
Didalam pelukan itu, Risda terus menitihkan air matanya. Dirinya tidak mampu untuk menahan air matanya itu, hal itulah yang membuat Risda menangis dengan derasnya. Risda pun memejamkan matanya seraya merasakan pelukan tersebut, mendengar suara isakkan tangis Risda membuat guru wanita itu ikut menitihkan air matanya.
"Risda sudah keterlaluan ya, Bu? Sampai sampai membuat orang yang ada disekitar Risda selalu kesusahan," Ucap Risda lirih sambil menghapus air matanya.
"Ngak ada yang namanya keterlaluan, Nak. Perlahan lahan cobalah untuk merubah kebiasaanmu, Ibu tau sebenernya kamu adalah anak yang baik, sayangnya kurangnya kasih sayang orang tuamu membuatmu seperti ini,"
"Maafin Risda ya, Bu? Selama sekolah disini, Risda selalu jadi anak yang nakal,"
"Stttt.... Jangan katakan itu, Ibu dan Bapak guru disekolah ini sangat menyayangi anak didiknya, meskipun mereka marah itu juga karena mereka sayang. Renzo sudah menjelaskan masalah keluargamu kepada kami semua, kalo bukan karena dia yang cerita mana mungkin kami tau,"
Risda tidak bisa berkata kata lagi saat ini, dirinya merasa terharu dengan suasana kali ini. Guru wanita itu adalah guru wanita satu satunya yang pernah memeluknya, dan selalu membimbing Risda ketika bersekolah disana.
Ada sebab tersendiri yang telah membuat Risda menjadi gadis yang tidak memiliki aturan, tidak ada uluran tangan dari kedua orang tuanya untuk membimbingnya menjadi gadis yang baik.
Risda dibesarkan dengan uang, bukan kasih sayang. Sehingga dirinya merasa bahwa hidupnya sama sekali tidak ada aturan, Risda merasa bebas karena bisa melakukan apapun asal tifak ketahuan oleh Ibunya.
Karena kebiasaannya yang seperti itu, membuatnya sangat sulit untuk merubah kebiasaan tersebut. Bahkan dalam berkata pun dirinya tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya, yang mereka tahu hanyalah Risda yang dalam kondisi baik baik saja.
Pola makannya saja tidak ada yang mengaturnya, sehingga tidak mungkin dirinya tidak memiliki penyakit lambung. Risda pernah membaca sebuah artikel dimedia sosial mengenai penyakit lambung dapat menyebabkan kematian, oleh karena itu dirinya terus menyiksa lambungnya agar kematian segera menjemputnya.
Tiada hal yang bisa membuatnya bertahan untuk hidup lebih lama, dirinya ingin sekali mengakhiri hidupnya itu. Baginya, hidup didunia ini sama sekali tidak ada artinya, dan dirinya hanya ingin kedamaian didalam alam keabadian.
Risda memejamkan kedua matanya dengan eratnya, sekilas gambaran masa lalunya pun melintas didalam ingatannya. Dimana dirinya sendiri yang telah menjadi saksi mata disaat kedua orang tuanya bertengkar, itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang anak.
"Bu, apakah diriku memang tidak pantas untuk bahagia? Aku hanya ingin memiliki waktu sehari untuk bisa bersama sama dengan kedua orang tuaku," Tanya Risda dengan suara lirihnya akan tetapi masih bisa didengar oleh guru wanita itu.
"Tidak ada manusia yang diciptakan tanpa memiliki masalah, Nak. Bahkan para ulama' ulama' besar dan bahkan para nabi sekalipun, mereka juga diuji oleh Allah. Meskipun ujiannya itu berbeda beda,"
"Aku tidak minta banyak kok, aku hanya meminta sehari saja. Aku ingin hidup bahagia bersama kedua orang tuaku, seperti teman teman yang lainnya."
