Pelatihku

Pelatihku
Episode 47


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhinya seluruh siswa pun masuk kembali kedalam busnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kesekolahan. Setelah 1 jam perjalanan, Risda pun berdiri untuk menoleh kebelakang, karena murid murid yang ada disana sangat ramai bernyanyi nyanyi untuk mengiringi perjalanan mereka.


Bapakku kawin lagi, Ibuku seorang diri


Jadilah aku begini, Mata gelap ku bernyanyi


Dimana uang, Dimana lapar, Dimana nasi


Aku mencari, kehidupan...


Mabuk ganja dan minuman, sebagai pelarianku


Banyak warna tintah ditubuhku, aku tersesat jalan


Jadilah aku anak jalanan, jadilah aku sindirian orang


Dijalanan...


Mereka pun menyanyikan lagu tersebut bersama sama, terlihat sangat ramai bahkan para siswa yang tengah tertidur itu pun bangun Kembali. Lagu itu menggambarkan jelas bagaimana kehidupan seorang anak jalanan, sama persis dengan apa yang dialami oleh Risda, hanya saja dia tidak melampiaskannya diminuman melainkan kenakalannya.


Risda hampir tersesat dijalan kesesatan, seandainya dia tidak bertemu dengan Afrenzo, mungkin dirinya benar benar tersesat waktu itu. Minuman minuman seperti itu akan membuat seseorang menjadi kecanduan, sekali meminum mereka akan merasa kurang dan kurang hingga membuat mereka akan gila dengan minuman.


Pandangan Risda pun tertuju kepada bangku yang ditempati oleh Afrenzo, Afrenzo pun terlelap dalam tidurnya seakan akan tidak terganggu dengan suara nyanyian dari mereka semua. Afrenzo tertidur sambil bersedekap dada, dengan kepala bersandar dikursi, nampak sekali bahwa cowok itu sedang kelelahan saat ini.


"Da, lo bisa duduk ngak sih?" Tanya Mira sambil mengeluh karena Risda yang berdiri itu.


"Kagak bisa, pantat gue ada pakunya," Jawab Risda ketus.


"Itu mulut emang belom pernah di sleding sama batako deh."


"Ngganggu aja lo, gue lagi lihat pemandangan indah nih!"


"Pemandangan apa'an? Pemandangan Renzo yang sedang tidur?"


"Matamu! Lihat noh mataharinya indah banget, pas tepat disaat terbenam," Ucap Risda sambil menunjuk kearah matahari.


"Oh kira in," Jawab Mira yang seakan akan acuh tak acuh terhadap ucapan Risda.


Risda merasa ada sesuatu yang kurang didalam hatinya, ketika mereka dalam perjalanan pulang perasaan sedih didalam hatinya mulai muncul kembali, dan seakan akan dirinya tidak mau hal ini berakhir begitu saja sampai disini.


Lagu yang dinyanyikan oleh teman teman Risda tersebut pun membuat suasana dihati Risda menjadi seakan akan tidak mau berpisah sampai disini, tapi apalah daya karena waktulah yang telah memisahkan mereka semua.


Risda pun meluluh duduk kembali dengan pelannya, melihat itu membuat Mira mengerutkan keningnya karena melihat perubahan diwajah Risda. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu saat ini, seakan akan keceriaan yang tadi menghilang begitu saja.


"Da, lo kenapa?" Tanya Mira.


"Gue ngak papa," Jawab Risda sambil memaksakan diri untuk tersenyum kepada Mira.


"Lo ngak bisa bohongin gue, Da. Wajah lo kayaknya kagak baik baik saja,"


"Tau apa lo tentang wajah gue?"


"Gue tau tanpa lo kasih tau, wajah cewek songong kek lo berubah jadi kek wajah melas kagak bisa dibohongi, Da. Lo pasti memikirkan sesuatu kan?"


