Pelatihku

Pelatihku
Episode 67


__ADS_3

Jam pulang sekolah pun berbunyi, seluruh siswa langsung membubarkan diri dari kelas mereka masing masing, termasuk juga dengan Risda dan yang lainnya. Risda dan teman temannya pun langsung menuju keparkiran untuk mengambil motor mereka masing masing, dan mereka pun memarkirkannya didepan sekolahan itu untuk menunggu yang lainnya.


"Jadi cuma berenam nih?" Tanya Risda ketika keenam orang sudah berkumpul, termasuk juga Risda yang ikut dihitung.


"Iya, yang lainnya kagak mau ikut," Jawab Rania.


"Baiklah. Lo sama gue aja Tika, biar Mira sama Rania, terus Septia sama Nanda." Tutur Risda kepada teman temannya itu.


"Ran, nanti lo anterin gue kesini lagi yak, awas aja lo kalo kagak mau," Ucap Mira sambil menyenggol pundak Rania.


"Gampang kan ada Risda," Ucap Rania.


"Gila lo? Gue nanti balikin Tika kemari juga anjiiir! Masak iya gue harus boncengan motor tiga orang ha? Yang benar saja lo!" Risda berkata dengan menyolot.


"Santai dong, Da. Nanti setelah nganter Tika kemari, terus lo jemput Mira kerumah gue," Ucap Nanda.


"Gampang kalo soal itu, asal gue dapat bayaran uang 300 ribu, gue mau." Tantang Risda kepada mereka semua.


"Ya elah, lagian bengsin juga ngak semahal itu kali, Da. Gue aja ngak sampai 50 ribu meskipun seminggu,"


Risda pun membuang muka dari hadapan teman temannya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Tak jauh dari tempat itu pun, dirinya tengah melihat Afrenzo yang sedang duduk diatas motornya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya itu.


"Gue tadi mengumpat, kira kira dia denger ngak ya? Kalo sampe dia denger, mati gue nanti diomeli." Batin Risda menjerit sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya itu.


"Lo kenapa, Da?" Tanya Kartika sambil menyentuh pundak Risda yang kini tengah duduk diatas motor milik Risda.


"Gue ngak papa, ayo berangkat!" Ucap Risda dengan semangatnya sambil meninju angin.


Mereka pun menjalankan motornya untuk meninggalkan halaman sekolah itu, tak lupa juga mereka mampir terlebih dulu di minimarket untuk membeli bahan bahan yang akan mereka gunakan untuk membuat adonan kue brownies.


"Eh enakan rasa coklat atau pandan?" Tanya Rania sambil membawa dua bungkus bubuk adonan brownies kukus yang ada ditangannya.


"Coklat!"


"Pandan," Ucap Risda seorang.


"Huftt... Ya sudah beli keduanya saja, biar ngak berebutan," Putus Rania.


"Mantap, lo paling the best Ran," Ucap Risda sambil bertepuk tangan lirih.


Mereka pun juga tengah membeli coklat batang dan juga keju batang untuk sebagai toping nantinya. Setelahnya, mereka semua langsung bergegas menuju kerumah Nanda sesuai dengan rencana awal mereka.


Sesampainya disana, mereka semua langsung disambut dengan hangat oleh keluarga dari Nanda, Nanda memang anaknya sedikit manja dan paling disayangi oleh kedua orang tuanya, karena dia anak perempuan pertama satu satunya. Nanda memiliki adik laki laki yang masih berumur sekitar 5 tahunan, akan tetapi Nanda yang paling dimanja oleh Ayahnya.


"Rumah lo enak juga ya, Nan. Sejuk banyak tumbuhannya," Ucap Risda sambil memandangi kearah sekelilingnya.


"Ayahnya memang suka berkebun, Nak. Jadi disini banyak tanamannya," Ucap Ibu dari Nanda.


"Kebalikan sama anaknya kalo begitu, Tan. Anaknya suka bunuh tanaman," Ucap Risda.


"Matamu! Gue juga suka berkebun anjiiir!" Umpat Nanda sambil menjitak kepala Risda.


Memang generasi mereka sepertinya tidak punya sopan santun, bahkan didepan orang tua pun mereka masih berani untuk mengumpat. Risda yang mendapatkan jitakan tersebut pun langsung mendengus kesal kepada Nanda, ia pun mencerucutkan bibirnya kepada gadis itu.


"Rumput disekolahan aja lo cabut, Nan. Suka berkebun apanya lo?" Tanya Risda dengan ketusnya.


