Pelatihku

Pelatihku
Episode 7


__ADS_3

Risda tengah berbaris dilapangan beserta dengan anak anak yang lainnya, kali ini semuanya masuk latihan begitupun dengan para senior, sehingga tempat itu kini terlihat sangat ramai.


Risda tidak mendapatkan tempat barisan dipaling depan karena itu adalah tempat para senior untuk berlatih, sementara junior seperti dirinya pun berbaris dibelakang para senior karena itu adalah aturan dari perguruan tersebut.


Setelah selesai pemanasan, mereka langsung belari mengitari lapangan tersebut sebanyak 15 kali, sementara yang masih pemula masih disuruh untuk memutari sebanyak 10 kali.


"Oke, yang senior ikut Fandi latihan didalam aula, yang pemula tetap dilapangan!" Perintah Afrenzo setelah semua selesai berlari.


"Baik pelatih!" Jawab para senior serempak dan langsung bergegas untuk menuju ke aula beladiri karena disana banyak peralatan beladiri yang bisa dipakai untuk latihan.


Setelah kepergian dari para senior itu pun, Risda kembali berdiri dibarisan paling depan, dan berdiri tepat berhadapan dengan Afrenzo, lelaki yang bersakral hitam dengan sabuk hitam bermotif itu pun masih tetap sama, terlihat tanpa ekspresi.


"Ini hari kedua kalian latihan, materi kali ini adalah pukulan"


Afrenzo memperlihatkan kepada mereka bagaimana gerakan pukulan pertama, yakni gerakan yang dilakukan untuk meninju lurus kedepan dan sasarannya adalah uluh hati dengan tangan yang terkepal kuat.


"Kuda kuda sejajar, grakkk!" Sentak Afrenzo.


"Haa....." Ucap mereka bersamaan sambil melakukan gerakan secara serempak.


Afrenzo pun berjalan kesatu arah, dan mengambil sebuah balok kayu yang terlihat lebar, ia pun menaruh ditempat ia berdiri sebelum, ia memberi komando untuk melakukan gerakan pukulan tangan kanan dab kiri itu kepada siswanya.


Afrenzo memutari mereka semua untuk memperhatikan pukulan yang dilakukan oleh mereka, lalu dirinya berdiri didepan seorang lelaki yang berada tidak jauh dari Risda.


Afrenzo lalu membuka telapak tangannya dengan lebar dan menaruhnya didepan dadanya, ia lalu meminta kepada siswa tersebut untuk meninju sasaran yang telah ia berikan.


"Pukulanmu kurang keras! Tangannya harus terkepal rapat!" Teriak Afrenzo.


"Iya Pelatih" Jawab siswa tersebut ketakutan melihat Afrenzo.


"Kalo bisa bikin tanganku memar!"


Lelaki tersebut pun mencoba untuk memukul telapak tangan Afrenzo lebih keras lagi, akan tetapi justru tangannya sendiri yang terasa sakit, entah kenapa bisa, dia yang memukul akan tetapi dirinya juga yang merasa sakit.


Bukannya tangan Afrenzo yang terluka ataupun memar, justru tangan lelaki tersebut yang memerah dipunggung tangannya, Afrenzo lalu berjalan kearah siswa yang lainnya, ia pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"Tanganmu lemah sekali! Kau cewek apa cowok ha! Lebih keras lagi!"


"Dia bisa ngomong panjang kalo urusan gini, tapi kenapa kalo ngomong sana gue aja pake hem hem doang, dih orang aneh" Batin Risda seraya melakukan gerakan yang diperintahkan oleh Afrenzo.


Bhukk...


"Siapa suruh kuda kuda berdiri!"


Bukan hanya fokus kepada gerakan pukulan saja akan tetapi Afrenzo juga fokus kepada kuda kuda mereka, ia pun menendang lutut belakang dari seorang siswa lelaki hingga membuat siswanya itu terjatuh tiba tiba.


Afrenzo kembali memutari mereka untuk memperhatikan gerakan mereka satu persatu, tiba tiba Afrenzo memukul tangan Risda ketika melihat gerakan yang dilakukan oleh Risda seperti melemah.


"Akh..." Pekik Risda.


"Gerakanmu kurang bertenaga!" Teriak Afrenzo kepada Risda hingga membuat Risda tersadarkan dari lamunannya itu.


"Iya pelatih" Jawab Risda dan kembali bergerak dengan sepenuh tenaga.