"Gue rindu sama keluarga gue, Ra. Gue benci kehidupan gue sendiri yang selalu direndahkan, bahkan dianggap sebagai beban,"


"Lo yang sabar ya, Da. Kalo kita udah kerja nantinya, lo bakalan diperlakukan dengan baik kok. Lo tau sendiri kan? Kalo orang orang terdekat kita akan menjunjung tinggi kita jika kita punya uang, begitu juga sebaliknya, Da. Kalo tidak punya uang, saudara kandung pun tidak akan mengakui keberadaan kita,"


"Apakah kebahagiaan hanya bisa diukur dengan uang? Jadi orang seperti ku memang kagak pantas untuk bahagia ya? Ke inginkanku sederhana, tapi tidak akan pernah bisa tercapai,"


"Lo yang kuat ya, gue tau lo pasti bisa melewati ini semua. Tengoklah kebelakang, sudah banyak rintangan yang telah lo lalui kan? Masak gini aja lo lemah sih,"


"Gue ngak lemah!"


*****


Mereka pun sampai disekolahan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Risda kini tengah duduk digerbang sekolahan tersebut untuk menunggu jemputan dari saudaranya yang ada dirumah, karena kemarin dirinya berangkat diantarkan sehingga dia tidak membawa motor sendiri.


"Lo pulang sama siapa?" Tanya Afrenzo yang menghentikan motornya didepan Risda.

__ADS_1


Cowok itu memang membawa motornya dan memasukkannya kedalam aula beladiri sebelumnya. Sehingga tanpa menunggu jemputan dari orang rumah dirinya bisa langsung menuju kerumahnya, melihat Risda yang duduk sendirian itu pun langsung membuat Afrenzo menghentikan motornya.


"Gue dijemput sama Mas gue kok, katanya lagi perjalanan kemari," Jawab Risda.


"Lo punya Mas?"


"Bukan Mas kandung, Renzo. Tapi suaminya Kakak gue, tadi gue udah hubungin orang rumah, katanya sih lagi perjalanan kemari saat ini."


"Gue temenin sampe lo dijemput,"


"Ngak usah, Renzo. Lo pasti kecapekan dan butuh istirahat banyak, mending lo pulang duluan aja kagak papa. Habis ini Mas gue tiba kok,"


"Lo cewek, ngak baik malam malam sndirian,"


"Yah, gue ngerepotin lo lagi deh jadinya,"


"Ngak."


Setelah cukup lama menunggu akhinya orang yang menjemput Risda akhinya pun tiba, tatapan Afrenzo terlihat aneh kepada suami dari Indah itu. Tidak biasanya Afrenzo menatap seseorang seperti itu, ini baru pertama kali mereka bertemu akan tetapi Afrenzo sepertinya tidak suka dengan lelaki itu.


"Renzo, gue pulang dulu ya. Terima kasih karena lo udah nemenin gue, gue udah dijemput kok" Ucap Risda sambil bangkit dari duduknya.


Jarak keduanya dengan suami dari Indah itu pun hanya sekitar 5 meteran, Afrenzo dan Risda berada digerbang sekolah, sementara orang yang menjemput Risda berada ditepi jalanan.


"Itu Mas, lo?" Tanya Afrenzo.


"Iya, itu suami dari Kakak gue. Ada apa?" Tanya Risda yang melihat tatapan tidak suka dari seorang Afrenzo.


"Lo harus hati hati dengan dia,"


"Hati hati? Maksud lo apa, Renzo? Gue sama sekali ngak paham."


"Bukan apa apa, intinya lo harus hati hati dengan dia. Pulanglah, udah malam,"


"Iya Renzo, ya udah gue pulang dulu ya, Dahhh.." Risda pun melambaikan tangannya kepada Afrenzo.


Risda sama sekali tidak tau kenapa Afrenzo menyuruhnya untuk berhati hati dengan Kakak iparnya itu, sejak pertama bertemu ada sesuatu yang janggal didalam ucapan Afrenzo itu, apalagi Afrenzo mengatakan kalau Risda harus berhati hati dengan orang tersebut.