"Beda ceritanya anjiiirr! Kalo ngak gue cabut, mana bisa bunga bunga disana mekar," Ucap Nanda.


"Stop! Kenapa kalian malah berdebat sih? Yok masuk lah, masak diluar kayak orang nagih hutang begitu," Seru Rania yang memisahkan perdebatan diantara mereka berdua.


"Dih... Gue yang pemilik rumah woi, kenapa lo yang nyuruh masuk?" Nanda sedikit tidak terima dengan ucapan dari Rania.


"Bodoamat! Lo lama anjiiirr, lo kagak tau apa kalo diluar itu panas," Ucap Rania dan langsung masuk kedalam rumah Nanda.


Mereka semua pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Rania, dan mereka pun bergegas untuk masuk kedalam rumah tersebut. Rania, Septia, dan Nanda adalah sahabat sejak kecil, sehingga mereka sudah berada dirumah Nanda tanpa sopan santun dan menganggap rumah Nanda seperti rumahnya sendiri.


"Siapin dong peralatannya, ngapain lo diem aja?" Tanya Risda kepada Nanda.


"Eh iya gue lupa, gue ambil dulu bentar,"


"Cepetan.. Ngak pake lama!"


"Sabar napa? Orang sabar tuh disayang Tuhan,"


Mereka pun langsung berkutik dengan apa yang mereka lakukan saat ini, semuanya mengerjakan tugas mereka masing masing. Nanda menyiapkan Kompornya, Septia tengah memarut keju, Kartika juga ikut serta memarut coklat batang, Rania tengah sibuk menyiapkan loyangnya, Sementara Risda dan Mira tengah berkutik dengan adonan brownies tersebut.


"Ditambahin minyak diadonannya woi," Ucap Risda, sebelumnya Risda juga pernah membuat brownies bersama dengan saudaranya sehingga dia tau apa yang kurang.

__ADS_1


"Gila lo? Masak brownies pake minyak sih? Yang bener aja lo, Da. Yang ada kita yang makan minyak," Ucap Mira.


"Gue pernah buat anjiiirrr! Kalo ngak pake minyak kagak bakalan jadi, sodara gue aja ngasih minyak malah satu gelas kecil penuh."


"Mana ada resep seperti itu, Da? Lo salah lihat kali, yang beginian tuh kagak pake minyak,"


"Buat kue pake mentega kagak? Lah ini kagak ada mentega ya pake minyak lah," Risda masih kekeh pada pendiriannya.


"Sok tau lo,"


"Ya sudah kalo kagak percaya sama ucapan gue, adonan coklat lo kagak usah minyak, biar adonan pandan gue yang pake," Putus Risda kesal.


"Oke fiks!"


"Nda, ambilin minyak woi!" Perintah Risda kepada Nanda.


"Bentar!" Teriak Nanda dari dalam dapurnya.


Nanda yang tengah berada didapur itu pun tidak paham ucapan Risda, kenapa dirinya tiba tiba memintanya untuk membawakan minyak, Nanda pun datang sambil membawakan secangkir minyak dan memberikannya kepada Risda.


"Emang untuk apa'an, Da?" Tanya Nanda.


"Buat ngoreng nih bocah," Jawab Risda sambil menatap sinis kearah Mira.


"Lo dulu yang gue bakar," Ucap Mira kesal.


"Hei kalian yang kagak punya sopan santun, ini rumah orang woi, ucapan kalian kasar semua. Hargailah pemilik rumah," Ucap Septia yang sejak tadi diam.


"Mau dihargai berapa? Seribu atau dua ribu?" Tanya Risda dengan mulut pedasnya itu.


"Bangsaat lo, Da!" Umpat Nanda dengan kesalnya dan ingin sekali menabok tuh mulut kasar milik Risda.


"Sorry," Ucap Risda menyengir akan tetapi dirinya sams sekali tidak merasa bersalah.


Risda pun langsung menuangkan sedikit demi sedikit minyak kepada adonan brownies rasa pandan yang tengah ia buat itu, melihat itu langsung membuat Nanda membulatkan kedua matanya dengan lebar.


"Woi kagak enak tau! Bisa bisanya adonan brownies diberi minyak," Ucap Nanda terkejut.


"Lo baru datang kemari, jadi diam saja sambil lihat apa yang gue lakuin," Ucap Risda.


