Pelatihku

Pelatihku
Episode 36


__ADS_3

"Kecepatannya ditambahin lagi!" Teriak Afrenzo kepada siswa yang dilatihnya.


Kini Risda tengah berbalut dengan keringat setelah melakukan lari ditempat, keringatnya bercucuran membasahi tubuh dan hingga menetes disebuah paving yang saat ini dirinya injak itu.


Risda sama sekali tidak ada niatan untuk menghapus bekas keringat yang menetes diwajahnya itu, ia membiarkan begitu saja menetes kebawah. Udara disore hari itu terlihat dingin karena hembusan angin yang terus menerpa mereka yang ada di lapangan, akan tetapi sama sekali tidak mampu untuk menghentikan keringat yang terus bercucuran keluar.


"Lebih keras!"


Dhuk dhuk dhuk


Risda dan yang lainnya pun menambah kecepatannya untuk berlari ditempat, akibat hal tersebut langsung membuat telapak kaki Risda dan yang lainnya sedikit terkelupas hingga menimbulkan rasa sedikit perih disertai panas. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak berhenti begitu saja, mereka tetap menjalankan perintah dari Pelatih mereka.


Telapak kaki bagian depan pun saling berbenturan dengan lantai tempat dimana mereka berpijak, suara nyaring pun dapat terdengar ditempat itu. Suara hentakkan kaki terlihat seperti sedang begitu banyak orang yang tengah berlari, meskipun mereka sudah melakukannya dengan cepat akan tetapi Afrenzo masih memintanya untuk lebih cepat lagi.


Tak beberapa lama kemudian Anna pun terjatuh karena terlalu cepat dalam gerakannya sehingga dirinya tidak fokus pada apa yang dia pijak, ia lalu berteriak kesakitan karena kakinya tengah cidera, melihat itu langsung membuat Afrenzo bergegas kearahnya.


"Kenapa?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya.


"Maaf pelatih, kakiku sakit," Ucap Anna sedikit ketakutan ketika melihat sosok Afrenzo.


Afrenzo pun berjongkok didepan Anna untuk melihat kondisi kakinya itu, ia pun menekannya beberapa kali karena kaki Anna keseleo dan harus segera dibenarkan, melihat itu membuat semuanya berhenti untuk berlari ditempat dan memerhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo kepada Anna.


"Akh... Sakit pelatih," Keluh Anna sambil meremaas ujung bajunya itu.


Afrenzo masih tetap memjiatnya untuk membenarkan persendian Anna yang keseleo, menyaksikan itu membuat rasa sedikit tidak nyaman didalam hati Risda. Melihat Afrenzo sangat peduli dengan Anna, seperti ada yang janggal dihatinya, dan dirinya ingin sekali menggantikan posisi Anna saat ini.


"Anna ngak papa kan, pelatih?" Tanya Risda kepada Afrenzo.


"Hanya keseleo saja," Jawab Afrenzo.


Anna semakin berteriak histeris ketika sedang dipijat dengan kuat oleh Afrenzo, tak beberapa lama kemudian akhinya kondisi kakinya perlahan lahan mulai mendingan dan sudah tidak terasa sakit lagi.


"Gimana kondisi, lo? Sudah mendingan?" Tanya Risda sambil berjongkok disebelah Afrenzo.


"Sudah kok, Da. Tapi masih terasa sakit," Jawab Anna.


"Kok bisa sih, An? Emang tadi lo ngapain?"


"Ya elah, Da. Namanya aja cidera, siapapun juga ngak bakalan tau kalo ujungnya bisa cidera seperti itu," Ucap Vina.


"Kan gue hanya nanya, siapa tau gue bisa ngehindarin itu sebelum kejadian nantinya,"Jawab Risda dengan sensinya.


"Sudah, kembali latihan sekarang, lo istirahat saja," Ucap Afrenzo lalu bangkit dari jongkoknya sambil menunjuk kearah Anna.


Mereka pun melanjutkan latihannya, kali ini mereka semua menepi diujung lapangan sebelah kiri. Mereka akan berlari dari kiri menuju ketengah dan kekiri lagi setelah itu kekanan dengan cepatnya, hal ini akan melatih konsentrasi mereka terhadap rintangan yang akan diberi oleh Afrenzo.


Dengan susah payahnya mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Afrenzo, Risda yang nampak tidak fokus tersebut pun terlihat kewalahan dan kebingungan untuk melangkah selanjutnya. Berulang ulang kali Afrenzo memberi contoh kepadanya akan tetapi dirinya masih saja salah dalam melakukan hal tersebut.