"Jika kamu menginginkan itu, Ibu bisa memberikan waktu sehari untukmu. Anggap saja, aku sebagai Ibumu dan aku akan berikan itu untukmu,"
"Anda sangat baik."
Risda pun menangis sesenggukan setelah mendengarnya, dikejauhan terdapat sosok seorang lelaki yang tengah menyaksikan kejadian itu. Lelaki itu bersandar disebuah tembok sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya, dan menatap bahagia kearah Risda.
"Jika gue tidak ditakdirkan untuk bahagia, maka gue ngak ingin orang lain bernasib sama kayak gue," Ucapnya.
Lelaki itu pun mengusap air matanya yang tiba tiba muncul dipelupuk matanya, akan tetapi belum sampai jatuh dipipinya. Lelaki itu tidak lain adalah Afrenzo, yang tengah menyaksikan kejadian itu dari kejauhan.
*****
"Sodaqallahul'adziim," Ucap Risda setelah selesai menghafalkan surat Al Kahfi itu.
Risda mampu menghafalkannya dengan lancar, sebelumnya dirinya merasa sangat ragu untuk bisa menghafalkan surat tersebut. Akan tetapi, dirinya mampu untuk menghafalkannya dengan lancar hingga hal itu membuatnya merasa sangat senang.
"Bagus," Ucap guru itu kagum kepada Risda.
Guru tersebut sangat yakin bahwa Risda bisa menghafalkan dengan cepat, karena tanpa diketahui oleh Risda sendiri bahwa Afrenzo mengirimkan pesan suara diam diam kepada guru wanita tersebut.
Suara tersebut adalah suara ketika Risda menghafalkannya bersama dengan Afrenzo didalam aula beladiri. Risda sama sekali tidak menyerah untuk bisa menghafalkan ayat tersebut dengan benar, dan berakhirlah bahwa dirinya mampu untuk menghafalkannya.
"Bu, untuk merubah kebiasaan itu tidak mudah. Kalau aku salah lagi gimana?" Tanya Risda lirih.
"Ya dihukum lagi, sampai benar benar berubah."
Jawaban itu justru membuat Risda terkekeh pelan, bahkan dirinya tidak akan bisa terbebas dari hukuman ketika dirinya salah. Risda tidak masalah jika dihukum sangat berat sekalipun, asalkan tidak dihukum untuk menghafalkan sesuatu karena itu membuatnya merasa sangat bosan.
"Kalo begitu, izin kembali kekelas ya, Bu?"
"Baiklah, setelah itu langsung kekelas, jangan berkeliaran lagi. Apalagi pergi kekantin,"
"Awalnya sih punya rencana seperti itu, Bu. Karena aku tadi berangkat sekolah belum makan, tapi ngak jadi nanti malah dimarahin sama Renzo,"
"Kenapa belum makan?"
__ADS_1
"Belum dimasakkan, Bu. Aku kalo makan ikut Tante, jadi dia belum masak tadi,"
"Habis ini pelajaran siapa? Nanti Ibu izinkan, kamu isi perutmu dulu. Setelah itu langsung balik kekelas,"
"Habis ini waktunya pelajarannya Bu Rita, terima kasih, Bu."
Guru itu pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Risda, melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk keluar dari dalam ruangan itu. Tanpa sengaja dirinya pun melihat lelaki yang dihukum juga itu datang, dan keduanya pun berpapasan.
"Bu Ani nya ngak ada?" Tanya lelaki itu.
"Dia ada didalam," Jawab Risda singkat.
"Ngapain lo keluar? Emang lo kagak setor hafalan?"
"So tau banget sih, lo. Gue aja sudah setoe hafalan sejak pagi, lo nya aja yang baru datang. Dasar telat,"
"Apa lo bilang!"
"Sutttt... Jangan bikin keributan, emang lo mau tambahan hukuman nanti? Buruan sana masuk, udah ditunggu,"
"Gue ngak nanya!"
"Gue beri tahu,"
"Gue ngak suka tahu."