"Dih, adonan rasa pandan udah lo nodai, Da. Gue jadi kagak mood untuk memakannya,"


"Enak aja lo, disini kita buat sama sama, lo malah mau bawa pulang sendiri lagi,"


"Berantem terus, lalu akur lagi, berantem lagi, akur lagi. Kalian kagak bosan apa begitu mulu?" Tanya Rania sambil menghela nafas panjang.


"Kagak, justru hal seperti ini tuh yang bakalan dikenang sampai nanti," Jawab Mira.


"Betul tuh betul," Sela Septia.


Diantara mereka yang paling pendiam adalah Septia, sementara Kartika terlihat seperti tomboy dan enggan untuk berbicara akan hal hal yang ngak penting baginya. Bukan pendiam, melainkan malas berdebat dengan orang orang seperti itu.


"Gue heran siapa jodoh Risda nantinya ya? Apa dia bakalan sanggup hidup dengan cewek seperti ini?" Tanya Septia.


"Jodohnya mah jangan ditanya lagi, jelas itu adalah Afrenzo. Karena kan dia hanya patuh dengan Afrenzo saja," Ucap Rania.


"Kalo itu gue kagak setuju, Renzo kan orangnya cap buaya darat, bagaimana bisa bersanding dengan Risda. Gue kagak mau Risda disia siain oleh Renzo," Sela Mira.


"Gue yang berjodoh, kok lo yang ngatur?" Tanya Risda.


"Gini nih, Da. Renzo itu bukan cowok baik baik tau, apa lo mau disia siain nantinya? Kalo gue sih ogah,"


"Renzo kagak seperti itu, orang dia aja paling menghormati wanita."


"Lo kan hanya baru kenal dia saja, Da. Jelas saja lah sikapnya belum kebuka semuanya,"


"Emang lo yakin dengan ucapan lo? Kenapa lo sangat benci sama Renzo sih? Emang Renzo pernah punya salah apa'an sama lo?" Tanya Risda dengan beruntun kepada Mira.


"Kagak punya sih, tapi gue agak ngak suka sama dia karena dia sombong,"


"Aneh,"


Mereka pun langsung memasukkan adonan brownies yang mereka buat tersebut kedalam loyang yang telah disiapkan. Setelah itu mereka pun langsung mengkukudnya sekitar setengah jam sesuai dengan anjuran yang tertulis diatur prosedur yang tertulis.


Cukup lama mereka menunggu, akhinya kue brownies kukus tersebut langsung mereka keluarkan dari dalam kukusan. Kue yang rasa coklat terlihat sangat nikmat, akan tetapi teksturnya terlihat bantet atau terlalu padat dan keras, sementara yang rasa pandan teksturnya pas.


"Rasanya kok gini ya? Kagak enak sama sekali," Ucap Rania yang memakan secuil kue brownies coklat.

__ADS_1


"Ngak baik ngomong kayak gitu didepan makanan," Tegur Risda kepada Rania.


"Beneran, Da. Rasanya emang kagak enak," Ucap Rania.


"Sini coba gue cicipi,"


Risda pun langsung mengambil secuil kue brownies coklat tersebut, dirinya lalu memasukkannya kedalam mulutnya itu. Baru masuk saja, akan tetapi Risda sudah merasakan eneg dari kue tersebut, akan tetapi tanpa banyak suara dirinya lalu menelannya.


"Rasanya agak gosong tau ngak sih? Kayak pahit pahit gimana gitu," Komen Risda kepada kue brownies kukus rasa coklat.


"Fiks! Percobaan gagal," Pungkas Rania.


"Tapi yang rasa pandan juga mendingan lah," Seru Septia.


"Nah apa gue bilang? Kalian semua kagak percaya sih sama ucapan gue,"


"Iya deh iya, terserah lo!"


Mereka pun memakan kue tersebut dengan sedikit demi sedikit agar tidak mubazir makanan, tiba tiba Ibu dari Nanda menyuruh Nanda untuk membeli sesuatu ditoko yang agak jauh dari rumahnya itu. Nanda, Septia, dan Mira itu pun langsung bergegas untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Ibunya Nanda.


Rania izin pulang lebih dulu untuk mengambil sesuatu dirumahnya, kini hanya tersisa Kartika dan Risda saja yang ada dirumah tersebut. Kedua orang tersebut tengah tiduran diruang tamu, lebih tepatnya tiduran di atas kursi yang ada diruang tamu itu.


Risda menjadikan tasnya sebagai bantalnya dan dirinya pun fokus bermain game yang ada didalam ponselnya tanpa memperhatikan sekitarnya itu. Sambil menunggu kedatangan dari teman temannya, dirinya pun membuka game di ponselnya untuk mengisi kegabutannya.