Risda lalu menaiki boncengan motor tersebut, motor itu adalah motor miliknya yang digunakan untuk menjemput Risda. Karena ucapan Afrenzo langsung membuat Risda sedikit menjauh dari Kakak iparnya itu, dan memberi sebuah jarak diantara keduanya.


Risda merasa agak takut dengan ucapan Afrenzo, biasanya lelaki akan paham pikiran sesama lelaki itu seperti apa. Dan hal itu langsung membuat Afrenzo menyuruh Risda untuk berhati hati, Afrenzo juga tidak menjelaskan kenapa dirinya disuruh untuk hati hati.


Karena rumah Afrenzo dan Risda searah, Risda pun melihat Afrenzo yang mengendarai motornya dibelakang Risda. Risda pun menoleh kearahnya dan langsung mendapatkan anggukan pelan dari Afrenzo, dan hal itu langsung membuat Risda menghela nafasnya.


"Apa jangan jangan dia mau nyelakain gue? Mangkanya Renzo menyuruh gue untuk berhati hati dengan nih orang. Tapi untuk apa dia melakukan itu sama gue? Gue ngak punya masalah sama dia kok. Aneh banget dengan Renzo saat ini" Batin Risda.


Ketika hampir dekat dengan rumah Afrenzo, Afrenzo pun menambah kecepatan laju motornya untuk menyalipnya, ketika motor keduanya bersejaja, Afrenzo lalu membunyikan klakson motor sebanyak 2 kali. Sebagai tanda bahwa dirinya akan duluan untuk berbelok, dan mendengar klakson tersebut langsung membuat Kakak ipar dari Risda ikut membunyikan klakson sebanyak 1 kali.


"Renzo gue takut, maksud lo apa'an nyuruh gue hati hati dengan Kakak ipar gue? Apa lo kenal dengannya? Sehingga lo nyuruh gue untuk hati hati dengan dia," Batin Risda menjerit kembali.


Ucapan tersebut seakan akan membekas didalam hati Risda, dan dirinya takut untuk melangkah selanjutnya. Risda sama sekali tidak paham dengan maksud hati hati itu, karena Afrenzo sendiri pun tidak menjelaskan hati hati seperti apa yang dimaksudnya itu.


*****


Karena hari ini adalah hari libur sekolah untuk Risda dan yang lainnya setelah acara rekreasi itu. Risda pun memutuskan untuk membersihkan kamarnya yang penuh dengan kotoran debu itu, sudah lama dirinya tidak pernah membersihkan kamarnya.


Risda dirumah dan disekolahan berbeda, disekolahan dirinya akan memakai pakaian yang sopan dan berjilbab. Sementara kalau dirumah, dirinya hanya memakai kaos pendek dengan celana pendek yang memperlihatkan kedua paha yang mulus miliknya itu.


Risda menguncir tinggi tinggi rambutnya itu hingga memperlihatkan lekuk lehernya tersebut, karena rambut Risda yang panjang itu langsung membuat Risda menguncirnya dengan tinggi agar tidak mengganggunya untuk melakukan bersih bersih kamarnya itu.


Tanpa sengaja dirinya melihat sebuah buku yang ada diatas meja kecil yang ada dikamar Risda, Risda lalu membukanya dan membaca tulisannya yang ada dibuku tersebut. Ingatan masa kelamnya itu pun terulang lagi, dimana Ayahnya memperlakukan hal yang kasar kepada Ibunya.


"Gue ngak akan pernah bisa memaafkan hal itu," Ucap Risda sambil mengepalkan kedua tangannya.


Risda pun menutup kembali buku yang ada ditangannya itu, tak beberapa lama kemudian sosok neneknya masuk kedalam kamarnya hingga membuat Risda nampak penasaran.


"Da..."


