
Cowok tersebut masih terus berusaha untuk bangkit kembali dari jatuhnya, meskipun dirinya tau bahwa akhinya dia akan mendapatkan serangan dari Papanya itu, akan tetapi dirinya tidak mau menyerah begitu saja.
Tidak dapat dihitung beberapa kali cowok itu mendapatkan pukulan dari Papanya, akan tetapi dia tidak mau menyerah begitu saja. Risda yang berada diluar pun semakin panik, dan dirinya pun memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Ia begitu terkejut ketika melihat Afrenzo yang terbaring lemas diatas lantai sambil memegangi dadanya itu, apalagi dirinya yang melihat adanya bercak darah dilantai itu akibat dari pukulan yang diberikan oleh Papanya Afrenzo.
"Renzo!" Teriak Risda.
Risda pun langsung bergegas untuk menghampiri tubuh Afrenzo yang terbaring lemas tersebut, ia pun langsung membantu Afrenzo untuk duduk ditempat itu. Karena lemasnya, Afrenzo tidak mampu duduk dengan benarnya, sehingga Risda harus menyandarkan Afrenzo didada kirinya.
"Om, tolong jangan pukuli Renzo lagi," Ucap Risda dengan linangan air mata ketika melihat Afrenzo seperti itu.
"Oh jadi kamu gadis itu, berani sekali kamu mendekati anakku," Ucapnya sambil menuding kearah Risda.
"Pa, Risda ngak salah. Jangan ikut sertakan dia dalam hal ini, jika mau menghajar, hajar Renzo saja, Pa. Jangan Risda," Ucap Afrenzo dengan lemasnya.
"Om ini hanya salah paham, hiks.. hiks.. hiks.. tolong jangan pukuli Renzo lagi, kejadian tidak seperti itu Om," Tangis Risda pun pecah.
"BANGUN!" Bentak Papanya.
Afrenzo pun langsung mencoba untuk bangkit kembali, meskipun agak susah akan tetapi dirinya terus berusaha untuk mencobanya dengan bantuan dari Risda. Papanya itu tidak suka melihat kehadiran Risda disana, apalagi karena hal itu membuat nama baik Afrenzo tercemarkan disekolahan tersebut.
"Kamu sudah mencemarkan nama baik Renzo, dan sekarang kamu berani beraninya menginjakkan kaki dirumahku," Ucapnya sambil menatap tajam kearah Risda.
"Pa, jangan salahkan dia!" Sentak Afrenzo yang tidak suka cara Papanya itu menatap seperti itu kepada Risda.
"Aku terima apapun hukumannya Om, tapi tolong jangan pukuli Renzo lagi," Ucap Risda.
"Ngak Pa, yang harus dihukum adalah Renzo, bukan dia."
Risda pun memegangi tubuh Afrenzo yang beberapa kali hendak tumbang kelantai itu, Afrenzo memegangi dadanya yang terasa sakit. Afrenzo mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya, dan dirinya berusaha untuk melepaskan pegangan dari Risda dan berjalan mendekat kearah Papanya.
"Jangan salahkan dia, Pa. Dia tidak bersalah, Renzo yang salah," Ucap Afrenzo.
Bhukk...
Lagi lagi Afrenzo ditendang oleh Papanya, hingga dirinya pun langsung termundurkan beberapa langkah. Akan tetapi sebelum jatuh kelantai, Riada langsung menangkap tubuhnya itu.
"Renzo!" Teriak Risda.
Karena Risda yang tidak kuat menahan berat badan Afrenzo, hingga membuat keduanya terjatuh dilantai bersamaan. Afrenzo terlihat semakin lemas saat ini, melihat itu langsung membuat Risda berusaha untuk menyandarkan tubuhnya didadanya.
"Om tolong jangan pukuli Renzo lagi,"
"Astaghfirullah, Mas!" Mamanya Afrenzo yang baru tiba ditempat itu pun langsung segera bergegas menuju kearah Afrenzo.
Afrenzo pun terlihat seperti sedang menahan rasa sakitnya saat ini, dengan pelannya Mamanya tersebut langsung mengusap kepalanya. Setetes air mata pun jatuh dari wajah Afrenzo ketika merasakan usapan lembut dari Mamanya itu.
"Mas! Apa yang kamu lakukan dengan Renzo!" Sentak Rahma, Mama dari Afrenzo.
Ketika Rahma hendak bangkit untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan suaminya itu, Afrenzo pun langsung mencekal tangannya, Afrenzo tidak mau kalau Mama dan Papanya sampai berantem.
"Ngak Ma, Renzo pantas menerimanya," Ucap Afrenzo dengan lemahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Bilangin ke anak kurang ajar ini, ajari dia akhlak yang baik!" Sentak Farzan, Papanya Afrenzo.