Afrenzo berdiri didepan Risda dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Risda itu, Risda yang diperhatikan oleh Afrenzo seperti itu membuatnya langsung berkeringat dingin, entah aura Afrenzo ketika berlatih akan jauh lebih menyeramkan.


"Dia seperti monster" Batin Risda.


Risda terus melakukan gerakan yang diperintahkan oleh Afrenzo dengan sebisa yang ia mampu, Afrenzo lalu memegangi kepalan tangan Risda dengan sangat eratnya.


"Kepalan tanganmu harus kuat, jangan sampai ada udara yang ada didalam" Entah nada bicaranya sedikit merendah dihadapan Risda.


"Baik Pelatih"


Afrenzo membenarkan gerakan Risda, ia pun berjalan kearah yang lainnya dan melakukan hal yang sama, karena mereka masih baru membuat Afrenzo tidak terlalu keras dengan mereka.


*****


"Aku beri waktu 30 menit, kalian bisa minum" Ucao Afrenzo.

__ADS_1


"Siap pelatih!" Jawab mereka serempak.


Afrenzo lalu bergegas pergi dari lapangan menuju keruang aula beladiri, melihat itu membuat siswa yang dilatih sebelumnya langsung berhamburan untuk mengambil minum mereka masing masing.


"Pelatih!" Teriak Risda seraya menyusulnya.


Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Afrenzo berhenti ditempatnya dab menoleh kepada Risda yang sudah berada dibelakangnya saat ini, tatapannya masih sana, begitu tajam kearah Risda.


"Lo bawa minum? Gue minta boleh?"


Risda yang ditatap seperti itu membuatnya merasa merinding, tatapan itu seolah olah mengintimidasinya, tanpa menjawab pertanyaan dari Risda, Afrenzo langsung membalikkan badannya untuk pergi dari tempat tersebut.


"Ayo" Ucap Afrenzo.


Afrenzo lalu masuk kedalam aula beladiri diikuti oleh Risda dibelakangnya, dapat terdengar suara pukulan dan tendangan sangat keras dari dalam aula tersebut, hal itu membuat Risda merasa terkejut dengan kerasnya suara itu.


Ketika Risda memasuki ruang aula beladiri itu, Risda dapat melihat kerasnya latihan didalam aula, dibentak bentak bahkan tidak segan segan untuk dipukul maupun ditendang.


Melihat kedatangan Risda, membuat Satria langsung bergegas untuk mendatanginya, ia terkejut ketika melihat Risda ada ditempat itu, meskipun Risda sudah mengikat beladiri akan tetapi masuk kedalam ruangan itu disaat latihan sangat dilarang.


"Lo ngapain disini? Pergi saja, daripada lo kena marah sama pelatih" Ucap Satria.


"Emang kalo gue kesini itu dilarang?" Tanya Risda yang tidak paham dengan ucapan Satria, karena sebelumnya dirinya juga pergi ketempat ini.


"Dilarang, lo masih siswa baru"


"Siapa yang nyuruh lo berhenti latihan!" Ucap Afrenzo dingin kepada Satria.


"Maaf Pelatih" Ucap Satria.


"Push up, seratus kali sekarang juga"


"Baik Pelatih"


Satria langsung bergerak diposisi push up, ia pun mulai menghitung gerakan yang dia lakukan saat ini, sementara Afrenzo menyerahkan sebotol minuman kepada Risda tanpa menoleh kepada wanita itu, Risda lalu mengambil botol tersebut dan meminumnya.


"Eh, maaf" Ucap Risda, dan langsung bergegas menuju ke kursi yang berada tidak jauh darinya.


Afrenzo masih berdiri tepat didepan Satria yang sedang melakukan push up itu, pandangan Afrenzo terarah kepada Satria yang tengah melakukan push up, dengan kedua tangannya yang dilipat didepan dadanya itu, Risda yang melihat itu pun membuat dirinya kagum, Afrenzo sama sekali tidak bergerak dari tempatnya cukup lama.


"Sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan, seratus!" Teriak Satria menghitungnya, disaat mengucapkan angka seratus, dirinya pun menjatuhkan tubuhnya dilantai begitu saja.


"Kembali berlatih!" Teriak Afrenzo dengan dingin.


"Siap pelatih!"