"Ada apa, Nek?" Tanya Risda.

__ADS_1


"Didepan ada Ayahmu."


"Ngapain dia datang kemari? Risda ngak mau bertemu dengan orang itu lagi,"


"Nak, keluarganya sedang terlilit hutang jadi dia pulang kemari."


"Apa? Itu bukan urusan Risda, dia mau tinggal dimari sama istrinya itu? Risda ngak mau, dan ngak akan pernah ngizinin mereka untuk menginjakkan kaki disini."


Risda takut bahwa dirinya akan digusur dari rumah tersebut karena wanita itu bisa saja melakukan itu kepadanya, dan ia tidak mau kisah kisah didalam dongeng tentang Ibu tiri yang jahat tersebut akan terjadi kepadanya.


Sudah cukup Kakaknya saja yang jahat kepadanya, dia tidak mau ada orang lain yang juga jahat kepadanya. Lama lama dirinya bisa saja mati sebelum waktunya, hal itu langsung membuatnya dengan tegas menolak kehadiran orang orang itu dirumahnya.


"Ngak, dia sendirian." Jawab Neneknya.


"Lalu istrinya kemana? Jangan bilang kalo dia pergi dari rumah tanpa pamit," Tanya Risda.


Neneknya hanya diam saja mendengar ucapan Risda, entah kenapa dugaan Risda itu memang benar terjadi. Keluarga Ayahnya saat ini tengah terlilit hutang piutang, karena istri barunya tidak mau hidup sederhana dan memilih untuk hidup mewah dan memaksakan kehendaknya, ia tidak peduli bawah hutangnya banyak dan bahkan tidak sanggup untuk membayarnya.


Ayah Risda ternyata selama ini tidak bekerja, karena dirinya sakit entah sakit apa saat ini. Risda yang mendengar itu hanya membuatnya cuek saja, dirinya benar benar tidak peduli dengan nasib yang dialami oleh Ayahnya itu


Seakan akan perasaannya benar benar telah mati, bahkan disaat Ayahnya seperti itu, Risda seakan akan tengah mengabaikannya. Sebenarnya dirinya merasa kasihan dengan nasib yang dialami oleh Ayahnya, akan tetapi ketika dirinya mengingat kejadian kejadian yang pernah ia alami itu, sontak langsung membuatnya merasa sakit hati.


Depan rumah Risda adalah rumah kosong yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya, rumah itu adalah rumah dari Paman dan Bibiknya. Semenjak Pamannya meninggal waktu Risda masih duduk dibangku SMP kelas 1, Bibiknya menikah lagi dan diboyong dirumah suami barunya sehingga rumah itu kosong saat ini.


Mulai detik itu, Ayahnya akan tinggal dirumah kosong tersebut karena Risda yang menolak Ayahnya tidur dirumahnya saat ini. Gadis kecil yang dulunya sangat menyayangi Ayahnya, kini berubah menjadi Gadis yang sama sekali tidak peduli dengan kondisi Ayahnya.


Setelah memberitahukan hal itu kepada Risda, Neneknya keluar dari dalam kamarnya itu. Risda pun langsung duduk dikasurnya tanpa melanjutkan apa yang tengah dirinya lakukan saat ini, dirinya hanya berdiam diri dan pikirannya rasanya kosong saat ini.


Pandangannya lurus kedepan, entah apa yang ditatapnya saat ini. Kehadiran Ayahnya ditempat tersebut membuat Risda seakan akan tidak nyaman, akan tetapi dirinya juga sangat merindukan sosok seorang Ayah.


"Kenapa semuanya ini harus terjadi didalam keluargaku?" Tanya Risda entah kenapa siapa.


Mulutnya mendadak bergetar, hatinya merasa sangat sakit saat ini, luka lama yang pernah terjadi kepadanya pun mulai terasa kembali, kejadian kejadian yang telah berlalu itu membuatnya semakin sakit hati.