"Pa, kenapa ngak sekalian bunuh Renzo saja? Biarkan Renzo menyusul Kakak. Tubuh Renzo sakit semua Pa, akhiri saja hidup Renzo sekarang," Ucap Afrenzo dengan tubuh yang bergetar karena menahan rasa sakitnya.
Risda yang merasakan itu pun tidak mampu berkata kata lagi, dirinya terus meneteskan air matanya dan terisak lirih. Sungguh berat kehidupan seorang Afrenzo, ia baru menyadari bahwa bebannya selama ini tidak ada apa apanya daripada apa yang dialami oleh Afrenzo.
Mendengar ucapan Afrenzo, hal itu langsung membuat Farzan memukul angin. Setelah itu dirinya pergi dari tempat itu dengan marahnya, Rahma pun langsung menyusulnya untuk meminta penjelasan dari Farzan karena apa yang dia lakukan kepada Afrenzo.
"Da, gue ngak papa kok, jangan nangis," Ucap Afrenzo sambil mencoba bangkit dari sandarannya.
"Gue takut lo kenapa kenapa, Renzo. Ngelihat lo dipukulin seperti itu membuat hati gue sakit,"
Afrenzo pun memandangi wajah Risda yang berair itu, dia hanya menghela nafasnya melihat gadis itu menangis saat ini. Afrenzo lalu menghapus bercak darah yang mengalir diujung bibirnya itu, rasanya perih ketika luka itu bersentuhan dengan kulitnya.
"Cengeng," Ucap Afrenzo sambil tersenyum tipis kearah Risda.
Mendengar itu, langsung membuat Risda mencubit lengan panjang milik Afrenzo. Afrenzo pun meringis kesakitan akibat cubitan dari Risda yang super kecil itu, melihat itu langsung membuat Risda melepaskan cubitannya.
"Disaat seperti ini lo masih bisa tersenyum? Apa apa'an lo?" Ucap Risda kesal.
"Gue ngak bakal mati dengan cepat kok, wajah lo lucu," Ucap Afrenzo sambil bangkit berdiri. "Sorry ya, lo datang kerumah gue tanpa gue beri minum lebih dulu,"
Entah kenapa, Risda merasakan bahwa senyuman yang ada diwajah Afrenzo itu terlihat penuh dengan kesedihan yang mendalam dan sangat sulit untuk diartikan. Ia masih sempat untuk memberikan senyuman kepada Risda.
"Renzo,"
"Bangunlah, duduk disofa jangan dilantai," Ucap Afrenzo sambil menyuruh Risda untuk bangkit.
Afrenzo berjalan pelan kearah sofa yang ada diruang tamunya itu sambil memegangi dadanya, Risda lalu bangkit berdiri untuk menyusul Afrenzo. Dengan pelan pelan, Afrenzo duduk disofa tersebut dan diikuti oleh Risda yang duduk disebelahnya.
Afrenzo meraih sebuah minuman gelas yang telah disediakan diatas meja diruang tamu itu, ia pun langsung memberikannya kepada Risda, Risda menerimanya dengan penuh tanda tanya.
"Minumlah, lo pasti haus kan?" Ucap Afrenzo.
"Dada lo sakit? Kenapa dipegangi seperti itu?" Tanya Risda dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Sudah biasa, jangan khawatir,"
Tak beberapa lama kemudian, Rahma datang sambil membawa seember air dan waslap kecil didalamnya. Rahma pun hendak mengobati luka memar yang ada diwajah Afrenzo, akan tetapi Afrenzo pun mencegahnya.
__ADS_1
"Ngak perlu diobati, Ma. Biarkan saja lukanya," Ucap Afrenzo menghentikan Mamanya.
"Renzo, kalo infeksi bagaimana?" Tanya Rahma.
"Biarkan saja infeksi, luka ini akan mengingatkan kepada Renzo atas kesalahan yang Renzo lakukan. Biarkan saja,"
"Jangan seperti ini, Renzo. Mama makin merasa bersalah jika kamu tidak mau diobati seperti ini,"
"Renzo ngak papa, Ma. Sudah biasa," Afrenzo pun seperti tengah menyengir sambil memegangi dadanya.
Melihat itu langsung membuat Rahma merasa bahwa luka didada Afrenzo lebih parah daripada diwajahnya. Afrenzo tidak pernah terlihat lemah seperti saat ini, apalagi sambil memegangi dadanya.
"Buka bajumu, Mama pengen lihat lukamu," Ucap Rahma sambil memegangi baju Afrenzo.
"Jangan Ma, ada cewek disini. Bagaimana Renzo bisa membuka baju disini?" Afrenzo pun memegangi tangan Mamanya untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Mamanya itu.
"Biar Mama obati, kenapa kamu ngak mau nurut sama Mama sih?"