Satria segera bergegas untuk bergabung dengan yang lainnya, seorang lelaki tengah memegangi sebuah pecing pad dengan kedua tangannya berdiri tepat didepan mereka, semuanya pun mengantri untuk melakukan gerakan pukulan dan tendangan kepada pecing pad yang dipegang oleh pemuda itu.


"Tendanganmu jangan menggantung! Ulang!" Teriak Afrenzo.


Seorang lelaki yang dimaksud oleh Afrenzo tersebut langsung kembali melakukan gerakan sebelumnya, dan memukul pecing pad tersebut dengan arahan yang diberikan oleh Afrenzo.


"Masih sama! Sini kau!"


Pemuda tersebut pun bergegas menuju ketempat dimana Afrenzo berdiri, Afrenzo berdiri diatas sebuah matras, kini kedua orang itu tengah berhadapan diatas matras saat ini.


"Serang!" Perintah Afrenzo.


Pemuda itu langsung bergegas untuk melontarkan sebuah tendangan kepada Afrenzo, akan tetapi dengan sigap Afrenzo langsung menangkap tendang itu dan membanting pemuda itu dengan mudah, hal itu langsung membuat Risda yang menyaksikan merasa ngeri karena bantingan itu.


"Jika tendanganmu menggantung seperti itu, akan mudah ditangkap musuh! Paham ngak?"


"Paham Pelatih" Jawabnya seraya bangkit berdiri.


"Ulang!"


Pemuda itu pun kembali melontarkan sebuah tendangan kepada Afrenzo, lagi lagi Afrenzo mampu menangkap tendang tersebut dan membantingnya lagi, entah berapa kali mereka melakukan gerakan yang sama hingga Risda merasa khawatir kalo pemuda itu akan mati.


*****

__ADS_1


Risda pun menaiki sepedahnya ketika latihan selesai dilakukan, dirinya kini berada diparkiran sekolahan tersebut seorang diri, setelahnya ia langsung menjalankan sepedah motornya untuk melaju meninggalkan sekolahan itu.


Risda menuju ke apotek terlebih dulu untuk membeli krim pereda rasa pegal, semalam ia tidak bisa tidur karena rasa pegal pegal yang menyerang dirinya itu, kali ini dirinya ingin membelinya untuk meredahkan rasa pegal ditangannya.


Ia pun menghentikan sepeda motor tepat didepan sebuah apotek, ia langsung bergegas masuk kedalam kelasnya, untung masih ada uang 20 ribu yang terselip didalam tasnya, jadi dirinya masih bisa membeli krim tersebut.


Setelahnya ia langsung melanjutkan perjalanannya menuju kerumahnya, ia melihat Afrenzo tengah menghentikan sepedahnya ditepi jalan, hal itu membuat Risda merasa heran dan ikut serta menghentikan sepedahnya itu.


"Renzo, lo ngapain disini?" Tanya Risda.


"Bukan urusan lo" Jawab Afrenzo.


"Gue kan hanya nanya, kali aja lo butuh bantuan, gue mau kok bantu lo"


"Ngak perlu"


"Irit bicara banget, gue kan nanya baik baik ke lo, lo kok jawabnya dingin banget, lama lama gue beku juga berada dideket lo itu"


"Pulang sekarang!"


"Iya ya, gue pulang, ya udah gue mau lanjut perjalanan gue, lo hati hati disini"


Afrenzo pun tidak menjawab ucapan dari Risda, Risda pun langsung melajukan kembali sepedah motornya itu dan meninggalkan Afrenzo ditempat tersebut sendirian.


Sampai dirumah adzan magrib pun berkumandang, seperti biasa Risda langsung mendapatkan omelan karena telat untuk pulang, hal itu membuat Risda langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu.


Karena dirinya yang belum makan pun merasa lapar, setelah ia segera bergegas menuju kerumah neneknya yang berada disebelahnya itu, untuk mengambil makan setelah pulang sekolah.


Risda pun memakannya dengan perlahan lahan, ketika baru memakan beberapa suap nasi, tiba tiba Tantenya mendatanginya dengan marah.


"GIMANA SIH! SUAMIKU BELOM MAKAN UDAH DIMAKAN AJA! ITU HASIL NANAK NASI UNTUK SUAMIKU MALAH DIMAKAN! TERUS SUAMIKU MAU MAKAN APA HA!" Bentak Tantenya itu.


Seketika mood Risda langsung rusak, Risda pun memakannya dengan perlahan lahan disertai oleh air mata yang menetes, sakit banget rasanya jika kalian makan tiba tiba dimarahi seperti itu, Risda yang sudah ridaj sanggup menahannya pun langsung meninggalkan piringnya dan pergi dari tempat itu.


