septia kesepian kagak ada lo disekolah, besok lo harus masuk! Ada kabar penting untuk lo


Risda pun tersenyum membaca pesan tersebut, ia sangat yakin bahwa itu adalah pesan dari Mira kepadanya, memang selama ini mereka belum sempat untuk bertukar nomor ponsel sehingga nomor Mira menjadi nomor yang tidak dikenal olehnya.


"Akhirnya ada yang nyariin gue, selama aku memiliki mereka, dunia pasti baik baik saja" Guman Risda.


*****


Pagi harinya Risda sudah berangkat kesekolahan, ia merasa yakin bahwa kondisi tubuhnya sudah membaik saat ini, ia pun telah sampai diparkiran sekolahan tersebut dan menghirup nafas dalam dalam untuk merasakan sejuknya udara dipagi hari.


Dari kejauhan dirinya melihat Afrenzo yang tengah memarkirkan sepedah motornya dikejauhan, melihat itu membuat Risda langsung mendekat kearah Afrenzo yang tengah sibuk memarkirkan sepedahnya.


"Pagi pelatih" Ucap Risda dengan senyuman yang mengembang cerah.


"Hem.." Jawab Afrenzo yang hanya berdehem saja.


"Masih tetap dingin, gue mau ngomong sesuatu sama lo bentar boleh kagak? Tapi jangan jawab dengan berdehem saja"


"Ada apa?"


"Nah gitu dong, gue pengen latihan privat sama lo, gue pengen meraih prestasi dan menunjukkannya kepada nyokap gue"


"Yakin?"


"Iya Afrenzo, lo mau kan ngelatih gue secara privat?"


"Akan gue pikirkan"


"Pliss Renzo, mereka selalu menganggap gue sebagai beban doang, apakah untuk mendapatkan kasih sayang keluarga gue harus mati dulu? Gue..." Risda tidak mampu untuk melanjutkan kata katanya karena perkataan itu seperti tercengkal begitu saja sehingga tidak bisa keluar.


"Pesimis, emang lo mau mati?"


"Kalo bisa dipercepat gue pengen itu segera terjadi Renzo, gue lelah menghadapi keluarga gue, orang tua gue sudah pisah sejak gue kecil"


"Mau nyerah?"


"Ngak juga sih, mangkanya itu gue minta sama lo buat ngelatih gue secara privat, gue ingin tunjukkan kepada mereka bahwa gue bisa berprestasi"


"Akan gue pikirkan"


Afrenzo pun berlalu pergi meninggalkan Risda yang tengah berdiam diri, melihat itu membuat Risda langsung memegangi tangan Afrenzo untuk menghentikan langkah lelaki itu.


Afrenzo seketika menatap kearah tangan yang dipegangi oleh Risda, tanpa sengaja ia menatap kearah pergelangan tangan Risda yang terlihat sedikit membiru itu, melihat arah pandangan Afrenzo langsung membuat Risda melepaskan pegangan tangannya dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya.


"Maaf, gue ngak ada niatan untuk menghentikanmu Renzo, tapi kenapa wajahmu terlihat kecewa seperti itu? Apa karena permintaan dariku"


"Bukan masalah, tangan lo kenapa?"


"Ngak papa" Risda langsung berlari meninggalkan Afrenzo begitu saja.

__ADS_1


Melihat itu pun membuat Afrenzo hanya menghela nafasnya saja, ia pun bergegas pergi menuju kelasnya.


__ADS_2