
Rasanya sangat asing meskipun di rumah sendiri, itulah tiap hari yang Risda rasakan, meskipun dia tinggal di situ cukup lama bahkan dari dirinya lahir akan tetapi kepergian dari kedua orang tuanya membuat rumah itu sangat asing baginya. Memang dirinya kenal siapa penghuni rumah itu, akan tetapi dirinya tidak kenal sosok seperti apa orang yang tinggal di situ.
Risda selalu diperlakukan bagaikan orang asing di tempat itu, padahal itu adalah rumahnya sendiri tempat dirinya lahir. Bahkan kakaknya sendiri pun tidak pernah berbicara kepadanya selain marah, Riska sampai berpikir bahwa dirinya tidak layak untuk hidup.
Risda berpikir bahwa dirinya hanya beban di rumah itu, dan jika dirinya pergi maka semua orang di sana akan bahagia tanpa kehadirannya. Dirinya sering disalahkan bahkan dibicarakan oleh kakaknya kepada tetangganya, hingga terkadang dirinya sangat malu akibat cerita dari kakaknya yang sedang bercerita kepada tetangga rumahnya.
Bahkan kakaknya sendiri pun menyebarkan aibnya kepada para tetangganya, oleh karena itu Risda sendiri bahkan tidak mengenali tetangganya ataupun orang yang ada di rumahnya itu. Ketika tetangganya mati sekalipun itu Risda sendiri tidak mengetahui, Risda tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain bahkan dia tidak ingin orang lain ikut campur dalam urusannya.
Mungkin jika dilihat Risda adalah orang yang sangat tertutup, bukan tertutup karena hijabnya melainkan sosok dirinya yang tidak pernah terbuka kepada siapapun yang ada di rumah itu atau lingkungan sekitarnya. Risda tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya entah membicarakan apapun tentang keburukannya, karena dirinya yakin bahwa cerita orang tidak akan bisa menentukan antara surga dan neraka.
Setiap hari harinya ia lakukan berada di dalam kamar, Risda bahkan jarang keluar rumah apalagi keluar kamar. Sehingga jika ada tetangga yang ingin bertemu dengannya hanya sekedar minjam uang, mereka akan masuk ke dalam kamarnya untuk menemuinya.
Orang orang akan baik kepadamu ketika mereka membutuhkanmu, selebihnya mereka akan menunjukkan sikap asli mereka ketika mereka tahu kekuranganmu, dan kamu tidak bisa membantu mereka. Terkadang manusia tidak bisa memanusiakan manusia lainnya, mereka lebih membesarkan egonya sendiri daripada perasaan orang lain.
Berharap kepada manusia hanyalah tempatnya luka, karena manusia terkadang lupa cara untuk menghormati yang lainnya. Itulah yang dilakukan oleh Risda, dirinya hanya bisa mengandalkan kedua tangannya selebihnya dia pasrahkan kepada Allah.
Setelah Afrenzo mengantarkannya pulang, Risda pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh barang barangnya dan mengambil pakaian gantinya. Setelahnya dirinya pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya lagi.
Kedatangan Risda ke rumahnya itu sama sekali tidak disambut oleh siapapun, bahkan salamnya sendiri pun tidak ada yang menjawab karena mereka hanya dia membisu tanpa memperdulikan dirinya. Risda sudah terbiasa berada dalam keadaan seperti itu, rasanya sangat sakit jika diabaikan oleh orang sekitar, apalagi Risda merasa sendirian di rumah itu tanpa ada yang menemani.
"Kak, tadi ada temen Kakak yang ngasih undangan," Ucap Adifa, keponakan Risda.
Mendengar itu membuat Risda langsung membuka matanya kembali, sebelumnya dirinya tengah merebahkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya. Riska langsung duduk di tepi kasurnya dan menyuruh keponakannya itu untuk duduk di sebelahnya.
"Undangan apa?" Tanya Risda.
"Nggak tau. Aku belum bisa baca," Ucap Adifa sambil menyerahkan undangan itu.
"Baiklah, terima kasih."
"Sama sama."
Risda selalu membiasakan diri untuk mengucap terima kasih dan maaf untuk mengajarkan adiknya itu, meskipun usia Adifa masih kecil akan tetapi Risda mengajarkannya sejak saat itu. Setelah memberikan surat undangan tersebut kepada Risda, Adifa langsung keluar dari kamar Risda untuk bermain.
Ternyata itu adalah surat undangan dari remaja masjid, mereka diminta untuk berkumpul di masjid untuk menentukan susunan keorganisasian yang baru. Risda pun menghela nafas dengan kasar, kepalanya masih terasa sangat pusing dan nafasnya pun terasa panas.
"Tempatnya agak jauh dari sini," Guman Risda ketika membaca lokasi yang tertera dikertas tersebut.
Risda pun kembali membaringkan tubuhnya dikasur tidurnya itu, dirinya merasa sangat kelelahan. Ketika kedua matanya terpejam, seketika dirinya langsung membukanya kembali.