"Gue ngak peduli,"
"Siapa juga yang mau lo peduli'in, gue mah kagak level sama lo."
"Level lo emang level pemulung, jadi kagak selevel sama gue yang bak princess ini,"
"Princess dari hongkong? Lo lebih mirip sama bidadari jatuh ke sapiteng,"
Lelaki itu nampak begitu kesal dengan Risda, dirinya pun mengepalkan tangannya dengan erat. Sekilas dirinya melihat sosok Afrenzo yang berdiri dikejauhan sambil mengangkat tangannya keatas, ketika lelaki itu menoleh kepadanya.
Hal itu langsung membuat lelaku tersebut bergidik ngeri, dan dirinya pun langsung bergegas untuk masuk kedalam ruangan dimana Risda keluar itu. Melihat itu langsung membuat Risda keheranan, mengapa lelaki itu terlihat ketakutan saat ini.
Karena penasarannya, hal itu langsung membuat Risda menoleh kearah dimana lelaki tersebut menoleh sebelumnya. Dirinya pun hanya melihat sebuah lorong yang sepi, dan tidak ada seorang pun yang ada disana saat ini.
"Aneh banget tuh orang, tumben dia pergi begitu saja tadi. Biasanya juga harus mati matian untuk berdebat dengan dia," Guman Risda heran, padahal dirinya sama sekali tidak menemukan siapapun yang ada disana.
Risda pun mengangkat bahunya untuk naik turun karena merasa keheranan dengan tingkah lelaki itu. Risda pun lalu langsung bergegas untuk menuju kearah kelasnya, selama perjalanan disana Risda pun bersenandung pelan untuk mengiringi langkah kakinya.
*****
Risda dengan malasnya lalu bangkit dari tempat tidurnya, dirinya pun mendengar suara seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya dengan keras. Hal itulah yang membuat Risda langsung terbangun dari tidurnya, dan dirinya sangat malas.
Risda lalu menyalakan ponselnya yang ada disebelahnya untuk memeriksa jam. Dirinya begitu terkejut ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, siapa yang datang dijam segini? Tamu dari mana itu? Kenapa harus datang dilarut malam seperti ini?
Begitu banyak pertanyaan yang ada didalam benak Risda, akan tetapi pertanyaan itu sama sekali tidak ada yang menjawabnya. Semakin lama, ketukkan pintu itu semakin keras, dan terdengar suara seseorang yang tengah menanggil si pemilik rumah.
Risda lalu bangkit dari tidurnya dan menuju kearah pintu utama rumahnya itu. Risda lalu membukakan pintu rumahnya itu, akan tetapi dengan pakaian tidurnya sekaligus rambut panjangnya yang berantakkan itu.
Risda begitu terkejut ketika melihat bayangan seseorang yang sudah berdiri dihadapannya itu. Lagi lagi lelaki itu datang kerumahnya dengan waktu yang larut malam.
"Om ngapain kemari? Bukannya sudah aku bilang ya? Kalo mau bertamu yang baik itu jangan malam malam seperti ini, kalo dilihatin sama tetangga itu ngak enak, Om. Bisa bisa jadi bahan gosip," Omel Risda karena dirinya yang masih sangat mengantuk itu.
"Hanya mengantarkan nasi saja, tadi Bundamu menyuruh Om untuk mengantarkan nasi sama lauk," Ucap Abie.
"Tapi ngak malam malam begini kan, Om? Bunda ngak mungkin menyuruh orang datang kemari malam malam seperti ini, apalagi cuma mengantarkan nasi. Bukan apa apa sih, cuma ngak baik bertamu dirumah orang ketika larut malam seperti ini,"
"Mau ngomong sama Bundamu?" Tanyanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Risda, lelaki itu langsung menyerahkan ponsel miliknya kepada Risda. Ternyata ponselnya itu masih terhubung dengan ponsel milik Ibunya, Risda berpikir bahwa Ibunya sudah mendengarkan ucapannya sebelumnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bun. Ini Risda," Ucap Risda sambil menempelkan ponsel tersebut ditelinganya.