Beberapa saat, keempat temannya itu pun kembali. Risda langsung mematikan ponselnya itu, begitu banyak makanan yang telah dibeli oleh Nanda saat ini. Nanda pun langsung meletakkan makanan itu diatas meja yang ada didepan Risda.


"Nda, ponsel Ibu tadi dimana?" Tanya Ibunya Nanda ketika Nanda telah tiba.


"Nanda ngak tau, Bu. Bukannya tadi Ibu pake ya?" Tanya Nanda balik.


"Kan kamu pinjem tadi, dimana sekarang?"


"Jangan jangan ketinggalan kali, Nan. Lo lupa kali," Ucap Rania.


"Masak iya sih?" Tanya Nanda ragu.


"Priksa aja dulu, mungkin emang ketinggalan," Ucap Septia.


Nanda pun langsung menarik tangan Septia untuk ikut bersamanya kembali ketoko tempat dirinya membeli sebelumnya. Tak beberapa lama keduanya kembali dengan wajah kebingungan, karena ditoko itu mereka juga tidak menemukannya.


"Ngak ada juga, Bu. Kata penjualnya aku tadi ngak bawa hp," Ucap Nanda.


"Lalu dimana ponsel Ibu, Nanda!"


"Tadi memang Nanda tidak bawa ponsel, Tan. Dia tadi menaruhnya di atas meja sebelum pergi, tapi sekarang ngak tau kemana," Ucap Risda yakin.


"Ayo kita cari bareng bareng," Ajak Kartika.


Mereka pun mencari ponsel tersebut diseluruh penjuru ruang tamu itu, sementara kedua orang tua Nanda mencarinya kedalam rumahnya. Akan tetapi, mereka semua tidak menemukan apa yang mereka cari itu.


"Coba ditelpon aja, Tan. Kali aja bisa ketemu," Saran Risda.


"Baiklah,"


Nanda pun langsung mencoba menghubungi ponsel milik Ibunya itu, akan tetapi tidak kunjung tersambungkan bahkan berdering saja tidak. Beberapa kali Nanda mencoba untuk menghubunginya, tapi ponsel tersebut seakan akan sudah dimatikan.


"Ngak bisa ditelpon juga, Bu. Kalo bisa ditelpon ya berdering, lah ini kayaknya sudah di nonaktifkan," Ucap Nanda.


Mereka semua pun terlihat kebingungan, apalagi dengan teman teman Nanda itu, mereka takut terlibat dalam masalah ini. Pandangan Risda tak sengaja menatap kearah Kartika yang memiliki ekspresi wajah yang mencurigakan baginya.


"Apa mungkin Tika pelakunya? Tapi gue ngak boleh nuduh begitu saja, ini juga termasuk fitnah. Gue harus selidiki masalah ini," Batin Risda.


"Maaf ya, bukannya Tante mau menuduh kalian. Bagaimana kalo kalian diperiksa satu persatu? Siapa tau diantara kalian yang mengambil," Ucap Ibunya Nanda.


"Priksa saja, Tan. Kita juga harus tau siapa pelakunya agar bisa hati hati," Ucap Risda dengan tegasnya.


Risda pun langsung membentangkan kedua tangannya didepan Ibunya Nanda itu, ia juga memberikan tas miliknya kepada Nanda untuk diperiksa. Seluruh saku yang ada dipakai Risda pun digeledah bahkan tas yang dirinya miliki itu.


Setelah yakin bahwa Risda tidak mengambilnya, mereka pun percaya bahwa bukan Risda pelakunya itu. Setelah itu mereka pun memeriksa yang lainnya juga, akan tetapi sama sekali tidak ditemukannya ponsel tersebut.


Risda terus memperhatikan gerak gerik dari Kartika sejak tadi, bahkan Kartika seperti merasa tidak tenang saat ini. Risda pun langsung mendekat kearah dimana Kartika berada, ia pun menyenggol nyenggol tangan Kartika.


"Kenapa lo?" Tanya Risda kepada Kartika.


"Ngak papa, gue hanya takut dituduh saja, Da. Kan hanya kita berdua yang diruang tamu tadi, jelas tuduhan itu ngarah kekita berdua."


"Gue tau, tapi gue santai. Soalnya kalo ngak salah kenapa harus takut?"

__ADS_1


"Lo bener, Da."


__ADS_2