"Sepertinya itu jauh lebih penting daripada dirumah."
Risda pun berubah pikiran seketika itu juga, dirinya berpikir lebih baik dia mengikuti acara tersebut daripada hanya tiduran di rumah. Jika dirinya melakukan itu itu artinya dia memiliki kegiatan lain, dia juga merasa lelah ketika mendengar Indah terus mengomel karena dirinya yang seakan akan tengah bermalas malasan.
__ADS_1
Risda dengan segera langsung bangkit dari tidurnya, dia pun langsung mengganti pakaiannya dan menggunakan hijab untuk menutupi kepalanya. Tanpa basa basi lagi dia pun langsung bergegas keluar dari rumah itu, dia langsung mengendarai motornya untuk melaju dengan cepatnya meninggalkan tempat tersebut.
*****
"Aku pikir kamu tidak hadir, Da. Tumben banget datangnya telat?" Tanya pimpinan remaja masjid yang melihat kedatangan dari Risda.
"Maaf ketua, aku baru pulang setelah ada acara kemarin malam. Apakah acaranya sudah dimulai?" Tanya Risda balik.
"Belum sih. Ya sudah masuk dulu, temen temen sudah pada nungguin di dalam, Da."
"Okehlah."
Bahkan di saat sakit sekalipun Risda tetap nekat untuk berangkat ke acara itu, dirinya bahkan tidak tidur semalaman dan sampai saat ini dia juga belum tidur. Biasanya kalau orang sakit lebih memilih tidur di rumah dan istirahat dengan nyenyak, hal itu tidak berlaku untuk Risda dan justru dirinya mencari kesibukan lain agar tidak berada di rumah.
Bagaimana bisa orang nyaman di rumah sendiri yang dimana rumah itu dihuni oleh orang asing? Mereka hanya orang asing yang berkedok sebagai keluarga. Di saat Risda membutuhkan bantuan mereka justru tidak ada di sampingnya, sehingga apapun itu ia lakukan sendiri dan mengandalkan kedua tangannya tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
"Hai guys... Sudah lama disini?" Sapa Risda ketika mendekati teman temannya.
"Eh kenapa baru datang? Tadi gue kerumah lo, Da. Tapi kata Kakak lo, lo tidak ada dirumah. Emang lo dari mana?" Tanya Ara, teman masa kecilnya sampai detik ini.
"Kepo banget jadi orang. Gue habis meeting penting sama seseorang," Ucap Risda sambil menjatuhkan diri untuk duduk didekat Ara.
"Meeting? Emang meeting apa'an dari kemaren sore sampe pagi ini? Meeting tutor buat anak?"
Risda pun memukul lengan temannya itu dengan kerasnya, "Huss... Bocah semprull, jaga ucapan lo itu ya! Enak aja kalo bilang, tuh mulut kagak ada remnya apa gimana?" Seloroh Risda dengan geramnya karena ucapan Ara.
Ara sendiri pun mendengus dengan kesalnya karena pukulan dari Risda, orang tuanya sendiri bahkan tidak pernah memukulnya, akan tetapi dengan entengnya Risda melakukan itu kepadanya. Ara sangat kesal dengan perbuatan dari Risda, akan tetapi dirinya bisa memaklumi itu karena sudah kebiasaan tidak yang suka memukulnya meskipun dengan bercanda.
"Terus meeting apa'an sejak kemarin sore sampai sekarang?" Tanya Ara dengan ketusnya.
"Gue ada ujian beladiri."
"Tapi Kakak lo bilang kalau lo lagi..." Kalimat Ara pun menggantung karena dirinya tidak sanggup untuk meneruskan perkataannya.
"Ngomong aja kali, Ar. Ngapain lo ragu ngomong ke gue? Emang kakak gue tadi pagi bilang apa sama lo? Apa saja yang dikatakan olehnya?"
"Gue takut lo nanti berantem sama Kakak lo, Da. Gue tau kalau lo nggak nyaman sama rumah lo sendiri, takutnya nanti malah bikin lo semakin muak di rumah."
"Ngomong aja ke gue apa yang dikatakan olehnya. Daripada nantinya jadi fitnah mending langsung diomongin aja, apa jangan jangan lo belain Kakak gue?"
"Bukan begitu maksud gue, Da. Gue takutnya lo nanti sakit hati,"
"Kenapa? Dia ngomong apa aja sama lo? Lo jujur sama gue, Ar. Gue tau lo itu temen gue dari kecil, seharusnya lo nggak nyembunyi'in hal seperti ini dari gue,"
__ADS_1
"Ada banyak hal yang seharusnya tidak lo ketahui didunia ini, sehingga hati lo bisa bebas dari rasa sakit, Da. Mending tidak tau, daripada harus tau justru akan membuat lo semakin sakit,"
"Lo tau gue sejak kecil kan, Ar? Ngapain hal itu lo sembunyi'in dari gue? Mending lo ngomong langsung sama gue."