"Waalaikumussalam, Risda tadi bilang apa sama Om?" Tanya Ibunya langsung.
Risda tidak mempersilahkan lelaki itu masuk kedalam rumahnya, karena sudah larut malam. Sehingga lelaki itu masih tetap duduk dikursi yang ada diteras rumahnya, sementara Risda langsung duduk dikursi yang ada diruang tamunya.
"Bunda ngapain nyuruh Om Abie datang kemari malam malam? Kalo dilihatin sama tetangga kan ngak enak, Bun. Apalagi jam segini sudah pada tidur,"
"Dia cuma mau ngasih nasi sama lauk doang kok, Nak. Sebenernya Bunda sudah nyuruhnya datang habis adzan magrib tadi, ngak tau kok tiba tiba telpon Bunda jam segini katanya sudah ada didepan rumah,"
"Terus gimana sekarang? Kalo datang jam segini yang ada ngak ada yang makan, Bun. Kan sayang,"
"Terima saja, Ris. Rezeki tidak boleh ditolak, mungkin tadi dia sibuk dan baru bisa datang malam malam begini,"
"Bukannya mau nolak, Bun. Tolong ya, lain kali Om Abie dibilangin, jangan datang kemari malam malam."
"Iya nanti Bunda bilangin,"
Risda lalu mengobrol santai dengan Ibunya, dan dirinya pun mengobrol dengan membuatkan kopi untuk Abie sesuai dengan permintaan dari Ibunya. Risda sebenernya ingin menolak, akan tetapi tidak enak juga jika tidak dibuatkan kopi apalagi dia sudah berniat hati untuk membawakan nasi.
Abie pun baru pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 malam. Risda kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur yang agak kaku miliknya itu, setelah kepulangan dari Abie.
"Astaga! Gue lupa untuk ambil foto tuh orang dengan diam diam, kalo begini ceritanya kapan gue bisa nunjukin wajah tuh orang kepada Renzo. Gimana Renzo bisa mengenalinya jika seperti ini?"
Risda benar benar lupa karena tidak mengambil gambar dari orang itu, entah mengapa dirinya sama sekali tidak ingat soal itu. Sehingga dirinya bisa melupakannya begitu saja, kesempatan itu telah lepas negotutsaja.
"Renzo sudah tidur belom ya? Gue chat aja deh,"
...----------------...
...Pelatihku...
^^^Renzo!^^^
Hem?
^^^Eh lo kok belom tidur?^^^
Sudah, barusan sholat tahajud
^^^Oh seperti itu ya?^^^
Ada apa?"
^^^Barusan orang yang pernah gue ceritain itu datang lagi tau, tapi gue lupa untuk ambil gambarnya. Jadi ngak bisa nunjukkin ke lo^^^
Oh, lain kali kan bisa
^^^Iya sih, tapi kan^^^
Sudah tidur, masih malam
^^^Renzo..^^^
^^^Gue ngak bisa tidur lagi^^^
^^^Ih malah kagak dibales lagi^^^
...----------------...
Setelahnya, Afrenzo pun tidak lagi membalas pesan dari Risda. Hal itu, langsung membuat Risda nampak kesal dengan lelaki itu, entah mengapa kadang kadang dirinya baik dan juga kadang kadang sangat menjengkelkan.
Risda bahkan tidak mampu untuk mengenali lelaki itu dengan jelasnya, bahkan bisa dikatakan dirinya begitu dekat dengan Afrenzo akan tetapi tidak mengenali sosok seorang apa Afrenzo itu.
Dirinya pun membuka ponsel untuk memutar lagu, siapa mungkin dirinya bisa kembali terlelap setelah mendengarkan lagu lagu santai miliknya itu. Setelah bertemu, Risda pun memutarnya hingga rasa kantuknya pun datang menemuinya.
__ADS_1