"Pikiran lo kemana?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya.


"Maaf pelatih, saya ulang lagi."


Risda pun mengulanginya beberapa kali akan tetapi masih tetap salah, hingga akhinya percobaan ke 10 kali baru dirinua benar. Nafasnya mulai tersegal segal setelahnya, hal itu sangat menyita energinya yang masih tersisa.


"Latihan hari ini cukup, sudah pukul 5 sore. Kalian semua bisa pulang," Putus Afrenzo dan bergegas meninggalkan lapangan.


"Baik pelatih," Ucap semuanya.


Mereka pun membubarkan diri setelah melihat sosom Afrenzo masuk kedalam aula beladiri. Risda dan yang lainnya langsung bergegas menuju ke parkiran motor untuk mengambil motor mereka masing masing.


Risda tidak langsung pulang, ia menghentikan motornya didepan sekolahan, ia mendapatkan kabar bahwa Bundanya akan segera pulang. Kebetulan sekali bahwa sekolahannya itu bersebelahan dengan terminal Bus, Risda menunggu kedatangan Bundanya didepan sekolahan seorang diri karena teman temannya sudah membubarkan diri masing masing.


Langit pun mulai menggelap dan adzan magrib pun berkumandang, sebuah motor berhenti disebelahnya tiba tiba, ketika lampu motor dimatikan Risda dapat mengetahui siapa pemilik dari motor tersebut, yakni Afrenzo.


"Ngapain lo?" Tanya Afrenzo kepada Risda yang masih berada disekolah dijam segitu.


"Gue nungguin Nyokap gue, Renzo. Katanya sih hari ini mau pulang, gue baru saja dapat pesan darinya," Ucap Afrenzo.


"Cari warung dekat sini,"


"Ngapain? Gue ngak lapar, mending lo pulang saja, Renzo. Nanti lo dicariin sama keluarga lo,"


"Bahaya disini sendirian, apalagi lo cewek. Mending lo ikut gue kewarung,"

__ADS_1


"Ngak ah, gue disini saja. Nanti kalo Nyokap gue datang, gue nya malah ngak tau,"


"Jangan membantah!" Sentak Afrenzo dan langsung membuat Risda terdiam, "Cepat ikut gue,"


Afrenzo pun menyalakan motornya kembali, melihat itu membuat Risda langsung menyalakan motornya sendiri karena dirinya memang tidak mampu untuk membantah ucapan dari Afrenzo.


Afrenzo pun menjalankan motornya diikuti oleh Risda yang ada dibelakangnya. Tak beberapa lama kemudian berhentilah mereka disebuah warung tepi jalan raya yang berada tidak jauh dari terminal, Afrenzo lalu melepaskan helmnya dan menaruhnya dispion motornya itu, dan diikuti oleh Risda.


"Pesenin," Ucap Afrenzo dan langsung duduk dimeja yang ada diwarung itu.


"Lo mau dipesenin apa?" Tanya Risda kebingungan.


"Coklat panas," Jawab Afrenzo.


Risda pun berjalan menuju kearah penjual warung tersebut untuk memesan apa yang diinginkan oleh Afrenzo, sekilas ia menatap kearah Afrenzo yang tengah sibuk dengan ponselnya itu.


"Mau pesan apa, Mbak?" Tanya Ibu ibu penjual yang ada diwarung itu dan langsung membuyarkan lamunan dari Risda.


"Ah itu Buk, coklat panas 1 sama pop ice taro hangat 1," Ucap Risda.


Memang terdengar aneh sih, pop ice biasanya dingin akan tetapi kali ini Risda membelinya hangat. Namanya ice itu dingin, entah memang Risda berbeda dari yang lainnya.


"Pop ice hangat?" Tanya Penjual kebingungan.


"Pop icenya dikasih air hangat, Buk. Tapi jangan dikasih es batu, nanti jadi dingin kayak dia," Tunjuk Risda dan langsung mendapatkan lirikan tajam dari sosok Afrenzo.


Mengetahui apa yang dimaksud oleh Risda itu pun langsung membuat penjual itu terkekeh pelan, "Baik Mbak, silahkan duduk dulu,"


Penjual itu pun mempersilahkan Risda untuk duduk dikursi yang telah disediakan diwarung itu, Risda lalu duduk didepan Afrenzo dan hanya sebuah meja yang memisahkan keduanya itu. Risda memerhatikan Afrenzo yang tengah sibuk dengan ponselnya itu, entah apa yang dirinya lakukan saat ini.