"Renzo ngak mau diobati Ma,"
"Tante, biar Risda saja yang melakukannya. Kalo dia ngak mau juga, Risda akan marah kepadanya," Ucap Risda memberanikan diri untuk berbicara kepada Rahma.
"Baiklah, tolong obati dia. Kalo begitu Tante masuk dulu," Ucap Rahma.
"Iya Tan."
Rahma pun bangkit dari duduknya meninggalkan keduanya itu, Risda lalu mengambil kain waslap yang ada didalam baskom itu. Ia pun memerasnya hingga kering, lalu dia gerakkan untuk menyentuh wajah Afrenzo akan tetapi Afrenzo langsung memegangi tangan Risda.
"Ngak usah diobati," Ucap Afrenzo dengan dinginnya.
"Renzo! Gue ngak mau luka lo makin parah," Sentak Risda.
"Biarin parah,"
"Lo keras kepala banget sih! Gue ngak suka kalo lo kayak gini, atau gue bakalan marah beneran sama lo,"
Afrenzo pun perlahan lahan melepas pegangan tangannya dari tangan Risda, Risda lalu menggerakkan tangannya kembali untuk mengompres luka yang ada diwajah Afrenzo saat ini dengan air dingin.
Dengan perlahan lahan, Risda mulai membersihkan bercak darah yang ada diujung bibir Afrenzo itu. Ketika dibersihkan, tatapan kedua mata Afrenzo pun terarah kepada kedua mata Risda, dan Risda masih fokus untuk membersihkan luka Afrenzo.
"Da," Panggil Afrenzo.
"Ada apa?" Tanya Risda yang masih fokus untuk membersihkan luka diwajah Afrenzo.
"Untuk kejadian hari ini, lo lupakan saja. Jangan katakan kepada siapapun tentang ini,"
"Kenapa?"
"Ini masalah peribadi gue, hanya lo yang tau. Jangan katakan kepada siapapun,"
"Pasti Bagas yang memberitahu,"
"Sebenarnya dia punya dendam apa'an sama lo? Kenapa dia bisa segitunya,"
"Ngak tau,"
Uhuk.. Uhuk...
Tiba tiba Afrenzo pun terbatuk batuk sambil memegangi dadanya, Afrenzo merasa seperti dadanya begitu sesak saat ini. Mungkin karena begitu banyak tendangan yang dirinya terima saat ini, melihat itu langsung membuat Risda panik.
"Renzo, lo kenapa?" Tanya Risda.
"Gue ngak papa," Jawab Afrenzo.
"Wajah lo pucat banget, Renzo. Lo sakit?"
"Gue lupa ngak pake lipstik,"
"Emang lo biasanya pake lipstik? Jadi cewek dong,"
"Da, gue ngak bisa antar lo kesekolahan. Nanti gue akan minta tolong Kakak keponakan gue untuk ngater lo ya?"
"Renzo, lo beneran ngak papa?"
"Ngak papa,"
Afrenzo pun mengambil benda pipih yang dirinya letakkan sebelumnya, ia pun memencet sesuatu disana untuk mengetikkan sebuah pesan. Tak beberapa lama kemudian, seorang pemuda pun masuk kedalam rumahnya itu.
"Kak, tolong antar temen gue ke sekolahan ya,"
"Lo sakit? Wajah lo pucat, Renzo." Ucap lelaki itu ketika melihat wajah Afrenzo yang terlihat pucat.
Pemuda itu sudah terbiasa melihat wajah bonyok yang dimiliki oleh Afrenzo, sehingga dirinya tidak terkejut ketika melihatnya. Akan tetapi, dirinya terkejut ketika melihat wajah Afrenzo yang pucat itu.
"Sakit apanya? Orang gue ngak papa," Ucap Afrenzo.
"Okelah, gue antar dia dulu. Lo istirahat saja,"
"Thanks."
"Renzo, besok lo harus masuk sekolah," Ucap Risda.
"Insya Allah," Jawab Afrenzo.
__ADS_1
"Renzo! Pokoknya lo besok harus sekolah. Jangan hanya jawab Insya Allah saja, gue tunggu disekolahan besok,"
"Iya Da."
Risda pun keluar dari halaman itu dengan beratnya meninggalkan Afrenzo dengan keadaan seperti ini. Melihat kepergian Risda dari tempat itu, hal itu langsung membuat Afrenzo langsung terbaring diatas sofanya. Rasa sakit didadanya itupun sudah tidak mampu dirinya tahan.
Afrenzo bangkit dari sofa itu dan berjalan menuju ke kamarnya dengan sempoyongan, dirinya pun langsung mengunci pintu kamarnya itu dari dalam. Ia berjalan menuju kekasurnya dengan langkah tak tentu arah, kepalanya mendadak merasa sangat pusing.