Ara pun terdiam sambil menatap ke arah wajah Risda, berat rasanya menceritakan hal tersebut kepada Risda, karena nantinya Risda bakalan sakit hati setelah mendengarnya. Ara tidak ingin ucapannya tersebut justru akan membuat kedua saudara itu bertengkar nantinya, sementara Risda terus mendesaknya untuk terus bercerita tentang apa yang Ara dengar dari mulut Indah.
"Pasti gue di jelek jelekkan lagi, kan? Lo jujur saja sama gue, Ar. Gue hanya ingin tau apa saja yang dikatakan olehnya tadi, apa lo tidak mau mengatakan itu kepada gue?" Tanya Risda sambil menatap lurus kedepan, seolah olah pandangannya tengah kosong saat ini.
"Bukannya gue nggak mau, Da. Tapi gue..."
"Sudahlah, Ar. Gue nggak mau denger lagi penjelasan dari lo. Bagi gue ucapan lo hanyalah sia sia saja saat ini, lo lebih bela'in Kakak gue daripada gue."
"Dengerin penjelasan gue dulu,"
"Gue muak sama lo, Ar."
Risda pun membuang muka dari hadapan Ara, percumah saja bicara kepada wanita itu jika dia tidak mau mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Indah kepadanya. Sementara Ara hanya bisa berdiam diri melihat Risda membuang muka dari hadapannya, ia pun merasa bersalah kepada Risda karena tidak mau menceritakan hal itu.
Risda memilih untuk duduk dibagian paling belakang, agar dirinya bisa bersandar ditembok masjid tersebut. Acara itu pun dimulai, sepanjang acara Risda memejamkan matanya karena mengantuk dan sekaligus kedua matanya seakan akan terdapat sebuah lem yang merekat sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa membuka kedua matanya.
Ara mengira bahwa Risda tengah sibuk mendengarkan pemandu acara itu, karena dilihatnya Risda hanya menundukkan kepalanya saja. Ara pun mendekat kearah Risda untuk meminta maaf kepada Risda, akan tetapi dirinya terkejut ketika melihat Risda yang tengah tertidur dengan lelapnya.
Ara tidak tega untuk membangunkan wanita yang tertidur itu, karena dirinya yakin bahwa Risda terlalu lelah untuk saat ini, apalagi dia tau bahwa Risda tidak pulang semalaman. Ara rasa bahwa posisi tidur Risda terlihat sangat tidak enak, dirinya pun berniat untuk membangun Risda agar berpindah tempat agar tidurnya nyaman.
Bisa bisanya diacara seperti ini justru Risda tertidur dengan nyenyak, yang hadir dalam majlis itu cukup ramai sehingga para panitia tidak begitu memperhatikan lingkungan sekitarnya. Risda pun menggeliat ketika merasakan suhu dingin tengah menyentuh keningnya.
Risda pun menyingkirkan sesuatu itu dari keningnya, itu adalah tangan milik Ara yang tengah menyentuh keningnya. Risda yang terganggu itu langsung sontak membuka kedua matanya, dirinya pun menatap tidak suka kearah Ara.
"Ngapain lo?" Tanya Risda sambil menatap tajam kearah Ara.
"Tubuh lo panas banget, Da. Lo sakit ya? Kalo sakit mending lo pulang duluan terus istirahat, jangan dipaksakan."
"Gue nggak sakit!"
"Tapi badan lo panas banget saat ini, lo beneran nggak apa apa, Da? Nanti malah sakitnya parah gimana? Lo nggak takut disuntik?"
Semasa kecil Risda dan Ara sangat takut dengan yang namanya jarum suntik. Ketika keduanya masih berada di satu sekolah yang sama, keduanya langsung berlari menuju ke tempat sepi untuk bersembunyi ketika adanya imunisasi disekolah. Hanya dua murid itu yang paling takut dengan suntikan, sementara yang lainnya ketika disuntik menangis, akan tetapi Risda dan Ara justru kabur dari kelas.
Ketika seluruhnya setengah sibuk mencari keduanya, keduanya justru dengan santainya berada di kantin sekolah sambil memakan cemilan. Meskipun jarum suntik tidak begitu menyakitkan, lagi sakit saat cairan dimasukkan ke dalam tubuh yang membuat keduanya merasa ngeri.
Kepala sudah terasa seperti hendak pecah itu, tidak tahu lagi mendengar ocehan dari Ara. Risda ingin sekali membongkar dan memarahi wanita itu, akan tetapi dia sadar bahwa saat ini dirinya tengah menghadiri sebuah majelis. Kalau saja mereka dalam waktu bersantai saat ini, mungkin wajah Ara penuh dengan luka babak telur karena Risda.
"Ngapain gue takut?" Tanya Risda yang terlihat sangat sebal seperti ingin sekali memakan orang yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1