"Kapan ada turnamen beladiri?" Tanya Risda tiba tiba.


"Besok," Jawab Afrenzo tanpa menoleh kearah Risda.


"Besok? Kok lo ngak ngasih tau gue? Gue kan pengen ikut turnamen beladiri," Ucap Risda dengan nada sebalnya karena Afrenzo tidak memberitahu dia tentang turnamen itu.


"Belom waktunya," Ucap Afrenzo lalu mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju kewajah Risda.


"Emang lo sudah berani bertarung diatas matras?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.


"Ngak berani sih, lo kan baru ngajarin gue nangkis doang. Dan gue masih perlu banyak belajar lagi dari lo,"


Mendengar ucapan itu langsung membuat Afrenzo menghela nafasnya dan kembali fokus kepada ponselnya lagi, entah apa yang saat ini sedang ia tonton dilayar ponsel tersebut. Tak beberapa lama kemudian pesanan mereka akhinya telah datang, dan langsung ditaruh diatas meja tersebut.


"Coklat panas untukmu," Ucap Risda sambil menyodorkan segelas coklat panas kearah Afrenzo.x


"Thanks,"


Afrenzo pun menikmati minuman tersebut, sementara Risda justru membuka layar ponselnya untuk memastikan kabar mengenai Ibunya yang katanya mau pulang saat ini. Sampai sekarang belom ada kabar darinya, dan ia yakin bahwa Ibunya masih dalam perjalanan sehingga tidak sempat untuk memberi kabar untuknya.


"Lama banget deh, Bunda. Kok belum sampai sampai," Guman Risda sambil menaruh ponselnya diatas meja.


"Sejak kapan ngabarinnya?" Tanya Afrenzo.


"Tadi jam 4 an, pas gue lagi latihan. Lalu sampai sekarang belom ngabarin lagi," Ucap Risda.


"Kerja dimana?"


"Dikota S, emang jauh ya dari sini?"


"Main lo kurang jauh."


Kota yang dimaksud Risda cukup jauh dari tempatnya sekarang, mungkin membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai dikota tempat Risda tinggal. Mendengar jawaban dari Afrenzo hanya membuat Risda menyengir bagaikan kuda, karena memang dirinya yang tidak pernah kemana mana.


"Lo benar, gue stay dirumah sejak dulu dan gue ngak pernah kemana mana. Dunia sangat luas ya, tapi gue rasanya seperti terikat dengan kuat, sampe sampe tidak diperbolehkan untuk melihatnya,"


"Kenapa?"


"Nyokap gue selalu ngelarang gue untuk bisa jalan jalan, gue mau rekreasi aja sampe harus nangis nangis dulu tapi masih tetap tidak diperbolehkan, takut inilah takut itulah. Padahal gue ingin refreshing sama yang lainnya, masih aja tidak diperbolehkan,"


Risda memang tidak pernah pergi kemana mana selama ini, Ibunya selalu melarangnya untuk berjalan jalan kecuali dengan keluarganya sendiri, akan tetapi keluarganya saja tidak pernah pergi berlibur. Risda ingin marah dan protes, pada akhinya tetap masih tidak diperbolehkan untuk jalan jalan.


Risda seakan akan tengah tertekan dari kejauhan. Memang dirinya tidak ditemani dirumah oleh Ibunya, akan tetapi begitu banyak peraturan yang harus ditaati tanpa sedikitpun dilanggar. Dilarang pulang setelah adzan magrib, sehingga disaat magrib pulang dirinya akan dimarahi habis habisan.

__ADS_1


Dilarang bergaul dengan lelaki, Ibunya takut kalau Risda sampai ikut pergaulan bebas dan akan merugikan dirinya sendiri, dan dirinya pun dilarang main kerumah temannya jika malam hari.


Risda pun meminum minuman yang ia pesan sebelumnya, rasa hangat dari minuman tersebut langsung meluncur begitu saja dan sampai diperutnya. Begitu nyaman sekali, dan dia tidak menyadari bahwa minumannya itu telah tandas tak tersisa setetes pun.


"Besok refreshing, lo ikut?"


"Refreshing kemana? Katanya lo mau ada turnamen beladiri, emang lo bisa refreshing?"