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo hanya melihat kegelapan disekitarnya. Afrenzo tidak sadarkan diri dilantai karena belum sempat untuk beranjak keatas kasurnya itu, beruntung kepalanya tidak terbentur lantai disaat dirinya pingsan.
*****
Kini Risda telah sampai disekolahan, Risda melihat bahwa parkiran yang ada diaula beladiri tersebut masih ramai sehingga dirinya menduga bahwa latihan beladiri belum selesai saat ini.
"Makasih, sudah nganter gue kesini," Ucap Risda kepada pemuda tersebut.
"Santai aja," Jawabnya.
"Oh iya, gue boleh nanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Apakah Renzo punya Kakak?"
"Punya, tapi sudah almarhum. Dulu meninggalnya disaat Afrenzo masih duduk dibangku SD kelas 6,"
"Kalo boleh tau, meninggalnya karena apa?"
"Kalo soal itu gue ngak tau, nanti lo tanya sendiri saja sama orangnya,"
"Baiklah,"
"Oh iya, lo harus hati hati sama keluarganya. Mereka semua itu keras, apalagi Bokapnya itu."
"Iya,"
Pemuda itu pun langsung bergegas meninggalkan Risda disana, Risda lalu berjalan menuju kearah aula beladiri itu, ia melihat teman temannya yang sedang berlatih saat ini.
"Dimana pelatih?" Tanya Fandi ketika melihat kedatangan Risda sambil menundukkan kepalanya.
Sebelumnya Afrenzo memberitahukan kepada Fandi bahwa dirinya ada urusan sehingga tidak bisa melatih mereka saat ini. Afrenzo juga bilang kepadanya bahwa Risda juga tidak bisa ikut berlatih karena dirinya ikut bersama dengan Afrenzo.
"Dirumahnya," Jawab Risda acuh tak acuh.
"Bukannya lo tadi keluar bareng sama dia? Kok lo balik sendirian, emang kagak diantar olehnya?"
"Pertanyaan lo kayak wartawan saja, kepo banget sih jadi orang,"
"Pelet apa yang lo gunakan kepadanya? Bisa bisanya menjebak dia seperti itu,"
"Sok tau lo, lo aja kagak sekolah disini. Mana mungkin lo tau yang sebenarnya," Ucap Risda sewot.
"Hello, beritanya sudah nyebar kemana mana tau, apalagi dia pelatih disini, jelas kami semua tau. Lo kenapa? Habis nangis?"
Fandi baru menyadari bahwa kedua mata Risda sedikit bengkak, mendengar pertanyaan itu langsung membuat Risda meneteskan air matanya, akan tetapi langsung segera dihapus olehnya itu.
"Ya elah malah nangis, gue cuma bercanda kali. Lagian wajar saja sebagai manusia punya rasa suka kepada lawan jenis, kalo sesama jenis byuh amit amit. Kenapa lo nangis?"
"Da,"
"Ada apa?"
"Untuk kejadian hari ini, lo lupakan saja. Jangan katakan kepada siapapun tentang ini,"
"Kenapa?"
"Ini masalah peribadi gue, hanya lo yang tau. Jangan katakan kepada siapapun,"
Mendengar pertanyaan dari Fandi, hal itu langsung membuat Risda teringat dengan perkataan dari Afrenzo sebelumnya. Sehingga hal itu membuat dirinya tidak mampu mengatakan yang sebenarnya kepada siapapun, dan dirinya tidak mau melakukan itu.
"Lo sih, orang gue udah ngelupain itu malah lo ingatin lagi," Keluh Risda.
"Ya ngak papa kali. Gue kasih tau ke lo ya, bisa jadi kejadian ini ngak akan pernah lo lupain, dan akan jadi kenangan terindah waktu lo dewasa nanti."
"So tau banget lo,"
"Dih malah ngamok... Inget aja perkataan gue ini, dan buktikan itu benar atau ngaknya nanti,"
"Gue pegang ucapan lo, awas aja kalo ngak."
"Anjiiirr kayak janji aja dipegang,"
"Hussttt... diperguruan ngak boleh mengumpat, nanti pelatih marah loh,"
"Lo sih bikin masalah,"
"Dih, gue cuma mau ambil sepedah gue tau. Dahlah dahlah gue pulang dulu,"
Risda pun langsung menghampiri sepedahnya dan mengeluarkan sepeda itu dari dalam aula beladiri.
"Jangan nangis ya," Ucap Fandi dengan nada sedikit mengejek.
"Sialan lo!" Umpat Risda.
__ADS_1
"Hussttt... diperguruan ngak boleh mengumpat, nanti pelatih marah loh," Fandi menirukan ucapan Risda sebelumnya.
Risda pun mendengus kesal, dan dirinya pun langsung melajukan motornya untuk pergi dari halaman aula beladiri itu.