*Flash back on*


Risda yang masih berumur 7 tahun itu tengah menangis dengan kerasnya didalam kamarnya, sementara diluar kamar itu kedua orang tuanya tengah bertengkar dengan hebatnya. Tiba tiba Risda tidak lagi mendengar suara Ibunya, ia pun memutuskan untuk keluar dan melihat kondisinya.


"Bunda kenapa?" Tanya Risda dengan bibir yang bergetar ketika melihat Ibunya sudah tidak sadarkan diri disana.


Tetangganya berkumpul dirumah tersebut dan mengangkat tubuh Ibunya menuju kekamarnya, Risda ketakutan ketika melihat Ibunya yang sedang memejamkan mata dengan sangat eratnya itu. Risda menangis sejadi jadinya, ia takut kehilangan Ibunya.


Pertengkaran antara keluarganya telah membuatnya sangat takut, ditambah dengan Ibunya yang tidak sadarkan diri itu pun membuat ketakutannya semakin menjadi.


Risda lalu memegangi tangan Ibunya dengan erat, wajah pucat dari Ibunya itu pun semakin membuat tangisannya menjadi histeris. Kekerasan dalam rumah tangga telah membuatnya berubah, yang ada didalam pikirannya hanyalah ada ketakutan, kesepian, dan kesedihan.


"Bunda bangun! Hiks.. hiks.." Tangisan Risda begitu sangat menyayat hatinya.


Neneknya lalu mendekatkan botol minyak kayu putih dihidung Dewi untuk menyadarkan wanita itu dari pingsannya, Dewi akhinya membuka kembali kedua matanya dan memandangi kearah Risda yang menangis disebelahnya.


"Risda," Ucap Dewi lirih dengan linangan air mata.


"Bunda kenapa? Risda takut, jangan tinggalkan Risda," Risda pun terisak tangis sambil memeluk tangan Ibunya itu.


"Risda jangan takut, Bunda ngak papa kok,"


Dewi lalu bangkit dari duduknya, ia pun menggendong tubuh Risda dan mendudukkannya kedalam pangkuannya itu. Risda memeluk tubuhnya dengan sangat eratnya, begitupun dengan Ibunya yang juga memeluknya sangat erat.


Dewi merasa sakit hati karena penghianatan yang dilakukan oleh suaminya itu, apalagi suaminya telah berkata kasar kepadanya. Sejak saat itu Risda semakin membenci Ayahnya, bahkan ketika dirinya disentuh oleh Ayahnya saja dia langsung mengalihkan tangannya dari tangan Ayahnya.


"Ayah jahat!" Teriak Risda didalam pelukan Ibunya itu.


Isakan tangis dari Ibunya mampu terdengar dengan jelas ditelinganya, bukan hanya sekali dua kali saja Risda mendengarkan pertengkaran mereka. Bahkan didepan mata kepalanya sendiri, Risda melihat kedua orang tuanya saling beradu mulut, bukan hanya mulut saja melainkan fisik juga.


Betapa hancurnya hati seorang anak ketika melihat kedua orang tuanya bertengkar secara langsung dihadapannya, apalagi anak itu adalah seorang gadis kecil yang belum mengetahui apa apa tentang perpisahan keluarga.


Mental anak yang telah dihajar sejak kecil, akan membuat gangguan dimentalnya ketika dewasa. Itulah yang dialami oleh Risda selama ini, tidak baik kedua orang tua bertengkar dihadapan seorang anak kecil yang sama sekali belum mengetahui apa apa.


Tanpa disadari, hal tersebut mampu mendidik anaknya kedalam hal yang buruk, melemahkan mental dan kepercayaan dirinya, membuatnya antisosial, bahkan bisa membuat seorang anak terperosok kedalam hal hal yang tidak diinginkan. Seperti, Minum minuman keras, berjudi, mabuk, menjadi anak jalanan yang tidak punya aturan, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


__ADS_2