"Maksudnya besok, disaat penyambutan siswa baru,"


"Gue ngak yakin, gue takut kalo nyokap gue ngelarang. Lagian berangkatnya juga malam, gue pengen banget ikut, Renzo. Tapi gue ngerasa ngak bakalan dapat izin dari Nyokap gue,"


"Pasti diizinin,"


"Kenapa lo bisa seyakin itu? Gue sendiri aja kagak yakin,"


Belum sempat Afrenzo menjawab ucapan Risda, tiba tiba ponsel Risda pun berdering. Hal itu langsung membuat Risda menatap kearah ponselnya dan nama Bunda Sayang tertera disana, melihat itu langsung membuat Risda nampak begitu bersemangat.


"Halo Bunda, Bunda dimana?" Tanya Risda.


"Sebentar lagi Bunda sampek, kamu dimana?" Tanya Bundanya balik dari seberang sana.


"Aku sudah ada didepan terminal, Bun. Risda tunggu disini," Ucap Risda.


"Iya, Bentar lagi Bus nya sampek diterminal, kamu sama siapa disana? Hati hati ya, banyak orang jahat disekitar terminal biasanya."


"Bunda tenang saja, Risda sama pelatih Risda kok."


"Baguslah kalo begitu, ya sudah bentar lagi Busnya berhenti,"


"Iya Bun,"


Dewi pun langsung memutuskan sambungan telponnya, Risda merasa sangat senang karena akhinya Ibunya pulang saat ini. Ia begitu sangat bahagia mendengar kabar tersebut, dan ia langsung bangkit dari duduknya.


"Renzo, Bunda gue sudah sampai," Ucap Risda sambil menunjuk kearah sebuah Bus yang baru memasuki area parkir Bus yang ada diterminal.


"Alhamdulillah," Ucap Afrenzo.


"Gue kesana dulu ya, gue mau nyambut Bunda gue. Gue kangen banget sama dia soalnya,"


"Iya, hati hati,"


Dengan semangatnya, Risda lalu mendekat kearah sepedah motornya dan langsung memakai helmnya itu. Risda dengan segera langsung menjalankan motornya untuk mendekat kearah Bus tersebut, melihat itu hanya membuat Afrenzo tersenyum seraya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Risda.


Risda menghentikan motornya tidak jauh dari Bus itu berhenti, ia lalu turun dari motornya. Tak beberapa lama kemudian sosok yang teramat sangat ia rindukan akhinya keluar dari dalam Bus, Risda langsung berlari dan menghamburkan pelukannya kedalam pelukan Ibunya.


Sebuah perasaan rindu yang cukup lama akhinya segera terobati, Risda memeluk Ibunya dengan eratnya untuk mengutarakan rindu yang teramat dalam itu. Terdengar suara isakan tangis yang keluar dari mulut Risda yang tengah menempel kepada dada Ibunya.


"Bunda, Risda kangen banget," Ucap Risda lirih.


"Bunda juga, gimana sekolahnya? Lancar?" Itulah suara yang sangat dirindukan oleh Risda dan akhirnya Risda mampu untuk mendengarkannya kembali.


"Lancar Bunda, aku punya banyak teman baru, terus mereka juga baik sekali sama Risda, Risda bahagia sekali sama mereka. Oh iya, lusa nanti mau ada acara studi tour, Bun. Sebagai penerimaan siswa didik baru, Risda boleh ikut kan?"


"Oh iya, kenapa baru ngomong sama Bunda? Tujuannya kemana saja?"


"Katanya sih ke museum prasejarah sama ke pantai,"


"Boleh kalo Risda suka. Oh iya, Risda sudah makan belom?"


"Belom sempat Bun, tadi ngak pulang kerumah dulu soalnya, Risda nungguin Bunda dari tadi disini,"


"Mana pelatihnya? Katanya sama pelatih disini,"


"Dia ada disana," Ucap Risda sambil menunjuk kearah warung sebelumnya akan tetapi tidak mendapati sosok Afrenzo disana dan entah kemana perginya pemuda itu. "Loh kok ngak ada? Cepet banget ilangnya," Guman Risda.


"Mungkin sudah pergi, ya sudah kita cari makan dulu ya, Risda mau makan apa?"


"Sate ayam!" Jawab Risda dengan semangatnya sambil menunju udara.


Risda nampak seperti anak kecil yang sedang berbahagia karena dibelikan mainan oleh orang tuanya, keduanya pun bergegas menjalankan sepedah motornya untuk mendekat kearah penjual sate ayam yang dimaksud oleh Risda.


Tanpa Risda sadari bahwa Afrenzo sedang menyaksikan keduanya dari kejauhan dengan duduk diatas motornya itu. Melihat itu langsung membuat Afrenzo bergegas meninggalkan tempat tersebut, dan melaju untuk pulang kerumahnya.

__ADS_1


__ADS_2