"Risda tau kalo Risda adalah beban bagi kalian, Risda lapar jadi Risda makan, Risda ngak tau kalo nasinya emang untuk suamimu, Ya Allah, Risda lapar"


Risda pun masuk kedalam kamarnya lagi, ia melempar keras tubuhnya keatas kasur kamarnya, ia benar benar terluka hatinya, ia membenamkan wajahnya kedalam bantalnya dan menangis disana sehingga tidak ada yang mendengarnya.


Dengan perut yang berbunyi nyaring minta diisi itu pun Risda mencoba untuk memejamkan kedua matanya, ia memegangi perutnya yang berbunyi karena lapar itu, dia berharap dengan memejamkan matanya ia dapat mengurangi rasa laparnya itu.


"Ngak papa, tinggal nunggu matinya saja, sampai kapan lo akan hidup dengan ini semua Da? Kapan lo akan mati dan berhenti jadi beban untuk mereka? Gue lelah untuk hidup" Tanya Risda kepada dirinya sendiri.


Risda pun memukuli perutnya sendiri dengan keras, berharap rasa sakitnya itu akan mengurangi rasa laparnya saat ini, ia tidak memedulikan rasa sakit ditubuhnya karena rasa sakit dihatinya jauh lebih besar dan lebih parah.


"Bunda hiks.. hiks.. Risda ingin mati" Isak tangis pun terdengar menyakiti dibalik bantalnya.


Risda pun berhenti memukuli perutnya setelah merasa perutnya terasa sakit, ia pun menatap langit langit kamarnya dengan sebuah senyuman keputus asaan, ia pun menertawakan rasa sakitnya itu, ia menertawakan dirinya yang tetap hidup meskipun ngak diharapkan.


"Dasar ngak berguna! Bisanya jadi beban, lo itu ngak diharapkan, kenapa masih saja hidup? Kenapa ngak mati aja sih lo? Bunda, kenapa harus menyelamatkan Risda waktu itu, biarkan Risda mati saja"


Bayangan masalalunya seakan akan terus berputar didalam ingatannya, kedua matanya perlahan lahan terpejam dan merasakan sesak yang tengah menyerangnya saat ini, bayangan seorang lelaki terlintas didalam ingatannya.


"Kenapa lo ngak lakuin itu lebih lama aja dan bikin gue mati secepatnya, sebelum Bunda datang waktu itu"


Risda teringat masalalunya disaat dia masih ikut Bundanya bekerja, ketika dirinya tengah tertidur disiang hari tiba tiba ada sebuah bayangan lelaki datang kekamarnya yang saat itu memang tidak ditutup dengan rapat.


Tiba tiba lelaki itu mengambil sebuah bantal dan menutupi wajah Risda dengan eratnya hingga Risda mendadak terbangun dari tidurnya itu, ia pun tidak mampu untuk bernafas karena bantal yang menutupi wajahnya itu.


Risda berusaha untuk melepaskan diri dari orang tengah menutupi wajahnya menggunakan bantal dengan eratnya itu, akan tetapi tenaganya kalah besar sehingga membuatnya tidak berdaya.


Perlahan lahan tubuhnya mulai melemah karena tidak mendapatkan asupan oksigen cukup lama, ia pasrah bahwa dirinya akan mati saat ini, ia yakin bahwa jika lebih lama lagi maka nyawanya pasti tidak akan tertolong lagi.


Siapa sangka bahwa Bundanya langsung datang untuk menolong dirinya, dan bayangan kejadian itu langsung membuatnya membuka kedua matanya kembali, setetes air mata lolos dari ujung matanya.


"Gerakan lo kurang cepat, hampir saja nyawa gue melayang ditangan lo, seharusnya lo datang lebih cepat lagi dan ambil nyawa gue sebelum Bunda datang"


Risda pun memejamkan matanya lagi, tanpa ia sadari bahwa rasa mengantuk langsung menyerangnya, tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya pun terlelap dalam tidurnya tanpa mempedulikan rasa laparnya saat ini.


Disaat itulah dirinya merasa bahwa tidur setelah menangis adalah rasa yang teramat sangat nyaman baginya, setelah kelelahan menangis, barulah dia bisa tertidur tanpa memikirkan rasa laparnya.

__ADS_1


__ADS_2